12

1624 Kata
Shane, Filles, mendarat di antara pertarungan Jimmy, Miko dengan Willy. Sementara itu Viles, Files berada di tengah pertarungan Randalf, Villes dengan Hilda. Miko sempat terkejut sesaat, tetapi berikutnya dia menyeringai. "Ah, bala bantuan. Percuma!" Willy berkelebat dan menerjang Jimmy, Miko, Shane dan Filles. Seluruh tubuhnya diselimuti asap hitam. Aura yang kegelapan yang terpancar darinya dapat dirasakan semua lawannya. Namun, mereka pantang surut. Shane segera menghimpun energi di mulutnya. Mulutnya terbuka lebar sebelum menembakkan bola energi. Sedangkan tubuh Jimmy membesar dengan urat dan otot yang bertonjolan. Dia segera menyambut serangan itu. Miko mengibaskan ekornya dan memunculkan angin p****g beliung yang melesat ke arah Willy. Filles pun tak mau kalah, dia menyalak kencang, dan mengeluarkan suara ultra-sonic yang memekakkan telinga. Sehebat apa pun Willy, diserang empat lawan kuat, membuatnya limbung. Saat itulah semua serangan berhasil mengantamnya. BOOOOM! Ledakan itu mengguncang seluruh area. Lantai berserakan, bahkan sebagiannya menjadi serpihan. Debu tebal menutupi pandangan. "Teman-teman terima kasih telah datang membantu. Dia kuat sekali. Tanpa bantuan kalian, sudah pasti aku dan Miko tewas di tangannya," ucap Jimmy. "Bukan sekadar kuat, lebih tepatnya mengerikan." Miko menggenapi ucapan Jimmy. "Bicara apa kalian?! Teman dalam kesulitan, sudah pasti kami datang. Apalagi Villes pun terancam," ujar Filles. "Jangan senang dulu. Firasatku serangan tadi tidak mampu merubuhkannya." Shane berkata. Dugaan Shane memang benar-benar terjadi. Setelah asap berangsur-angsur pudar,Willy pun tampak. Dia berdiri kukuh tanpa terluka sedikit pun. Melihat Willy masih berdiri kukuh tanpa terluka, Shane, Jimmy, Filles, dan Miko gemetar. Kengerian tampak di wajah mereka. Tak pernah sekali pun di dalam hidup mereka bertemu lawan sekuat Willy. "Siapa dia sebenarnya?" tanya Shane, "kekuatannya jelas melebihi werepuppy." "Entah. Itulah yang membuatku heran," sahut Jimmy. "Kekuatannya seperti kekuatan seorang penyihir," ujar Miko. "Penyihir? Rasanya tidak mungkin ...." Mereka melihat mata Willy menyala-nyala menatap tajam. Gigi-giginya bergemeretak. Hawa membunuh menguar di sekelilingnya. Serangan tadi memang tidak mampu melukainya, tetapi telah membuat kemarahannya memenuhi seluruh dadanya. "Serangan tadi hanya memberi kejutan kecil, padahal sesungguhnya sama sekali tidak berarti." Perlahan-lahan tubuhnya membesar sampai setinggi tiga meter. "Tapi kalian berhasil memancing kemarahanku!" Willy mengentakkan kaki, lalu dari tubuhnya terpancar cahaya merah gelap. Sedetik kemudian cahaya itu melesat ke arah ke empat lawannya. Bukan hanya besar dan berkuatan dahsyat, cahaya itu pun memiliki kecepatan bak kilat. Namun, ketika cahaya itu hampir menghantam ke empatnya, sebuah bangunan rubuh dan dan dihantam cahaya itu. Ke empatnya pun selamat. "Masih ada kami!" seru Livy dari salah satu atap bangunan. Dia bersama Medy yang berdiri di belakang meriam. Rupanya mereka sengaja menembakkan meriam itu untuk merubuhkan bangunan. Medy pun tak kalah gembira karena serangan itu berhasil menyelamatkan kekasihnya. "Yuhuuu! Honey! Tenanglah ada aku!" Medy melambaikan tangan sambil tersenyum, menunjukkam deretan gigi yang tersusun rapi, bersih, dan berkilau. Di sudut lain, di pertarungan Viles, File, Randalf, Villes yang berhadapan dengan Hilda pun tengah berlangsung panas. Namun, berbeda dengan pertarungan Shane dan kawan-kawan, pertarungan ini tampak berimbang. Sudah berbagai magis dikeluarkan, tak ada yang mengungguli lawan. "Sial! Kalian memaksaku!" teriak Hilda sambil memutar tongkatnya di udara. Tak lama kemudian dari putaran itu terbentuk cahaya bulat dan pipih berwarna ungu gelap. "Hati-hati! Ini salah satu magis terkuatnya!" Randalf berseru, mengingatkan kawan-kawannya akan kekuatan mengerikan magis Hilda. Di antara semua orang, sesungguhnya Randalf yang paling tahu Hilda. Sayang, meskipun demikian, dia tidak bisa menakar kekuatan Hilda yang terkini. Kekuatan Hilda sungguh di luar yang dia pikirkan. Hila melemparkan cahaya itu dengan tongkatnya dan membuat cahaya energi itu melesat cepat. Suara cahaya itu seperti gerigi yang bergesekan. Kencang dan memekakkan telinga. Hanya dari suaranya saja sudah membuat konsentrasi lawan-lawannya buyar. Namun, Randalf segera tanggap. Dia menghimpun energi untuk membendung suara itu. Tangan Randalf mengayun dan menancapkan tongkat ke lantai sampai berlubang. Tak lama kemudian berpendar cahaya putih terang yang menghalau cahaya yang dilemparkan Hilda. Bahkan cahaya energi itu berbalik ke arah Hilda. Alih-alih takut, Hilda justru tergelak. "Itu hanya tipuanku belaka!" Sontak mereka semua terkejut. Sayang semuanya sudah terlambat. Cahaya ungu melesat dari belakang dan mendera ke empatnya. BLAAAAAR! Ledakan itu mengguncang seluruh area. Lantai berserakan, bahkan sebagiannya menjadi serpihan. Debu tebal menutupi pandangan. Akan tetapi sekali lagi Randalf berhasil melindungi teman-temannya dengan bola energi yang menyelubungi mereka. Upaya Randalf kali ini benar-benar tidak disangka Hilda. "Suamiku, kamu benar-benar luar biasa." "Suami? Cih!" Randalf meludah. "Sejak pengkhianatanmu, hubungan kita tak lagi sama! Mulai detik itu kita adalah musuh bebuyutan!" Hilda kembali tergelak. "Baiklah! Kalau begitu kita rayakan berubahnya hubungan kita dengan kematianmu!" Hilda mengayunkan tongkat ke depan. Sedetik kemudian muncul bayangan yang membentuk lima sosok berbentuk seperti dirinya. Namun, ke limanya berbentuk cahaya. "Aku ingin tahu, dapatkah kalian melawan enam orang Hilda sekaligus?!" Tentu saja itu membuat semua lawannya terkejut. Namun, di antara mereka tak ada yang melebihi keterkejutan Randalf. Pasalnya, magis Hilda kali ini belum pernah dia ketahui sebelumnya. "Bagaimana cara menghadapinya, Randalf?" tanya Villes yang tampak sangat cemas. "Aku tidak pernah menyangka kalau Hilda memiliki kekuatan yang sangat menakutkan seperti ini," sahut Viles. Randalf bergeming. Kerutan di dahinya makin kentara menunjukkan kalau dia sedang berpikir keras. "Terus terang, aku juga tidak tahu cara menghadapinya. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehku adalah menyatukan kekuatan kita. Kita harus dapat menyerang ke enam orang Hilda secara serentak. Tidak boleh sedetik pun terlambat. Tidak pula boleh meleset." "Menyerang ke enam orang Hilda secara serentak? Tapi bagaimana caranya?" tanya Files, heran, tidak dapat memahami maksud Randalf. Akan tetapi, bukan hanya dia yang keheranan. Dua orang lainnya pun demikian. "Kalian harus memegang kepala tongkatku. Nanti tongkatku ini akan menyerap tenaga inti kalian. Setelah itu tongkatku dapat mengeluarkan bola energi yang merupakan penyatuan seluruh kekuatan kita," terang Randalf. Mendengar itu teman-temannya setuju. Satu demi satu meletakkan tangan di atas kepala tongkat. Tak lama kemudian menguar asap dari tangan mereka dan menyelusup masuk ke dalam tongkat. Perlahan-lahan tongkat Randalf berpendar, makin lama menjadi makin terang. Aura kekuatannya pun dapat dirasakan semua yang ada di sana. Termasuk Hilda, yang diam-diam bergidik ngeri membayangkan kekuatan ke empat lawannya. Randalf ..., dari mana dia pelajari magis ini? Aku tidak menyangka bukan hanya magisku yang meningkat. Rupanya diam-diam selama ini dia mempelajari magis ini. Apakah berarti dia mencurigaiku selama ini sehingga menyembunyikannya dariku? Ah, itu tidak jadi soal. Yang terpenting aku harus mendahului mereka, dan menyerang secepat kilat, batin Hilda. "Kemarilah bayanganku! Berikan seluruh kekuatan kalian ke tubuhku!" Perintah Hilda segera dijalankan ke enam orang bayangan Hilda. Mereka menepelkan telapak di punggungnya. Tak lama kemudian aliran listrik keluar dan merambat di tubuh Hilda. Aliran listrik itu merayap cepat ke jantungnya. Sesaat kemudian Hilda diselimuti hawa kuat, tetapi penuh dengan napsu membunuh. Matanya berbinar ungu terang. "Bersiaplah akan kematian kalian! Rasakan ini!" seru Hilda melemparkan cahaya ungu keperakan. Akan tetapi, hampir di saat yang bersamaan dengannya, Randalf, Villes, Viles, dan Files mengentakkan tangan di tongkat Randalf. Sedetik kemudian melesatlah cahaya keemas ke arah Hilda. Kekuatan dua cahaya itu sangat kuat. Begitu pula dengan kecepatannya. Hanya dalam hitungan mili-detik, kedua magis itu bertemu dan menimbulkan ledakan luar biasa. Kendati berada di udara, suara ledakan mengguncang tanah; hempasan anginnya memorak-porandakan sekitar Tak ayal, sebagian pasukan werepuppy terkena imbasnya. Mereka terluka, bahkan ada yang sekarat. Sebagian lain lari tunggang-langgang. Dua pertarungan hebat tengah berlangsung. Namun, pertarungan itu akan makin hebat jika Marok dan pasukan turut bergabung. Apalagi Marok dan keluarganya serta pasukannya sedang menuju kembali ke markas. "Hmm ..., aneh, kita sudah mencari mereka ke tiap sudut Paris, tetapi jejak pun tak kita dapati," gumam Marok. "Ya. Ini benar-benar mengherankan. Bagaimana mungkin mereka menghilang seperti ditelan bumi?!" "Mungkin saja mereka bersembunyi di luar Paris." Meskipun keluarganya berpendapat, tak ada satu pun yang disetujui Marok. Dia lebih percaya pada keyakinannya. "Aku justru memiliki firasat lain," ujar Marok. "Firasat apa itu, Ayah?" tanya salah seorang anaknya. Marok tercenung selama beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya berkata, "Bisa jadi mereka mengambil kesempatan ketika kita pergi." "Apa maksud, Ayah? Aku sama sekali tidak mengerti," ujar istrinya sekaligus ibu Miko. "Apakah maksud Ayah mereka menyerang markas kita, dan memanfaatkan kepergian kita?" Marok menganggukkan kepala. "Benar, itulah yang aku maksudkan." "Rasanya tidak mungkin, Ayah. Kalau mereka ke markas kita, itu sama saja mencari mati. Ingat, kekuatan Hilda dan Willy sangat luar biasa," sahut istrinya. "Mereka tidak akan berpikir begitu karena tidak tahu kalau Hilda dan Willy berada di pihak kita," celetuk Marok. "Kalau begitu tidak perlu ada yang dikhawatirkan." "Bodoh! Berapa kali aku selalu mengingatkanmu agar jangan meremehkan musuh?! Mereka memang tidak tahu soal Hilda dan Willy, tapi bukan berarti mereka lemah. Bagaimanapun juga Randalf ada di pihak mereka. Apalagi Jimmy juga termasuk werepuppy terkuat," tukas Marok, tak mau meremehkan dan mengingatkan anaknya. "Kalau begitu kita harus segera ke sana!" Anak Marok menginjak pedal gas dalam-dalam, memacu kendaraan mereka di atas seratus dua puluh kilometer per jam. Mobil mereka melesat cepat, diikutin lima mobil lain yang berisi para pasukan werecat yang tadi turut serta di dalam pencarian Livy dan kawan-kawan. Kedatangan Marok hampir bisa memastikan kekalahan Livy dan kawan-kawan. Saat ini melawan Hilda dan Willy saja mereka kewalahan. Bahkan berkali-kali hampir tewas. Beruntung, di saat terdesak selalu ada keajaiban yang menyelamatkan mereka. Mungkin itulah yang nanti akan menyelamatkan mereka lagi: keajaiban. Keajaiban itu baru saja tiba di bandara Paris. Seorang pria kurus berpakaian kelabu menarik gagang kopernya. Pandangannya menyapu sekitar. Paris ..., sudah lama sekali aku tidak ke sini. Ah, bagaimana kabar dua sahabatku itu? Randalf, Hilda, tunggulah kedatanganku. Kita akan bersenang-senang menghabisi para werecat jahat itu, batin laki-laki itu yang ternyata adalah penyihir kelabu. Kedatangannya tidak disangka-sangka. Apalagi terakhir diketahui, ketika Shane tidak sengaja bertemu dengannya. Ketika itu dia masih terkulai lemah dalam keadaan sakit. Entah apa yang terjadi sehingga dirinya yang lemah itu, kini tak lagi terlihat. Bahkan, dia sekarang tampak kukuh dan kuat. Markas werecat akan kedatangan seorang penyihir kuat. Mungkin kedua yang terkuat di antara para penyihir. Dia adalah sosok yang baru saja masuk ke dalam taksi. Dia tidak lain adalah sang Penyihir Kelabu. Bersambung ke chapter selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN