Chapter 6

1151 Kata
Seharusnya setelah pulang dari klub tersebut, Kanaya bisa melupakan apa yang sudah ia lakukan dengan pria itu kemarin malam. Se*s yang mereka lakukan bukanlah masalah besar, right? Semua orang melakukannya dan mereka baik-baik saja. Kanaya juga harusnya seperti itu, karena walaupun dia tidak pernah merencakan untuk melakukannya, tapi kemarin itu sepenuhnya salah dia karena tidak bisa mengendalikan dirinya. Kanaya memang tidak pernah diizinkan untuk berpacaran dengan pria sebelum mendapatkan persetujuan dari orang tuanya, tapi orang tuanya tidak pernah membahas soal hubungan seperti kemarin padanya. Jadi, sebenarnya itu semua tidak apa-apa, bukan? Kanaya menghela napas. Dia harus berusaha bersikap nrmal di hadapan kedua orang tuanya jika dia tidak mau mereka curiga. “Aku akan baik-baik saja.” Entah ke berapa kalinya dia mengatakan itu pada dirinya sendiri. Hati kecilnya sedikit meragu, tapi dia berusaha membohongi dirinya sendiri dnegan mengatakan kalau tidak akan ada yang terjadi setelah ini. “Sudah pulang?” Kanaya baru saja melangkahkan kakinya ke dalam rumah orang tuanya dan langsung disambut oleh pertanyaan sinis dari sang ibu. Kanaya menoleh pada Addy dan hanya tersenyum kecil. “Sudah.” “Sudah puas berbuat nakal?” Addy memang tidak suka jika anaknya memakai baju terlalu terbuka atau bahkan pergi ke klub. Semalam adalah kali pertama dia mengiyakan—karena terpaksa—anaknya pergi ke tempat seperti itu. Kanaya berdecak. “Aku tidak melakukan apapun, Mama. Aku hanya menghadiri pesta temanku saja.” “Dengan menggunakan baju terbuka?” Addy melirik Kanaya dengan sinis. Kanaya kembali tertawa, dia sudah kebal bukan main dengan sifat sinis ibunya, dia juga tahu kalau Addy sebenarnya sangat sayang padanya. “Memangnya ada yang pergi ke klub dengan menggunakan baju tertutup?” Kanaya membalikkan ucapan Addy yang membuat ibunya itu memberenggut. Kanaya sedikit bersyukur bahwa semalam dia masih ingat untuk membawa satu mantel panjang yang kini bisa menutupi tubuhnya yang terekspos. Apalagi dengan tanda-tanda merah yang diberikan oleh pria yang menghabiskan malam bersamanya kemarin. “Aku ke kamar dulu, Ma,” pamit Kanaya yang dijawab oleh anggukan Addy. Ketika sampai di kamarnya, Kanaya langssung membuka mantel yang ia kenakan dan ketika mematut dirinya di cermin, alangkah terkejutnya ia dengan banyaknya tanda merah di lehernya. Kanaya menyentuh tanda itu dengan tangannya. “Sial,” umpatnya untuk ke sekian kalinya pagi ini. Dia tahu ini bukanlah masalah yang besar, tapi entah kenapa tanda itu seolah menjelaskan semuanya. Kanaya berdecak. Setelah ini, dia harus melupakan apa yang sudah ia lakukan semalam. Tidak boleh lagi ia mengungkitnya, karena hal itu hanya akan membuat perasaan Kanaya kembali tidak menentu. *** Alastair membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Dia menghembuskan napasnya seolah dia baru saja menghabiskan hari yang sangat panjang. Padahal pagi ini, dia belum melakukan apapun. Apalagi ketika mengingat bahwa semalam, yang dia lakukan adalah meniduri seorang wanita yang masih perawan, yang ia temui di klub dalam keadaan mabuk. “Fu*k off.” Alastair berdecak dan menyugar rambutnya. Dia kembali berharap bahwa semoga tidak ada hal apapun yang terjadi—karena Alastair tidak akan melakukan pertanggungjawaban apapun jika wanita itu menghampiri dirinya dan marah-marah atas apa yang mereka lakukan. Bukankah mereka melakukannya karena sama-sama mau? Jadi, ketika nanti wanita itu memprotesnya, Alastair akan dengan senang hati mengelak dan mengatakan kalau wanita itu-lah yang terlebih dahulu memulai. Alastair membuka matanya. Sekalipun dia mencoba untuk menempis pikiran kotor itu, alam bawah sadarnya seolah tidak mau diajak berkompromi karena lagi-lagi Alastair wanita itu. “Kanaya Wijaya …” gumamnya. Bayangan bagaimana wanita itu meliuk-liukkan badannya di lantai dansa, lalu berakhir di ranjang bersamanya kembali terputar layaknya kaset rusak. Alastair masih ingat harum tubuh wanita itu, lembut rambutnya, dan gerakannya yaang malu-malu tapi seolah setuju untuk disentuh Alastair. “Kanaya …” “Wijaya …” Alastair tentu saja tahu siapa keluarga Wijaya. Mereka adalah keluarga yang memiliki banyak perusahaan bisnis, dan salah satunya bekerja sama dengan perusahaan yang dipegang oleh keluarga Alastair. Tapi sayangnya, Alastair tidak pernah bertemu dengan Kanaya Wijaya, dan semoga saja, ketika mereka bertemu nanti, Kanaya tidak akan mengingatnya. Iya, Alastair bertindak sepengecut itu. Dia tidak mengingat dirinya. Tapi di sisi lain, pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan wanita itu. Tubuhnya seolah menjadi candu akan tiap hal yang mereka lakukan semalam. “Why are you so goddamn sexy?” Alastair meraup wajahnya dan mengusapnya. Sial, dia harus menghentikan pikirannya sendiri sebelum dia kalah oleh nafsunya. Alastair sungguh pernah tidur dengan beberapa wanita, dan tidak pernah sekalipun dia mengingat-ngingat apa yang sudah dia lakukan bersama wanita-wanita itu. Dari mereka semua yang pernah tidur dengannya, tidak ada yang semabukkan Kanaya. Pagi itu, Alastair tertidur dengan pikiran yang tertuju kembali pada Kanaya. *** Malam harinya, Kanaya berharap bahwa dia sudah bisa melupakan apa yang ia lakukan kemarin. Sungguh, ini tidak semudah yang dia pikirkan. Kanaya berpikir pada awalnya, kalau ini bukanlah sesuatu yang harus dibesar-besarkan, tapi sayangnya, dia sendiri sekarang yang ketar-ketir karena pikirannya sendiri. “Mau ke mana lagi, Kay?” tanya ibunya, Addy, ketika melihat Kanaya kembali bersiap-siap. Tapi sekarang, bajunya sudah jauh lebih normal dari baju yang ia kenakan kemarin. “Ke rumah Anne.” Addy kini menolehkan kepalanya pada putrinya dan menatapnya sambil memincingkan mata. “Sungguh? Kamu tidak mencoba untuk membohongi Mama, bukan? Ayah kamu akan sangat marah—” “Tidak, Ma. Aku sungguh hanya ingin pergi ke rumah Anne.” Kanaya juga tidak berani lagi kalau dia berbohong dan kembali melakukan tindakan nakal seperti kemarin. “Mama akan ke sana untuk mengecek kalau kamu sungguhan atau hanya menipu, Mama.” Addy tersenyum miring. Ini semua dia lakukan juga untuk melindungi Kanaya—tanpa Addy tahu, Kanaya sudah melewati batasannya sendiri yang mungkin akan membuat Addy pingsan begitu mengetahuinya. “Baiklah, silakan saja.” Kanaya terkekeh geli melihat tingkah laku ibunya. Dia mendekat ke arah Addy untuk memberikan kecupan di pipinya. “Aku berangkat dulu, Ma. Jangan berpikir sesuatu yang tidak-tidak, ya.” Kanaya tidak akan puas menggoda ibunya sampai kapanpun. Addy hanya berdecak dan dia menjauh dari Kanaya. “Pergi sana,” usirnya sambil mengibaskan tangannya pada Kanaya. Kanaya tertawa dan meninggalkan rumah saat itu. Dia harus menemui Anne karena dia butuh seseorang untuk ia ajak bercerita. Kanaya paling dekat dengan Anne dan Sydney—sepupunya. Mereka bertiga sudah menjadi sahabat dan semua rahasia yang mereka utarakan satu sama lain, akan terjaga rapat-rapat. Karena itu pula, untuk alasan seperti ini, Kanaya akan sangat bergantung pada sepupunya. *** “APA?!” Sesampainya di rumah Anne—yang untung saja tidak ada suaminya di sana, sehingga Kanaya bisalangsung menceritakan apa yang mengganggu pikirannya. Dan dia lupa satu hal, bahwa Anne ini bisa menjadi sangat heboh kalau mendengar satu ceritanya. “Bisakah kamu hentikan ekspresi menyebalkan itu?” Kanaya menghela napas. “It’s not a big deal, though.” “Bukan masalah besar? Ayah kamu bisa membunuh kamu ketika tahu semua ini, Kay, apa yang kamu pikirkan, huh?” Anne berdecak. “Lalu, apa yang kamu ingin aku katakan?” Kanaya menghela napas. “Aku …” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN