"Adam, istrimu tengah hamil muda. Kenapa kamu selalu pulang selarut ini? Jika ibu tak datang hari ini, siapa yang akan menjaga Anya? Dia nyaris jatuh di kamar mandi tadi."
Adam tak menjawab. Ia bahkan tak menoleh pada Anya sedikit pun, untuk sekedar bertanya, "apa kamu baik-baik saja?"
Anya menelan harapan semu itu.
"Ibu tahu kamu masih marah, tapi nasi sudah jadi bubur. Tidak ada yang bisa dilakukan. Yang sekarang bisa kamu lakukan hanya menerima bubur itu, cari topping yang kamu suka, berikan kecap dan sambal agar bisa dinikmati.”
Adam menghela nafas panjang. "Tapi ibu tahu, sejak dulu saya tak pernah suka bubur."
"Adam ... anak dalam kandungannya tidak bersalah. Itu darah dagingmu dan Anya sekarang is–"
"Bu, saya lelah.” Adam menunduk dalam.
"Adam ...."
“Bu, saya ingin istirahat." Adam melepas pelan genggaman lembut tangan ibunya.
"Pak Dirman akan mengantar ibu pulang. Maaf, tidak bisa mengantar ibu pulang," sahut Adam lagi, pelan, sangat pelan.
Menyerah. Wanita paruh baya itu akhirnya mengganggu pelan—jelas sebagai seorang ibu, ia dapat melihat sorot layu dari mata putranya, semua kejadian yang terjadi seolah telah membunuh semangat hidupnya.
"Anya, tolong jaga kesehatanmu. Ibu akan datang lagi pekan depan. Maaf, malam ini ibu belum bisa menginap di sini." Wanita paru baya yang sekarang Anya panggil ibu— memeluk Anya lembut.
Anya mengangguk pelan, hatinya selalu terenyuh dengan semua kebaikan yang diberikan ayah dan ibu Adam. Mereka jelas tahu, Anya pemeran jahat dalam kisah anaknya, tapi mereka tetap menyayangi Anya seperti putri kandungnya sendiri—bahkan saat mereka belum tahu Anya hamil.
"Suamiku ..." panggil Anya.
Adam tak menoleh, ia terus melanjutkan langkahnya.
Anya berjalan cepat, menyamani langkah Adam. "Ingin saya segera hilang dari pandanganmu, kan?"
Kalimat itu langsung menghentikan langkah Adam. Ekor matanya melirik.
"Malam ini, kamu harus menepati janjimu. Kamu harus mencium saya sepulang kerja." Anya memutar tubuhnya, menghadap sepenuhnya pada Adam.
"Saya tidak akan mengawalinya. Kamu harus melakukannya sendiri."
"Wanita sampah!"
"Bahkan kamu tidak malu sedikit pun mengatakan kalimat menjijikan seperti itu! Entah sudah berapa banyak pria yang sudah kamu paksa seperti ini."
"Kamu yang pertama." Anya balik membalas tatapan tajam Adam—tepat di matanya. "Kenapa saya harus malu? Kamu sekarang suami saya. Apa kamu lupa?"
Tahun 2015,
"Ada apa? Apa kamu salah minum obat? Kenapa sejak tadi kamu senyam-senyum seperti itu?"
"Apa kamu percaya cinta pada pandangan pertama?"
"SEORANG ANYA JATUH CINTA PANDANGAN PERTAMA? Itu lebih mustahil dari naga terbang."
"Apa yang mustahil?"
"Apa kamu lupa? Lebih dari 20 cowok ganteng di kampus ini sudah kamu tolak mentah-mentah. Lantas model pria seperti apa yang bisa seorang Anya yang anti cowok ini sukai?"
"Dia—"
"Jika kamu malu, saya akan menutup mata," ujar Anya pelan.
"Kamu ternyata lebih menjijikan dari yang saya duga."
"Saya tidak meminta apa pun selain ini, kenapa itu sangat sulit bagimu? Apa karena kamu takut jatuh cinta pada saya?"
"Cinta? Bahkan dalam kondisi terpuruk sekalipun, tak ada cinta yang cocok untuk wanita sepertimu!"
"Kalau begitu apa susahnya memenuhi permintaan saya ini? Cium saya dan saya berjanji kehidupan bahagiamu akan kembali lagi. Kamu bisa kembali mengejar Ma—"
"DIAM! Mulut kotormu tak layak menyebut namanya!"
Suara itu menghantam lebih dulu sebelum Anya sempat menarik napas. Dadanya menegang, lidahnya terasa keluh untuk sesaat.
Tapi, tak ada jalan mundur.
"Saya berjanji jika kamu memenuhi keinginan saya ini, saya akan benar-benar menghilang dari hidupmu bahkan bayangan saya pun tak akan mengganggumu."
"Mulut kotormu tak pantas mengucap janji!"
"Lalu apa yang pantas saya ucapkan? Saya lelah. Saya ingin tidur. Jika kamu memang tidak mau memenuhi keinginan saya ini, maaf saya juga tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk berce—"
Tiba-tiba, Adam menarik lengan Anya— setakut itu dia tidak bisa bercerai denganku? Adam mendaratkan bibirnya singkat pada bibir Anya. Sesaat Anya tertegun, meski ciuman itu bukan karena Adam menyukainya, tapi hatinya terbang tak terkendali.
Cinta itu tak pernah usang...
"Terima kasih."
Adam tak menjawab. Dia pergi dengan raut wajah seolah habis dirampok sampai bangkrut. Tangannya terus mengusap kasar bibirnya, seolah ada noda menjijikan tertempel di sana.
"Memangnya apa yang membuatmu suka pada pria itu?"
"Karena dia berbeda dari pria yang lainnya. Dia punya sinar terang di matanya."
"Sinar seperti apa?"
"Sinar yang menenangkan."
***
"Selamat pagi, Dok ... ada apa dokter tiba-tiba menelepon saya pagi ini?"
"Nona Anya, apa bisa datang ke rumah sakit hari ini? Hasil pemeriksaan kesehatan Nona Anya sudah keluar. Ada yang ingin saya bicarakan."
"Apa semua makin parah, Dok?"
"Mari kita bicarakan nanti ..."
"Hem, baik, Dok ..."
"Tanda tangani ini!" Suara Adam menarik Anya kembali dari lamunannya seusai panggilan telepon berakhir.
Anya buru-buru menarik selimut, menutup baju tidurnya yang tipis. Ia tidak menoleh, tak siap melihat reaksi kesal Adam.
"Surat apa ini?" Anya segera membaca kertas yang Adam lemperkan tepat di depan wajahnya.
"Saya tidak pernah percaya perkataan yang keluar dari mulut busukmu itu. Surat ini akan menjadi bukti sah jika kamu mengingkari janjimu."
Tanpa ragu, Anya segera menandatangani surat berisi perjanjian jika Adam menepati janji 540 ciuman yang Anya ajukan, Anya akan memberikan hak asuh anaknya sepenuhnya dan bahkan langsung bercerai setelah ia melahirkan.
"Apa sekarang kamu percaya dengan apa yang saya katakan?" Anya tertegun begitu matanya melihat sudut bibir Adam yang terluka. Anya tahu semalaman Adam pasti menggosok bibirnya karena jijik padanya.
"Saya akan berangkat kerja sekarang." Adam tiba-tiba mencondongkan wajahnya ke arah Anya, dengan sangat cepat ia menjatuhkan bibirnya pada bibir Anya.
"Tunggu sebentar ..." Anya segera bangkit, mengejar langkah Adam. Anya memaksa Adam menerima salep luka dari tangannya.
"Jangan lupa oleskan obat ini agar sudut bibirmu cepat sembuh."
"Apa kamu jijik?" Adam menatap sekilas obat salep itu dan tanpa ragu langsung membuangnya di tempat sampah, tepat di wajah Anya.
"Saya harap kamu jijik dengan luka ini dan menghentikan trik kotormu itu!" ujar Adam, lalu melangkah pergi—lagi tanpa menoleh pada Anya.
"Tapi itu mustahil," sahut Anya pelan.
Tahun 2016,
"Anya, sudah lama saya menyukaimu. Maukah kamu menjadi pacar saya?"
"Hem, maaf .... tapi saya, tidak bisa membalas perasaanmu."
"Kenapa? Apa ada orang yang kamu sukai?"
"Ya."
"Siapa pria itu? Kenapa dia bisa seberuntung ini mendapatkan cintamu, Anya?"
"Saya yang beruntung bisa mencintainya."
***