8

1671 Kata
Setelah berjam-jam berjalan-jalan, akhirnya mereka kembali ke hotel. Setibanya di lobby, mereka melihat Jimmy dan Medy sedang menunggu di sofa. Mereka tampak sangat mesra. Berkali-kali bibir mereka saling bertautan. "Menjijikkan," gerutu Livy, kesal. "Biarkan saja, Liv. Itu urusan mereka." Shane dan Livy pun menghampiri mereka. Melihat kedatangan Shane dan Livy, senyum pasangan kekasih baru tersebut tersenyum lebar. "Akhirnya kalian datang juga!" tukas Jimmy, setengah berseru. "Padahal kalau kalian belum datang sepuluh menit lagi, kami akan kembali ke kamar. Betul, kan, Babe?" "Iya, Honey. Kita lanjutkan ke sesi panas ke dua belas!" sahut Jimmy lantas mengecup Medy. Melihat kemesraan mereka, otot rahang Livy berkedutan. "Kalian menjijikkan!" Medy pun menoleh. "Lho, biasa saja, kan, untuk pasangan kekasih?! Bukankah kalian juga?" tanyanya heran. Shane menghela napas. "Seharusnya. Tapi ...." "Seharusnya, seharusnya ... TIDAK ADA CARA ITU BAGIKU SEBELUM MENIKAH!!" bentak Livy. Jimmy tergelak. "Kolot seka—" "DIAAAAAAAM!!" Livy menendang Jimmy kuat-kuat sampai ke luar dari dalam hotel. Medy melirik Livy, lantas berbisik pada Shane. "Kalau Jimmy saja sudah kuat, bagaimana dengan Livy, ya?" Shane mengangguk-angguk. "Benar. Kekuatannya di atas werepuppy. Dia juga bisa melihat di balik tirai magis. Aku curiga dia tidak menyadari kalau sebenarnya seorang were." Diam-diam ketika Shane dan Medy berbisik-bisik, Livy menguping dari belakang. "Were? Werecat atau werepuppy?" tanya Medy. Shane menggeleng. "Tidak mungkin keduanya. Dia pasti werekong." "Werekong? Apa itu?" tanya Medy, makin heran. "Were Kingkong. Ya, ya, ya ... itu sudah pas—" Shane tak meneruskan kalimat ketika mendengar suara gemeretak di belakangnya. Ia pun menoleh dan melihat Livy sedang mengusap tinjunya. "Kalian pikir aku tidak dengar?" Wajah Livy merah padam. "SANA SUSUL JIMMY!!" Tinjunya melontarkan Shane dan Medy ke luar dari hotel. Saat tengah berada di udara, Shane berucap, "Betul dugaanku ... dia pasti werekong ...." Medy menghela napas. "Kamu masih sempat-sempatnya memikirkan itu." *** Sebuah rumah bergenting merah dan bercat putih kusam berdiri di antara deretan rumah-rumah di sekitarnya. Rumah itu tak kalah sederhana dibandingkan yang lain, bahkan mungkin berpenampilan lebih seadanya. Pada bagian halaman maupun muka bangunan tidak banyak hiasan yang mempercantik bagian depan rumah. Hanya ada sekumpulan sansivera, itu pun sebagian daun-daunnya telah kering kecokelatan. Selebihnya rumput-rumput liar dibiarkan tumbuh di halaman rumah, sehingga cukup mengganggu pemandangan. Terlebih lagi jalanan di halaman yang sebagian sudah bergelombang dan retak-retak, kian memperburuk penampilan rumah tersebut. Livy mengamati rumah tersebut ketika baru sampai di sana. "Benarkah ini rumahnya?" Shane mengangguk. "Tidak salah lagi, alamatnya sudah benar. Ayo." Ketika Shane, Livy, Jimmy dan Medy berjalan menyusuri halaman, tiba-tiba terdengar seruan seseorang. "Ah! Akhirnya kalian datang!" Mereka pun menoleh dan melihat laki-laki gemuk menghampiri dari taman. "Villes," sapa Shane. "Aku senang sekali tamu kedua kami datang," tukas Villes. "Tamu kedua?" Villes mengangguk repetitif. "Ayo masuk. Aku kenalkan dengan keluarga dan tamu kami." *** Livy dan teman-teman sudah satu jam berada di dalam tanah. Para werepuppy telah berubah menjadi manusia, termasuk Jimmy yang telah usai masanya. Keluarga Villes meminta maaf karena telah menuduh Livy dan kawan-kawan, tetapi masih mencurigai Miko. Mereka sedang mencari cara mengetahui kondisi di luar. Itulah yang kini sedang menjadi topik pembahasan. "Bagaimana kalau Shane melihat kondisi di atas dulu, setelah itu memberitahu kita?" usul Jimmy. Shane pun menyahuti, "Boleh, aku ak—" "JANGAN! AKU TIDAK MENGIZINKAN!" seru Livy. Jimmy menghela napas. "Jadi bagaimana?" "Kita pergi bersama-sama saja. Dengan begitu kita bisa saling membantu," usul Files cilik. "Dari tadi kita juga bersama-sama dan saling membantu, tapi pada akhirnya kita harus bersembunyi, kan?!" sahut Viles, anak pertama. "Ah, tadi karena ada Marok. Nanti belum tentu begitu. Asalkan kita muncul di tempat yang tepat," tukas Shane. "Mmm ... okay menurutku kita coba teman-teman. Bagaimana?" tanya Livy, seraya mengedarkan pandangan ke teman-temannya. Villes mengangguk. "Kami setuju." "Kami juga. Asalkan muncul di dekat hotel. Bukan begitu, Sayang?" Medy mengecup Jimmy. Kemesraan Medy dan Jimmy pun, memancing komentar Livy. "Aaaaakh ... menjijikkan." Akhirnya setelah bulan buatan mengubah Shane menjadi werepuppy ia melubangi tanah ke atas. Sementara itu Livy dan teman-teman mengikuti dari belakang. Mereka merangkak dengan urutan: Shane, Jimmy, Medy, Livy, Filles, Files, Viles, dan paling akhir Villes. Tak lama kemudian, Shane muncul di luar. "Woof! Wooof!!" Sayangnya tercium bau yang sangat menyengat dari lubang yang baru dibuat Shane. "Mmm ... bau apa ini?" tanya Files sambil menutup hidung. Livy pun berseru, "Jimmy coba lihat kita muncul di mana?" "Okeee!" Tak lama kemudian, Jimmy kembali dengan kepala pusing. "Ka-kamar mandi umum ...." Livy menghela napas. "Bilang Shane supaya muncul di tempat lain." Satu jam kemudian .... "Di mana?" Jimmy pun melihat ke atas. "KYAAAAAAAAAA!!! ADA YANG NGINTIP!!!" jerit seseorang dari atas. Jimmy buru-buru masuk kembali. "Di kamar orang." "Oh, Tuhaaan ...." keluh Livy. Lubang ketiga .... "Tempat pembuangan sampah!!!" Dan akhirnya di lubang keempat .... "Aaaaaah!! Tamaaaan Kota!!" seru Livy, lega lantas menoleh pada Shane. "Lucu!" Poof! Shane berubah kembali menjadi manusia. "Jadi sekarang harus bagaimana?" tanya Filles. "Kita bersembunyi dulu di bagian taman yang gelap." Villes mengedarkan pandangan. "Ah! Di dekat semak-semak itu!" seru Villes menunjuk semak-semak di belakang bangku panjang. Mereka pun bergegas ke tempat yang dimaksudkan Villes. Namun, Livy tak melihat Medy dan Jimmy bersama mereka. "Tunggu ...." Livy menoleh kanan kiri. "Di mana Jimmy dan Medy?" "Biarkan saja mereka. Mungkin sedang melihat kondisi sekitar, apakah aman atau tidak. Lagipula Jimmy sangat kuat." Livy mengangguk repetitif. "Ya sudah." Tiba-tiba terdengar suara-suara dari balik semak-semak. "Oooouh, Jimmy!" "Ohhhh!" "...." "...." Sontak darah Livy mendidih, serta-merta disibaknya dedaunan semak-semak. "TIDAK BISAKAH KALIAN MENAHAN DIRI, ATAU MELAKUKANNYA BUKAN DI TEMPAT UMUM???" Baru saja Livy usai berseru tiba-tiba terdengar seruan dari belakang. "TANGKAAAP!!! ITU PARA WEREPUPPY!!!" Livy dan kawan-kawan panik melihat puluhan werecat mengejar mereka. Namun, Villes tidak tinggal diam lalu segera mengeluarkan bulan buatan. Tak lama kemudian mereka berubah menjadi werepuppy, dan menyambut serangan musuh-musuh. Jimmy yang kegiatannya terganggu menjadi sangat marah. Tangannya melontarkan bola-bola energi merah dan menerjang lima ekor werecat. Shane pun bertarung luar biasa. Ia berlari mengelilingi empat werecat sampai tercipta angin p****g beliung yang menghempaskan mereka. Sementara itu, keluarga Villes juga berhasil menaklukkan belasan werecat. Akhirnya setelah beberapa menit, Shane dan kawan-kawan berhasil menaklukkan werecat. Melihat kemenangan tersebut Livy melompat kegirangan. "Yes!!! Akhirnya kita me—" "MEREKA DI SANA!" Puluhan werecat lain datang dan langsung menerjang Shane dan kawan-kawan. Meskipun pada akhirnya mereka bisa dikalahkan, ada puluhan werecat lain yang datang menyerang. Diserang bertubi-tubi tanpa henti, Shane dan kawan-kawan mulai kehabisan tenaga. "Tidak mungkin seperti ini terus. Sebaiknya kita lari!" seru Livy lantas berlari bersama teman-temannya. Sayang, baru beberapa meter, puluhan werecat menghadang dari depan. Mereka pun terhimpit dan tak bisa melarikan diri. Di saat keadaan terjepit, tiba-tiba ada ledakan keras yang mengeluarkan asap tebal sehingga menghalangi pandangan para werecat. Dari balik asap tebal muncul seorang laki-laki tua. "Cepat ikut aku!!" Tanpa pikir panjang, Livy dan teman-teman pun mengikutinya. Kemudian masuk ke dalam dua mobil jip hitam yang membawa mereka melintasi jalanan luar kota. Seorang laki-laki berjas dan berkacamata mengemudikan mobil, sementara di sebelahnya duduk kakek yang menyelamatkan Livy dan kawan-kawan. "Kenapa Anda menolong kami?" tanya Shane yang sudah berubah menjadi manusia. Kakek tersebut tersenyum. "Itu memang sudah tugasku. Setelah berita kedatangan kalian sampai padaku, aku pun segera mencari di Paris. Selama dua hari aku tidak berhasil menemukan kalian, sampai akhirnya menemukan kalian sedang bertempur di taman tadi." Livy yang juga penasaran pun bertanya, "Tugas? Apa maksud Anda?" "Terlalu panjang jika kuceritakan sekarang. Tunggulah ketika kita sudah sampai rumahku di Brussel." "Baiklah. Tapi setidaknya, bolehkah kami mengetahui siapa Anda?" "Aku Randalf. Mereka menyebutku Penyihir Hijau." "Oh, Tuhan! Randalf Penyihir Legendaris dari Negeri Pipao?!" seru Shane tak percaya. Randalf mengangguk. "Ya, ya, ya. Rupanya kamu ingat cerita 'Lord of The Chin'." *** Setelah menepuh jarak yang jauh dan waktu berjam-jam, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah berarsitektur Yunani yang berdiri megah di antara rumah-rumah mewah di sekitarnya. Rumah tersebut memiliki luas tiga kali lebih besar daripada rumah lain di kawasan tersebut. Selain itu, halaman rumah pun sangat indah dengan rumput hijau yang terpotong rapi, juga kolam ikan yang pada pinggirannya dihiasi bunga-bunga lili serta beberapa pachira berdaun lebar yang membuai pandangan setiap orang yang menyaksikan. Namun, bukan keindahan itu yang menyebabkan kedatangan Livy dan teman-teman .... Setelah mereka turun, Randalf mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Seorang perempuan tua berpakaian biru menyambut kedatangan mereka dengan ramah. "Waaah! Yang kutunggu-tunggu sudah datang!!" Randalf tersenyum lantas mengecup pipi perempuan tersebut. "Kenalkan, ini Hilda, istriku. Ia juga seorang penyihir." "Apakah Nyonya Penyihir Biru?" terka Shane. Hilda tertawa kecil. "Tidak perlu memanggilku 'Nyonya', cukup panggil namaku saja. Dan memang benar, julukanku adalah Penyihir Biru." Senyum pun teruntai di wajahnya. "Mari kita ke dalam. Ada hal penting yang harus kami bicarakan sambil kita menikmati hidangan yang telah kami siapkan." Randalf dan Hilda berjalan ke ruangan lain diikuti Livy dan teman-temannya dari belakang. *** Livy dan teman-teman sudah satu jam berada di dalam tanah. Para werepuppy telah berubah menjadi manusia, termasuk Jimmy yang telah usai masanya. Keluarga Villes meminta maaf karena telah menuduh Livy dan kawan-kawan, tetapi masih mencurigai Miko. Mereka sedang mencari cara mengetahui kondisi di luar. Itulah yang kini sedang menjadi topik pembahasan. "Bagaimana kalau Shane melihat kondisi di atas dulu, setelah itu memberitahu kita?" usul Jimmy. Shane pun menyahuti, "Boleh, aku ak—" "JANGAN! AKU TIDAK MENGIZINKAN!" seru Livy. Jimmy menghela napas. "Jadi bagaimana?" "Kita pergi bersama-sama saja. Dengan begitu kita bisa saling membantu," usul Files cilik. "Dari tadi kita juga bersama-sama dan saling membantu, tapi pada akhirnya kita harus bersembunyi, kan?!" sahut Viles, anak pertama. "Ah, tadi karena ada Marok. Nanti belum tentu begitu. Asalkan kita muncul di tempat yang tepat," tukas Shane. "Mmm ... okay menurutku kita coba teman-teman. Bagaimana?" tanya Livy, seraya mengedarkan pandangan ke teman-temannya. Villes mengangguk. "Kami setuju." "Kami juga. Asalkan muncul di dekat hotel. Bukan begitu, Sayang?" Medy mengecup Jimmy. Kemesraan Medy dan Jimmy pun, memancing komentar Livy. "Aaaaakh ... menjijikkan." Akhirnya setelah bulan buatan mengubah Shane menjadi werepuppy ia melubangi tanah ke atas. Sementara itu Livy dan teman-teman mengikuti dari belakang. Mereka merangkak dengan urutan: Shane, Jimmy, Medy, Livy, Filles, Files, Viles, dan paling akhir Villes. Tak lama kemudian, Shane muncul di luar. "Woof! Woof! Woof! Wooof!!" Bersambung ke chapter berikutnya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN