Suara dari monitor memenuhi kamar sepi rumah sakit. Tidak benar-benar sepi sebenarnya. Karena di tepi tempat tidur terdapat Nadine yang acap kali menghapus air mata. Sedang di sofa belakang, Aldric terus saja mengelus kepala dua putri cantiknya. Di luar kamar itu, di kesepian malam, Renat termangu sendiri. Dia menunduk dalam, mengusap lagi mata secara kasar. Seragamnya kotor sebab darah bercampur pasir. Rambutnya sedikit acak-acakan, sedang sepatu tidak lagi terpakai dengan baik. Bahkan tadi, hanya Aldric yang menyapanya. Renat tahu posisinya serba salah kini. Belum lagi, jika nanti Haruka muncul. Renat bingung harus apa. Dia berdiri, melangkah di antara dinginnya koridor rumah sakit. Kakinya menuntun Renat menuju toilet. Dia butuh menenangkan diri sesaat. Mungkin, mencuci muka dapat me

