Flashback, 2017
Sudut bibir Anya terangkat, retina matanya makin membulat kala memperhatikan dari jauh interaksi pria yang sejak tadi duduk tenang di saung bambu. Sesekali hembusan angin menerpa kecil rambut hitamnya, yang membuatnya mengerjap lalu tersenyum.
“Kenapa kakak suka baca buku?” tanya beberapa anak kecil.
Mereka berlomba, mencari posisi terdekat, tanpa ragu langsung menempel pada lengannya, tak membiarkan posisinya diganggu gugat.
“Karena buku adalah jendela dunia. Dengan banyak membaca buku, kita bisa menjelajahi dunia ….” Suaranya ringan, persis seperti hembusan angin yang menerpa helaian rambut Anya, sudut bibirnya tak kunjung turun.
“Kalian harus rajin membaca. Yang bisa baca buku sepuluh dalam sepekan, kakak kasih cokelat.”
Suara riuh langsung memenuhi saung. Beberapa anak yang sebelumnya enggan membaca, dengan cepat langsung berebut mengambil buku di rak kecil di sudut ruang.
Rasa-rasanya, Anya ingin menggadaikan perasaan malu dibenaknya, duduk bergabung, barang dua detik saja.
Namun …. sebelum hatinya bertingkah, Anya buru-buru berbalik. Pemandang indah itu harus segera ia akhiri.
“Eh, Kakak yang tadi bawa buku, kan? Mau ke mana?”
Langkah Anya tertahan. Beruntungnya Anya tidak kepergok saat tadi mengintip.
“S-saya … saya harus pulang!”
“Gak mau ketemu anggota yang lain? Di sini juga ada kelas literasi.”
“Kelas literasi?”
“Iya, kelas membaca.”
“Tapi saya gak suka baca.”
“Justru itu, Kak Anya.” Anak perempuan itu tersenyum lembut. “Kalau Kak Anya bergabung di forum itu, dijamim Kak Anya bakal suka membaca.”
“Apa bisa jadi suka baca sepuluh buku dalam sepekan? Kalau bisa, saya mau gabung!”
Anya mengerjap cepat. Otaknya menelusuri ulang kalimat yang barusan lulus begitu saja dari mulutnya. Ada yang salah, napasnya tertahan sepersekian detik—tak sempat meralat, orang di depannya sudah mengangguk cepat.
“Bisa dong, Kak. Nama Kakak saya daftarin ya. Sekarang Kak Anya resmi gabung di forum literasi.”
“Bu, maafin Anya soal semalam.” Tanpa sadar, Anya meremas ponselnya sampai buku-buku ruas jarinya memucat. Jeda panjang di seberang sana. Bahu Anya seketika menegang.
“Gara-gara Anya, ibu jadi menanggung kesalahan Anya. Maafkan Anya, Bu.” Napasnya Anya tersendat, pendek-pendek, getar halus merambat memenuhi suaranya.
Akibat kejadian semalam, Adam yang biasanya sangat dekat dengan ibunya–jadi terasa berjarak. Anya tak sengaja mendengar saat Maya menelepon Adam menanyakan soal minuman yang semalam ia bawa, Adam hanya berucap enak, lalu hening.
Saat Maya menawarkan akan membawa makanan kesukaannya, Adam menolak pelan, beralasan ia sedang banyak kerjaan, tak berniat makan malam di rumah.
“Anya janji tidak akan melakukan hal konyol seperti itu lagi. Anya—” Suara Anya tercekat, hilang.
“Tidak masalah, Sayang. Tidak perlu dibahas lagi.”
“Tapi, Bu—”
“Ibu mewakili Adam minta maaf padamu, sebagai sesama wanita, ibu tahu apa yang kamu rasakan.”
Anya spontan menggigit bibir bawahnya, nafasnya naik turun cepat. Ia buru-buru menjauhkan ponselnya. Air mata menggenang di sudut matanya, bergulir jatuh perlahan.
Maya tak mengatakan bahwa dia sedih akan sikap Adam, tapi sebagai sesama wanita Anya tahu apa yang ibu mertuanya rasakan.
Ibu mertuanya terlalu baik. Lagi, Anya dihantam perasaan tak cukup pantas mendapatkan semua kebaikan ini.
.
.
Suara detik jam selaras pergerakan jemari Anya, sejak tadi jarinya sibuk memanikan sendok di piring, naik, turun, lalu diam. Sesekali mata birunya melihat ke arah pintu lalu melirik ke jam.
Sebentar lagi Adam pulang, bisiknya.
Dua menit setelahnya terdengar pintu di buka, disusul suara derap langkah kaki.
“Adam—”
Adam mencodongkan wajahnya, bergerak cepat, langsung mendaratkan bibirnya di bibir Anya, bahkan tak ingin repot membiarkan Anya menyelesaikan kalimat yang tergantung di udara.
Anya langsung bangkit begitu Adam mengambil langkah ke kamarnya. “Tunggu dulu!” seru Anya cepat, tak peduli meski Adam tetap melangkah seolah suaranya hanya semua belaka.
“Setelah mandi dan ganti pakaian, temanin saya makan malam,” lanjut Anya. “Saya belum makan sejak tadi.”
“Ini keinginan bayi yang ada di perut saya.” Kali ini Anya berbohong. Makanan yang ada di meja merupakan makanan yang dibuat Maya untuk Adam. Anya ingin Adam memakannya agar ibu mertuanya tak lagi sedih.
Langkah Adam melambat, ada pergerakan kecil dari kepalanya. “Kamu pikir saya akan percaya dengan kebohonganmu?” Intonasi suara Adam persis udara malam, pelan, halus, menusuk.
“Jika kamu tidak mau memenuhinya, jangan salahkah saya jika besok kamu harus membawa saya ke rumah sakit.”
Adam kembali melanjutkan langkahnya, lebih lebar, lalu hilang dari pandangan Anya.
Tubuh Anya seketika kembali jatuh di kursi makan, helaan napas panjang lolos dari bibirnya yang ingin terbuka, tapi malah terkatup rapat.
“Nak, kamu bisa puasa bentar, kan?” Anya mengelus pelan perutnya, entah menyapa bayi di sana, atau menengkan perutnya yang sejak tadi telah menggelar konser.
21.00 WIB
Anya masih masih menahan tangannya bergerak meraih makanan lezat di hadapannya, ia termenung, dalam imajinasi perutnya, makanan itu sudah berwisata di mulutnya lalu mengisi setiap ruang yang ada dalam perutnya.
“Apa Adam lupa?” Anya mulai goyah dengan keinginan dua puluh menit lalu– akan makan jika Adam makan.
Biasanya Anya bukan tipe orang yang selalu ingin makan, tapi semenjak hamil, selain badannya yang mulai terasa berat, nafsu makannya pun meningkat pesat, mungkin tiga kali lipat yang Anya duga.
“Kapan dia datang?” Mata Anya terus melirik ke makanan di meja, lalu ke lorong, lalu makanan lagi, matanya mulai lelah dan perutnya makin terasa tak nyaman.
Helaan nafas panjang kesekian kali kembali meluncur dari mulut Anya. Anya bergumam, “Berharap pada manusia memang hal paling bodoh!”
Saat Anya hendak bangkit dari kursinya, pergerakannya tertahan, suara derap kaki lebar, khas Adam terdengar.
Senyum sumringah langsung terbit di wajah Anya, mungkin lebih cepat dari kilat cahaya. Akhirnya puasa ini berakhir! Anya kembali duduk di kursi.
Adam menarik kursi—kursi paling jauh dari Anya, mereka terhalang 5 kursi.
Adam mengambil sendiri makanannya, Anya jelas tahu jika dia tidak bisa berperan selayaknya istri yang akan dengan sigap melayani suaminya, itu hanya akan membuat Adam muak dan mungkin akan langsung angkat kaki dari ruang makan.
Saat Adam mengambil beberapa lauk yang ada, sesaat alis Adam terangkat, matanya menyipit menatap lauk, tangannya tertahan di udara, melirik sekilas ke arah Anya.
Dalam situasi itu, Anya hanya bisa berdoa, Adam tidak menyadari rencananya. Anya berpura-pura tak menyadari kecurigaan Adam, fokus pada makanannya.
Tapi, diam-diam dari ujung matanya, Anya memperhatikan pergerakan Adam, tangan Adam kembali bergerak, mengambil lauk yang ada dan menaruhnya di piring. Sudut bibir Anya terangkat, udara terasa leluasa memenuhi hidungnya.
“Piring kotor biar saya yang cuci. Kamu tidur saja, sudah malam.” Suara Adam menghentikan pergerakan Anya yang hendak mengambil beberapa piring kotor di meja.
Tanpa sempat Anya menolak, Adam bangkit, tangan panjangnya dalam sekejap sudah menumpuk piring kotor lalu membawanya ke wastafel.
Sebelum ke kamarnya, Anya diam-diam mengeluarkan ponselnya—ibu mertuanya pasti akan senang melihat momen ini, bibir Anya terangkat, secepat kilat mencari angel, lalu cekrek … ponselnya mengeluarkan suara nyaring, tubuh Anya seketika membeku, secepat Adam menoleh bersamaan dengan flash di ponsel Anya berkilat.
Anya mati kutu.
“Apa ibu yang menyuruhmu melakukan itu?”
Anya menggeleng. “Saya hanya ingin mengirim foto ini ke ibu. Tolong jangan marah pada ibu lagi. Ibu tidak bersalah sekarang bahkan … ” Anya meremas ponsel makin kuat seiring dengan jatungnya yang berdetak tak karuan.
“bahkan kemarin. Ibu melakukan itu hanya untuk melindungi saya. Saya yang sepenuhnya salah.”
Adam tak beraksi, matanya hanya mengerjap sekali, lalu membuang wajah.
“Saya janji tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi. Tolong—”
“Bilang ke Ibu..” potong Adam pelan, sepenuhnya kembali sibuk mencuci piring. “Seperti biasa masakan ibu selalu enak,” lanjut Adam.
Mata Anya seketika melebar, mengerap cepat, sejak awal Adam jelas tahu rencananya.
Seketika wajah Anya menghangat, Anya buru-buru pergi sebelum rasa malu itu makin mengerogotinya.
***