10

1670 Kata
Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan membahas strategi untuk memperdaya keluarga Marok. Rencana mereka susun serapi dan seteliti mungkin agar semua tidak sia-sia. Namun keluarga Marok menjadi pasukan elit Gilgallon bukan tanpa alasan. Kekuatan dan kecerdasan mereka di atas rata-rata. Detik berdetak, waktu berlalu, jam pun berganti, akhirnya tibalah petang hari. Livy dan kawan-kawan berangkat mengantarkan Jimmy, Villes, dan Files menuju markas werecat di pinggir Kota Paris. Sebentar lagi pertempuran dua kelompok akan tersaji. Namun, mereka tidak memperhitungkan adanya pengkhianat di dalam kelompok mereka. Pengkhianat yang selama ini bersembunyi dan diam-diam mengatur rencana dengan rapi. Bahkan orang terdekatnya pun tidak menyadarinya. Dia adalah Hilda, Sang Penyihir Biru. *** Setibanya di markas werecat, Livy dan kawan-kawan menunggu di semak-semak samping pagar. Sementara itu Jimmy, Files, dan Villes mencari cara mmelompati pagar yang sangat tinggi. Jimmy mendongak, memandang pagar. "Bagaimana caranya memanjat pagar setinggi ini?" Villes dan Files bertukar pandang sambil tertawa kecil. "Itulah keahlianku." Files berkata bangga sambil menepuk d**a, lantas ia membalik badan, membelakangi Villes dan Jimmy. "Bersiaplah!!" PRROOOOOTT!! Gas dari p****t Files melambungkan Jimmy dan Villes yang mendarat di atas atap. "Wow ... Gas yang menakjubkan ...." Jimmy kagum seraya memandang Files dari atas. "Hahaha ... begitulah. Anakku memang limited edition! Apalagi kalau sudah berubah menjadi werepuppy." tukas Villes, bangga. Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiran Jimmy. "Ngomong-ngomong soal kekuatan spesial, bukankah semestinya kita berubah menjadi werepuppy?" Villes tersenyum. "Tenang ... aku membawa bulan buatan." Ia mengeluarkan bulan buatan. "Tapi aku tidak bisa berubah dengan melihat bulan." Jimmy menoleh pada Files. "Tolong antarkan Medy ke sini." "Oke." Selang beberapa menit kemudian, Files kembali bersama Medy. Dengan gas super, Medy pun di lambungkan ke atas. "Halo, Sayang!" sapa Medy ketika berada di udara—sejajar dengan Jimmy. "Hai, Sayang!" Jimmy pun segera meraba d**a Medy. Poof! "Berhati-hatilah," ucap Medy yang kembali turun, saat ia hampir jatuh dengan keras di tanah, Files mengeluarkan gas supaya Medy mendarat dengan selamat. "Waaah ... aku selalu kagum dengan kekuatanmu, Files." Medy mengusap-usap kepala Files. "Lantas bagaimana kamu naik ke atas?" Files tersenyum lebar. "Tentu saja dengan cara yang sama." PROOOOOOT!! Files pun melambung sebelum akhirnya mendarat di samping Villes. "Nah, aku sampai." Villes mengangguk. "Ayo kita berubah." Ayah dan anak tersebut memandang bulan buatan, kemudian .... Pooof!! Poof!! "Wuuf ... wuuf!!" Basenji menyalak, memberi tanda agar Villes dan Files mengikutinya. Ketiga werepuppy tersebut berjalan menyusuri atap sampai berhenti tepat di atas suatu bangunan. Selama beberapa saat mereka mengamati letak dan posisi serta keadaan di bawah. Setelah beberapa menit, Basenji mengajak keduanya berjalan hingga sampai di tepi atap, kemudian melompat ke bawah. Usai melompati beberapa undakan, mereka sampai di bawah. Basenji mengendus-endus sebelum mengedarkan pandangan. Matanya terpaku pada bangunan yang paling besar dan dijaga ketat, lantas mengalihan pandangan ke samping bangunan tersebut. Ia kembali mengendap-endap diikuti Villes dan Files di belakangnya. Saat ada para penjaga yang sedang berkeliling, ketiganya segera bersembunyi di belakang tiang besar. Setelah para penjaga berlalu, mereka kembali berjalan sampai tiba di samping bangunan besar. Jimmy mendongak, dan melihat undakan-undakan kecil sampai atap bangunan. Tanpa membuang waktu ketiganya melompati undakan sampai tiba di atap bangunan. Jimmy mengendus-endus sesaat sebelum berjalan ke kanan. Di sana mereka menemukan celah kecil yang cukup untuk dilalui. Akhirnya mereka pun masuk melalui celah tersebut. Ketika hampir tiba di dasar ruangan, mereka mendengar percakapan para penjaga werecat dengan bahasa were, kemudian mereka pun bersembunyi. 'Aku bosan menjaga para tamu itu di sini.' 'Mau bagaimana lagi?! Keluarga Marok akan tinggal di sini sampai para werepuppy tersebut tertangkap.' 'Mengapa mereka belum juga diringkus?' 'Ah, tadi aku mendengar mereka hampir saja tertangkap. Tapi tiba-tiba Penyihir Hijau menyelamatkan mereka.' 'Kakek tua menyebalkan itu selalu menjadi penghalang kita di Paris.' 'Tenaaaaaang ... kita masih memiliki aliansi yang bisa diandalkan. Mereka tidak tahu kalau ia menyusup di antara mereka.' 'Hahaha, benar! Bukan sembarang aliansi biasa! Hilda merupakan aliansi terbaik kita!' Mendengar percakapan itu Jimmy, Villes, dan Files tersentak. Mereka pun bertukar pandangan sesaat. Setelah itu, Jimmy merasa penyusupan sudah cukup, ia berbalik dan mengajak Villes dan Files. Namun, saat tengah berjalan, Files tak sengaja menyenggol barang. Tak pelak lagi, para penjaga menoleh ada mereka. 'Lihat penyusup!!' Para penjaga tersebut segera menyerang Jimmy dan kawan-kawan yang terpaksa harus melawan. Pertempuran tersebut berat sebelah. Jimmy, Villes, dan Files masih terlalu tangguh bagi para penjaga. Namun, suara pertempuran mengundang para werecat lainnya berdatangan. Meskipun memiliki kekuatan luar biasa dikepung werecat sebanyak itu, mereka pun kewalahan. Melihat keadaan terjepit, Villes memberi sinyal agar Files melarikan diri. Semula Files menolak, tetapi Villes bersikeras lantaran selain menyelamatkan diri, informasi yang baru mereka dapatkan harus segera disampaikan pada Livy dan teman-teman. Villes berusaha menghadang para werecat dan memberi ruang Files melarikan diri. Files tak ingin menyia-nyiakan bantuan ayahnya. Ia berusaha semampunya untuk lolos. Preeeeet!! Gas yang dikeluarkannya menambah laju larinya hingga tak dapat dikejar para werecat. *** Sementara itu di luar pagar, Livy dan kawan-kawan menunggu dengan cemas. Mereka berkumpul di belakang pepohonan besar sambil berbincang. "Semestinya kalau hanya mengamati tidak perlu selama ini," ucap Medy cemas. "Ah, kamu tahu pacarmu bagaimana, kan?!" Livy mengetuk-ngetukkan telunjuk di pelipisnya. "Tapi dia kuat!" Medy berseru kecil, membela pacarnya. "Nah, karena ia kuat, makanya kamu tidak perlu khawatir," timpal Shane. "Aku rasa wajar kalau Medy cemas. Meskipun kuat, jika bertemu keluarga Marok, tentu menjadi masalah besar," tukas Viles. "Atau bisa juga bertemu banyak pasukan werecat," sahut Filles. "Kalian jangan membuatku makin khawatir," tegur Medy, kesal. Viles menanggapi, "Med, ayah dan adikku ada bersama Jimmy. Aku dan ibu juga cemas." Shane memandang Viles dan Filles bergantian. "Kalian benar. Tetapi yang terbaik sekarang hanya menunggu dan percaya pada mereka." "Kecemasan tidak akan membantu upaya mereka," timpal Randalf. "Apakah kalian tidak ingat alasan penyusupan dikarenakan para werecat sibuk mencari kalian di luar sehingga meninggalkan markas dalam keadaan sepi?" tanya Hilda. Medy, Filles dan Viles mencerna kata-kata tersebut. Tak lama kemudian mereka mengangguk. Filles menghela napas. "Kalian benar. Sudah seharusnya kami percaya pada mereka." Medy menimpali, "Semoga sebentar lagi mereka kembali." Baru saja Medy usai berkata, tiba-tiba Viles berseru sambil menunjuk ke depan. "Itu Files!" Mereka terkejut melihat Files hanya datang sendiri. Setelah diubah menjadi manusia, Files menceritakan yang terjadi. Pandangannya sesekali melirik Hilda ketakutan. Namun, ia tidak berani membongkar pengkhianatan Hilda di depannya. Ia hamya menceritakan lokasi keluarga Marok tinggal sementara serta kejadian di dalam. "Sebaiknya kita masuk!" Medy terlihat panik. Demikian pula dengan Viles dan Filles. Shane yang merupakab adik Jimmy sebenarnya merasa cemas, tetapi ia tetap berusaha tenang. "Jangan. Kalau kita gegabah, mereka sulit diselamatkan, bahkan bisa jadi kita semua dalam bahaya." Randalf mengangguk. "Kita sudah mengetahui denah markas ini. Sebaiknya kita kembali ke rumahku untuk merencanakan pembebasan dan melanjutkan tujuan awal kita." Meskipun merasa berat, Viles Filles dan Medy terpaksa setuju. Livy dan teman-teman pun berjalan ke arah mobil. *** Ketika sudah berada di kediaman Randalf dan Hilda, Livy dan teman-teman menyusun rencana pembebas. Namun, suasana pertemuan tak berlangsung seperti sebelumnya. Wajah-wajah mereka tampak khawatir dan tegang. Apalagi bagi Files yang tampak ketakutan sambil sesekali mencuri pandang Hilda. "Yang menjadi masalah, kita tidak tahu tempat mereka disekap," ujar Filles. "Kalau kita masuk dan berpencar di dalam akan berisiko tinggi kita kesulitan saling membantu jika mereka menyerang kita bersamaan di tempat berbeda." Viles berkata, dengan raut wajah cemas. Shane berpendapat, "Tapi kalau tidak berpencar kalau kita tidak langsung menemukan mereka, akan membutuhkan waktu lebih lama mencari tempat penyekapan." "Aku setuju dengan Shane. Lagipula jika bersama-sama keberadaan kita akan lebih gampang diketahui." Livy menimpali. Medy mengangguk. "Keduanya sama-sama berisiko, tetapi dengan berpencar, risikonya masih lebih sedikit." Filles mencerna pikiran sesaat. "Setelah aku pikirkan, ucapan kalian benar. Jika salah satu kelompok kcil kita menemui kesulitan, harus segera memberi sinyal agar kelompok lain datang membantu." Viles segera menyahut, "Aku tetap tidak setuju. Bagiku rencana berpencar mengurangi kekuatan kita. Dan risiko terburuk bukan hanya menimpa kita, tetapi Jimmy dan ...." Suara Viles tercekat. "ayah ...." Semua yang ada di ruangan merasakan kecemasan dan kesedihan seperti Viles. Sehingga keadaan menjadi hening selama beberapa saat. Namun, tiba-tiba Hilda bersuara memecah keheningan. "Begini saja. Untuk mengurangi risiko, biar aku dan suamiku ke sana dan mencari tahu letak tempat penyekapan." Mendengar itu, Files yang sejak tadi diam, tersentak. "Jangan!" Hilda dan seluruh hadirin menengok padanya. "Kenapa?" tanya Hilda, seraya menyelisik ekspresi Files yang gugup. "Karena nanti ayah akan ... eh ... e—emmm ...." Randalf tersenyum. "Jangan khawatir, kami akan berhati-hati. Dan sudah menjadi tanggung jawab kami sebagai tuan rumah untuk membebaskan tamu kami yang ditawan." "Ta-tapi ...." Files menunduk dan kembali terdiam. Melihat anaknya seperti itu, Filles mengusap kepala anaknya sambil tersenyum lembut. "Tenanglah, kita akan membebaskan ayah." Randalf kembali bersuara, "Baiklah kalau begitu kami berangkat." Livy mengangguk. "Berhati-hatilah, Randalf, Hilda." Usai keduanya pergi, Livy dan kawan-kawan masih berkumpul di sana. Keresahan mereka belum pupus sampai Jimmy dan Villes berhasil diselamatkan. Namun, saat itulah Files mulai menuturkan hal yang tadi belum disampaikannya. "Mmm ... sebenernya aku belum menceritakan semua ...." Hadirin pun terkejut mendengar kata-kata Files. "Apa maksudmu, Fil?" tanya Viles. Akhirnya Files mengungkap pengkhianatan Hilda pada mereka. Keterkejutan mereka kian menjadi-jadi mendengar penuturan Files. "Ini tidak bisa dibiarkan. Kalau Hilda berkhianat, Randalf juga dalam bahaya. Itu berarti keselamatan Jimmy dan Villes dipertaruhkan," ucap Shane. "Tapi bagaimana dengan rencana kita? Dari tadi kita belum sepakat." Viles yang semula tidak sepakat, akhirnya mengalah karena waktu menyelamatkan ayahnya makin sempit. "Baiklah, aku mengikuti usul kalian. Yang paling penting ayahku bisa segera diselamatkan." Setelah kesepakatan dicapai, mereka membagi dalam dua kelompok: Livy, Shane, dan Medy; Filles, Viles, dan Files. Tanpa membuang waktu mereka berangkat ke markas werecat. Sementara itu keadaan Jimmy dan Villes di ruang tahanan, masih tampak baik. Para werecat masih menanti kepulangan keluarga Marok untuk memberi hukuman pada keduanya. Meskipun begitu, keduanya di tempatkan pada ruangan yang terpisah dam bersebelahan. Sudah satu jam berlalu, Jimmy telah berubah kembali menjadi manusia, sementara Villes diubah ke wujud asli oleh para werecat. Saat ini Villes tampak sangat cemas dan menghela napas beberapa kali, sampai terdengar oleh Jimmy. Hal itu tak luput dari perhatian Jimmy. "Tenang saja, mereka akan menyelamatkan kita, Vill." Villes kembali menghela napas. "Aku justru lebih khawatir pada mereka ketimbang diriku." "Kenapa?" Bersambung ke chapter berikutnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN