Sepi yang Menusuk

1171 Kata
“Cium saya!” Suara Anya memenuhi ruangan, keheningan tenang di dalam ruangan itu semakin hening begitu Anya melangkah masuk, bedanya sekarang semua orang fokus melihat ke arah Anya dengan pandangan bingung, termasuk Adam yang bingung sekaligus kaget. Dengan tenang, Anya berjalan ke arah Adam, mata cokelatnya sama sekali tidak berkedip—fokus menatap Adam. Hanya butuh beberapa langkah, Anya telah berdiri tepat di depan Adam. “Sesibuk itu sampai melupakan janji?” gumam Anya, tak sama sekali melirik pada orang-orang yang mulai berdesas- desus, mempertanyakan dirinya. “Anya ….” Adam berdeham pelan, menghela napas panjang, mencoba mereda marahnya pada Anya. “Saya akan pergi setelah kamu menepati janjimu. Cium saya!” Adam menatap Anya tak percaya. Bagaimana bisa ia mengatakan semacam ini di depan semua orang? “Kamu tunggu di ruangan saya saja. Setelah rapat ini, saya akan temui kamu,” bisik Adam pelan, suaranya bergetar karena malu dan kesal. Anya menggeleng. “Apa sekarang kamu malu? Apa salahnya mencium istri sendiri?” Anya kini mengedarkan pandangannya, membalas tatapan semua orang untuk mendukung argumennya barusan. Tidak ada yang memberi respon kecuali respon kaget karena baru melihat secara jelas wajah Anya yang bak penggambaran peri lugu di buku-buku, meski sikapnya sama sekali tidak sejalan. “Semua orang tampaknya tak ada yang keberataan,” ujar Anya, tersenyum pada Adam. “Saya pamit sebentar.” Adam segera meraih tangan Anya, tak ingin dirinya semakin malu—membawa Anya yang awalnya ingin protes, tapi akhirnya pasrah mengikuti langkah Adam masuk ke dalam ruangan. Bahkan saat marah pun, tangannya tak mencengkram dengan keras, batin Anya. “Kenapa kamu datang—” Anya menyela, mengangkat tinggi ponselnya, sejajar dengan wajah Adam. “Lihat. 500 panggilan!” Kening Adam berlipat sebelum akhirnya dia menyadari maksud Anya. Adam segera memeriksa ponselnya dan tertegun sesaat. “Hanya karena satu ciuman kamu sampai melakukan ini?” “Hanya?” Anya mendengus, matanya menatap tajam Adam, rasa kesal memenuhi hatinya, tapi ia bahkan tak bisa membenci Adam barang sedetik saja. “Tepati saja janjimu. Saya akan pergi setelahnya.” Anya mencondongkan tubuhnya ke arah Adam. “Anya!” Seperti biasa Adam segera menjauhkan dirinya dari Anya—Secepat seseorang yang takut tertular virus mematikan. “Apa kamu gila? Ini di kampus.” “Lalu kenapa? Tak ada orang yang melihat di sini.” Setelah mengatakan kalimat itu, mata Anya tertuju pada CCTV yang tergantung di sudut ruangan. “CCTV itu nyala?” gumam Anya. Tanpa menunggu respon Adam, Anya segera menyeret kursi, menutup kamera kecil itu dengan hansaplast yang ia bawa. “Sekarang tak ada alasan,” gumam Anya. “Saya tidak akan pulang sebelum kamu memberikan ciuman milik saya,” sahut Anya lagi, mata tajamnya kembali mengunci mata Adam. “Kamu memang gila!” Adam berdecak keras, ia tak pernah mengira harus berhadapan dengan manusia seperti Anya. Tiba-tiba ponsel Adam berdering. Panggilan masuk. Rahang Anya seketika mengeras begitu kembali mengingat hal yang membuatnya senekat tadi. Tanpa pikir panjang, Anya merampas ponsel Adam, menghempasnya hingga ponsel itu mati seketika. “Saya curiga kamu ingin lebih lama melihat saya di sini, makanya kamu tidak ingin memberikan ciuman itu. Iya, kan?” “Tak masalah! Saya punya banyak waktu untuk mengekor padamu.” Adam tahu Anya bukan orang yang akan mundur saat telah melangkah maju. Adam kehabisan akal, ia ingin Anya segera pergi. Dengan cepat, Adam menarik Anya dan menciumnya. “Pulang sekarang!” Anya mengangguk pelan. Ia melangkah pergi, semudah itu. Namun, sebelum benar-benar pergi, Anya menoleh pada Adam. “Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Apapun keadaanmu, kamu harus menepati janjimu, suamiku!” “Ingat ini, ciuman pagi dan malam adalah hak saya! Kamu tidak boleh melupakannya!” “Dan satu lagi ….” “Jangan biarkan ada wanita yang mengangkat ponselmu!” . . . “Saya berhenti di sini saja, Pak!” seru Anya cepat pada supir taksi yang sedang fokus melajukan mobilnya. “Kenapa Nona?” Supir taksi itu mengecek maps pada ponselnya. “Rumah Nona masih jauh dari sini, kan?” “Saya ingin muntah,” sahut Anya seadanya, buru-buru memberikan uang ongkos dan turun dari mobil. Di pinggir jalan, benar saja, Anya langsung muntah, rasa mual yang sejak tadi ia tahan akhirnya menemukan titik terlelahnya, memaksa keluar, tanpa bisa Anya kendalikan lagi. “Keluarlah sepuasnya,” batin Anya. Bahkan mual saja jauh lebih pintar dari Anya yang jatuh cinta. Anya tertawa miris, rasanya lucu menertawakan hatinya yang terlalu buta soal cinta. Dua jam lamanya Anya menahan rasa mualnya. Hanya untuk apa? Hanya untuk bisa melihat Adam, yang bahkan tak bahagia melihatnya. Orang bodoh pun sepertinya akan mengutuk kebodohan Anya. “Apa kamu lelah, Nak?” Anya mengelus perutnya. “Ibumu memang bodoh, maaf … “ Tahun 2017, “Anya, saya menyukaimu. Izinkan saya untuk masuk ke dalam hidupmu.” Seorang pria berlutut di hadapan Anya, menyodorkan sebuket besar bunga mawar merah di hadapannya. Rutinitas yang menyebalkan. Setiap pria yang mengenalnya, sebulan, dua bulan, tiga bulan, mereka akan melakukan ini. Seolah itu sudah cukup untuk mereka bilang dengan yakin bahwa mereka mencintai Anya. Anya sudah muak dengan semua adegan semacam ini. Mau berapa kali ia menolak pria? Mereka selalu seperti tawon mengiang di sekitar Anya. Mereka tak salah. Tapi setiap kali mereka melakukan itu, mereka hanya mengingatkan Anya bahwa hatinya masih dipenuhi oleh satu orang yang tak pernah benar-benar pergi. Orang yang sangat ingin Anya lupakan, tapi malah melekat seolah bersatu dengan hatinya. “Maaf, tapi saya tidak bisa.” “Tapi, kenapa? Sudah lama saya sangat mencintaimu.” “Tapi itu percuma. Saya masih belum bisa menyukai siapa pun.” “Apa saya harus mundur seperti yang lain? Sudah berapa banyak pria yang hatinya kamu patahkan hanya karena kamu tidak bisa melupakan satu pria!” Pria itu membanting buket bunga yang sebelumnya dia jadikan lambang untuk cintanya. “Kamu egois Anya!” cercahnya. “Maafkan, saya–” “Maaf ? Apa kata maaf itu cukup untuk mengobati hati saya yang patah ini?” “Lalu apa yang kamu inginkan?” “Saya ingin kamu! Jika tidak bisa lebih baik saya mati!” “Kalau begitu mati saja karena selamanya saya tidak akan bisa menyukaimu!” “Kamu akan melihat saya mati di hadapanmu.” “Apa itu akan mempengaruhi saya? Paling saya hanya perlu datang ke kantor polisi sekali dua kali untuk memberikan kesaksian bahwa kamu mati karena bunuh diri.” “Koran-koran akan menggambarkan berita dengan headline ‘pria bodoh mati karena cintanya ditolak’ semua orang akan mentertawakan mayatmu. Keluargamu akan dipermalukan seumur hidup mereka hanya karena mereka membesarkan anak bodoh sepertimu. “Apa itu yang kamu inginkan? Jika iya, melompatlah. Jemput kebodohanmu.” Pria itu menatap Anya, perkataan Anya menarik langkahnya mundur dari ujung bibir gedung. Sudah Anya duga! Anya tersenyum kecut. Pria di hadapannya hanya pembual tentang cinta, sama seperti pria lainnya. Mereka bilang cinta, seolah mereka mabuk dan gila, tapi hanya dengan melihat mata mereka saja, Anya sudah tahu, mereka tak benar-benar terserang penyakit cinta gila seperti yang ia alami. Cinta gila yang bahkan bisa mengubah seluruh kehidupan Anya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN