Renat bergulung malas di dalam selimut hangatnya. Hujan yang turun sejak subuh membuat remaja tersebut enggan bangkit, terlebih-lebih untuk mandi. Dan sudah bisa dipastikan, anak perempuan itu akan bolos hari ini.
Lagipula, Renat sudah terbiasa tidak muncul di kelas. Jika nanti guru-guru mengabari kedua orang tuanya, itu urusan mereka. Renat tidak ingin ambil pusing. Toh, kemungkinan besar kedua orangtuanya tidak akan peduli.
"Ahhh!" erang Renat tiba-tiba, tangannya bergerak menuju perut. Memberi tepukan-tepukan kecil. "Gue laper!" teriaknya lagi.
Benda terakhir yang masuk ke perutnya hanya s**u rasa pisang kemarin. Ah, juga beberapa bungkus makanan ringan, minuman bersoda, dan beberapa kotak jelly. Renat benar-benar ingin mencicipi makanan rumahan. Sebenarnya ia bisa saja memesan makanan dari sebuah rumah makan, hanya saja, Renat terlalu malas.
Ya, orang yang melihat pasti akan berpikir bahwa Renat merupakan remaja yang suka membuat kehidupan menjadi sulit. Tapi, mereka tidak mengerti. Menyenangkan bagi mereka yang hanya berjalan ke dapur, lalu menemukan nasi panas disana. Berlimpah makanan lezat yang bisa langsung disantap. Lalu jika kenyang, dengan mudah mereka buang.
Mereka beruntung, memiliki seorang baik hati yang siap masak kapan saja.
Renat menghela napas panjang. Ia lelah memikirkan sesuatu yang indah tanpa ujung dan pangkal. Jika pada akhirnya, selalu saja kesedihan yang mengetuk kelopak matanya setiap ia terbangun.
Dan otomatis, seperti ada bisikan yang akan terdengar. "Siap dengan hari ini, Renata?"
Tidak. Renat tidak pernah siap menyambut hari setelah Mamanya berubah. Anak perempuan itu begitu malas bertemu dan menyapa mentari bahkan orang-orang. Apalagi, berpura-pura.
Jika dulu mudah baginya memasang topeng keceriaan di depan teman-teman, sekarang tidak lagi. Terlebih karena seluruh anak-anak satu sekolah sudah mengetahui siapa Renat dan Gita—Mamanya.
Dendam kepada Anna? Tentu. Rasa-rasanya Renat begitu ingin membuang sosok penghianat seperti Anna ke neraka. Tapi tidak, tidak untuk sekarang. Ia ingin menemukan waktu yang tepat untuk membalas.
• r e t u r n •
Bel rumah berbunyi, membuat Renat yang tengah sibuk dengan empat sandwich sukses tersentak karena kaget. Ia segera bergegas keluar dapur dan berlari menuju ruangan lain yang lebih luas, ruang tamu. Renat memilih untuk mengecek dari jendela terlebih dahulu, sebab penasaran siapa tamu yang datang di jam sepuluh pagi seperti sekarang.
Anak perempuan itu sukses mengernyit saat mendapati seorang yang tidak asing tengah berdiri menatap pintu sambil sesekali memencet bel rumah. Entahlah, Renat hanya tidak terbiasa dengan kedatangan tamu semacam ini. Pikirannya larut oleh beberapa kemungkinan. Hingga saat bel kembali berbunyi, Renat sukses mengelus d**a, lagi-lagi kaget.
Setelah beberapa kali menarik dan menghembuskan napas, Renat segera memutar kunci, lalu menarik perlahan pintu hingga terbuka. Berbeda dengan wajah Renat yang datar, tamu tersebut tampak ceria dan bahagia. Tapi Renat tidak peduli. Bahkan, tanpa menunjukkan kesopanan, Renat hanya memberikan tamu tersebut tatapan bertanya tanpa perlu repot-repot menyuruhnya masuk.
"Kamu gak mau saya masuk? Abis itu seduhin secangkir kopi? Setelah hujan, memang kopi panas adalah pilihan yang tepat." Renat secara terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Benar, tamunya adalah Pak Gani.
"Nggak!" celetuk Renat langsung. "Bapak kok bisa disini?" Kembali, Renat menyuarakan hasrat ingin tahunya.
"Saya ada janji," sahut Pak Gani masih berusaha hangat dengan senyumnya.
"Sama?!"
"Papa kamu."
Renat kembali mengernyit setelah mendengar jawaban tersebut. Kenapa pula gurunya yang satu ini ingin bertemu dengan orang tersibuk di dunia? Dan, kenapa harus di rumahnya?
"Papa nggak di rumah," jawab Renat cuek. "Balik deh, Pak!" Renat mengusir.
"Kamu suruh saya balik ke sekolah sedangkankan kamu gak sekolah."
"Suka-suka sayalah, Pak," jawab Renat lagi. Dia benar-benar malas untuk berdebat bersama guru satu ini. Percakapan terakhir mereka membuat Renat kian tidak suka apabila urusannya dicampuri.
"Kamu kenapa gak sekolah?!" tanya Pak Gani, sikapnya dibuat santai karena menghadapi Renat.
"Penting banget saya kasih tau Bapak?" Renat bersikeras. "Udahlah, Pak! Gak ada gunanya juga Bapak kesini. Karena Papa saya baru bakalan balik satu windu lagi."
"Yaudah, kalau gitu kita tunggu sama-sama."
Renat mendengus tidak suka secara terang-terangan. Ketika ingin mengabaikan Pak Gani dengan mengurungnya di luar rumah, suara klackson mobil terdengar. Membuat Renat reflek menoleh karena kaget.
"Papa?" gumamnya bingung sendiri.
"Udah saya bilang, saya ada janji sama Papa kamu." Renat memilih masuk rumah setelah sebelumnya memberikan Pak Gani tatapan tidak bersahabat.
Pak Gani, guru unik yang begitu memperdulikan semua nasib murid-muridnya. Dan Renat bukanlah murid pertama yang rumahnya didatangi oleh guru muda tersebut.
Renat kembali ke dapur, kembali sibuk dengan sandwichnya di meja bar. Perutnya memang bertambah lapar setelah selesai mandi. Dan ketika tiba di dapur, Renat hanya menemukan beberapa benda di kulkas yang bisa dijadikan bahan sandwich.
Sambil makan, pikiran Renat sibuk menerka-nerka apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Papa dan gurunya. Jika memang dirinya yang menjadi topik, sepertinya Renat harus bertepuk tangan karena bangga. Akhirnya, Papanya peduli.
"Re?" Renat mendongak akibat suara berat tersebut, hingga tatapannya bertemu dengan Sang Papa. Dalam hati Renat menghitung, sudah berapa hari ia tidak pernah mendengar Papanya memanggil. "Kamu potong rambut?"
Renat tertawa sinis, "Masih inget aku, Pa?" tanya Renat sambil membersihkan tepian mulut dari sisa sandwich.
Jerry—Papa Renat—tampak menghela napas. Pria itu mengusap wajahnya. Terlihat jelas bahwa ia kelelahan, entah memang karena faktor bekerja atau faktor lain.
"Kamu kenapa banyak absen?" Papanya mengambil tempat di depan Renat, sesekali menatap sandwich yang Renat bikin.
"Gak tau. Kenapa, ya?" Renat meneguk air putih hingga tandas, lalu kembali menatap mata Sang Papa.
"Re, Papa serius."
"Menurut Papa aku gak serius?"
"Kamu maunya apa sih, Re? Kamu nggak liat Papa pontang-panting kerja biar kamu dapet pendidikan bagus? Terus sekarang enak-enakan bolos. Papa nggak harepin apa-apa dari kamu. Cuma selesein pendidikan kamu, jadi perempuan hebat."
Lagi? Ia disalahkan, lagi? Kenapa tidak ada yang mengerti. Kenapa orang-orang di sekitar selalu menyalahkannya. Renat benci, ia teramat benci. Terlebih, kalimat bahwa Papanya sama sekali tidak mengharapkan apapun darinya. Renat merasa, ia memang tidak berguna.
"Perempuan hebat nggak harus lulus sekolah, Pa," ujar Renat sambil menekan sandwich di genggamannya.
"Kamu mikirin apa, Re? Papa didik kamu supaya jadi perempuan hebat. Perempuan beretika yang punya harga diri tinggi. Bukannya malah kayak Mama kamu. Atau kamu lebih milih jadi perempuan rendah?"
Sekejap, Renat melempar sandwichnya ke sembarang arah. Kepalanya sibuk menyumpah serapah. Papa, orang pertama yang mengucapkan kalimat kasar sepert itu kepada Renat. Renat mendecih, apa seperti itu cara orang bermartabat berbicara? Bahkan kepada putrinya sendiri.
Renat berdiri, menegakkan badan juga kepala agar Sang Papa tau bahwa ia bukan perempuan lemah. Renat akan buktikan bahwa ia dapat kuat untuk dirinya sendiri. Ia akan berdiri di antara kedua kakinya. Dan ia akan berpegang hanya dengan kedua tangannya.
"Udah, Pa? Udah ngomongnya? Iya. Semuanya salah aku. Salahin aku sampai lidah Papa gak bisa ngomong lagi. Keluarga kita yang sekarang berantakan, salahin aku, Pa. Salahin aku buat Mama yang mau nikah lagi atau Papa yang selalu aja sibuk. Salahin aku sampai Papa puas."
"Renat!"
"Iya, mungkin menurut Papa aku mau jadi perempuan rendahan. Dan kalau nanti aku beneran jadi perempuan rendah yang suka main laki-laki, aku bakal datengin Papa yang lagi ngumpul bareng sama kolega-kolega Papa. Aku bakal kenalin diri aku sebagai anak Papa. Dan kita lihat siapa yang bakalan lebih malu. Renata, anak yang dididik sama Bapak Jerry ternyata jadi orang gak bener."
"Berhenti, Renata!"
"Aku pikir Papa bakalan lebih peduli sama aku sejak Mama milih pergi dari rumah. Tapi enggak sama sekali. Papa juga sama kayak Mama. Papa tinggalin aku sendirian tanpa pernah repot-repot ngecek keadaan aku."
"Re—"
"Apa? Pergi sebelum aku bangun terus pulang waktu aku udah tidur. Gak usah nanggung-nanggung, Pa. Pergi aja sekalian, kayak yang Mama lakuin. Aku bisa kok jaga diri aku sendiri. Aku bisa masak mie, aku bisa beli air putih ke swalayan. Itu juga kalau Papa masih kirim uang. Kalau enggak juga nggak kenapa-napa."
Napas Renat menderu kencang. Ia tidak percaya bisa berbicara seperti itu kepada Papanya. Tapi rasa lelah memaksanya agar berbicara. Dan Renat benar-benar ingin jujur, Renat ingin Papanya tau bahwa ia juga terluka akibat Mama.
"Gak usah punya harepan kalau aku bakal balik jadi Renata yang dulu, Pa. Karna nggak bakal cuma bolos, aku bakal lakuin yang lebih parah dari ini. Dan kalaupun Papa punya niat ngerubah aku, good luck buat itu!
Renat berlalu, meninggalkan Papanya di ruang makan sendirian. Air matanya luruh begitu saja dengan tangan yang selalu sigap menghapusnya. Renat hancur, ia tercekik oleh keadaan. Dan kembali ke kamar, ia lagi-lagi terlihat bagai seonggok daging dan tulang yang tengah menunggu malaikat maut tiba.
• r e t u r n •