10 - Berubah

1463 Kata
"Kamu yang harusnya sadar!" "Kenapa aku? Kenapa bukan kamu? Aku bukan boneka yang bisa kamu atur sesuka kamu. Aku punya kerjaan yang nggak pernah bisa aku tinggal. Model itu hidup aku." "Terus Renata? Renata bukan hidup kamu?" "Renat kan udah gede. Dia udah bisa apa-apa sendirian. Terus apa lagi?! Uang juga selalu ada buat dia. Nggak ada yang kurang, kan?" "Astaga Gita. Kemana fikiran kamu? Sampai kapanpun, Renat selalu butuh kita, terlebih kamu sebagai Ibu. Jangan egois. Aku suami kamu, dan aku berhak ngatur kamu." "Terserah kamu, pokoknya jadwal aku penuh bulan ini. Dan satu lagi, status kamu sebagai suami aku, itu nggak lama lagi." Usai mandi, ketika waktunya Renat mengisi kembali perutnya, pertengkaran yang sama sekali tidak Renat inginkan kembali terdengar. Kepalanya lelah. Setiap Mamanya kembali ke rumah, keributan tidak pernah terelakkan. Dulu Renat akan menangis, tapi sepertinya, sebuah tangisan Renat tidak berpengaruh apa-apa bagi Mamanya. Renat tertawa sinis sendirian bagaikan orang kehilangan akal. Tapi sepasang bola mata coklat itu tentu tidak bisa berbohong. Sekuat apapun Renat menutupi, bukti bahwa matanya menyuarakan segalanya membuat Renat mengalah. Keluarga yang dipikirnya sempurna, ternyata kacau balau. Kehidupan Renat yang dulu, yang selalu dibalut kesenangan sejak kecil. Apapun yang Renat inginkan, selalu ada. Tinggal bilang mau apa, dua jam kemudian benda itu sudah ada di tangannya. Namun sekarang Renat seakan sadar, bahwa harta tidak pernah membuatnya bahagia secara utuh. Yang dia perlukan adalah ucapan selamat pagi dengan senyuman hangat dari kedua orang tuanya, bukan wajah-wajah dingin yang membuatnya mual untuk sarapan di rumah. Renat tau, bahwa tidak lama lagi, semuanya akan selesai. Dilangkahkannya kaki menuju kamar mandi, bersembunyi disana. Kilasan masa lalu yang penuh tawa bersama kedua orang tuanya terlintas bagai pisau tajam. Membuat Renat lagi-lagi merasakan sakit yang teramat dalam. Siapa sangka bahwa kehidupannya akan jatuh sedalam ini? Dan lagi-lagi Renat membuat sebuah pilihan. Bahwa di detik ini, dia bukan lagi Renat dulu. Bukan lagi Renat cerdas dengan segala kerendahan hatinya. "Renat benci mama ...," ujar Renat sendirian dengan nada pelan di hadapan cermin. "Renat benci papa ...," Matanya yang kerap memancarkan ekspresi sendu menatap gunting di sebelahnya. "Renat benci Renat ...," tambahnya bergetar. Perlahan, diambilnya gunting tersebut. Masih dengan wajah patung, Renat memotong rambut indahnya. Rambut yang jatuh sempurna hingga punggung sudah berganti pendek, di bawah telinga, persis laki-laki. Tujuan Renat melakukan ini semua hanya teruntuk satu hal, mengembalikan kehidupannya agar kembali seperti dulu. • r e t u r n • "Renat kok nggak dateng, ya?" Victor yang tengah melipat-lipat kertas untuk membuat sebuah kapal bertanya kepada Abi yang sedang serius menatap papan tulis. "Lah, mana gue tau," ujar Abi datar, sama sekali tidak menoleh pada Victor. "Masa?" "Bodo." "Jangan dijawab, Idiot." "Lo ngomong lagi, gue gantung." Abi menatap Victor kesal. Memangnya kenapa jika Renat tidak datang? Bisa saja karena perempuan itu memiliki urusan, bukan? Tidak semua tentang Renat harus disangkut pautkan pada Abi. Lama-lama, ternyata bikin mual. Pasalnya, karena kemarin Renat tidak ada, Ibu Tiwi malah melepas amarah dan kepanikannya pada Abi. Dan hal tersebut membuat Abi kesal. Hingga akhirnya, apapun yang terjadi pada Renat nantinya, Abi tidak akan pernah peduli lagi. Dia terlampau malas. "Gitu banget sih lo setiap gue bicarain Renat." "Ya suka-suka lo, lah. Mau ngomongin dia sampai mulut lo busaan juga gue gak masalah. Asal jangan bahas sama gue." "Jangan benci, nanti cinta," ujar Victor sambil mengerlingkan matanya. "Bacod," balas Abi ketus. "Serem banget, sih? Kalau diliat-liat, lo cocok tau sama Renat." "Gigi lo cocok," sahut Abi sambil membuang muka. Maupun Victor atau Renat, sepertinya sama-sama membuat kesalnya kesal. "Ya Allah, semoga Abi jadi jodohnya Renat." Abi kembali menatap tajam pada Victor, sebelum akhirnya, Abi memukulkan buku catatan panjang miliknya dengan kasar tepat di kepala Victor. "Sakit, Mayat!" "Abi! Victor! Kalian kenapa?!" Guru yang tengah menjelaskan pelajaran pun merasa terganggu dengan rusuhnya dua lelaki itu. "Di kepala Victor ada nyamuk, Buk," ujar Abi asal, tidak memperdulikan tatapan kesal serta kesakitan dari Victor. Abi tampak kembali fokus dengan pelajaran. Tapi nyatanya, pikiran lelaki itu tengah terbang menuju satu nama. Renat. Kemana perempuan itu sejak kemarin hingga hari ini? Apa semuanya karena Abi? Tanpa sadar, Abi menghela napas kasar. Membuat Victor yang kini sibuk mencoret bagian belakang buku sontak kaget. "Monyet lo! Kaget gue," ujar Victor sengit. "Apaansih dasar alay," balas Abi tidak kalah ketus. • r e t u r n • "Renat! Apa-apaan kamu?!" Mamanya yang baru saja masuk ke ruang makan langsung berteriak. Renat hanya menatap Mamanya tanpa ekspresi, terus menyibukkan diri dengan lembaran roti. Baju rumahan yang sedang Renat kenakan menandakan bahwa perempuan itu tidak akan pergi ke sekolah hari ini. "Terus itu bajunya? Kamu gak sekolah?" "Lagi libur," sahut Renat datar sembari mengunyah rotinya. Ah, dia bosan jika harus memakan roti selai setiap pagi. Tapi Renat bisa apa lagi? Menyumpahi makanannya? Sudah syukur dia bisa makan sampai detik ini. Sedang di luar sana, begitu banyak orang-orang yang kesulitan mencari pengganjal untuk perut. Lalu masak sendiri? Ah, dia tidak bisa masak. Tidak mungkin Renat mengemis pada Papanya untuk diajari memasak. Sedangkan, yang Papanya ketahui hanyalah dokumen-dokumen tidak penting yang bisa terbakar kapan saja. Lalu meminta pada Mamanya? Ya Tuhan, Renat bisa tertawa hebat karena ini. "Libur gimana?" tanya Mamanya lagi. "Re, kamu liat nggak gimana rambut kamu? Kamu potong sendiri? Re, Mama nggak suka kalau kamu kayak gini, ya. Kamukan bisa gunain uang, terus pergi ke salon. Terus maksudnya apa dipendekin kayak cowok gitu?" Mamanya tidak berhenti bersuara setelah duduk di salah satu kursi, ikut mengambil roti. Renat memberikan tatapan tidak suka pada Mamanya. Dengan mulut disumpal roti, Renat berdiri. Mendorong kursinya ke belakang lalu berlalu keluar ruang makan. "Re, kamu mau kemana?!" Teriakan itu Renat anggap angin lalu. Biarlah, karena ia sudah bertekad untuk berubah. Tiba di ruang keluarga, Renat berhenti. Berputar sambil celingak-celinguk kanan kiri. Tidak ada siapapun. Papanya tentu sudah pergi sejak pagi karena Mamanya di rumah. Dan kejamnya, Papa Renat tidak membawa putrinya ikut serta. "Re, Mama nggak pernah ajarin kamu jadi pembangkang kayak gini." Renat menelan potongan terakhir dari rotinya, lalu bersuara, "Ha? Ngomong apa? Ajarin aku? Nggak salah?" Tanpa sadar, cara Renat bercakap pun sudah berubah. Tidak lagi memanggil dirinya dengan nama apabila Mamanya yang menjadi lawan bicara. "Pasti karna Papa kamu, kan? Pokoknya nanti, kalau Mama sama Papa resmi pisah, kamu harus ikut Mama buat tinggal di Korea." Mulut Renat sukses terbuka walau tatapannya tetap datar. Perempuan itu sedang tercengang, meski wajahnya tampak seperti orang tidak niat. Tapi sesudah itu, Renat pura-pura seperti tengah menguap. "Jadi mau pindah ke Korea? Kenapa nggak dari sekarang? Secepetnya kalo bisa. Mata aku sakit liat Mama disini. Oh juga, gak usah pake acara salah-salahin Papa. Kita semua tau siapa yang salah." "Renata!" teriak Mamanya tidak suka. "Kamu kenapa?" "Apanya yang kenapa?" "Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu." Renat seketika tertawa sinis walaupun hatinya tengah terbakar hebat. Sakit, Ya Tuhan. Melihat Mamanya tidak lagi seperti dulu begitu menyiksakan bagi Renat. Ia seperti dihukum, dipaksa mati. "Terus Mama pikir, Mama boleh ngomong ke media manapun kalau Mama bakal nikah lagi? Liat, Ma! Liat siapa yang lebih salah? Aku atau Mama? Waktu aku harus pontang-panting nahan diri supaya nggak nangisin sosok Mama yang lagi ketawa bahagia sama calon baru Mama. Terus dengan gampangnya Mama lontarin pertanyaan, aku kenapa? Jelas-jelas Mama akar dari semuanya, Ma." Setelah itu Renat berbalik, kaki perempuan itu membawanya cepat menuju kamar. Demi Tuhan, Renat membenci situasi ini. Dalam hati, Renat mengutuk segalanya. Pun berdoa agar Mamanya lekas pergi. Kemana tadi? Korea? Kenapa masih di lingkungan Asia? Sekalian saja tinggal di ujung dunia dan jangan pernah kembali. Nanti, ketika Mamanya sah berpisah dari Sang Papa, Renat benar-benar akan membuat palang, 'dilarang masuk untuk mantan ibu' di depan rumahnya. Rumah ini hanya miliknya dan Papa. Tapi walau begitu, Renat tetap saja membenci Papanya. Bahkan Renat, juga membenci dirinya sendiri. Sepertinya di dalam hati Renat, tidak ada lagi perasaan lain selain benci. Di dalam kamarnya, Renat mengunci diri. Menampar pipinya sendiri hingga lelah. Sibuk menyalahkan keadaan atas apa yang dialaminya kini. Ketika matanya menangkap jam di dinding, ternyata sudah pukul 10. Renat berjalan ke arah tempat tidur, membuang dirinya disana. Bunyi ponsel di nakas membuat Renat menoleh. Buru-buru digapainya ponsel untuk melihat satu pesan baru yang masuk. From: 08xxxx Bsk usahain km dtg. Bu Tiwi mau ktm. Renat mengernyit. Untuk apa lelaki ini mengirim pesan seperti ini? Setelah semua yang dilakukannya terhadap Renat kemarin? Hei! Tentu saja Renat tau bahwa Abi adalah pengirimnya. Karena, siapa lagi selain lelaki itu yang akan memanggil kamu pada Renat? Tidak lama setelah itu. Notifikasi chat yang masuk kembali membuat Renat mengernyit. Abi Monyet : km bc smsnya? Abi Monyet : cek sms jgn lupa. Renatasya Edelweis : gak peduli gue. Renat sukses memutar bola mata ketika Abi hanya membaca chatnya. Dasar lelaki sakit jiwa. Renatasya Edelweis :  Dan status chat terakhirnya, sama sekali tidak dibaca. Abi sialan! • r e t u r n •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN