Chapter 8

1130 Kata
Kanaya sangat semangat ketika tahu kalau hari ini adalah hari pertamanya di kantor baru. Tidak butuh waktu lama untuk dirinya membereskan barang-barangnya di kantor pertamanya, dan akhirnya dia bisa pindah. Kanaya tidak menyangka kalau dirinyaa akan mendapatkan promosi sekarang—pengalamannya memang sudah cukup lama di kantor itu, tapi dia hanya tidak percaya saja. “Selamat datang.” Kanaya disambut oleh salah satu wanita yang katanya adalah asisten dari Direktur Marketing dan Publishing, divisi di mana Kanaya akan bekerja nanti. Wanita itu sangat ramah dan membuat Kanaya merasa disambut dengan baik. Kanaya menjabat tangan wanita itu, tak lupa tersenyum sopan. “Kanaya.” “Saya Eleanor, senang bertemu dengan Anda.” Kanaya menganggukkan kepalanya. “Mari saya antar untuk melihat kubikel Anda bekerja nanti.” Eleanor melanjutkan dan dia melangkahkan kakinya lebih dulu dari Kanaya. Sepanjang jalan menuju ruangan kubikelnya, Kanaya memerhatikan dekorasi interior di kantor itu. Dia terpukau dengan warna-warna lembut dari dinding kantor itu, juga lukisan-lukisan natural yang menghiasinya. “Keperluan dan alat yang disewakan oleh kantor ini sudah disediakan. Anda sudah mendapat lanyard card dan bisa mengkonfirmasinya di bagian personalia, ya.” Kanaya mendengarkan dengan seksama, walaupun tatapannya sering kali curi-curi pandang ke sudut kantor ini yang sungguh membuatnya nyaman. “Ah, iya. Terima kasih.” Eleanor menatap Kanaya dan untuk sepersekian detik dia terbius oleh kecantikan Kanaya Wijaya. Sungguh, jika Eleanor yang notabene-nya saja adalah seorang wanita dan begitu menyukai wajah Kanaya, bagaimana nasib para pria yang menatapnya? “Silakan. Ini kubikel Anda.” Kanaya melihat kubikel tempat dia bekerja. Sial, di pandangan pertama saja Kanaya sudah begitu menyukai kubikel ini. Begitu nyaman dan aesthetic. Semua warnanya earth-tone dan Kanaya sangat menyukai warna-warna netral seperti ini. “Terima kasih banyak,” ujarnya penuh sopan santun. Eleanor mengangguk. “Ini ruangan untuk divisi Anda, setelah ini ada rapat yang akan diadakan di ruang rapat lantai ini. Khusus untuk divisi kita, kamu bisa menghadirinya sekaligus memperkenalkan diri.” Kanaya tersenyum senang dan menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi dia mengucapkan terima kasih karena Eleanor sudah membantunya. “Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bisa memanggilku.” Eleanor sebenarnya sudah diberikan pesan oleh bosnya bahwa Kanaya Wijaya adalah anak dari Dean Angkasa, pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan Adyatma Group. Karena itu pula, Eleanor diberikan tugas untuk selalu membantu Kanaya dan membuat Kanaya nyaman di lingkungan barunya. Selepas Eleanor pergi, Kanaya membereskan barang-barang yang ada di mejanya dan menyimpannya sesuai tata letak yang dia inginkan. Hari ini, adalah hari pertamanya di kantor yang baru, itu berarti, dia akan membuka lembaran baru—yang pasti harus lebih baik dibandingkan sebelumnya. *** Kanaya melangkahkan kakinya menuju ruangan rapat, di mana sudah terdapat cukup banyak orang di dalam sana. Kanaya tersenyum manis sambil sesekali menundukkan kepalanya dengan sopan. Dia duduk di kursi paling ujung, seolah sadar diri bahwa dirinya masih menjadi anak baru di sini. “Kanaya Wijaya, ya?” tanya seorang wanita yang duduk di samping dia. Wanita itu sepertinya seumuran dengannya. Kanaya mengangguk. “Iya. Salam kenal.” “Aku Cassandra. Senang bertemu dengan kamu.” Wanita itu mengulurkan tangannya dan tersenyum ramah. Kanaya menyambut uluran tangannya dan membalas senyuman Cassandra. Suasana hatinya sungguh baik ketika tahu bahwa orang-orang di kantornya yang baru sungguh menerimanya. Mereka mengobrol beberapa hal, selagi menunggu seseorang yang katanya adalah pimpinan divisi mereka dan direktur utama. “Pak Dirut akan datang ke sini?” tanya Cassandra pada rekan kerjanya yang lain yang masih bisa didengar oleh Kanaya. “Iya, aku dengar-dengar dia akan datang ke rapat ini.” Rekannya menimpali. “Tapi, kenapa? Maksudku, ini bukan rapat besar yang harus dia hadiri, bukan?” Kanaya hanya mendengarnya dengan seksama tanpa mengatakan apapun, karena dia sendiri tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Dia masih tidak tahu seperti apa Direktur Utama di kantor ini, tapi sepertinya dia sudah tua, mungkin seumuran dengan ayahnya, memakai kacamata, dan— “Selamat pagi, Pak Alastair.” Semua orang berdiri ketika pintu rapat terbuka dan menampilkan seorang pria dengan balutan jas berwarna hitam dan kemeja putih. Semua bayangan Kanaya soal pria tadi seolah langsung sirna, digantikan oleh umpatan dalam hatinya karena ternyata … Direktur Utama tempat dia bekerja sekarang adalah pria yang menghabiskan satu malam bersamanya beberapa hari yang lalu. Matilah Kanaya! Semua orang menundukkan sedikit badan mereka ketika Alastair ada di sana. Kecuali satu orang, Kanaya Wijaya. Kanaya masih terlalu syok—ralat, kini dia syok berat—karena apa yang dia lihat. Tolong katakan bahwa Kanaya hanya sedang berhalusinasi dan bahwa pria di hadapannya bukanlah orang yang sama dengan yang ia temui di klub. Kanaya menengguk ludahnya dengan gugup. Apalagi ketika tatapan mereka bertemu. Dunia di sekitar mereka seolah berhenti sejenak, semuanya buram dan hanya fokus pada mereka berdua saja. Alastair menatapnya tajam, begitu menghunus manik matanya. Tapi, segugup apapun Kanaya, dia seolah tidak bisa memalingkan wajahnya dari Alastair sekarang. Benar-benar sulit! “Pak?” Panggilan dari asisten pria itu, langsung menginterupsinya dan membuat tatapan mereka terputus begitu saja. Kanaya sadar apa yang sudah dia lakukan, dan mungkin beberapa orang di ruangan ini ada yang curiga dengan dirinya dan Alastair yang tiba-tiba saja terdiam. “Oh, baik.” Alastair berdeham dan melangkahkan kakinya menuju kursi yang sudah disiapkan. Dia menatap satu per satu karyawan yang hadir, dan kembali menyesali perbuatannya ketika tatapannya bertemu dengan Kanaya. Lagi-lagi dia hanya bisa berdeham canggung. “Oke, saya mulai rapatnya.” Semua karyawan yang hadir lagssung duduk dan memerhatikan Alastair dengan seksama. Mereka fokus pada apa yang dibicarakan oleh Alastair, termasuk Kanaya. Dia mencoba mendengarkan apapun yang dikatakan oleh pria itu walaupun sebenarnya dia masih belum begitu paham. Kanaya mencatat beberapa hal yang ia kira penting, namun pikirannya juga tidak bisa fokus. Bayangan malam yang ia lewati dengan Alastair kembali menghampiri pikirannya. “…oh, dan satu lagi, ada karyawan baru di Divisi Marketing ini, Kanaya Wijaya …” Tak terasa, rapat sudah akan berakhir, dan Alastair—mau tidak mau—memperkenalkan Kanaya pada karyawan yang hadir. Ini memang sudah menjadi tradisi di perusahaannya, setiap ada karyawan yang baru di divisi manapun, pasti akan dikenalkan seperti ini. “Semoga kita semua bisa bekerja sama dengan baik dan menciptakan lingkungan kerja yang nyaman pula.” Kanaya ikut mengangguk—walaupun dia sedikit tidak yakin bahwa dia akan nyaman ketika bertemu dengan Alastair. Ada secuil rasa di mana dia berharap kalau Alastair tidak mengingat dirinya. Atau setidaknya pria itu lupa ingatan bahwa mereka sudah melakukan hal tersebut malam itu. “Rapat saya akhiri di sini.” Semua orang kembali berdiri ketika Alastair bangkit dari duduknya. Kanaya juga ikut berdiri, namun kali ini dia memilih untuk menundukkan pandangannya. Tidak ingin lagi dia menatap mata Alastair dan membuatnya kembali gugup. Namun sayangnya, bahkan ketika dia tidak menatap pria itu saja, dia masih bisa merasakan tatapan Alastair padanya. Sial, bagaimana dia bisa survive di kantor barunya jika seperti ini? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN