Cahaya yang semula redup, lama kelamaan menjadi makin terang. Sedetik kemudian Inigha mengangkat tongkat lalu melesatlah cahaya yang menyilaukan pandangan.
Tatkala cahaya itu berangsur-angsur hilang, Shane, Livy dan kawan-kawan sudah tidak berada di sana.
"Sial!" hardik Marok, marah.
Marok geram tak melihat musuh-musuhnya di sana.
***
Beberapa jam kemudian di perbatasan Perancis dan Belgia. Livy dan kawan- kawan sedang berjalan menyusuri jalan setapak yang belum jelas ujungnya. Mereka berjalan sambil diam. Masing- masing dari mereka pikirannya melanglang buana ke tempat lain. Setelah lama mereka berjalan, tidak lama terlihat puncak dari sebuah bangunan tinggi.
“Teman- teman, bagaimana kalau kita berbicara disana.” Livy menunjuk
“Sepertinya 10 menit lagi kita sampai kesana.” Lanjut Livy lagi.
“Baiklah.. Ayo semuanya, sabar sedikit lagi, sebentar lagi kita sampai… ayo semangat” Shane menyetujui ide Livy.
Semuanya mengangguk dan mengikuti arahan Livy dan shane. Beramai - ramai mereka berjalan lagi dalam diam, tak berapa lama, mereka sampailah di bangunan tersebut. Bangunan itu kokoh dan terlihat usang, mungkin karena sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya. Halaman depannya ditumbuhi ilalang dan rumput- rumput liar dan pepohonan tua besar. Shane dan Jimmy mencoba mendorong pintu depan bangunan tersebut, ternyata pintunya tidak terkunci. Mereka masuk ke dalam dengan berurutan. Ruangan di dalamnya besar dan cukup hangat, mereka menemukan kursi- kursi dan meja- meja untuk tempat mereka melepas lelah. Masing- masing dari mereka mencoba mengumpulkan kursi- kursi dan meletakkannya di dekat meja, agar semua bisa duduk berdekatan. Setelah semuanya mendapatkan tempat untuk duduk dan wajah mereka terlihat tidak lelah lagi, livy mulai membuka obrolan.
“Jadi apa yang ingin kau infokan kepada kami Inigha?” Tanya Livy kemudian
“Sepertinya semua sudah hilang lelahnya. Kau boleh bercerita sekarang” Lanjut Livy lagi
“Yeah Inigha.. ayo ceritakan kepada kami.” Jimmy ikut membujuk Inigha
“Hmmm jadi begini ceritanya Livy, Shane, Jimmy, Medy, Miko, Vellis, Velis, Fellis, dan Felis, aku harap kalian dapat memberikan solusi terbaik untuk ini..” Inigha berkata sambil memandang teman- temannya satu persatu.
“Tentang apa sih? Aku jadi khawatir” Raut Wajah Livy berubah menjadi muram. Inigha mengabaikan Livy
“Kalian tahu? Aku bisa sampai kesini untuk menyusul kalian berkat bantuan dari Randalf si penyihir hijau. Tanpa pertolongan dia, aku.. aku..” Inigha tidak meneruskan ucapannya, wajahnya tertuduk. Medy yang duduk disebelah Inigha menggenggam tangannya.
“Tapi kau sudah baik-baik saja sekarang kan?” Tanya Medy
“Tidak Medy. Ini hanya sementara. Aku akan kembali sakit nanti.” Inigha berkata dengan raut wajah sedih.
“Baiklah, terus apalagi yang harus kau beritahukan kepada kami Inigha?”Tanya Shane
“Sebentar… Randalf si penyihir hijau itu sebenarnya berpihak kepada kita?” Jimmy bertanya kepada Inigha.
“Kalau kita lihat dia membantu Inigha untuk sampai kesini sih, Sepertinya begitu Jimm…” Livy menjawab pertanyaan Jimmy.
Keluarga Villes saling berpandangan. Livy tidak sengaja melihat mereka berpandangandan bertanya
“Ada apa Villes? Apakah kau tahu sesuatu?” Tanya Livy
“Uh.. Oh.. Tidak Livy, tidak ada apa- apa..” Jawab Villes mencoba meyakinkan Livy dan yang lain.
“Jadi bagaiman selanjutnya Inigha?” Villes bertanya lagi kepada Inigha
“Iya selanjutnya bagaimana Inigha?” Miko terlihat tidak sabar
“Iya aku sempat bertemu dengan penyihir merah. Dia meminta aku menyampaikan kepada kalian bahwa dia ingin berrtemu dengan kalian”
“Hah? Kamu yakin Inigha?” Livy terkejuut mendengar berita dari Inigha
“Iya, kenapa dia ingin bertemu kita? Ini aneh sekali” Shane terlihat bingung
“Sebenarnya ada apa Inigha.. kenapa tiba-tiba dia ingin melakukan itu” Jimmy juga penasaran
“Hmm… Jujur saja aku tidak tahu..” Inigha menjawab dengan muka kebingungan
“Jadi bagaimana teman- teman? Apa yang akan kita lakukan?” Villes menengahi mereka
“Apalagi yang kau tahu Inigha? Livy bertanya lagi walaupun dari wajah Inigha sudah terbaca bahwa dia tidak punya info lagi.
“Ya, mungkin ada Info sekecil apapun yang bisa kau ingat- ingat inigha? Lanjut Medy
“Sejujurnya aku tidak tahu apa- apa lagi teman- teman. Dia tidak memberitahukan apapun mengapa dia ingin menemui kalian.” Inigha menjawab pasrah
“sudahlah teman- teman, sepertinya Inigha tidak punya info apapun lagi. Tidak usah kita paksakan dia. Kondisinya masih belum terlalu kuat” Villes mencoba menenangkan teman- temannya
“Ya benar. Yang harus kita lakukan sekarang mencari solusi dan langkah apa yang akan kita ambil” Ucap Jimmy
“Teman-teman coba kalian pikir, semua in angat aneh bukan, Penyihir Hijau yang membantu Inigha,Penyihir merah yang ingin bertemu kita, pasti ini ada benang merahnya.. kalian memikirkan hal yang sama denganku tidak?” Miko mengoceh
“Aku tidak mengeti maksudmu Miko. Coba kau jelaskan kepada kami semua.” Ucap Livy
“Ya.. maksudku pasti ada sesuatu yang terjadi jika penyihir merah ingin bertemu kita, dan si penyihir hijau membantu Inigha untuk membantu kita” MIko mencoba menjelaskan kepada teman- temannya
Semua orang yang ada di ruangan itu saling berpandangan,
“Ya kita semua tau pasti ada sesuatu, itu kan yang dibahas Inigha daritadi. Apakah kamu tidak menyimaknya?” Ucap Vellis kepada Miko.
Mereka tergelak Bersama melihat miko yang kebingungan..
“Sudahlah Miko, mari kita pikirkan solusi dari ini semuanya.” Ucap Shane
“Jadi Inigha, apakah si penyihir merah menyebut kan, berapaorang yang harus menemui dia? Haruskah kita semua berangkat?” Tanya Jimmy
“Tidak… dia tidak berkata kalian harus kesana semuanya, dia hanya berrkata ingin bertemu kalian saja, ada sesuatu yang harus dia sampaikan. Tapi tidak meneybut secara specific siapa yang harus berangkat” jawab Inigha
“Okay, jadi kita tidak perlu kesana beramai- ramai kalau begitu. Kita bagi tugas saja masing- masing” Jimmy menimpali
“Sebentar… Sebenarnya kemana dia ingin kita pergi menemuinya?” Livy melanjutkan
“Dia ingin kita ke Amsterdam” Jawab Inigha
“Nah… siapa diantara kita yang mau ke Amsterdam menemui Penyihir merah?” Shane bertanya
“Wait Shane, kita harus menentukan dulu agenda kita kemana saja.. apa saja yang harus kita lakukan disana…” Livy menjelaskan inti pertemuan ini
“Oh Yeah… sebenarnya kami belum tau Agenda apa saja yang akan kita bicarakan” Jawab Medy
“Benar Medy, aku dan keluargaku pun tidak paham…” Villes menimpali omongan Medy
“Aku coba jelaskan ya” Shane berkata
“Okay Shane” Jawab Livy
“Yang pertama, kita harus kembali ke Sidney. Yang kedua menemui penyihir merah”
“Ohh Rencana yang itu…” Medy mengangguk paham
“Yang mana? Aku bahkan tidak mengerti untuk apa kita kembali ke Sidney” Miko berkata dengan muka bingung
“Yeah, perlukah kita kesana teman- teman? Untuk apa?” Villes ikut kebingungan
“ Jadi kita harus kembali ke Sidney itu untuk menemui Ayah dan Ibu Jimmy. Kita harus menyusun rencana baru disana Bersama mereka.” Ucap Shane
“Ohh I see…” Villes mengangguk- angguk paham.
“Yasudha kalau begitu kita adakan pemungutan suara saja.” Ucap Medy
“Baiklah…. Ayo kita melakukan pemungutan suara.. kelihatannya itu yang paling adil” Ucap Livy
“Baiklah angkat tangan kalian dlam pemungutan suara ini ya..” Shane berkata
“Okaay...” semua serempak menjawab.
“Siapa yang bersedia menemui penyihir Merah?” Shane bertanya
Livy, Shane, Miko dan Inigha mengangkat tangan
“Baiklah” Shane menjawab
“Nah sekarang siapa yang bersedia kembali ke Sidney?” Shane bertanya lagi
Jimmy, Medy dan keluarga Villes mengangkat tangan
“Baiklah…” Ucap Shane lagi.
Mereka duduk diam menunggu keputusan dari Shane. Semua siap sedia untuk pergi. Tanpa ada bantahan dan penolakan sedikitpun.
“Hmm.. aku sudah berpikir. Menurutku yang paling baik adalah: Aku, Livy dan Miko Pergi menemui Penyihir merah. Dan kau Inigha, kau tinggal disini agar sakitmu tidak kambuh dijalan.” Shane berkata
“Ba..baiklah Shane” Inigha menjawab. Ada raut kecewa di wajahnya
“Hei Inigha, kau tau, kami ingin sekali kau ikut. Tapi pikirkan lah kesehatanmu.. kau hanya sembuh untuk sementara. Nanti kau akan sakit lagi. Aku mengkhawatirkanmu Inigha..” Shane berkata tulus
“yeah benar Inigha…. Ini lebih baik untukmu… jangan buang- buang tenagamu.. okay?” Livy menambahkan sambil memegang tangan Inigha
“Baiklah.. tapi kalian harus berjanji sesuatu kepadaku”Inigha berkata
“Apa itu Inigha?” Miko bertanya
“tolong terus kabari aku. Karena kau khawatir kalian bertemu dengan si penyihir merah itu” JawabInigha dengan muka cemas
“Baik.. kami akan segera mencari cara untuk mengabarkanmu setiap waktu Inigha” Livy berjanji
“Terimakasih Livy” Ucap Inigha sambil tersenyum
“nah… Untuk kelompok yang ke Sidney untuk saat ini yang terbaik adalah Jimmy dan Medy berdua saja” ucap Shane
“Ta…Tapi kenapa?” Villes bertanya. Keluarga Ville terlihat kecewa, istri dan anak- anak Villes juga menampakkan wajah murung karena tidak diperbolehkan ikut ke Sidney
“Sebentar Villes… aku jelaskan dulu…” Shane menjawab dengan sabar. Shane sudah tau, pasti Keluarga Villes akan kecewa dengan keputusan ini. Tapi dia tidak bisa membuat keluarga Villes ikut ambil bagian. Dia tidak tega terhadap Files. Files masih kecil. Terlalu lelah untuknya untuk menempuh perjalanan jauh.
“Ah, Shane kamu memang tidak ingin kami ambil bagian.” Kata Filles dengan nada sedih
“Tidak Filles. Semua ini aku lakukan karena aku memikirkan Files. Dia masih kecil. Tidak baik untuknya melakukan perjalanan jauh lagi dalam waktu yang berdekatan.” Shane menjawb dengan bijaksana
“Tapi aku baik- Baik saja Shane” Files menyakinkan Shane
“Yeah Files Aku yakin kamu baik- baik saja. Tapi perjalanan ke Sidney itu jauh. Kamu akan sangat kelelahan. Kamu simpan tenagamu untuk perjalanan kita yang lebih besar berikutnya ya Files. Kamu harus sehat. Karena kita akan menempuh perjalanan panjang Bersama- sama nanti sekembalinya kami semua nanti” Shane menjelaskan
“Benarkah? Kau berjanji akan mengajakku?” Files bertanya dengan muka kembali sumrigah
“Yeah Pasti Files. Aku yang berjanji padamu.” Livy menenangkan Files.
“Yeaayyyy…. Aku juga berjanji akan menyimpan tenagaku untuk perjalanankita yang lebih jauh Livy” Jawab File..
“Benar..kau harus melakukan itu” jawab Livy Pasti
“Yeah baiklah aku setuju” Villes akhirnya menyerah
“Okay.. kalau begitu semua setuju ya… Jimmy Medy, sampaikan salamku untuk orang tuamu.” Shane berkata
“Ya… salam dariku juga…” Livy berkata.
“Kami pun menitipkan salam kepada orang tuamu Jimmy” Villes ikut memberikan salam
“Baiklah… pasti aku sampaikan kepada mereka. Sampai bertemu lagi teman- teman.” Jimmy dan Medy melambaikan tangan
Semua teman- temannya mengucapkan perpisahan kepada Jimmy dan Medy. Demikian juga dengan Shane, Livy dan Miko yang segera pergi dan mengucapkan salam perpisahan juga kepada mereka..
Bersambung ke chapter berikutnya.