Gila dan Penyakit

1165 Kata
“Nona Anya … “ Ada jeda panjang yang membuat Anya cemas, tapi Anya tak berani bertanya. Anya hanya menunduk dalam, tak berani membalas tatapan Dokter Ani yang duduk di hadapannya— Dokter yang secara khusus menangani kondisinya sebagai ibu hamil dengan penyakit jantung. Anya berani mengangkat kepalanya setelah Dokter Ani mengalihkan pandangannya, dari Anya kembali ke berkas pemeriksaannya. Sejak insiden menahan muntah kemarin, tubuh Anya terasa makin tidak nyaman. intensi muntahnya kian sering. Semalaman bahkan Anya kesulitan tidur. Tubuhnya terasa sakit dan lemas. “Dalam masa kehamilan, muntah dan mual itu sangat wajar terjadi. Apalagi di awal kehamilan … Nona Anya tidak perlu menahannya. Dikhawatirkan itu malah berbahaya untuk kesehatan Nona Anya.” “Apa itu mempengaruhi kondisi anak saya, Dok?” cicit Anya pelan. Dokter Ani menggeleng pelan. “Tenang saja. Kondisi Nona Anya masih stabil dan mungkin hanya perlu diberi satu infus saja.” Anya menghela nafas lega, ia mengusap perutnya. “Dokter, apa ada caranya agar saya tidak muntah di pagi hari—” Anya segera meralat kalimatnya setelah menyadari bahwa kalimatnya terasa kontras dengan apa yang Dokter Ani kata di awal. “Maksud saya … saya tidak masalah jika muntah, hanya saja sebelum pukul delapan pagi saya tidak ingin muntah.” “Kenapa?” Anya spontan meremas jarinya, haruskah dia berkata jujur pada dokternya, bahwa dia tidak ingin Adam melihatnya dengan kondisi seperti itu? Anya ragu. “Sejauh yang saya tahu, sepertinya tidak ada obat yang bisa menunda mual saat hamil. Mungkin ada obat agar tidak mual, tapi jelas itu tidak disarankan untuk ibu hamil dan juga kondisimu sekarang.” Anya mengangguk kecil, sedikit kecewa, tapi sudah menduga itu jawaban paling logis. “Namun, sepertinya kamu bisa mencoba menyalakan lilin aroma terapi di kamar. Mungkin bisa membantu …” Wajah lesu Anya seketika kembali cerah. “Tentu akan saya coba, Dok. Terima kasih atas sarannya.” Dokter Ani tiba-tiba terkekeh. “Sepertinya baru kali ini saya melihat kamu tersenyum selebar ini.” Wajah Anya seketika memerah. Benarkah selama ini dia jarang tersenyum? . . Desember 2017, “Bu, apa pesanan buku saya sudah siap?” Anya tertegun. Langkahnya mendadak berhenti mengudara, tak jadi melangkah ke kasir. Pandangan Anya terpaku pada orang yang membelakanginya, jarak mereka hanya terpaut sepuluh meter. “Sudah, Nak. Di rak itu.” Anya buru-buru membalik tubuhnya, tepat saat orang yang selama ini memenuhi hatinya berbalik. Jika saja Anya tidak ragu, mungkin ini waktu terbaik dia menyapanya. “Terima kasih ya, Bu …. saya pamit dulu.” Tingg …. Suara lonceng toko buku menyadarkan Anya dari lamunan panjang dan detak jantung tak karuan. Lagi-lagi, Anya hanya terpaku melihat punggung orang yang disukai menjauh darinya … langkahnya terlalu tak berani untuk sekedar mengejar atau menyapa. “Aku kira, perasaan itu telah mati… “ Anya menghela nafas panjang. Semua perjuangannya tentang move on, terasa seperti omong kosong para pejabat licik yang berjanji saat kampanye dan melupakannya secepat mereka menjatuhkan diri di sofa empuk jabatan– hanya kebohongan semata. “Ternyata semua perjuangan bodoh itu hanya seperti gelembung sabun di hadapannya—lemah dan rapuh,” gerutu Anya pelan. “Hanya buku ini saja, Nona?” Anya mengangguk pelan. “Total 50 ribu.” Anya segera mengeluarkan uang dari saku tasnya. “Nona beli buku ini untuk dibaca sendiri?” tanya wanita paru baya itu tiba-tiba, nada suaranya sangat ramah membuat Anya tak tega untuk pura-pura tidak mendengar. Anya menggeleng pelan. “Untuk teman saya. Dia suka buku seperti ini.” “Nona baik sekali, persis seperti pria tadi…” “Pria tadi?” “Ya, pria yang baru saja keluar sepuluh menit tadi. Dia sangat baik. Nyaris setiap bulan dia membeli lima sampai sepuluh buku untuk dibawa ke Yayasan Literasi.” “Di mana tempatnya?” “Nona, juga mau nyumbang buku di sana?” Seketika Anya tersadar dari ucapannya sendiri. Apa yang baru ia katakan? “Hem, itu ….” Anya mengangguk kaku. “Ah, saya tidak terlalu tahu di mana lokasinya, hanya saja …” Wanita paru baya itu berpikir sejenak, lalu mengambil sesuatu dari balik meja kasirnya. “Ah, ini, brosur tempat yayasan itu. Di sini ada lokasinya. Untung brosurnya masih ada.” “Nona, mau ke sanakan? Tadi saya lupa mau titip satu dus buku untuk anak di sana. Nona, mau tolongin saya, kan?” “Nak, ini tempat yang ibu ceritakan semalam. Rasanya sudah lama sekali ibu menahan diri untuk tidak datang ke toko buku ini …” Anya mengelus pelan perutnya. Begitu kaki Anya masuk ke toko buku kecil di ujung jalan ini, semua memori lama seolah kembali. Anya mengedarkan pandangannya, mengamati satu-persatu, rasanya susunan rak buku itu masih terlihat sama persis dari terakhir Anya datang. Yang membedakan hanya koleksi buku dengan judul baru. “Nona .…” Anya menoleh dan mendapati wanita paru baya tersenyum ramah padanya. Wanita itu masih mengenali Anya. “Sudah lama Nona tidak datang ke toko buku ini,” sapanya rama. “Sebenarnya saya baru saja dari toko parfum di dekat sini untuk membeli lilin aroma terapi. Karena dekat, jadi saya sekalian mampir ke sini .…” “Sepertinya tahun ini sangat spesial, banyak pelanggan lama yang datang kembali…” ujarnya seraya tersenyum lebar. “Bagaimana kabar Nona sekarang?” “Saya baik.” “Nona masih secantik dulu dan malah terlihat lebih cantik. Buku apa yang sekarang Nona cari? Biar saya carikan.” “Apa ada buku tentang parenting?” “Parenting? Nona sudah menikah?” Mata wanita itu lantas menatap ke arah jari lentik Anya, tidak ada cincin yang terlingkar, Ia nampak bingung sesaat sebelum kembali tersenyum ramah pada Anya. “Pria beruntung mana yang bisa mendapatkan istri secantik Nona? Pria itu pasti sangat baik.” Wajah Anya menghangat, ingin sekali dia mengatakan bahwa pria yang kini menjadi suaminya adalah pria baik yang dulu juga sering datang ke toko buku ini. Wanita itu pasti tidak akan menduganya … “Nona, masih ingat pria baik yang sering membeli banyak buku untuk disumbangkan?” Pertanyaan itu seketika menghentikan pergerakan jari Anya memilih buku di rak. “Dua bulan yang lalu pria baik itu tiba-tiba datang lagi. Dia membeli banyak buku tentang pernikahan. Katanya itu hadiah untuk istrinya nanti. Istrinya juga sangat suka membaca.” “Dia bilang, dia akan segera menikah dalam waktu dekat. Ia lupa membawa undangan saat ke sini, tapi ia berjanji akan membawa istrinya datang ke toko buku ini.” “Dua bulan yang lalu?” Anya membeo. “Iya. Tapi, setelahnya pria itu belum datang lagi. Mungkin sekarang pria baik itu sudah menikah. Tapi, sepertinya dia sibuk sampai belum sempat datang ke sini bersama istrinya.” “Pria sebaik dia memang pantas mendapat wanita yang baik. Semoga Allah menjaga pernikahan mereka dan dijauhkan dari wanita jahat!” Wanita jahat itu berdiri tepat di hadapanmu! batin Anya. “Nona dan pria baik itu seperti terikat. Dulu, setiap kali pria itu pergi, tak lama Nona pasti datang.” “Kalian terlihat serasi jika bersama.” Wanita itu tersenyum tipis. “Tapi tidak pernah berjodoh.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN