9 - Kenapa?

1342 Kata
Pikiran Abi berkecamuk. Setelah berhasil menyerap semua perhatian siswa dan siswi lainnya, Abi buru-buru melangkahkan kakinya menuju toilet. Dia butuh membenarkan dan menenangkan diri. Karena tidak mungkin ia ikut kabur seperti apa yang Renat lakukan, apa kabar nanti dengan lombanya? Bagaimanapun, itu tetap tanggung jawab Abi. Sekitar lima menit, Abi kembali keluar. Kembali berpura-pura sibuk dengan ponsel. Abi entah melangkah kemana, kakinya sembarangan membawanya untuk berkeliling Cakrawala. Ketika ia hendak memijak anak tangga, seorang memanggil. "Abi, tungguin." Haruka berjalan cepat ke arah Abi. Perempuan itu tampak sangat penasaran dengan apa yang baru saja dialami Abi. "Mau kemana? Kok ke atas?" Abi hanya menggeleng pelan, melanjutkan langkahnya. Kepalanya sibuk diisi oleh rasa bersalah pada Renat. Tapi, Abi tidak tau kesalahannya dimana. Apa karena menarik Renat kasar seperti tadi? Tidak, Abi tidak menarik Renat kuat. Hanya sekenanya. Lalu, apa karena kata-kata Abi? Dan dimana letak kesalahan dari kata-katanya? Abi akui, hanya pada Renat ia pernah bersikap kasar seperti itu. Tapi hal tersebut terjadi secara spontan. Sebab Abi takut Haruka benar-benar mengadukan hal-hal yang dikatakan Renat pada Mamanya. Karena pada sadarnya, pantang bagi Abi bersikap kasar pada makhluk bernama perempuan. Tapi Renat, seperti pengecualian. "Perempuan itu diciptain buat kita lindungin, A. Kalau Aa bisa nyakitin perempuan, jangan bangga. Percaya sama Papa, mereka bakal nyakitin Aa lebih dari yang Aa lakuin ke mereka. Makanya, jangan pernah kasar sama perempuan." Papanya berujar suatu hari. Dan hal itu yang selalu Abi ingat agar sadar seberapa pentingnya untuk menjaga adik-adiknya, pun untuk menghargai perempuan lain. "Bi, tadi kenapa, sih?" Haruka yang sedang menyamakan langkahnya dengan Abi kembali bertanya. "Nggak apa-apa," jawab Abi pelan. "Kasian tau, Bi. Kamu marah karna dibilang jahat ya sama dia? Mungkin dia cuma becanda. Aku juga tau kamu nggak mungkin kayak apa yang dibilang sama temen kamu itu. Nggak seharusnya kamu semarah itu terus pake acara narik-narik tangannya. Pasti dia malulah, Bi." Malu? Menurut Abi, bukankah perempuan seperti Renat sudah sering membuat hal yang mempermalukan dirinya sendiri? Lagipula, Abi hanya ingin agar Renat tidak lagi asal bicara pada orang-orang. "Urat malunya udah putus, nggak mungkin dia malu," ucap Abi sembarangan, hingga Haruka sukses mengernyit bingung. "Kamu harusnya bisa bedain, mana orang yang nganggep dirinya nggak tau malu karna seru-seruan, sama orang yang bener-bener malu karna dipermaluin. Kamu cowok, Bi. Nggak seharusnya kayak gitu." "Aku nggak nangkep maksud kamu." Abi menggeleng pelan, mempercepat langkah kakinya. "Abi! Kalau kata-kata aku aja nggak bisa kamu cerna, kenapa kamu bisa paham sama sekumpulan bahasa rumit Yunani di buku Biologi?! Abi, jangan pergi dulu! Aku tau kamu paham maksud aku." Haruka segera menyusul Abi. Perempuan asal kelas sosial itu pantang menyerah. Sebab, Haruka juga ikut sebal karena kelakuan Abi tadi. Kenapa pula Abi harus semarah itu? Atau jangan-jangan, semua perkataan tentang Abi yang tidak baik memang benar adanya? • r e t u r n • Renat menangis seorang diri di atas meja usang yang terletak di bawah pohon besar. Renat memilih melarikan diri cukup jauh dari pusat kota. Beruntung, perempuan itu membawa dompetnya. Hingga Renat dapat membayar ongkos kendaraan yang mengantarnya ke tempat sepi seperti sekarang. Kata-kata Abi masih melekat dan segar dalam kepalanya. Abi tidak tau apa yang tengah Renat lalui. Lelaki itu benar-benar tidak akan pernah mengerti tentang masalah yang sedang Renat pikul. Dan Renat membenci Abi. Mulai detik sejak Abi mengecapnya sebagai manusia pencipta masalah, Renat memilih untuk menghapus nama lelaki itu dari kepalanya. Menjadi asing untuk Abi. Mungkin, hanya itu cara agar Renat tidak lagi mendapatkan kata-kata kasar dari Abi. "Ma ... Mama inget nggak kalau Mama punya janji ke Re, Ma?" Gadis itu mendongak, bersuara pada langit cerah. "Mama bilang, sesibuk apapun Mama sama karir Mama, Mama nggak bakal tinggalin Re sendirian." Renat menangis, air matanya kembali mengalir di kedua pipi. Membayangkan Mamanya yang kini berubah jauh. Mamanya seorang model yang memang tengah naik daun dalam beberapa bulan belakangan. Awalnya Renat ikut bahagia, tapi ternyata, seiring detik jam yang berlalu, Mamanya berubah. Sampai hari ini, teman-teman Renat tidak tau bahwa model cantik bernama Gita Anindya itu adalah Mamanya. Dulu, Mamanya kerap menyembunyikan Renat dengan alasan takut Renat dikenai media. Dan hal itu berjalan hingga kini. Alhasil, Renat lebih sering bersama Papa. Tapi tidak dipungkiri, jika Renat tetap bahagia kala itu. Mamanya menyayangi Renat dan Papanya dengan sepenuh hati. Sampai suatu malam, ketika Renat tengah tertidur nyenyak sambil memeluk guling, suara pecahan benda terdengar. Membuat Renat langsung terjaga. Takut-takut jika saja maling yang masuk ke dalam rumah. Dengan pelan, Renat beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan ke arah pintu dan membukanya sedikit agar terdapat celah untuk Renat mengintip. Mulutnya terbuka sempurna, matanya melotot tidak tertahan. Disana, dari celah tempat Renat mengintip, dapat dilihat secara langsung keadaan lantai bawah tepatnya ruang keluarga. Mamanya disana, sibuk menghamburkan barang. Renat ketakutan dalam diam. Apa yang akan terjadi? Kepalanya sibuk menebak-nebak di tengah malam. "Sadarin diri kamu, Gita!" teriakan Papanya menggema di seluruh penjuru rumah. "Pulang-pulang ke rumah dipengaruhi alkohol. Kamu itu Ibu! Tolong sadarin diri kamu!" Renat kian terpuruk. Mamanya, minum? Untuk apa? Untuk apa Mamanya yang terkenal lemah lembut tersebut mendekatkan diri pada alkohol? Pikiran Renat berkecamuk. Lantunan doa agar semuanya akan tetap baik-baik saja selalu Renat lontarkan. "Kamu gak perlu ikut campur lagi! Aku capek kamu kekang terus. Kalau-kalau kamu lupa, aku juga punya duniaku sendiri." Gita menjawab tidak kalah kuat. Walau dalam pengaruh alkohol, tidak membuat tenaganya hilang untuk melawan Jerry—Sang Suami. "Kamu nggak malu sama Renat? Kamu itu panutan buat dia. Siap kamu sama reaksi Renat kalau tau kamu kayak gini?" "Kamu diem, ya! Renat nggak bakalan protes kalau tau aku kayak gini. Uang yang selama ini aku kasih buat dia pasti udah lebih dari cukup." "Gita!" Renat terduduk lemah. Jantungnya seperti direnggut paksa ketika mendengar fakta tersebut. Mamanya, kenapa bisa seperti itu? Hingga disisa malam, Renat hanya menangis. Ia tidak pernah membayangkan hal seperti itu akan terjadi. Padahal sebelum tidur, ia masih asik chatting dan tergelak bahagia bersama bule asing sakit jiwa. Ah, perasaannya begitu mudah dilempar kesana kemari. Renat tersadar dari lamunan singkatnya. Kembali dilihatnya langit. Tidak banyak harapnya, hanya ingin agar langit mendengarkan. Dan apabila langit cukup berbaik hati, semoga ia menyampaikannya pada Sang Mama. • r e t u r n • Menjelang sore, Renat baru membuka pagar rumahnya. Puluhan notifikasi dari teman-temannya masuk. Tentu saja, Ibu Tiwi mengabarkan langsung pada sekolah tentang ketidakhadiran Renat dalam lomba. Renat mengambil kunci rumah yang memang ia bawa kemanapun. Ketika tengah asik menyandarkan diri pada pintu, Renat sukses terjatuh tanpa sempat berteriak tolong terlebih dulu. Pintu rumahnya terbuka, pertanda ada yang pulang sebelum Renat. Langkah Renat pelan menyusuri ruang tamu, dan ketika masuk ke ruang keluarga, dapat dilihatnya dengan jelas Sang Mama yang tengah sibuk dengan koper. "Mama pulang?" tanya Renat dengan suara rendah, tapi sanggup membuat Mamanya menoleh. "Kamu baru pulang?" Mamanya bertanya, kentara tengah khawatir. "Kok Mama gak denger suara mobil? Kamu jalan?!" Mamanya mendekat, membuat Renat harus menahan diri. "Re, jawab mama! Kamu jalan?!" Renat mengangguk pelan, sehingga Mamanya sukses melotot hebat. "Renat! Mamakan udah beliin kamu kendaraan. Digunain dong! Bisa ngehargain kerja keras orang tua nggak sih kamu? Buat apa kamu jalan? Mama nggak suka ya kamu kayak gini." "Ma," panggil Renat bergetar. "Apa lagi? Mau suruh Mama jual mobilnya? Iya? Kamu pulang jalan kayak gini jangan-jangan karna ada pacar, ya? Kamu pacaran sama anak jalanan, ya?" Tatapan Renat nanar. Tidak suka pada tuduhan Mamanya. "Enggak, Ma," jawab Renat dengan suara susah keluar. "Jangan bikin Mama malu gitu dong, Re! Nanti apa kata Om Andra kalau tau anak Mama kucel kayak gitu? Mama malu, dong." Renat membenci sosok Mamanya yang sekarang. Sungguh. "Ma, Re nggak mau Mama nikah lagi! Mama masih jadi istri sahnya Papa, Ma!" "Nggak lama lagi, Mama sama Papa kamu bakal cerai. Jadi kamu harus ikut sama Mama nanti." Renat menggeleng cepat. Membayangkan hal tersebut saja Renat muak. Hidup dengan Papa baru? Jangan bercanda, Renat tidak akan pernah mau. Lebih baik ia menjadi tua di jalanan. "Pergi, Ma! Pergi jauh-jauh! Berhenti bikin neraka di hidup Re, Ma." "Renata!" Renat berbalik cepat, muak pada segalanya. Dalam hati berharap agar Tuhan menghentikan semua yang terjadi padanya. • r e t u r n •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN