Flashback,
“Kamu yakin saya harus ke tempat seperti ini agar cepat move on?”
Anya menatap sekeliling— sejujurnya klub malam bukan tempat asing bagi Anya, dia tidak selugu dan sebodoh itu. Anya tahu seperti apa tempat dimana malam tak pernah terasa akan berakhir.
Temannya banyak yang selalu berusaha mengajak Anya ke klub untuk bersenang-senang, tapi Anya tak pernah tertarik. Kecuali malam itu…
“Yakin! Semua orang yang ingin move on pasti berhasil saat datang ke tempat ini. Tempat ini hiburan dunia! Semua kesedihanmu akan hilang seketika!”
“Tapi musiknya berisik. Kamu tahukah saya tidak pernah suka tempat seperti ini ….”
Anya hanya diam di tempat. Dia tidak mundur atau masuk.
“Iya, itu Anya yang dulu. Anya yang sekarang harus berbeda.”
“Lagian, kamu hanya belum terbiasa saja, setelah kamu terbiasa, kamu akan selalu ingin datang ke tempat ini.”
“Tapi ….” Anya mulai maju satu langkah.
“Anya, kamu sendiri yang bilang ingin move on dari pria itu? Maka, kamu harus menciptakan dunia yang jauh darinya! Apa jangan-jangan kamu berubah pikiran?”
“Tidak, saya hanya—”
“Anya, kamu harus berani mulai sekarang!”
“Anggap saja Anya yang dulu telah mati!”
06.00 WIB
Sudah setengah jam yang Anya bisa lakukan hanya meringkuk di kasur, tanpa bisa melakukan apa pun— perutnya terasa nyeri dan saat dia bangkit semua yang ada di dalam perutnya seolah berlomba hendak keluar dari mulutnya.
“Sebentar lagi Adam berangkat kerja. Bagaimana bisa saya menemuinya dengan kondisi seperti ini?” Anya bahkan tak sudi melihat dirinya di cermin.
Sudah bisa dipastikan, Adam pasti akan sepuluh kali lebih tak sudi melihatnya. Anya berani taruhan!
“Nak, bantu ibumu ini … tolong jangan buat ibumu mual, setidaknya sepuluh menit saja. Ibumu hanya ingin mengambil ciuman dari ayahmu,” gumam Anya seraya mengelus pelan perutnya yang masih datar.
Anya berusaha bangkit perlahan dari kasur, sensasi tidak nyaman itu perlahan muncul seiring langkah pelan Anya ke kamar mandi.
Semakin Anya berusaha menahan agar sisa makanan semalam tak keluar dari mulutnya, semakin sensasi itu mengikatnya. Anya tak berdaya, berkali-kali muntah hingga terduduk lemas di depan kloset.
Dengan sisa tenaga yang ada, Anya membersihkan diri.
07.00 WIB
Anya berhasil keluar dari kamar mandi. Rasa eneg itu masih menyangkut di kerongkongannya, tapi sekuat tenaga Anya menahannya. Waktu terus bergulir tak menunggu Anya siap.
Anya harus selesai sebelum Adam berangkat kerja.
Anya kini sudah duduk cantik di depan kaca, mulai memoles wajah dengan beberapa make up tipis— wajahnya yang semula pucat menjadi lebih fresh—setidaknya tidak akan membuat Adam jijik padanya, mungkin?
“Walau ayahmu tidak akan melirik ibumu, tapi ibu selalu ingin tampil cantik di hadapannya,” ujar Anya pelan, matanya kini lebih cerah berkat bantuan eyeshedow.
Seolah tidak terjadi apapun sebelumnya, Anya keluar dari kamarnya menuju meja makan. Adam melarang Anya mendekati kamar yang Adam gunakan sebagai kamarnya sekarang– dalam radius 10 meter.
“Jika kamu mau saya tetap di sini, maka jangan pernah dekati kamar saya, bahkan dalam kondisi apa pun!”
Orang waras pasti akan merasa tersinggung, tapi Anya? Dia sama sekali tidak protes, diam dan hanya mengangguk setuju, tanpa bantahan.
“Kenapa Adam belum juga keluar ?” Anya mulai gusar. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Tidak biasanya Adam berangkat selambat ini.
“Apa dia sakit?” Spontan Anya bergegas ke kamar Adam— rasa cemas pada Adam untuk sesaat membuat Anya lupa akan peraturan yang Adam buat.
Bahkan Anya tak peduli jika Adam akan semakin membencinya karena telah melanggar peraturan yang ada.
Tapi langkah Anya seketika terhenti saat tiba-tiba ada pesan masuk dari Adam.
“Saya ada kerjaan mendesak di kampus. Saya berangkat lebih awal.”
Anya menatap pesan itu, terpaku, seolah berharap ada makna lain dari kalimat singkat dan dingin itu. Wajah cemas Anya dalam sekejab berganti ekspresi datar, senyum indahnya entah sudah terbang kemana, belum lagi rasa mual yang sejak tadi berusaha dia tahan makin mengambil alih.
“Ayahmu … mengikari janjinya,” gumam Anya pelan.
.
.
500 lebih panggilan sudah Anya lakukan, berkali-kali. Namun, semua panggilan hanya berakhir dengan suara operasional yang membuat Anya muak!
“Nomor yang anda hubungi sedang sibuk…”
Anya menggeram kesal, nyaris saja kemarahannya membuat ia kehilangan ponsel satu-satunya yang dia miliki.
Ponselnya kehabisan daya. Sekarat. Anya tidak lagi bisa menelepon Adam.
“Apa ponselnya berada di Monas? Kenapa dia sulit sekali dihubungi?”
Anya terduduk di sofa, kakinya baru terasa pegal, sudah dua jam lebih Anya terus mondar-mandir sembari terus menghubungi Adam.
“Anggap saja ini olahraga untukmu …” Anya mengelus perutnya. “Apa kamu capek? Maka salahkah saja ayahmu itu …”
Anya kembali mengusap perutnya, setelah tahu di dalam rahimnya ada janin, buah cinta dan kegilaannya, Anya seolah miliki teman mengobrol.
“Tapi, jangan sampai membuat ayahmu sedih …. “ sambung Anya pelan, tidak kuasa jika harus membayangkan wajah sedih Adam.
“Ayahmu lebih tampan jika tersenyum,” gumam Anya pelan, nyaris seperti bisikan di udara. Ada kegetiran yang mendadak Anya rasakan.
Dan dalam sekejap keheningan kembali menyelimuti Anya. Anya terpaku menatap ponselnya, setiap detiknya terasa lama, dia terus menunggu.. menunggu … hingga ponsel itu memiliki 10 persen daya.
Anya kembali menghubungi Adam.
Kali ini panggilan itu diangkat. Mata Anya berseri-seri, jantungnya sudah lama tak karuan, itu hanya panggilan telepon, tapi rasanya Anya seperti mendapat piala terlangkah di dunia.
“Adam?” panggil Anya pelan.
Tidak ada suara dari seberang sana.
“Halo? Adam?” Anya memastikan bahwa bukan sinyal ponselnya yang buruk, berkali-kali.
“Halo? Adam? Kenapa di sana sangat berisik? Apa kamu dengar suara saya?”
“Halo?”
Anya tidak menyerah sedikit pun. Dia tetap mempertahankan panggilan itu, meski tidak ada suara dari seberang. Tidak sia-sia Anya mengisi pulsa lebih dari 500 ribu untuk mengantisipasi hal seperti ini terjadi.
“Adam … kamu tahu alasan saya menelponmu itu karena kamu belum mencium—”
“Halo … “
Seluruh tubuh Anya seketika membeku. Suara wanita di seberang sana. Anya berharap dia salah telepon, tapi … itu benar nomor Adam, satu-satunya nomor yang Anya simpan di ponselnya.
Siapa wanita yang berani memegang ponsel yang pernah Adam pegang?
Bahkan ….
Anya tak pernah ….
“Halo? Apa suara saya terdengar? Mohon maaf sebelumnya, di sini sangat berisik. Mas Adam sedang tidak ada di ruangan. Ponselnya terus berdering, jadi—”
Anya langsung mematikan panggilan telepon itu.
“Mas .…” d**a Anya terasa seperti terbakar, lebih dari perasaan tidak nyaman saat ia memuntahkan semua makanan dari mulutnya.
Anya kembali merasakan sensasi gila berputar di kepalanya, sensasi yang sama seperti malam itu….