11 - Bumerang

1337 Kata
Sudah seminggu, Renat tidak kunjung masuk sekolah. Kegiatan anak perempuan itu hanya di dalam rumah. Mulai dari dapur, ruang makan, menatap sebentar ruang keluarga, setelah itu mendekam bagai tahanan di bawah selimut tebalnya. Kehidupannya menjadi monoton. Renat benar-benar tidak banyak melakukan apapun. Ponselnya sengaja dimatikan. Bermain laptop pun tidak. Menonton acara televisi juga ikut absen. Renat lebih banyak melamun, lalu tiba-tiba menangis sendirian. Anak perempuan itu seperti sedang diburu oleh sesuatu. Hingga di kepalanya hanya ada satu kata; ketakutan. Renat menatap suasana malam yang sunyi dari kaca kamarnya. Rambut pendeknya sibuk bergerak sejak tadi karena ulah angin. Dengan mengetukkan jemarinya pelan pada bingkai jendela tempat tangannya bertopang, perempuan itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa dia berhenti sekolah saja? Karena Renat benar-benar tidak sanggup dengan reaksi anak-anak jika besok dia masuk sekolah. Dihelanya napas kasar sambil mengacak rambut. Bingung harus melakukan apa. Bagaimana jika anak-anak di sekolah ada yang mengetahui tentang siapa Renat dan siapa Gita Anindya? Renat tidak siap disiram oleh beribu kebencian. Renat tidak ingin menjadi objek perhatian orang banyak dengan penampilannya. Tapi, bukankah Renat telah memilih? Perempuan itu berbalik, berjalan mendekati tempat tidur dan merebahkan diri disana. Jendela ia biarkan tetap terbuka. Membiarkan angin malam menemani Renat hingga nanti ia terlelap dalam mimpi buruk. Ya, akhir-akhir ini Renat kerap bermimpi buruk. Matanya terpejam, tapi mulutnya bersenandung pelan. Pertanda kesenduan, kelelahan, juga keputus asaan. Siapa sekarang yang peduli padanya? Tidak ada. Renat kembali duduk, menghela napas entah untuk ke berapa kalinya. Dia kembali memutuskan sesuatu. Dengan langkah cukup pasti Renat berjalan menuju lemari dan membukanya. Menatap seragam putih abu-abu yang besok akan kembali ia kenakan. Dibukanya pintu lemari satunya, deretan sweater, hoodie oversize, jaket, topi, tersusun rapi. Diambilnya satu jaket warna hitam juga topi hitam. Menggabungkan kedua benda tersebut dengan seragam putih abu-abu. Hal yang akan Renat kenakan esok hari. Sebab Renat sudah memutuskan, tidak lagi peduli dengan komentar orang-orang tentang bagaimana dirinya. Jika nanti dia menjadi sorotan, biarlah. Itu sudah menjadi konsekwensi sejak Renat memilih mengubah sikapnya. • r e t u r n • Abi menatap layar televisi di depannya dengan dahi mengernyit. Entah hanya sebuah kebetulan atau memang memiliki hubungan. Tapi firasatnya tidak enak. Sesuatu yang tengah tayang di televisi tersebut benar-benar mengunci pikirannya. Mana mungkin? batin lelaki itu gundah. Anak lelaki itu mengalihkan pandangan pada benda persegi panjang di pangkuan yang tengah memutar salah satu anime lama. Tangannya sesekali menggulir layar ponsel. Berharap segera mendapatkan sebuah balasan. Renatasya Edelweis : Gak peduli gue. Renatasya Edelweis :  Abi kembali membaca chat terakhir dari Renat. Butuh beribu kali untuk berpikir baik buruk jika dia kembali mengirim chat pada perempuan itu. Pada akhirnya, Abi memang mengirim chat. Dan permasalahannya, Renat tidak kunjung membalas. Padahal Abi sudah menunggu lama. Jemarinya memijit pelipis. Pusing sendiri. Kembali diliriknya televisi yang masih menayangkan sesuatu yang sama. Bukan, bukan Abi yang memilih channel tersebut, melainkan Sang Mama yang tengah sibuk membuat sesuatu di dapur. Nadine sengaja meminta Abi menemaninya di ruang keluarga sebab mereka hanya tinggal berdua. Aldric dan kedua adik Abi sedang pergi ke toko buku. "Nih, A." Nadine datang membawa tempat yang berisi berpotong-potong buah segar. Tangannya terjulur menuju mulut Abi, menyuapkan anggur manis. "Manis, kan?" Abi mengangguk, dengan mata masih fokus pada tulisan translate dari anime yang sedang dilihatnya. "Apasih, A? Mama gak ngerti Aa nonton apa," ujar Nadine terdengar putus asa ketika mengintip tontonan sulungnya. "Mama kan taunya cuma horror," sahut Abi asal, juga tidak menatap Nadine. "Ih, itukan kerjaan Papa kamu makanya Mama tau." Nadine sebal sendiri sambil menggapai remote di depannya, kembali sibuk mengganti channel. "Eh, Ma," panggil Abi kini menoleh pada Nadine dengan tatapan lebih serius. "Kenapa?" "Mama liat perempuan di TV tadi?" Nadine mengernyit, berpikir dan kembali menekan tombol remote agar kembali ke channel sebelumnya. Tapi sayang, tayangan iklan yang didapat. "Siapa, A?" tanya Nadine terdengar penasaran. "Gak deh, gak jadi, Ma," ujar Abi pelan. Kembali menjalankan jemarinya pada kusor benda di pangkuan. "A, jangan bikin penasaran!" Nadine tampak menahan gemas pada Abi. "Bilang ada apa ke Mama." "Bukan apa-apa, Ma." "Terus nanti Aa lebih milih cerita ke Papa, kan? Mama gak boleh tau lagi nih pasti. Kenapasih, sering banget rahasiaan gitu ke Mama?" Tepat setelah Nadine menyelesaikan kalimatnya, suara teriakan Judith diikuti pukulan pada pintu terdengar. Abi buru-buru mencium pipi Nadine dan memberikan cengirannya. Mengawaskan benda-benda elektronik sebelum akhirnya berlalu. Abi membuka pintu, dan wajah lucu Judith menyambutnya. "Aa! Liat dong Judith beli apa?!" Abi mengalihkan tatapannya pada tangan Judith, dan dengan polos bersuara. "Pisang?" "Ih! Norak banget si Aa. Ini itu squishy, tau!" Judith mengerucutkan bibirnya sebelum memilih masuk ke dalam rumah. Suara teriakan adik bungsunya lagi-lagi terdengar "MAMA! LIAT DONG JUDITH BELI APA?!" Abi hanya geleng kepala, lalu menatap Bia dan Papanya yang tengah membawa sesuatu. "Komik A, gimana?" "Yah, A! Bia lupa!" Bia memberikan tatapan paniknya pada Abi. "Serius? Jadi nggak ada?" Bia kemudian tergelak diikuti Aldric, "Ekspresinya gitu banget, sih? Iya ada. Malah langsung cari komik Aa dulu." Segera saja, Abi menghembuskan napas lega. Tangannya mengambil benda yang Bia bawa. Sibuk mengecek isinya. "Aman-aman ajakan, A, di rumah?" "Aman," sahut Abi untuk pertanyaan Aldric. Lagi-lagi fokus anak lelaki tersebut sudah ditarik semua pada komik-komiknya. "Mama tidur?" "Nggak. A disuruh temenin nonton." "Nonton apa? Horror?" Abi menggeleng, "Turki. Eh kok Turki. Korea, maksudnya." Dan Aldric hanya dapat menghela napas panjang mendengar jawaban tersebut. Sedang Abi bergegas menuju ruang keluarga. Didapatinya Judith tampak sibuk dengan anime yang tadi Abi tonton. Anak perempuan yang masih mengenyam bangku SMP tersebut tidak jauh berbeda kesukaannya dengan Abi. Walau Judith tidak se-pro Abi. "A, Judith mau nonton yang ini dong. Yang Pangeran Zein itu, lho. Si cewek rambutnya merah tukang bikin obat." "Tukang banget bahasanya, Dith?" celetuk Bia sambil membolak-balikkan buku barunya di sebelah Nadine. "Ah, Teteh nyambung aja, sih?" sahut Judith tidak peduli. "A, Judith numpang nonton dulu, ya." "PR Judith udah selesai, kan?" Nadine bertanya lebih dulu. Sejak tadi dia sibuk memperhatikan kegiatan anak-anaknya. "Udah dong, Mam!" ujar Judith semangat. Entah jujur atau bohong. Abi yang selesai mencarikan anime tersebut langsung meraih ponselnya, berniat untuk kembali ke kamar. "A," panggil Nadine dan Abi langsung berbalik badan. "Kenapa, Ma?" "Itu yang bales chat pacarnya Aa, ya?" Abi sukses mengernyit. Tangannya buru-buru menekan tombol home button agar ponsel menyala. Seketika, notifikasi yang ia tunggu sejak lama terlihat. Renatasya Edelweis : ha? Dalam hati Abi menahan kesal. Pesan panjangnya hanya dibalas dengan satu kata tidak bermutu seperti itu. Abi kembali menatap Nadine, lalu segera menggeleng dan berlalu menuju kamar. • r e t u r n • Suasana sekolah berubah rusuh. Ketika seorang perempuan dengan seragam dibalut jaket dan topi hitam berjalan di sepanjang koridor. Awalnya siswa dan siswi lain menebak bahwa perempuan itu anak baru. Tapi mereka salah. Itu Renat. Setelah seminggu meliburkan diri, akhirnya Renat kembali. Dan munculnya Renat menimbulkan banyak tanda tanya di kepala orang-orang yang mengetahui bagaimana Renat sebelumnya. "Gue pikir anak baru, Kingkong!" "Sumpah tadi gue pikir siapa pakai item-item gitu." "Itu Renat, Woi!" "Nais!" "A en je a ye!" "a***y!" "Demi apaan Renat?" "AKU TERCENGANG!" "Seriusan woi itu Renata? Renata, kan? Lah, operasi dia?!" "Anjrit. Kenapa Renat terlihat tampan?" "Alig! Potong rambut dia?" "Meninggal." "Bagong! Bisa-bisa yang cewek rela lesbian semua." "Renat ganteng banget, Woi! Aduh, mana topian." "Renat pacarin aku, dong!" Teriakan seperti itu bersahutan satu sama lain. Membuat Renat kian menurunkan bagian depan topinya. Dia risih dengan ucapan siswa siwi sekitar. Tapi tidak ada yang bisa Renat lakukan selain terus berjalan menuju kelas. Teman-temannya benar-benar tidak mengerti. Dan hal tersebut membuat Renat menghela napas lelah. Sepertinya, sikap Renat yang terlampau ceria membuat orang berpikir bahwa perempuan itu tengah bercanda. Ketika hendak memasuki kelas, hidung Renat disambut oleh wangi lembut yang begitu ia kenal. Abi disana, menyambut tatapan Renat. Tapi perempuan itu tidak berbicara. Tidak lagi menggoda Abi seperti biasa. Renat berlalu masuk kelas. Mengambil bangku paling belakang untuk diduduki. Renat sadar, bahwa saat ini, ia tengah memegang bumerang. Karena kini, Renat bersikap tidak jauh berbeda seperti Abi. Sikap yang teramat Renat benci, kini ia menyandangnya. Dan akan membawanya kemanapun. Makan tuh, Re! batinnya menghina. • r e t u r n •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN