17 - Bia dan Monokrom

1288 Kata
"Iya, kita makan dulu, Pa," ujar Abi pada Aldric lewat telepon. "Abis ini langsung pulang." Abi mematikan ponselnya lebih dulu setelah mendengarkan nasihat pendek dari Aldric. Dikembalikannya ponsel ke dalam saku. Baru setelah itu membawa pesanan mereka menuju meja yang sudah dipilih oleh Bia. Abi menghela napas, melihat Bia yang masih sibuk tersenyum dengan ponsel. Entah siapa yang berhasil melakukan hal tersebut pada adiknya itu. Apa Isaac, atau teman yang lain. "Ponselnya dibuang dulu, bisa?" celetuk Abi setelah mengambil tempat di seberang Bia. "Kok dibuang?!" Bia sukses merengut kesal. Paham maksud perkataan Abi, anak perempuan itu buru-buru mematikan dan membalikkan keadaan ponselnya. Bertujuan supaya dia tidak bisa melihat setiap notifikasi yang masuk. Abi meneguk minumannya perlahan, berbeda dengan Bia yang tampak menghela napas, jelas bahwa dia tidak menginginkan makanan tersebut. "Pesen yang lain aja ya, A?" pinta Bia sambil menjauhkan makanan di hadapannya. "A pernah bilang, kan? Kalau kamu jalan sama A, waktu lagi makan harus makan nasi. A gak peduli sama program diet kamu." "Ya, tapikan, A—" "Makan, Abiana!" ujar Abi pelan tapi tetap terkesan memerintah. Lelaki tersebut memang tidak menyukai Bia dengan segala t***k-bengeknya terhadap bentuk tubuh impian. Menurut Abi, jika jam makan memang sudah tiba, berarti harus makan. Dan lagi, setidaknya dalam sehari harus ada nasi. Bukan terfokus pada rerumputan dan menyiksa diri sendiri. "A, tapi tadi Bia udah makan nasi sama Isaac." "Yaudah, makan lagi." "Nggak mau, A," rengek Bia persis anak kecil. "Disini gak jual rumput, Bia," ujar Abi asal. "Berhenti bilang rumput ya, A! Emangnya Bia kambing?!" "A gak bilang kamu kambing," jawab Abi ringan. "Makan, cepetan." "Ya Allah! Nggak mau tau, nanti malem pokoknya A bakalan Bia tarik buat temenin Bia lari. Ih, bisa-bisa betis Bia gedean, A!" "Perlu A suapin?! Nurut apa susahnya, sih?" Abi yang sudah mulai makan sejak tadi jadi geram sendiri. Bia kembali merengut kesal. Perlahan, anak perempuan itu mulai makan. Sedang Abi kembali diam. Pikirannya berkelana sebab bingung harus memulai topik darimana. "A," panggil Bia, dan Abi memberikan tatapan penuh tanya. "Aa kok bisa tau tentang Isaac?" "Gak penting tau darimana. Cuma, kenapa kamu gak bilang?" Abi berhenti sebentar menyuapkan makanan ke mulutnya. Sepasang matanya fokus menatap sang adik. "Bia nggak mau Papa tau, A. Bia takut kalau cerita sama Aa, terus A beberin ke Papa." Seperti yang Abi duga, bahwa adiknya memang tidak ingin Papa mereka mengetahui. "Kamu kenapa ketutup banget sama Papa?" "Aa kenapa ketutup banget sama Mama?" balas Bia balik. "Karna Bia tau, A, Papa pasti selalu keluarin macam-macam larangan buat Bia. Dilarang jadi model, dilarang lanjutin pendidikan ke luar. Tapi Aa? Dikasih semua yang Aa mau. Padahal bukan cuma Aa yang punya mimpi, tapi Bia juga." "Maksud Papa mungkin nggak gitu—" "Terus apa? Bia nggak mau jadi dokter, A. Kalau Bia boleh balikin waktu, Bia gak bakalan mau masuk kelas akselerasi. Bia nggak suka waktu sepupu-sepupu yang lain muji kepinteran Bia terus nyeletuk kalau Bia calon dokter. Mimpi Bia jadi model, A! Ketemu Uncle Step dan belajar sama dia di London." "Kamu gak perlu salah-salahin masa lalu. Kamu gak perlu balik ke masa itu dan ngerubah sesuatu. Cukup bersyukur sama yang sekarang. Kejar apa yang mau kamu kejar, selagi gak ngelukain diri kamu sendiri." "Tapi Bia gak mau Papa kecewa, A." Dan air mata gadis itu luruh di pipinya. Ia terisak menahan sesak. Telapak tangannya sigap menghapus. "Aa tau kalau Papa bakal lebih kecewa kalau liat kamu nangis kayak gini. Masih ada waktu buat ngebujuk Papa. Dan Aa bakalan bantu kamu." Bia tersenyum samar sambil mengangguk. Merasa beruntung karena memiliki Abi. Setidaknya, akan ada seseorang yang jelas tidak akan pernah meninggalkannya sendiri. "Terus tentang Isaac," sambung Abi, "mau sampai kapan kamu tutupin? Mau bohong sampai kapan kalau kamu pergi sekolahnya bareng Haruka?" "A, please! Bantu Bia nutupin ini dulu dari Papa. Bia janji bakal jujur, tapi belum bisa sekarang." Entah untuk yang ke berapa kalinya, Abi menghela napas panjang. Dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain menyanggupi permintaan Bia. • r e t u r n • Motor Abi berbelok menuju jalanan yang lebih sepi kendaraan. Lelaki itu memperlambat kecepatan motornya agar aman. Setelah dekat dengan rumah, tampak Niko—teman Judith—membukakan pagar untuknya. Adik bungsunya tersebut sepertinya tengah asik berceloteh panjang lebar. Dan Niko akan seperti biasa, menjadi pendengar setia. "Kok Aa sama Teteh pulangnya telat?" Judith yang sepertinya tidak mengetahui permasalahan bertanya tepat setelah Abi membuka helm dan turun dari motor. Sedang Bia sudah berlari masuk lebih dulu. "Iya tadi ada urusan," jawab Abi singkat. "A, Niko mau nanya sesuatu," celetuk Judith, lalu menggerakkan dagunya ke arah Niko, meminta anak lelaki itu bicara. "Kenapa?" Abi menatap Niko penasaran dengan tangan sibuk mengacak rambut. Kebiasaannya apabila baru saja membuka helm. "Belajar motor kayak gitu susah nggak, A?" Niko mendekati motor Abi, menatap lekat tiap incinya. "Emang kenapa?" Abi bukannya menjawab, malah balik bertanya. "Mau minta ke ayah buat beli motor. Biar kalau Judith kemana-mana, enak ada Niko yang bisa anterin." Judith yang namanya disebut-sebut oleh Niko seketika berubah menjadi cacing kepanasan. Dan Niko yang melihat sontak tertawa keras. "Nggak! Kalau bawa ya bawa aja. Gak usah ajak-ajak Judith." "Abang galak!" cibir Niko dan Judith mengangguk semangat. "Abang galak!" ulang Judith penuh semangat. "Diem. A iket kalian berdua tau rasa." Abi berbalik, berjalan menuju rumah. "Kalau diiket sama Judith ya Niko maulah, A," celetuk Niko tak pelak membuat Abi geram. "Pulang sana!" Abi berteriak. Hingga dua bocah SMP itu kembali tertawa kuat. Susah jika harus berurusan dengan Judith dan pasukannya. Abi lebih baik mengalah daripada menjadi cepat tua karena meladeni mereka. Dengan sedikit berlari kecil, Abi masuk ke dapur. Ditemukannya Nadine yang sedang membuat segelas s**u, kemungkinan untuk Bia. Abi mencium pipi Nadine singkat sebelum bersuara. "Papa dimana, Ma?" "Lagi liatin Bia di kamar," jawab Nadine sambil tersenyum samar. Abi menatap wajah lelah itu, dan raut ketakutan jelas-jelas terbaca. "Makasih ya, A, udah bantu cariin adiknya." "Kan udah kewajiban, Ma," ucap Abi memberikan senyum. "Oh iya, Ma, yang Abi pesen tadi ada?" "Oh itu, udah Mama letakin langsung di kamar A." Abi berbinar, dengan cepat ia meninggalkan dapur dan berlari menuju tangga, hendak ke kamar. Anak lelaki itu membuka pintu kamarnya cepat, matanya menyisir permukaan tempat tidur. Dan kotak berukuran 30X30 senti berwarna hitam sukses menarik perhatian Abi. Album foto. Dilemparkannya tas lebih dulu ke atas tempat tidur, baru setelah itu Abi menyusul melompat semangat. Jantungnya berdebar tidak biasa. Walaupun Abi sudah mengetahui fakta sebenarnya, tapi rasa takut tersebut tetap saja ada. Bagaimana ia dan Renat bisa berada dalam satu potret dan melakukan kegiatan bersama .... Abi mulai membuka kover album foto, bibirnya sukses tertarik membentuk lengkungan. Bukan, dia belum menemukan Renat disana. Melainkan melihat kedua orangtuanya tampak serasi. Wajah kejam milik Mamanya dan ekspresi jahil dari Sang Papa. Entahlah, bagi Abi, orang tuanya memang tampak serasi. —Dia, dengan semua kejahilannya dan berhasil bikin aku makin jatuh.— Abi tertawa kecil. Membaca tulisan yang ditulis langsung oleh Mamanya sebagai sebuah keterangan. Dan Abi tau, bahwa kalimat tersebut ditujukan Mamanya untuk Sang Papa. Kembali Abi membalikkan halaman. Kebanyakan berisi kegiatan di butik milik Nadine. Dan Abi memilih menggerakkan tangannya lebih cepat. Tangannya terhenti begitu saja di penghujung halaman. Matanya menatap lekat-lekat sepasang bocah lucu yang tengah asik bermain. Jemarinya bergerak pelan di atas potret dirinya di masa kecil. Dimana wajah Abi tampak meringis sedangkan rambutnya ditarik oleh anak perempuan di sebelahnya. Lalu selanjutnya ketika mereka tertawa lepas bersama. Di dalam kamarnya yang luas, Abi terdiam sendirian. Matanya menatap Abi kecil yang tengah menjulurkan telunjuknya tepat di pipi anak perempuan yang jongkok di sebelahnya. —Hebat, anak Mama udah mau main sama Dede Re.— Re? Tentu, itu Renat. Abi membeku di tempatnya. Ia sukses terdiam terhadap kenyataan. Fakta bahwa ia dan Renat sudah dekat sejak kecil entah kenapa mencekiknya. • r e t u r n •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN