9

1671 Kata
Sayangnya tercium bau yang sangat menyengat dari lubang yang baru dibuat Shane. "Mmm ... bau apa ini?" tanya Files sambil menutup hidung. Livy pun berseru, "Jimmy coba lihat kita muncul di mana?" "Okeee!" Tak lama kemudian, Jimmy kembali dengan kepala pusing. "Ka-kamar mandi umum ...." Livy menghela napas. "Bilang Shane supaya muncul di tempat lain." Satu jam kemudian .... "Di mana?" Jimmy pun melihat ke atas. "KYAAAAAAAAAA!!! ADA YANG NGINTIP!!!" jerit seseorang dari atas. Jimmy buru-buru masuk kembali. "Di kamar orang." "Oh, Tuhaaan ...." keluh Livy. Lubang ketiga .... "Tempat pembuangan sampah!!!" Dan akhirnya di lubang keempat .... "Aaaaaah!! Tamaaaan Kota!!" seru Livy, lega lantas menoleh pada Shane. "Lucu!" Poof! Shane berubah kembali menjadi manusia. "Jadi sekarang harus bagaimana?" tanya Filles. "Kita bersembunyi dulu di bagian taman yang gelap." Villes mengedarkan pandangan. "Ah! Di dekat semak-semak itu!" seru Villes menunjuk semak-semak di belakang bangku panjang. Mereka pun bergegas ke tempat yang dimaksudkan Villes. Namun, Livy tak melihat Medy dan Jimmy bersama mereka. "Tunggu ...." Livy menoleh kanan kiri. "Di mana Jimmy dan Medy?" "Biarkan saja mereka. Mungkin sedang melihat kondisi sekitar, apakah aman atau tidak. Lagipula Jimmy sangat kuat." Livy mengangguk repetitif. "Ya sudah." Tiba-tiba terdengar suara-suara dari balik semak-semak. "Oooouh, Jimmy!" "Ohhhh!" "...." "...." Sontak darah Livy mendidih, serta-merta disibaknya dedaunan semak-semak. "TIDAK BISAKAH KALIAN MENAHAN DIRI, ATAU MELAKUKANNYA BUKAN DI TEMPAT UMUM???" Baru saja Livy usai berseru tiba-tiba terdengar seruan dari belakang. "TANGKAAAP!!! ITU PARA WEREPUPPY!!!" Livy dan kawan-kawan panik melihat puluhan werecat mengejar mereka. Namun, Villes tidak tinggal diam lalu segera mengeluarkan bulan buatan. Tak lama kemudian mereka berubah menjadi werepuppy, dan menyambut serangan musuh-musuh. Jimmy yang kegiatannya terganggu menjadi sangat marah. Tangannya melontarkan bola-bola energi merah dan menerjang lima ekor werecat. Shane pun bertarung luar biasa. Ia berlari mengelilingi empat werecat sampai tercipta angin p****g beliung yang menghempaskan mereka. Sementara itu, keluarga Villes juga berhasil menaklukkan belasan werecat. Akhirnya setelah beberapa menit, Shane dan kawan-kawan berhasil menaklukkan werecat. Melihat kemenangan tersebut Livy melompat kegirangan. "Yes!!! Akhirnya kita me—" "MEREKA DI SANA!" Puluhan werecat lain datang dan langsung menerjang Shane dan kawan-kawan. Meskipun pada akhirnya mereka bisa dikalahkan, ada puluhan werecat lain yang datang menyerang. Diserang bertubi-tubi tanpa henti, Shane dan kawan-kawan mulai kehabisan tenaga. "Tidak mungkin seperti ini terus. Sebaiknya kita lari!" seru Livy lantas berlari bersama teman-temannya. Sayang, baru beberapa meter, puluhan werecat menghadang dari depan. Mereka pun terhimpit dan tak bisa melarikan diri. Di saat keadaan terjepit, tiba-tiba ada ledakan keras yang mengeluarkan asap tebal sehingga menghalangi pandangan para werecat. Dari balik asap tebal muncul seorang laki-laki tua. "Cepat ikut aku!!" Tanpa pikir panjang, Livy dan teman-teman pun mengikutinya. Kemudian masuk ke dalam dua mobil jip hitam yang membawa mereka melintasi jalanan luar kota. Seorang laki-laki berjas dan berkacamata mengemudikan mobil, sementara di sebelahnya duduk kakek yang menyelamatkan Livy dan kawan-kawan. "Kenapa Anda menolong kami?" tanya Shane yang sudah berubah menjadi manusia. Kakek tersebut tersenyum. "Itu memang sudah tugasku. Setelah berita kedatangan kalian sampai padaku, aku pun segera mencari di Paris. Selama dua hari aku tidak berhasil menemukan kalian, sampai akhirnya menemukan kalian sedang bertempur di taman tadi." Livy yang juga penasaran pun bertanya, "Tugas? Apa maksud Anda?" "Terlalu panjang jika kuceritakan sekarang. Tunggulah ketika kita sudah sampai rumahku di Brussel." "Baiklah. Tapi setidaknya, bolehkah kami mengetahui siapa Anda?" "Aku Randalf. Mereka menyebutku Penyihir Hijau." "Oh, Tuhan! Randalf Penyihir Legendaris dari Negeri Pipao?!" seru Shane tak percaya. Randalf mengangguk. "Ya, ya, ya. Rupanya kamu ingat cerita 'Lord of The Chin'." *** Setelah menepuh jarak yang jauh dan waktu berjam-jam, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah berarsitektur Yunani yang berdiri megah di antara rumah-rumah mewah di sekitarnya. Rumah tersebut memiliki luas tiga kali lebih besar daripada rumah lain di kawasan tersebut. Selain itu, halaman rumah pun sangat indah dengan rumput hijau yang terpotong rapi, juga kolam ikan yang pada pinggirannya dihiasi bunga-bunga lili serta beberapa pachira berdaun lebar yang membuai pandangan setiap orang yang menyaksikan. Namun, bukan keindahan itu yang menyebabkan kedatangan Livy dan teman-teman .... Setelah mereka turun, Randalf mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Seorang perempuan tua berpakaian biru menyambut kedatangan mereka dengan ramah. "Waaah! Yang kutunggu-tunggu sudah datang!!" Randalf tersenyum lantas mengecup pipi perempuan tersebut. "Kenalkan, ini Hilda, istriku. Ia juga seorang penyihir." "Apakah Nyonya Penyihir Biru?" terka Shane. Hilda tertawa kecil. "Tidak perlu memanggilku 'Nyonya', cukup panggil namaku saja. Dan memang benar, julukanku adalah Penyihir Biru." Senyum pun teruntai di wajahnya. "Mari kita ke dalam. Ada hal penting yang harus kami bicarakan sambil kita menikmati hidangan yang telah kami siapkan." Randalf dan Hilda berjalan ke ruangan lain diikuti Livy dan teman-temannya dari belakang. *** Saat mereka tengah dijamu, Randalf dan istrinya menceritakan tentang Gilgallon keluarga Miko, serta alasan dibalik kekuatan yang dimiliki Marok. Livy dan kawan-kawan menyimak penuturan mereka dengan serius. "Gilgallon awalnya adalah bagian dari tujuh penyihir yang bertugas menjaga keseimbangan Bumi. Namun, melihat kerusakan yang terus terjadi akibat ulah manusia, ia merasa kecewa dan berniat membangun Bumi yang baru dengan memusnahkan manusia yang dianggap sumber masalah terbesar di Bumi," ungkap Randalf. "Siapa sajakah tujuh penyihir tersebut?" tanya Medy. "Penyihir Putih, Penyihir Biru, Penyihir Hijau, Penyihir Kuning, Penyihir Merah, Penyihir Kelabu, dan Gilgallon—Penyihir Hitam." Hilda menjawab. "Bisa lanjutkan ceritanya?" pinta Shane. Randalf mengangguk. "Diam-diam Gilgallon menyusun rencana tersebut di belakang kami dan menciptakan para were. Namun, akhirnya Penyihir Kuning tidak sengaja mengetahui rencananya. Pertikaian pun terjadi, tetapi di luar dugaan Gilgallon memiliki kekuatan luar biasa yang dipelajarinya sembunyi-sembunyi. Penyihir Kuning pun akhirnya tewas. Gilgallon menjadi buruan para penyihir lain dan dikeluarkan dari kelompok penyihir." Livy bertanya, "Jadi sampai sekarang Gilgallon belum bisa ditemukan?" Hilda menghela napas lantas menggeleng. "Tidak. Berkali-kali kami bertarung dengannya, tetapi kekuatannya benar-benar mengerikan. Bahkan Penyihir Putih yang terkuat di antara kami pun terluka dan sampai sekarang sedang menyembuhkan diri, sementara itu Penyihir Kelabu yang juga terluka, menghilang bertahun-tahun." "Penyihir Kelabu ada di Australia. Belum lama aku bertemu dengannya," ucap Shane. Randalf dan Hilda tersentak. "Inigha?" Shane mengangguk. "Benar, Inigha." Kemudian ia bercerita tentang pertemuannya dengan Penyihir Kelabu, dan mengungkapkan kalau Penyihir Kelabu yang memberitahunya kalau Willy berada di Paris. Usai mendengarkan cerita Shane, Randalf mencerna pikirannya. "Rupanya ia masih dalam kondisi buruk." "Sebaiknya Willy kita jemput." Randalf menggeleng. "Jangan. Kita hanya menyusahkannya. Ia lebih aman berada di sana ketimbang bersama kita." "Tapi ia masih terluka." Randalf menghela napas. "Sekalipun ia bersama kita, tak ada yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan lukanya. Sihir Gilgallon mengunci seluruh sihir untuk mengobatinya." Hilda memandang sedih sang suami. "Padahal kalau ia sembuh, banyak hal yang bisa dilakukannya untuk membantu kita menyelamatkan Bumi dari rencana Gilgallon." "Apakah tidak ada cara lain menyembuhkannya?" "Sebetulnya ada, tetapi sangat sulit." Livy dan teman-temannya bertukar pandang, lantas berujar, "Aku rasa semua yang ada di sini siap membantu walaupun sangat sulit. Jadi, bisakah sebutkan caranya?" "Kunci sihir yang melukainya dipegang keluarga Marok. Jika ingin menyembuhkannya keluarga Marok harus dapat dikalahkan," terang Randalf. "Dan perlu kalian ketahui, keluarga Marok sangatlah kuat. Mereka adalah bagian dari pasukan elit Gilgallon," sahut Hilda. Villes berkata, "Seperti yang tadi dikatakan Livy, meski sesulit apa pun, demi menyelamatkan Inigha, kami siap membantu." Randalf dan Hilda bertukar pandang, sebelum akhirnya Randalf berkata, "Baiklah. Kalau begitu kami juga akan turut membantu." "Tapi kita perlu rencana matang, kalau tidak ingin sia-sia," timpal Hilda. Livy mencerna pikiran beberapa saat. "Bagaimana kalau kita yang menyerang markas mereka?" Medy yang terkejut mendengarnya, sontak berdiri. "Kamu gila, Liv!" "Liv, aku pikir usulmu tidak mungkin." Shane menyahut. Villes juga berkomentar, "Melawan puluhan werecat saja kita kewalaham, apalagi harus menghadapi ratusan werecat di markas mereka." Bukan hanya Shane dan Medy yang terkejut, seisi ruangan pun sependapat. Mendadak suasana menjadi ramai. Namun, ada satu orang yang berpikir Livy tidak asal bicara. "Tenang dulu. Aku pikir Livy ada alasan kuat mengusulkan itu," tukas Filles menenangkan yang lain, lantas menoleh pada Livy. "Bisa kamu kemukakan alasanmu?" Livy mengangguk. "Saat ini semua werecat sedang mencari kita. Lihat saja tadi, puluhan bahkan mungkin ratusan werecat mengejar kita. Pasti markas mereka tinggalkan dalam keadaan sepi. Mereka terlalu pongah, tak berpikir bahwa ada yang bisa memanfaatkan kelengahan mereka." Villes menanggapi, "Lalu bagaimana kalau ternyata keluarga Marok juga ikut mencari kita dan tidak ada di tempat? Bukankah akan sia-sia kalau kita ke sana?!" Livy tersenyum. "Tidak masalah. Usaha kita tidak akan sia-sia." "Apa maksudmu, Liv?" tanya Medy, makin heran. Livy menghela napas. "Bisakah kalian bayangkan ketika mereka kembali, tiba-tiba kita menyerang dari tempat tersembunyi?!" Semua yang ada di sana diam dan mencerna kata-kata Livy. Usul Livy memang masuk akal dan dapat memperbesar kemungkinan menang. Hanya saja ada satu hal yang belum terpikirkan. "Ide cemerlang. Tapi tetap sia-sia jika kita tidak bisa mengalahkannya," ucap Randalf, tepat sasaran. "Apakah mereka tidak memiliki kelemahan?" tanya Shane. Hilda berpikir sejenak. "Sebenarnya ada. Tapi tidak mudah." "Apa itu?" "Ekor. Kita harus memotong ekor mereka." Viles menghela napas. "Menyentuh saja sulit, apalagi harus memotongnya." "Tidak ada kata 'sulit', sebelum mencoba. Setelah ini kita susun cara untuk membuat mereka lengah lantas memotong ekor mereka," tukas Livy, "sekarang kita harus tahu denah markas mereka, sehingga dapat dengan mudah mencari di mana Marok dan keluarganya berada." "Aku setuju. Aku pikir sebagian di antara kita harus ke sana untuk mengamati lokasi. Tapi siapa yang menyanggupi?" Hilda mengedarkan pandangan. "Aku!" Jimmy mengangkat tangan. "Ah, benar. Jimmy-lah yang terkuat di antara werepuppy yang berada di sini," ucap Shane, setuju. Randalf berkomentar, "Tidak cukup kalau hanya kuat. Setidaknya ada yang bisa membantu mengalihkan perhatian penjaga." Suasana kembali hening. Selama beberapa saat tidak ada yang merasa sanggup dengan tugas itu. Sampai akhirnya Files mengangkat tangan. "A-aku saj—" "Tidak! Files, kamu masih terlalu kecil," sergah Filles. "Tapi kemampuanku paling sesuai untuk tugas itu." "Aku tidak se—" "Tidak ada cara lain Fil. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menemani Files," ujar Villes menginterupsi. Filles menunduk seraya berpikir. Tak lama kemudian ia mengangguk. "Baiklah." Melihat sudah rencana sudah tersusun, Hilda pun berkata, "Baiklah. Kalian bisa berngkat petang ini. Kami semua akan berjaga-jaga di dekat markas. Jadi kalau ada sesuatu, kami akan turun tangan." "Sebelum itu, mari kita buat rencana untuk mengalahkan Marko dan keluarganya," tukas Randalf. Bersambung ke chapter selanjutnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN