“Anya, jangan lupa jaga kesehatan. Jangan sering begadang apalagi makan-makanan yang tidak sehat. Pokoknya kamu harus banyak makan, oke?”
Anya cepat-cepat mengangguk patuh, persis seperti bocah umur enam tahun yang tidak ingin membuat ibunya marah.
“Siap, Bu Bos .…” canda Anya, yang dibalas tawa ringan Maya—ibu mertua Anya. Karena bosan di rumah seharian, Anya ide untuk datang ke rumah ibu mertuanya.
“Tadi pagi kamu sarapan apa?”
“Sarapan telur goreng dan roti selai cokelat.” Anya meraih celemek berniat membantu ibu mertuanya yang sejak kedatangannya sangat sibuk memasakan banyak makanan.
“Sedikit sekali…” protes Maya, tangannya dengan cekatan memotong sayur wortel kesukaan Anya.
“Siang ini kamu harus makan banyak.”
“Tentu saja, Bu. Anya sengaja makan sedikit tadi pagi, biar bisa puas menikmati semua hidangan lezat buatan Bu Bos.”
Maya terkekeh saat Anya dengan ekspresi polos tersenyum lebar.
“Bahagia terus ya, Sayang.”
Anya mengangguk lambat dan tersenyum. Ada perasaan hangat menjalar pelan di dadanya. Kalimat sederhana yang indah. Matanya mendadak terasa panas, untungnya Anya bisa berdalih jika matanya perih karena mengupas bawang merah.
“Bu, masakan ibu sangat enak banget!” Anya spontan langsung mengelus perutnya yang sekarang bertambah, bukan karena dia sedang hamil, tapi karena sederet menu makanan yang masuk ke perutnya.
Anya baru saja menghabiskan semangkuk ayam pindang, tumis kangkung, tempe bacem dan ikan gurame panggang kesukaannya.
“Masakan Bu Bos emang juara banget!”
“Ini baru namanya makan,” ujar Maya, tersenyum bahagia melihat semua hidangan yang ia masak dimakan lahap oleh Anya.
“Seharusnya kamu ibu angkut ke rumah biar bisa makan sebanyak ini.”
“Gimana kalau Ibu aja yang Anya angkut?”
“Jangan dong, nanti ayahmu ngamuk.” Keduanya tertawa membayangkan wajah cemberut ayah mertua Anya.
“Bu, makasih ya udah masakin makanan seenak ini.”
“Iya, sayang. Kamu gak perlu sungkan, kalau kamu mau makanan kayak gini lagi, telepon ibu. Ibu bakal langsung datang ke rumahmu.”
“Bu Bos baik banget.”
“Udah sekarang kamu istirahat aja. Ibu mau lanjut beresin gudang belakang.”
“Kalau gitu, Anya ikut.”
“Jangan, di gudang banyak debu, kamu istirahat saja.”
“Bu, katanya kalau habis makan tiduran, nanti bisa buncit.” Anya mencari-cari alasan, tidak ingin hanya rebahan di kamar.
“Anya gak mau perut buncit macam polisi tidur. Anya mau bantuin Ibu beres-beres, titik gak pake koma.”
“Ya sudah, terserah kamu ….”
Anya dengan semangat langsung mengekor di belakang ibu mertuanya.
“Ternyata album fotonya ada di sini …” gumam Maya sambil menarik satu album berdebu dari rak kayu paling atas.
Anya mendekat, matanya berbinar. “Foto siapa itu, Bu?” tanya Anya begitu album foto dibuka.
Maya tersenyum kecil. “Lihat … ini Adam saat umur dua bulan.” Jari Maya menunjuk foto bayi mungil yang terbungkus kain biru.
Anya ikut tersenyum. “Kecil sekali.”
Maya kembali membalik halaman album.
“Kalau ini, Adam waktu masuk TK. Dia sangat semangat sampai salah pakai kaus kaki.”
“Serius, Bu? Kok bisa?”
“Dia sangat bersemangat,” ujar Maya tak kuasa menahan tawanya. “Satu kaus kaki olahraga, satunya lagi kaus kaki tidur. Tapi di sekolah Adam sangat percaya diri. Gurunya sampai menjuluki dia sebagai happy boy.”
Sesi beres-beres di gudang berubah menjadi sesi bercerita. Maya terus membuka lembar demi lembar album, menceritakan banyak hal tentang masa kecil Adam—mulai dari kisah yang membuat Anya merasa dekat dengan Adam sampai kisah lucu yang sama sekali tidak pernah Anya duga.
“Adam kecil pernah punya cita-cita jadi pohon,” kata Maya tiba-tiba.
Anya mengernyit bingung. “Pohon?”
“Iya, katanya jadi pohon itu enak. Diam di tempat, tapi bermanfaat, bisa bikin orang berteduh dan bikin udara segar.”
Anya terdiam sesaat, lalu tersenyum. Ada sesuatu dari cerita itu yang terasa sangat … Adam.
“Dan satu lagi,” lanjut Maya sambil menggeleng pelan, “Adam pernah demam karena nggak sengaja terkunci di kamar mandi semalaman.”
Anya membelalakkan mata. “Semalaman?”
“Iya. Waktu ditanya kenapa nggak teriak atau ngetuk pintu biar dibukain, dia bilang,” Maya menirukan suara kecil Adam, dia bilang …
“Hari sudah malam. Itu waktunya Ibu dan Ayah tidur. Adam nggak mau teriak-teriak ganggu Ayah tidur. Kasihan Ayah, besok harus berangkat kerja pagi. Lagian Adam sudah besar, gak masalah tidur di kamar mandi.”
“Dia bilang gitu sambil bersin-bersin.”
Sepertinya mendengar cerita tentang Adam akan jadi hiburan yang Anya sukai mulai sekarang.
“Eh, Bu, itu kardus apa?” tanya Anya.
Tiba-tiba pandangan Anya jatuh pada sebuah kardus besar yang dibungkus kertas kado berwarna pink—kontras dengan semua kotak kardus yang ada di sana, namun jejak debu sudah menutupi permukaan atasannya.
Maya mengikuti arah pandang Anya, mendadak ekspresinya sedikit berubah.
“Oh… itu,” jawab Maya pelan, seolah sedang menimbang sesuatu sebelum melanjutkan.
Anya yang penasaran mendekati kardus itu dan mendapati ada tulisan di sisi lain kardus itu. ‘Untuk istriku’
.
.
Anya menunggu Adam di sofa untuk rutinitas ciuman malam. Sembari menunggu, Anya mencoba mengusir kebosanan dengan bermain ponsel. Namun, tiba-tiba dia teringat akan sesuatu yang dia ambil di gudang, tanpa sepengetahuan ibu mertuanya.
“Anya … “
“Kardus ini punya Adam, Bu?”
“Ya, Adam pernah bilang dia ingin memberikan kado ini pada Maryam setelah menikah.”
“Untuk Maryam?” Anya membeo.
“Nak … semua sudah berlalu. Sekarang masa depan Adam adalah kamu. Ibu harap kamu tidak perlu memikirkan hal ini.”
“Buku ini …” Anya mengeluarkan buku dari dalam tasnya. Buku itu masih dibungkus rapi, ada noted kecil bertulisan ‘untuk Maryam’ tertempel di buku itu.
Anya terpaku membaca tulisan itu, dalam lamunan liarnya, Anya sudah merobek kertas itu, tapi kini yang dia lakukan hanya menatap datar kertas itu.
Ada perasaan tidak nyaman memenuhi hati Anya hingga tidak mendengar suara derap langkah kaki mendekat ke arahnya.
“Kenapa buku itu ada di tanganmu?” tanya Adam, suara beratnya menarik Anya kembali dari lamunannya.
Anya segera meletakkan buku itu di atas meja. “Sudah pulang? Saya ingin tidur cepat malam ini. Ayo cium saya.”
Anya memilih tidak menjawab.
Sosor mata Adam tak lepas dari buku itu. “Jangan sentuh apa pun yang bukan milikmu!” ujar Adam tajam.
“Kamu sudah mengatakan itu berulang kali. Saya mulai bosan mendengarnya. Besok akan saya kembalikan buku ini ke rumah ibu,” sahut Anya datar.
“Seperti biasa, kamu selalu melakukan kerusakan lalu bertindak seolah kamu tidak melakukan kesalahan.”
“Saya lelah. Saya ingin istirahat.” Anya bangkit, mengikis jarak antara wajahnya dan Adam. “Bisa beri saya ciuman sekarang?”
Adam mengambil buku yang Anya letakkan di atas meja. “Jangan pernah sentuh semua yang berhubungan dengan Maryam!”
Setelah mengatakan kalimat pedas itu, Adam segera menunaikan janjinya, mengecup bibir Anya.
Anya tersenyum miris.
“Jika kamu melakukan hal ini lagi, jangan salahkan saya jika tidak akan menepati janji!”
“Apa salahnya jika saya ingin membaca buku ini?” Tanya Anya suaranya terdengar getir.
Anya mengutuk perasaan tak nyaman yang berhasil mengambil alih pita suaranya.
“Kamu masih bertanya dimana letak salahnya?” Adam membuang nafas kasar, sorot matanya dipenuhi kemarahan.
“Sejak awal kamu memang tidak sadar diri! Kamu terus melakukan hal yang membuat saya semakin membencimu! Kamu wanita terburuk yang ada dalam hidup saya—”
“Adam ….”
Suara cacian Adam terhenti karena panggilan itu. Adam menoleh dan mendapati Ibunya berjalan ke arah mereka. Maya berusaha untuk terlihat tidak mendengar apapun, tapi raut wajah dan sorot sedih matanya tidak bisa disembunyikan.
Maya mendengar semua pertengkaran Anya dan Adam.
“Maaf jika ibu mengganggu waktu malam kalian.” Maya menatap Anya yang hanya diam saja.
“Ibu lupa memberitahu kalian mau datang ke sini. Milik Anya ketinggalan di rumah, ibu ke sini untuk mengantarkan ini.”
“Bu, kenapa tidak minta Adam saja yang ambil?” sahut Adam pelan, suasana yang sebelumnya penuh kemarahan sekarang terasa canggung.
Maya menggeleng pelan. “Tak perlu, ibu juga sekalian mau nganterin wedang jahe kesukaanmu dan ikan gurame kesukaan Anya.”
Adam dan Anya tertegun dengan pikirannya masing-masing.
“Bu, sudah malam. Sebaiknya ibu menginap di sini.” Anya buka suara.
“Tidak perlu. Ibu harus pulang sekarang.”
“Biar Adam antar,” sahut Adam cepat, tapi Maya segera menolaknya.
“Tidak perlu, Adam. Ibu bisa pulang sendiri. Kamu tolong jaga Anya saja.”
Adam tertegun.
“Soal buku itu …” Maya menatap ke arah Anya, lalu tersenyum lembut. “Ibu yang membuka kardusnya. Ibu pikir kamu tidak masalah jika Anya membaca buku itu.”
Adam meremas buku yang ada di tangannya. Jemarinya mencengkram erat sampul itu hingga ruas jarinya memucat.
“Maafkan Ibu—”
Adam langsung menyeret langkah kakinya, tak sekali pun menoleh, bahkan meski Maya belum selesai bicara.
***