"Kenapa?"
"Kamu dengar sendiri kalau Hilda berkhianat. Saat ini mereka sedang bersama Hilda. Entah apa yang akan terjadi nanti," ungkap Villes.
"Kamu benar."
Sebenarnya kekhawatiran yang sama pun menyeruak dalam pikiran Jimmy, tetapi ia tetap berusaha tenang. Jimmy yang biasanya tampak tidak serius, dalam keadaan seperti ini pun mengalami keresahan. Tak ada seloroh maupun tingkah konyolnya, seperti yang sudah-sudah. Namun, saat mereka sedang dilanda kegelisahan, tiba-tiba terdengar suara di luar ruang tahanan.
"Cepat buka! Aku ingin masuk!"
"Ba-baik, Nona."
Tak lama kemudian muncul dua orang yang masuk dan menghampiri Jimmy dan Villes. Melihat kedatangan salah seorang di antaranya, Jimmy dan Villes pun terkejut.
"Miko!"
"Mau apa kamu pengkhianat?!!" geram Villes.
Miko menyeringai, kemudian berkata, "Aku hanya ingin melihat penderitaan kalian." Ia menyelisik keduanya selama beberapa detik. "Sekarang keadaan kalian masih baik-baik saja, tapi tunggu sebentar lagi ketika ayah telah kembali." Ia menoleh pada penjaga di sebelahnya. "Ayo!"
"Baik, Nona Miko."
Ketika penjaga berbalik, tangan Miko menghantam tengkuknya dan membuatnya tak sadarkan diri. Ia segera menggeledah pakaian penjaga dan mencari kunci tahanan. Setelah mendapatkannya, ia bergegas membukakan pintu tahanan.
"Mi-Miko, maafkan a—"
"Sudahlah, kita tidak punya waktu banyak sebelum ayahku tiba."
Setelah Villes dan Jimmy bebas, mereka pun bergegas ke luar ruang tahanan. Miko buru-buru mengajak mereka ke suatu tempat yang berada di salah satu gedung di ujung area markas.
Di tempat lain, Randalf dan Hilda baru saja tiba di luar markas, memikirkan cara masuk ke dalam. Meskipun Randalf memiliki magis tinggi, tetap saja tidak berani masuk begitu saja.
"Hilda, bagaimana caranya kita masuk ke dalam?"
Hila berpura-pura tercenung sebentar, kemudian berkata, "Dulu aku pernah melakukan pengamatan pada markas ini. Di belakang sana ada pintu yang penjagaannya tidak terlalu ketat. Ayo, kita ke sana."
Mereka pun berjalan memutar, menuju temoat yang dimaksud Hilda. Setelah sampai di sana, rupanya bukan hanya sedikit penjagaan, tetapi lowong tanpa penjagaan.
"Ah, kenapa kamu tidak mengatakan sejak tadi ketika Jimmy, Villes, dan Files hendak menyusup?" tanya Randalf sambil mengekor di belakang Hilda.
Diam-diam Hilda yang memunggungi Randalf, mengolah energi magis di tangannya. "Karena mereka tidak setangguh kamu ...."
Randalf tersentak. "Apa maksudmu?"
Hilda tergelak seraya membalik badan. "Karena sebenarnya penjagaan di sini lebih ketat."
Baru saja usai berbicara, muncul pasukan werecat yang mengepung Randalf.
"Kamu ... pengkhianat!" bentak Randalf sembari menghimpun energi.
"Kalau aku jadi kamu, aku tidak akan menyia-nyiakan magisku." Hilda melirik tangan Randalf yang berpendar.
"Kita lihat saja apakah sia-sia atau ti—"
BLAAAAAAAAAR!
Tiba-tiba terdengar ledakan keras. Bangunan di atas para werecat pun roboh dan menghantam sebagian besar werecat. Sedetik kemudian Jimmy, Miko, dan Villes muncul dari balik asap tebal.
"Jangan lupakan kami!"
Jimmu berlari ke arah Hilda. Meskipun berwujud manusia, ia sama sekali tidak gentar. Villes dan Miko pun demikian. Hal tak terduga terjadi, tetapi ada hal yang luput dari perhatian mereka. Willy ....
Willy melompat dan mendarat di hadapan mereka. Sebelah sudut bibirnya terangkat, memberi setengah seringai.
"Willy!" Miko tersentak.
Akan tetapi, bukan hanya Miko; Randalf, Villes dan Jimmy pun pun demikian.
"Kupastikan kalian mati di tempat ini," dari tangan Willy keluar api menyala-nyala yang membungkus tangannya. "sekarang juga!"
Willy melompat sembari mengangkat tangan tinggi-tinggi. Sedetik kemudian ia mengayunkan tangannya dan melempar bola api ke arah Miko, Jimmy, Villes, dan Randalf.
"Jangan lupakan aku!" teriak Hilda sambil melemparkan bola energi besar dan bercahaya ungu kehitaman.
Diserang dengan kekuatan besar dari dua arah, Miko dan kawan-kawan hanya punya waktu sedetik untuk berpikir.
"Lompat ke atas!" seru Jimmy seraya melompat diikuti teman-temannya.
Sayang, dua bola energi itu berbelok, dan mengejar mereka. Melihat waktu sangat sempit, tiba-tiba Randalf mengibas tongkatnya di udara sembari berteriak untuk mengubah Miko menjadi werepuppy. Dari kibasan itu muncul bulan buatan. Serta-merta Jimmy dan Villes memandang bulan itu. Tak lama kemudian tubuh mereka berubah menjadi werepuppy.
Jimmy langsung menghimpun tenaga dan membuat perisai yang melindungi dirinya dan teman-temannya.
BLAAAAR!
Hantaman dua energi itu menimbulkan ledakan hebat! Kendati berada di udara, suara ledakan mengguncang tanah; hempasan anginnya memorak-porandakan sekitar.
Tak ayal, sebagian pasukan werepuppy terkena imbasnya. Mereka terluka, bahkan ada yang sekarat. Sebagian lain lari tunggang-langgang. Namun, Willy dan Hilda tak peduli. Keberadaan pasukan itu tidak berarti bagi mereka. Bagi mereka, kekuatan mereka sudah cukup menaklukkan Randalf, Miko, Jimmy, dan Villes.
Akan tetapi, keempatnya tidak berpikir begitu. Mereka yakin dapat memberi perlawanan dan lolos dari maut. Setelah asap berangsur-angsur pudar, ketiganya muncul sambil menyerang kedua lawan. Randalf menerjang Hilda dengan tongkatnya, Villes pun turut membantu. Sedangkan Miko, dan Jimmy menyerang Willy.
Selama beberapa waktu mereka tampak berimbang; tak ada yang mengungguli satu sama lain. Namun, setelah bertarung kurang lebih setengah jam, keunggulan Willy dan Hilda mulai tampak.
Randalf yang menganggap Hilda memiliki kekuatan di bawahnya, terkejut bukan kepalang. Ia tidak pernah menyangka sekarang Hilda memiliki kekuatan yang mengerikan. Bahkan serangan Hilda berhasil membuatnya tersungkur dengan luka yang menganga di lengannya. Keadaan Villes lebih buruk lagi, ia mengalami luka di beberapa bagian. Luka yang tidak bisa dianggap remeh lantaran seluruh tubuhnya seperti tertusuk-tusuk ribuan duri.
Melihat keadaan dua lawannya, memantik tawa Hilda. Ia merasa jemawa. "Tak percuma aku bergabung dengan mereka. Kalau tidak, aku tidak mungkin mendapatkan kekuatan ini!"
Randalf menatap Hilda tajam. "Jangan merasa tinggi! Kamu pasti tahu kalau aku masih menyimpan magis!"
Villes yang terluka parah, mengernyit, dan berusaha bangkit. "Kalau aku mati, aku harus membawamu turut serta, Pengkhianat!"
Alih-alih merasa terancam, Hilda makin pongah. Ia segera menghimpun energi di tongkatnya. "Buktikan kata-kata kalian!"
Sementara itu di pertarungan lain. Keadaan Jimmy dan Miko pun terdesak. Serangan Willy melukai mereka. Meskipun Jimmy merupakan werepuppy yang memiliki kekuatan luar biasa, bagi Willy semua itu tak berarti. Kekuatan Willy tak ayal membuat mereka terperangah.
"Dari mana ia memiliki kekuatan semengerikan ini? Tidak mungkin seekor werepuppy memiliki kekuatan seeprti ini. Siapa dia sebenarnya?" gumam Jimmy, dan didengar Miko.
"Kekuatannya juga tidak mungkin dimiliki werecat. Kekuatannya ini hanya mungkin dimiliki penyihir," gumam Miko, menimpali Jimmy.
"Penyihir? Bisa jadi, tapi siap—"
"Jangan banyak bicara! Terimalah seranganku!"
Seluruh tubuh Willy diselubungi asap hitam. Dari celah-celahnya berpendar cahaya merah gelap. Ia menerjang dengan kecepatan bak kilat.
ZRAAASH!
Beruntung! Jimmy dan Miko berhasil menghindar. Sayang lengan mereka tergores sangat dalam. Darah pun mengucur deras.
Bukannya takut, semangat Jimmy justru terpancing. "Jangan anggap remeh aku!"
"Kita serang bersama-sama!" teriak Miko.
Keduanya berlari ke arah Willy.
Willy menatap Jimmy dan Miko dengan tatapan tajam dan berkilatan. Seringai lebar pun tampak di wajahnya sebelum tergelak mengerikan. "Akan kuikuti kemauan kalian untuk mati!"
Sementara mereka sedang bertarung sengit, di dalam perjalanan Livy, Shane, Medy, Files, Filles, dan Viles sedang mengandarai kendaraan menuju markas werecat. Kecemasan tampak di wajah mereka. Pengkhianatan Hilda menjadi penyebab kecemasan melanda mereka semua. Apalagi selain Hilda memiliki kekuatan luar biasa, bantuan werecat pun makin membuat mereka cemas.
"Aku makin khawatir dengan keadaan mereka," ujar Medy, cemas.
"Kita semua pun demikian, Med," timpal Livy tak kalah khawatir.
"Menurut kabar yang kudengar, Randalf memiliki kekuatan di atas Hilda. Mungkin ia bisa terlepas dari ancaman dan membebaskan Jimmy, dan Villes." Shane menyahut, berusaha menenangkan.
"Benar, kabarnya memang begitu. Tapi bagaimana kalau ternyata sekarang Hilda memiliki kekuatan di atas Randalf?" tanya Files, menampakkan kecemasan.
"Apalagi mereka berada di markas werecat. Sudah pasti Randalf dalam bahaya besar!" Viles menggenapi kata-kata ibunya.
"Andaikan Jimmy bebas, mungkin masih ada harapan," ucap Shane.
Filles cilik memandang Shane penuh harap. "Apakah ia memiliki kekuatan luar biasa?"
Shane mengangguk. "Di keluarga kami, Jimmy merupakan yang terkuat. Bahkan mungkin ia termasuk di antara werepuppy terkuat di muka bumi."
"Meskipun begitu, werepuppy memiliki keluarga Marok. Ditambah Hilda, wajar kalau kita mengkhawatirkan keadaan teman-teman," kata Livy.
Kata-kata Livy benar sekali dan membuat Shane terdiam seraya berpikir. "Semoga kita tidak terlambat."
Mobil mereka melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan sepi. Mereka berada di jalan di luar Kota Paris. Itu adalah jalanan kecil, berkelok-kelok, dan di kanan kirinya terdapat hutan. Markas werecat memang berada di lokasi yang sepi, tetapi justru itulah yang membuat mereka leluasa.
Setelah kurang lebih hampir dua jam berkendara, di hadapan mereka tampak bangunan besar layaknya kastil. Bangunan itu dikelilingi tembok seperti benteng yang tinggi dan kukuh. Sepertinya keadaan bangunan itu sepi, tetapi sesunggunya para pasukan werecat menjaga bangunan itu di setiap titik. Itulah markas para werecat.
Ketika berada kurang lebih dua ratus meter dari markas para werecat, kendaraan mereka berbelok dan masuk ke hutan, lalu berhenti.
"Apakah kalian sudah siap?" tanya Shane, menyelisik Livy, Medy, Filles, Files dan Viles satu demi satu.
Meskipun tersirat ketakutan di wajah mereka, kecemasan akan keadaan teman-teman mereka membuat mereka kukuh pendirian.
"Aku siap," jawab Medy dan diikuti kawan-kawan lainnya.
Akan tetapi, sesaat sebelum ke luar, Livy menahan mereka. "Apakah sudah menyiapkan bulan buatan?"
"Sudah. Tapi sebaiknya kita berubah ketika berada di samping pagar," jawan Filles.
Akhirnya mereka pun turun, dan menyusuri jalan setapak di dalam hutan. Tidak lama kemudian mereka telah ke luar dari hutan. Pandangan mereka menyelisik sekitar, meningkatkan kewaspadaan. Beruntung, tidak tampak seekor werecat pun di sana.
Shane berlari melintasi jalanan menuju samping pagar, sekaligus memimpin teman-temannya. Mereka harus berjalan cukup jauh mengitari pagar untuk sampai di tempat tujuan mereka. Setelah sampai, bulan buatan pun di lempar ke udara. Para werepuppy bersamaan melihat bulan buatan, lalu terdengar letupan kecil disertai asap yang menyelubungu mereka.
Pooof!
Pada saat asap memudar, Shane, Files, Filles dan Viles sudah berubah menjadi werepuppy. Tentu hanya Livy dan Medy yang masih dalam wujud sama lantaran mereka hanya manusia biasa. Files membantu mereka melompat ke atad dengan kekuatannya. Setelah itu ia menyusul. Namun, tatkala berada di atas, mereka tersentak melihat pemandangan di dalam markas. Pertarungan sengit antara Miko, Jimmy, Villes, melawan Hilda dan Willy membuat mereka terkejut.
"Willy, jangan-jangan ia berkhianat? Tapi Miko membantu Jimmy ...." Livy menggumam.
Akan tetapi, melihat kakaknya terdesak oleh serangan-serangan ganas yang dilancarkan Willy tanpa henti, kemarahan Shane pun tak dapat dibendung lagi.
"Sekarang bukan saatnya bertanya! Kita harus segera membantu!" seru Shane lantas melompat diikuti teman-temannya, sesama werepuppy.
"Kita bagaimana?" tanya Medy, melirik Livy.
Livy mendesah kasar. "Jelas saja kalay kita melompat, malah tidak selamat. Sebaiknya kita mencari jalan untuk ke bawah."
Livy mengedarkan pandangan dan terpaku pada tangga menuju ke bawah. "Ayo, lewat sana, Med!"
Medy mengangguk lantas berlari, mengekor Livy.
Bersambung ke chapter selanjutnya