Penerbangan dengan rute Paris-Amsterdam itu sedang dalam keadaan tenang. Cuaca sedang bagus, tidak terasa ada goncangan yang berarti didalam pesawat itu. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman sedang dipadamkan. Para Pramugari dan pramugara wara wiri menghidangkan makanan untuk para penumpang. Miko yang sedang mabuk berat diam saja sambil memejamkan mata. Livy yang tidak tega melihatnya membangunkan Miko untuk makan
“Hei Miko,, Bangun… Kamu harus makan dulu” Livy menggoyang-goyangkan tangan miko
“Biarkan saja dia Livy, dia selalu mabuk kalau naik pesawat” Kata Shane
“Tapi kasihan kalau perutnya kosong, maka dia akan semakin mabuk. Makanya lebih baik diisi saja walaupun sedikit” terang Livy
“Coba saja kau bangunkan, kalau dia bisa bangun” Shane terkekeh
“Hei Miko, ayo makan dulu, biar kamu tidak terlalu mabuk” Livy tidak menyerah
“A..Aku tidak bisa membuka mata, ka.. kalau mataku terbuka ma… maka aku akan langsung mun.. muntah” Jawab Miko
“APAA? Iyewwwww.. kau menjijikan Miko. Baiklah tidak perlu repot-repot membuka matamu” Jawab Livy bergidik jijik
“Ha.. ha.. ha… aku bilang juga apa Livy? Kondisi Miko seperti ini adalah yang terbaik untuk kita semua” Shane berkata sambil tertawa
“Shane, ayo tukar kursinya, aku tidak mau duduk disebelah Miko. Nanti dia muntah keatas aku lagi. Iyewww…” Livy masih memasang tampang jijik
“Ah sudahlah Livy, kau duduk disitu saja” Jawab shane malas bergerak
“Tidak shane, ayo bangun. Tukar tempat. Aku tidak mau disebelah Miko” Livy berkeras
“Baiklah… Baiklah.. “ Jawab Shane mengalah.
Livy dan Shane berdiri untuk bertukar tempat, sebisa mungkin mereka tidak menyentuh Miko. Karena takut miko muntah disitu.
“Ah shane kamu memang egois sekali, pemandangan disini bagus sekali. Kenapa dari tadi kamu tidak mau bertukar tempat ini?” Ucap Livy sewot
“Aku menyukai seat disebalh jendela Livy. Itu tempat favoritku.” Shane tidak mau kalah
“Kenapa sih kamu tidak mau mengalah pada pacarmu?” Livy berkata sebal
“itu hanya seat Livy, tidak usah dibesar-besarkan” jawab Shane dengan muka Jahil
Livy diam tidak membalas lagi omongan Shane. Dia merenung sambil menatap keluar jendela. Pikirannya jauh melayang, dia punya firasat tidak enak tentang penyihir merah. Entah kenapa dia merasa penyihir merah inginkan sesuatu dari mereka
“Kenapa kau jadi diam saja Livy” Tanya Shane
“Hmmm… tidak apa- apa.. aku hanya bingung sebenarnya apa yang diinginkan penyhir merah kepada kita. Kita kan tidak punya kelebihan apa-apa”
“Yahh memang semuanya membuat kita penasaran, tapi ya sudah kita lihat saja dulu sambil jalan” Shane menjawab bijak
Livy mengiyakan apa kata Shane. disepanjang sisa perjalanan dia hanya diam masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Pesawat terasa menurunkan ketinggiannya, yang berarti mereka hampir tiba. Livy menatap keluar jendela lagi. Kelap kelip titik- titik cahaya di kota sudah mulai terlihat. Suasana kota terlihat sangat indah dari atas, lampu- lampu berbaris rapi. Membentuk pola- pola tertentu. Pesawat semakin mendekat ke daratan, gedung- gedung yang tadi terlihat kecil semakin lama semakin besar. Kecepatan pesawat makin bertambah, hingga tiba-tiba terasa guncangan yang keras diikuti bunyi rem dan akhirnya pesawat berjalan pelan, di landasan pacu. Mereka sudah mendarat. Lampu tanda kenakan sabuk pengaman sudah dimatikan, suara awak kabin pesawat yang memberitahukan mereka untuk keluar secara bergantian telah terdengar. Livy, Shane dan Miko antri untuk keluar dari pesawat. Sesampai diterminal, setelah mereka mengurus Imigrasi dan megambil barang, mereka keluar dari Bandara, dan memilih salah satu taksi untuk membawa mereka ke penginapan. Sesampainya dipenginapan hari sudah terlalu malam. Mereka terlelap sampai keesokan harinya.
Setelah bangun dan menyelesaikan sarapannya, mereka langsung bersiap-siap untuk ke tempat penyihir merah.
“Jadi jam berapa kita dijemput?” Miko bertanya
“Menurut info jam 10 ada seseorang yang akan menjemput kita. “ Jaab Livy dari dalam kamar mandi.
“Oke Liv, cepatlah. Sudah pukul 9.30 sekarang” Ucap Shane
“Yaa… aku sudah selesai” Livy keluar sambil mengeringkan rambutnya memakai handuk
“Baikla.. ayo kita kebawah” Miko berseru
Sebentar aku ambil tas dulu” Jawab Livy sambil berjalan dan menyisir rambutnya
Mereka menuruni tangga kebawah. Di Lobby terlihat seorang laki- laki berperawakan kecil yang juga merupakan seorang werepuppy. Laki- laki itu menatap mereka, matanya terlihat ramah.
“Apakah kalian tamu dari Paris?” Tanyanya ketika melihat mereka turun dari tangga
“Yeah, kami adalah grup dari paris” Jawab Shane
“Kenalkan, namaku Paul” Jawab laki- laki tersebut sambil mengulurkan tangannya
“Oh hai, aku Shane” Jawab Shane menyambut tangannya
“Aku Livy” Ucap Livy sambil menjabat tangan Paul
“Aku Miko” Miko juga ikut menjabat tangan Paul
“Senang bertemu kalian. Apakah perjalanannya menyenangkan?” Tanya Paul basa basi
“Yeah pesawatnya sedikit bumpy tapi tidak seberapa.” Jawab Miko
“Ah maafkan atas ketidak nyamanan kalian” Ucap Paul
“Tidak… tidak Paul, Miko memag=ng tidak suka naik pesawat. Perjalanan kami cukup menyenangkan. Tidak perlu khawatir” Shane menjelaskan
“Baiklah… apakah kita langsung saja berangkat?“ Tanya paul
“Sebaiknya begitu” Jawab Livy
“Mari, lewat sini…” Paul berjalan mendahului mereka
Mereka berangkat menggunakan mobil Paul. Mobilnya produksi tahun lama. Namun masih terlihat sangat bagus dan terawat. Shane duduk di sebelah Paul yang mengendarai mobil. Livy dan Miko duduk di belakang. Ketiganya menikmati melihat- lihat suasana Amsterdam mobil melaju dengan kecepatan standar. Mereka melewati pusat kota, dimana banyak bangunan klasik disepanjang jalanan utama kota. Tak lama pemandangan gedung- gedung bertingkat berganti dengan pemandangan rumah- rumah besar dan mewah. Rumahnya hampir semua bergaya klasik. Pemandangan rumah mewahpun segera tergantikan oleh rumah- rumah kecil dan sederhana. Tidak berapa lama pemandangan rumah segera tergantikan oleh pemandangan Alam, sungai dan taman- taman bunga yang indah. Sekarang sedang musim semi, bunga tulip tampak bermekaran, ada cluster warna kuning, warna merah, warna merah muda, dan warna ungu, mereka tampak indah sekali. Setelah itu terlihatlah kincir angin yang menjadi ciri khas kota ini. Setelah melewati puluhan kincir angin, akhirnya mereka masuk ke dalam hutan dengan pepohonan yang jarang- jarang. Semakin jauh masuk kedalam hutan pepohonan semakin rapat. Livy dan Miko mulai berpandangan. Shane juga terlihat duduk gelisah. Kemudian Shane memecah keheningan didalam mobil tersebut.
“Kita masih jauh kah?” Tanya Shane kepada Paul
“Tidak.. Tidak lama lagi kita akan sampai.” Jawab Paul terdengar santai
“Ohh Baiklah … Aku kira tempatnya ada di tengah- tengah kota atau perumahan.” Shane menjawab dengan kikuk. Terlihat kegelisahan pada suara Shane. Livy dan Miko pun saling berpandangan lagi.
“Iya tempatnya memang ditengah- tengah perumahan” Jawab Paul
“Tapi ini kita didalam hutan belantara Tuan Paul. Apakah kamu tidak salah jalan?” Tanya Livy dengan nada khawatir
“Tidak Nona, aku sudah tinggal selama 40 tahun disini, jadi tidak mungkin salah jalan.” Jawab Paul lagi.
Akhirnya Livy memilih diam, tidak mau memperkeruh suasana. Karena jika ia membuat Paul marah, ia takut diturunkan ditengah hutan belantara. Tak lama mereka melihat air terjun yang sangat tinggi dan besar di kejauhan didepan mereka. Tiba-tiba Paul menambah kecepatan mobilnya. Mobilnya melaju sangat kencang. Dan air terjunnya sudah terlihat tepat dihadapan mobil mereka.
Shane Livy dan Miko berteriak kencang “TUAN PAULLL STOPPPPPP!!!!!”
“AAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH” teriak mereka bertiga. Terlambat, mobilnya sudah melaju melompati jurang untuk menabrak air terjun tersebut.
“AAAAAAAAHHHHHHH TIDAAAKKKKKKKKKKK KITA JATUH…. KITA AKAN MATI SHANEEE,,, AKU TIDAK MAU MATII SHANEEEEEE” Teriak Livy
“MOMMMMMM… AKU AKAN MATI.. MAAFKAN AKUUU.. SEHARUSNYA AKU TIDAK KESINI MOOOOMMM AKU TIDAK BISA MENEMUIMU LAGIII MAAFKAN AKU” Teriak Miko
“LIVYYYYYY AKU MENCINTAIMUUUUU … KALAU KITA MATI JANGAN LUPAKAN AKUUUUU” Teriak Shane
Ketiganya mengira akan mati didalam pusaran air terjun itu, semuanya berteriak kecuali Paul. Paul hanya tersenyum melihat ketiga anak muda itu histeris. Tak berapa lama mobil berjalan seperti dijalan raya normal,, tapi disekliling mobil masih tampak gelap gulita.
“KITA DIMANAAA?? APAKAH KITA DIALAM BAKAA SEKARANGGG? AIRNYA KEMANAA?” Miko masih berteriak histeris sambil menangis
“AKU TIDAK TAU MIKOOOO… AKU MAU PULANGGG… SHANEEE AKU MAU PULAANGGGG” Livy menjawab masih dengan memejamkan matanya.
“PAULLLLL AANTARKAN KAMI PULANGGG KEMBALIIIII” Shane berteriak kepada Paul
Paul mengabaikan tiga anakk muda yang sedang menangis dan berteriak- teriak itu, dia masih mengemudikan mobilnya dengan santai. Tidak lama suasana di mobil terlihat terang, samar- samar dan makin jelas tampaklah sebuah dunia yang berbeda dengan dunia yang ditinggali oleh Livy, Shane dan Miko. Semua tempatnya bercahaya, sungainya mengalirkan air yang bercahaya, gunungnya memancarkan cahaya, pohon- pohonnya mengeluarkan buah dan bunga yang bercahaya. Banyak peri- peri kecil beterbangan, dengan sayap dipunggungnya. Mereka sangat bersuka cita. Mereka bermain di air terjun bersama sesamanya. Livy Shane dan Miko terkejut dan takjub melihat itu semua. Muka mereka pucat. Yang ada didalam pikiran mereka adalah, mereka telah berada di alam kematian.
“Indah sekali, Kita ada dimana Tuan Paul? Jelas tempat ini tidak mungkin ada di Amsterdam” Tanya Livy
“Selamat datang di Desaku …” Jawab Paul sambil tersenyum sumringah
“Apa maksudmu Desa? Ini dunia fantasi. Apakah kita berada di Neverland?” Tanya Miko dengan wajah yang sangat terkejut.
“Yeah benar kita ada di Neverland. Sebentar lagi kita akan diculik oleh kapten Jack” Ucap Miko sebelum Pingsan.
Bersambung ke bab selanjutnya