Chapter 5
Alastair hanya diam mematung di samping Kanaya yang masih saja meliuk-liukkan badannya seirama dengan musik di sana. Dia sebenarnya juga tidak memiliki keinginan untuk datang ke klub ini jika temannya tidak menariknya tadi. Alastair tidak suka hingar-bingar, tidak suka berlama-lama di tempaat yang seperti ini, walaupun dia juga tidak menampik bahwa dia pernah beberapa kali membawa wanita bayaran dari tempat-tempat seperti ini.
“Kamu?” Alastair menoleh padahal namanya dipanggil. Dia menatap pada wanita itu. Tatapan Alastair begitu datar. “Tidak ingin berdansa di sini?”
Alastair tahu kalau wanita di hadapannya ini sedang mabuk. Karena itu pula dia berani memegang pergelangan tangan Alastair dan menaruh kedua tangan pria itu di pinggangnya. “Hentikan kalau kamu tidak ingin menyesal.”
Alastair tidak akan berbohong kalau dia akan menerima saja jika wanita ini menyerahkan diri padanya sekarang. Tidak peduli bahwa mereka sama-sama orang asing, atau hal lainnya. Dia hanya peduli akan hasrat yang mungkin akan meletup-letup di antara mereka.
“Menyeral? Karena apa?” Kanaya tersenyum miring dan melingkarkan kedua tangannya di leher Alastair. Oke, dia mabuk dan tidak bisa mengendalikan dirinya, ditambah di hadapannya terdapat seorang pria tampan, dingin, dengan badan yang begitu menggoda. Tolong beritahu Kanaya bagaimana bisa dia menahan dirinya sekarang.
“Kamu tahu kenapa.” Alastair adalah tipe orang yang tidak suka bertele-tele. Dia tidak suka menjelaskan sesuatu yang seharusnya sudah jelas sebelumnya.
“Aku tidak tahu, Sir.” Kanaya mendekatkaan dirinya dan berbisik sensual di telinga Alastair.
Alastair sendiri bersumpah kalau dia sebenarnya memiliki pengendalian diri yang baik. Sangat baik hingga dia bisa saja meninggalkan tempat ini sekarang juga dan meninggalkan wanita yang sedang mabuk di hadapannya jika dia mau. Tapi sayangnya, hasratnya kini tiba-tiba saja menggebu. Melihat wanita ini, apalagi dengan posisi mereka yang sangat dekat, Alastair menginginkannya.
“You better stop.” Sekali lagi Alastair mengingatkan Kanaya, sekaligus juga dirinya agar sadar diri bahwa wanita yang kini mendekatkan wajahnya ke arahnya bukanlah wanita yang sama seperti wanita bayaran yang cukup sering ia gunakan.
Alastair mungkin akan mendapatkan masalah setelah ini.
“Kamu menyebalkan,” ujar Kanaya tiba-tiba. Dia meremas kuat kemeja Alastair hingga tubuh mereka semakin menempel. “Aku tidak tahu nama kamu sebelumnya, tapi sekarang aku begitu menginginkan kamu,” bisik Kanaya—yang tidak pernah ia sadari bahwa itu adalah kalimat paling vulgar yang pernah ia katakan.
Alastair diam-diam tersenyum kecil. “Untuk apa?”
Kanaya mendongak dan tatapan mereka bertemu. Terkunci beberapa saat dan tidak ada satu pun di antara mereka yang ingin memutuskan kontak mata itu.
“Karena entah kenapa, aku begitu ingin mengetahui nama kamu di acara itu.”
Alastair ingat, pesta pernikahan Sanjaya Januar yang membuatnya bertemu wanita ini sebelumnya. Alastair tersenyum miring. “Aku sulit dilupakan?” tanya Alastair, tidak ingin berbasa-basi.
“Hm.”
Kanaya limbung. Hampir sepenuhnya kehilangan kesadarannya, namun Alastair dengan sigap menahan pinggangnya hingga Kanaya tidak jatuh ke lantai dansa.
“Kalau menginginkan aku, kamu harus sepenuhnya sadar.” Alastair tidak ingin menghabiskan satu malam dengan wanita yang bahkan tidak sadar sedang bersamanya.
Kanaya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya seolah dia paham apa yang dimaksud Alastair. Mabuk dan bersenang-senang mungkin menjadi salah satu rencananya malam ini, tapi bertemu dan menginginkan Alastair bukanlah rencananya.
“Jadi, kita tidak akan pergi ke satu kamar, Sir?”
***
Batin Kanaya berkali-kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa kini dia sedang bersama seorang pria di kamarnya, dan mereka akan melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Kanaya.
Kanaya Wijaya adalah wanita yang tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun. Para pria yang datang untuk mendekatinya seolah diusir oleh ayahnya dan mengakitbatkan Kanaya kembali sendiri.
Dan jika ayahnya tahu apa yang dilakukannya sekarang, mungkin ayahnya akan terkena serangan jantung tiba-tiba.
“Do you know what you really want?” tanya Alastair yang kini berada di hadapan Kanaya. Kedua tangannya tertumpu pada sisi ranjang, mengukung Kanaya seolah tidak membiarkan wanita itu untuk pergi darinya.
“You,” jawab Kanaya penuh percaya diri. Walaupun tadi dia sempat limbung beberapa kali dan hampir menyerah, dia kini bisa memfokukan dirinya hanya untuk tahu siapa di hadapannya dan apa yang dia inginkan sebenarnya.
“Aku tidak akan bertanggung jawab atas apapun yang terjadi setelah ini.”
Kanaya tersenyum. Jari lentiknya menyusuri kemeja Alastair dengan berani. “Memangnya, apa yang akan terjadi?” bisik Kanaya sambil mengerling nakal pada Alastair. Yang mana, Kanaya tahu ini bukan dirinya sama sekali. Dia tidak tahu apa yang membuatnya seperti jalang.
Alastair tidak akan menahan dirinya lagi. Dia mendorong Kanaya hingga wanita itu tertidur terlentang di bawahnya.
Alastair dan keinginannya sekarang bukanlah sesuatu yang bisa dilawan oleh Kanaya. “Kamu tidak akan menyesal, bukan?”
Kanaya menggeleng.
“Bagus. Aku tidak suka dengan perempuan yang cerewet setelah melakukan ini.” Alastair bukan pria berengsek yang sering melakukan hubungan seperti ini dengan sembarang wanita. Tidak sering tapi tidak juga jarang. Alastair hanya melakukannya ketika dia ingin, dan ketika hasratnya meletup-letup dan tidak bisa dialihkan ke hal lain.
Kanaya mengangguk. Dia pasrah di bawah Alastair yang membawanya ke jurang penuh dengan rintihan, namun juga sangat memabukkan.
***
Keesokan harinya Alastair mengumpati dirinya tidak ada habisnya. Masalahnya, dia baru saja sadar kalau semalam dia menghabiskan waktu dengan wanita yang masih perawan. A fu*king virgin!
Astaga, seharusnya Alastair lebih bisa mengendalikan dirinya dan tidak sembarangan membawa seorang wanita. Memang benar prinsipnya sejak awal yang mengatakan kalau lebih baik menyewa pelac*r dibandingkan terkena masalah setelah ini.
Alastair menolehkan kepalanya ke arah wanita yang masih terlelap memunggunginya. Dia tidak bisa berbohong kalau dia begitu menyukai apa yang sudah mereka lakukan. Tapi, tidak pada bagian di mana wanita itu masih perawan sebelum ini.
Untuk kali pertama, Alastair bersikap berengsek dengan memutuskan pergi terlebih dahulu dari kamar itu sebelum wanita itu terbangun.
Alastair tidak meninggaalkan note ataupun apapun, dia hanya pergi setelah membenarkan selimut yang dikenakan wanita itu.
Sementara beberapa menit setelah Alastair pergi, Kanaya terbangun. Dia meringis dan memegang kepalanya yang begitu sakit.
“Sial,” umpatnya ketika merasakan denyut di kepalanya tidak kunjung juga reda. “Di mana aku?” gumamnya sambil mengedarkan pandangannya, berusaha mencari tahu sendiri di mana ia sekarang.
Kilasan kejadian satu per satu menghampiri ingatannya. Dari mulai ia yang pergi ke pesta Laura, lalu bertemu dengan seorang pria, dan berakhir di tempat ini. Kanaya melotot. Dia baru saja sadar kalau dirinya tidak mengenakan apapun di bawah selimut ini.
“Fu*k!” Kanaya berdecak keras. Jadi dia … astaga, kalau orang tuanya tahu anak gadis mereka melakukan ini, mungkin mereka akan segera mengeluarkan Kanaya dari rumah mereka.
Tapi, Kanaya tahu dirinya tidak bisa memutarbali waktu. Dia tidak bisa protes pada pria yang sudah menidurinya karena dia sendiri yang meminta. “Sial,” umpatnya sekali lagi. Dia tidak tahu apakah setelah ini, tapi setidaknya, dia masih memiliki kendali penuh untuk tidak bersikap terlalu syok.
“Tidak akan terjadi apa-apa, Kay. Selama kamu tidak menceritakan kepada siapapun, tidak akan kenapa-napa.”
***