Yang Anneliese Januar tahu soal Kanaya adalah bahwa sepupunya itu sangat polos dan tidak pernah berbuat macam-macam. Orang tua Kanaya sungguh menjaga putri mereka itu hingga bahkan Kanaya tidak pernah berhubungan dengan pria seumur hidupnya. Jadi, bukankah respon Anne yang katanya sangat heboh menurut Kanaya adalah hal yang wajar? Masalahnya, sepupunya itu dengan santai mengatakan kalau dirinya baru saja menghabiskan satu malam dengan seorang pria dan kini sedang mencoba untuk melupakannya tapi sialnya dia tidak bisa.
“Anne, aku tidak salah, bukan? Maksudku, semua orang juga bisa melakukannya dan mereka baik-baik saja, Sydney juga melakukannya.” Sekalipun Kanaya ingin bersikap bodo amat dengan apa yang baru saja ia lakukan, dia tidak bisa menampik secuil rasa bersalah pada dirinya sendiri. Karena itu pula, dia mencari pembenaran pada Anne.
“Ketika kamu menanyakan hal itu, sebenarnya hati kecil kamu sudah tahu kalau itu salah, Kay,” ujar Anne sambil menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menghakimi kamu, tapi masalahnya di sini, orang itu adalah orang asing. Bagaimana jika dia nanti suatu saat ingin melakukan hal buruk pada kamu?”
Kanaya berdecak. “Aku masih ingat nama dan mukanya, jadi … ketika dia mengancam aku, aku bisa menggugatnya balik.”
Anne memutar bola matanya jengah dengan tingkah laku dari sepupunya ini. “Bodoh, dan kamu ingin orang tua kamu mendepakmu dari rumah? Silakan saja.”
Kanaya berdecak sebal. “Lalu, apa yang kamu sarankan?”
“Tidak ada. Kamu sudah bertingkah bodoh dan kamu mungkin harus mendapatkan konsekuensinya.” Anne tidak pernah melakukan tindakan sebodoh Kanaya—berhubungan dengan seseorang yang sama sekali tidak dia kenal—sehingga dia tidak tahu harus menyarankan apa.
“Jadi, aku salah?”
Anne mengangguk tanpa ragu. Dia bukan tipe pemberi nasehat yang bisa memperhalus bahasanya kepada si pencerita. Ketika Anne berpikir kalau tingkah Kanaya salah, maka dia akan mengatakan langsung tanpa basa-basi. “Kalian berdua. Astaga, apa dia memakai kondom, Kay?”
Kanaya mengeryitkan dahinya. Dia kembali mengingat kejadian itu sambil berpikir keras. Dia sungguh tidak tahu, karena pada saat itu, entah bagaimana dia terlalu terbuai. Dia tidak menolak apapun yang diberikan pria itu pada tubuhnya sendiri hingga Kanaya tidak bisa berpikir jernih.
“Kay!” Anne memukul dahi Kanaya yang membuatnya mengerjapkan matanya.
“Apa?” tanya Kanaya polos.
“Aku menanyakan apa dia memakai kondom atau tidak, tapi sepertinya kamu malah membayangkan hal yang lain.” Anne berdecak sebal. “Ayo, jadi dia memakainya?”
Kanaya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” ringisnya. Dia sungguh tidak mengingatnya, sekuat apapun Kanaya mencoba untuk mengingat, yang terbayang malah hal lain.
Anne menghela napas. “Dengar, setidaknya kalau kamu polos, kamu tidak perlu menjadi bodoh.” Dia sudah lelah menasehati sepupunya ini.
Kanaya malah semakin meringis. “Aku tidak akan bertemu lagi dengannya, bukan? It’s not a big problem.”
“Tunggu saja sampai kamu ketemu lagi dengannya dan kamu menyesal.” Anne mendelik dan memilih untuk kembali fokus pada tayangan televisi di hadapannya.
“Hei!” Anne mungkin tidak membantu banyak, tapi sungguh bercerita dengan sepupunya membuat Kanaya lebih tenang dari sebelumnya.
***
Beberapa hari kemudian, Kanaya sudah mulai melupakan apa yang dia lakukan bersama pria itu. Dia kembali menjalankan hari-harinya dengan lebih normal—iya, sebelumnya tidak begitu normal karena dia terus saja memikirkan pria yang bersamanya.
Siang itu, Kanaya baru saja pulang ke kantor selepas makan siang bersama teman-temannya. Dan dia begitu terkejut ketika sampai di kubikelnya dan melihat sang ayah di sana.
“Kay.” Dean Angkasa, ayahnya tercinta, dengan santai duduk di kursi kubikelnya sambil memutar-mutar kursinya.
“Ayah? Kenapa Ayah di sini?” tanya Kanaya sambil mendekati ayahnya. Dia tidak pernah melihat ayahnya berada di kantor cabang, karena ayahnya dan para om-nya, memegang perusahaan pusat.
“Ayah ingin berbicara dengan kamu.” Dean bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu dari Kanaya. Ayahnya memang jarang sekali ke kantor di mana Kanaya bekerja, tapi karena kantor ini masih berada di naungan perusahaan keluarga besarnya, ayahnya juga memiliki ruangannya sendiri.
“Apa aku berbuat masalah?” tanya Kanaya dengan nada khawatir.
Dean tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Tidak.” Ayahnya duduk di sofa yaang ada di ruaangan itu. “Ayah mendapatkan laporan kinerja kamu selama bekerjaa di sini, dan Ayah cukup terpukau.”
Kanaya yang tadinya sempat khawatir dengan apa yang akan dibicarakan oleh Dean, langsung menghela napas lega dan tersenyum kecil. “Apa Ayah baru tahu kalau anak Ayah memang sangat handal?”
Dean tertawa kecil. “Ayah bangga pada kamu, dan … karena perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan lain, Ayah merasa bahwa itu bisa menjadi promosi untuk kamu.” Jika ada orang yang bilang bahwa priviledge untuk anak dari orang tua yang memiliki banyak koneksi sehingga semuanya menjadi lebih mudah untuk dirinya, Kanaya akan menjawab bahwa itu benar.
Dia tidak mengharapkan apapun dari status sosial yang dimiliki orang tuanya, tapi dia tidak bisa menampik kalau itu yang membuat kariernya menjadi lebih mudah. “Ayah menginginkan aku pindah dari kantor ini?”
“Untuk mendapatkan promosi bagi jenjang karier kamu, ya.” Dean mengangguk dengan senyum bangganya. “Kamu sudah bekerja dengan sangat baik.” Dean mengusap rambut anaknya.
Kanaya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Ayah.”
“Ayah akan memberikan profil perusahaan tempat kamu akan bekerja nanti, kamu bisa membacanya lebih dulu untuk mengetahui soal mereka.”
“Apa nama perusahaannya?”
“Bidang yang sama dengan perusahaan kita, namanya Adyatma Group.”
Kanaya mengeryitkan dahinya. “Adyatma?” Nama itu seolah tidak asing untuknya.
***
Lagi-lagi Alastair mencoba untuk menipu dirinya sendiri dengan mencoba menampik pikirannya yang selalu tertuju pada Kanaya Wijaya. Seorang Kanaya Wijaya yang ia tiduri di pertemuannya yang kedua dengan gadis itu.
Alastair bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan bai, tapi dia tidak bisa melupakan wanita itu. apalagi ketika dia mengingat kalau dia bertindak berengsek dengan meninggalkan Kanaya lebih dulu tanpa mengatakan apapun atau meninggalkan memo apapun.
“Pak Alastair,” ujar sekretarisnya yang berada di sampingnya.
Alastair menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.
Sekretarisnya yang sudah bekerja dengannya lebih dari lima tahun itu, sudah mengerti kebiasaan Alastair yang jarang sekali berbicara kecuali untuk hal-hal yang penting. Jadi, tanpa menunggu atasannya berbicara, dia sudah menyodorkan kertas yang ia bawa sedari tadi. “Anak Pak Dean Angkasa, yang kemarin mengajukan proposal kerja sama dan sudah kita approved, Pak, akan bekerja di sini.”
Jantung Alastair seolah akan copot dari tempatnya begitu mendengar hal tersebut. Dia mengeryitkaan dahinya dan melihat kertas yang dibawa oleh sekretarisnya.
Hatinya sedikit berharap kalau Dean Angkasa memiliki anak lain dan yang akan bekerja dengannya bukanlah Kanaya Wijaya.
“Namanya Kanaya Wijaya, umur dua puluh delapan tahun, dan akan bekerja di sini atas rekomendasi dari direksi kita, Pak.” Perusahaan besar seperti Adyatma Group sangat sulit untuk dimasuki oleh orang lain, penyeleksian mereka cukup ketat. Tapi jika sudah direkomendasikan oleh para petinggi, berarti memang kinerja orang tersebut begitu bagus.
“Oh, oke.”
Alastair tidak tahu harus mengatakan apalagi.
***