19 - Bertiga dan Catcall

1599 Kata
"A, besok Aa yang anterin Judith, kan?" Judith yang sedang bergelumung bersama buku matematika dan buku rumus lain menatap Abi, sembari menunggu jawaban dari Abi yang masih tampak fokus, Judith menjulurkan tangan meraih pisangnya. "Apa? Iya." Abi mengangguk cepat mengiyakan. "Terus Teteh sama Teh Haruka, kan?" Bia yang sedang berusaha mencuri-curi kesempatan untuk membalas chat Isaac sontak kaget, tapi setelahnya mengangguk pada Judith. Abi sudah biasa menjadi supir Judith ketika Aldric memiliki perjalanan keluar kota. Dan besok, Papanya itu akan pergi menuju Surabaya. Abi menghela napas, ia memilih untuk beristirahat setelah sejak tadi fokus dengan tugas. Lagilula, tinggal sedikit lagi tugasnya akan selesai. Anak lelaki itu menatap kedua adiknya yang masih mengerjakan tugas, tangannya terampil menekan tombol remote. Mencari acara bagus. Beginilah kegiatan yang dibiasakan oleh Nadine untuk mereka bertiga. Menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas di ruang keluarga. Memberi ruang bagi Abi dan Bia untuk berdiskusi tentang pelajaran, juga kesempatan bagi Judith untuk bertanya. Tapi jika mereka memiliki ulangan keesokan harinya, Nadine memperbolehkan mereka untuk belajar serius di kamar. Bagi Abi, dia tidak pernah ambil pusing terhadap cara yang dipakai oleh Nadine. Berbeda dengan Judith, adik bungsunya tersebut memang termasuk pintar. Hanya saja, Judith termasuk kategori orang yang dapat tertidur dengan mudah apabila memegang buku. Dan Abi kerap bingung kenapa adiknya tersebut bisa menyerap pelajaran dengan mudah, bahkan memegang juara kelas. "A, horror, yuk?" ajak Judith setelah menutup dan menyusun buku-bukunya. Berpindah ke sebelah Abi. "Jangan! Gak suka nih Teteh kalau horror." Bia menolak terang-terangan, ekspresinya berubah memelas. "Kenapasih, Teh? Kan seru!" ujar Judith semangat. "Di rumah cuma bertiga, nggak mau ah takut," tolak Bia lagi. "Terus apa? Judith bosen nih mau nonton." "A," panggil Bia dan Abi menoleh, menatap adik cantiknya tersebut dengan tatapan bertanya. "Ke bioskop, yuk!" Judith merespon lebih dulu, "Wah iya, A! Ayo jalan. Judith bosen di rumah nggak ada Mama sama Papa." Bia beranjak dari duduknya, melompat ke sebelah Abi "Iya, A. Nunggu Mama Papa pulang dari rumah Oma kayaknya masih lama." Abi mengusap wajah, sulit menolak keinginan adik-adiknya. "Papa bawa mobilnya?" "Iyalah. Sejak kapan Papa mau bawa mobil Mama?" Abi akhirnya berdiri, menatap wajah Bia dan Judith bergantian. "Lima menit buat siap-siap." Judith dan Bia segera melompat, mereka langsung berlari semangat ke tangga untuk menuju kamar. Begitupula dengan Abi. Anak laki-laki itu hanya mengambil dompet juga ponsel di kamarnya. Tidak perlu repot-repot mengganti kaus merah maroon dan celana santai selutut berwarna putih yang sejak tadi ia pakai. Judith yang juga sudah selesai dengan tas selempangnya pun tidak mengganti baju. Dengan kaus putih bergambar beruang dan celana pink santai setengah paha. Sedang Bia, memilih mengganti celana tidurnya dengan overall jeans. Mereka bertiga segera keluar rumah. Judith yang sedang mengambil sandal jepit hitam meletakkan ponselnya di telinga. Menelepon seseorang. "Mam, Judith, Aa, sama Teteh mau keluar dulu." Abi yang memperhatikan Judith dari dalam mobil memberi kode agar adiknya itu segera masuk. Judith mengangguk, sembari masih asyik mengobrol dengan Sang Mama. "Ih, Teteh kok di belakang?!" Bia hanya tersenyum sambil melambaikan tangan. Dengan ekspresi sebal, Judith masuk ke kursi penumpang sebelah kemudi. "Dah, Mam," tutup Judith akhirnya. Suasana di mobil kemudian diisi oleh musik yang diputar bergantian oleh Judith dan Bia lewat ponsel mereka. "Kita nonton apa, Teh?" tanya Judith sambil berbalik menatap Bia. "Maunya apa?" "Nggak ada horror, ya? Judith maunya horror." "Romance aja," "Teteh, mah! Bosen. Action aja deh. Action comedy." "Yaudah yang ini aja, ya?" Bia menyodorkan ponselnya pada Judith, membiarkan sang adik melihat film yang Bia maksud. "Iya ini aja," ujar Judith sambil mengangguk. "Aa ganteng ikutin adek-adek cantiknya aja, ya?!" Judith terkikik geli sedang Abi hanya geleng kepala. Tidak terlalu menangkap maksud Judith sebab ia tengah sibuk berpikir tentang seseorang. Renat. Hari ini perempuan itu tidak masuk sekolah. Dan Abi sedikit penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada Renat. Karena menurut kabar yang Abi dapat, Pak Gani sampai mendatangi rumah Renat untuk membujuk agar perempuan itu masuk sekolah. Dan lagi, Abi harus mengeluarkan kata-kata pedas pada seorang perempuan di kantin siang tadi. Sebab telinganya panas mendengarkan perempuan itu berkata hal-hal tidak pantas mengenai Renat. "Pulang sana, gak usah sekolah sekalian kalau cuma bisa jelek-jelekin orang lain." Perempuan itu terdiam di tempatnya karena kaget. Pertama karena Abi berbicara dengannya, kedua karena ucapan Abi yang begitu menohok. "Guekan, bicarain apa yang bener." "Terus kalau bener? Kalau orangtua kamu ngelakuin kesalahan, terus disebut-sebut sama orang, kamu terima? Mending kamu diem, jangan sampai malaikat yang turun tangan buat jahit mulut kamu." Kepalanya kembali mengingat pembicaraannya ketika di kantin. Terdengar jahat memang, tapi perempuan itu memang lebih jahat. Dalam hati Abi hanya berdoa agar adik-adiknya tidak seperti itu. "Aa udah pacar?" Abi menoleh kaget pada Judith di sebelahnya. "Kenapa?" "Kan Judith abis masukin sesuatu ke insta story. A nggak sadar kalau tadi Judith ngeboomerang?" Abi lagi-lagi menghela napas, lalu menggeleng untuk menjawab pertanyaan Judith. "Gak punya, emang kenapa?" "Temen Judith ngereply nanyain Aa kosong apa nggak?" Tawa Bia meledak seketika. Sedang wajah Abi berubah muram. Aneh ketika bocah SMP harus menanyakan statusnya seperti itu. "Aduh. Temen Aa yang cakep aja dianggurin sama Aa, Dith. Apalagi temen-temen kamu." Bia masih tertawa setelah berkata seperti itu. Sedang Judith menganggukkan kepala tampak paham. "Eh, A," panggil Bia. "Teteh cewek yang kemarin berantem sama A di Cakrawala, gimana? Dia cantik juga lho, A." "Kamu liat?" Bia spontan mengangguk. "Liat. Kan Bia di atas waktu itu. Pengen nanya ke Aa kenapa tapi kelupaan terus." "Nggak kenapa-napa. Udahlah, gak penting." Abi kembali diam, fokus menatap jalanan di depan. Sedang kedua adik-adiknya masih asyik dengan ponsel. • r e t u r n • "DEK!" Teriakan Nadine memenuhi seisi rumah. Membuat Abi yang masih terduduk di kursi meja makan sukses meringis. "IYA UDAH SELESAI, KOK." Judith berlari lebih cepat ke lantai satu dengan tangan menjinjing tas. Karena semalam mereka pulang sedikit terlambat, menyebabkan jam tidur Judith berubah. Nadine yang sudah membangunkan Judith sejak subuh berpikir bahwa anaknya itu akan langsung mandi. Ternyata setelah salat, Judith kembali tertidur. "Yaudah ini bekelnya," ujar Nadine buru-buru pada Judith. "Ini bekel Aa." Abi mengernyit, tapi tetap menerima bekal dari Nadine. Sulung dan Bungsu tersebut buru-buru keluar rumah diikuti Nadine yang sekarang membuka pagar. Abi menyalakan motornya segera. Lalu menahan motor ketika Judith hendak naik. "Pegang pinggang Aanya," perintah Nadine dan Judith segera mematuhi. "Dah, Mam," pamit Judith lalu meneriakkan salam. Sedang Abi membunyikan klackson sambil tertawa pada sikap adiknya. "Kalau Judith telat gimana?" tanya Abi terdengar khawatir. "Ih, yang ada kalau Aa telat gimana?" "A nggak masalah," jawab Abi santai. "A mikirin Judith. Pegangan yang erat, A mau ngebut." Judith kian memeluk Abi, menempelkan pipinya pada punggung Abi. Jika namanya masuk ke dalam deretan siswa terlambat, Abi tidak terlalu khawatir. Karena memang sudah beberapa kali Abi terlambat sebab berkelahi lebih dulu. Mereka tiba lima belas menit kemudian di SMP tempat Judith. Abi menatap jam di pergelangan tangan kirinya. Dia terkekeh sendiri, sadar bahwa ia sudah terlambat. Kembali Abi menahan motor agar Judith turun. Adiknya tersebut tersenyum pada Abi. Hingga Abi reflek mencubit pipi menggemaskan tersebut. "Dah, Sayang," ujar Abi sambil mengedipkan sebelah matanya, sampai Judith sukses tergelak. "Dadah, Aa ganteng. Judith masuk ya." Lambaian tangan Judith dibalas Abi dengan anggukan, lalu kembali menutup kaca helm. Tepat ketika Abi ingin berbelok, matanya menangkap sesuatu, tepatnya seseorang yang tidak asing. Tatapan Abi fokus pada orang tersebut yang masih berjalan dengan langkah lumayan cepat. Renat. Dan tanpa pikir panjang, Abi memilih mengikutinya dari belakang. Ketika sudah berada lebih jauh dari gedung SMP, sekitar enam langkah di belakang Renat, Abi sontak berhenti. Matanya menyipit untuk melihat lebih jelas. "Hai, Neng. Main sama Abang, yuk." Seorang preman, entahlah, tampaknya memang preman, baru saja menggoda renat. Darahnya mendidih seketika. Abi begitu benci pada laki-laki yang suka memanggil perempuan seperti itu. Renat makin mempercepat langkah. Terlihat tengah risih. "Jangan sok jual mahal gitulah." Preman tersebut kembali bersuara. Hingga Abi akhirnya menatap Renat yang berlari. Anak lelaki itu kembali menjalankan motor. Sebelum menyusul Renat lebih jauh, Abi berhenti tepat di depan preman tersebut. "Lo gituin lagi cewek yang disana, rahang lo jadi kegeser lima senti," ujar Abi langsung pada preman itu, yang jika ditebak, tampak seumuran dengan Abi. Preman tersebut mengernyit, kaget karena kedatangan dan peringatan dari Abi. "Siapa lo?" "Apa-apa tu otak dipakai, jangan sembarangan ngecatcall. Lo kira lo ganteng?!" Abi lagi-lagi melibas lawan bicaranya dengan kalimat pedas. "Setan, bacod bener lo. Gue siram air got juga tu muka lo bakalan buruk rupa." "Coba aja," tantang Abi akhirnya. Dan preman tersebut benar-benar jongkok untuk menjangkau air got dengan bantuan cup kecil. Lalu Abi, dengan cepat mengambil kesempatan. Dijulurkannya kaki berniat menendang preman tersebut, hingga ia sukses terguling ke samping. "Udah jelek, jorok pula." Abi buru-buru meninggalkan preman tersebut yang tengah berteriak tidak terima. "Gue panggil temen-temen gue lo, b*****t!" Abi dengan cepat menyusul Renat di depan. Ketika akhirnya bisa menyamai Renat, Abi segera menghalang jalan perempuan itu hingga Renat sontak kaget. "Ayo, naik," ajak Abi langsung dengan kondisi tenang. Tentu saja setelah membuka kaca helmnya terlebih dahulu. "Lo ngapain?" tanya Renat bingung, lalu ia memilih kembali berjalan. Abi menghela napas, kembali menyusul. "Ayo, naik, kita udah telat." "Terus?" "Bareng," ucap Abi langsung. Sedang Renat sukses tertawa sinis walaupun dalam hati ia tengah dilanda kebingungan. Kenapa bisa Abi berada di wilayah ini. "Gak usah sok deket sama gue." Renat memperingatkan. "Kita satu kelas." Abi kembali menjawab. Sedang Renat benar-benar tidak habis pikir dengan lelaki di depannya. Kenapa Abi sekarang begitu kekeh terhadapnya. Entahlah, bagi Renat Abi tampak berubah. "Buruan, Re, kita udah telat." Dan Renat hampir saja pingsan di tempat ketika Abi menggapai pergelangan tangan Renat. Menariknya agar mendekat. "Sekarang naik!" perintah Abi sambil menatap Renat tepat di manik mata perempuan itu. • r e t u r n •
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN