Satu per satu karyawan mulai meninggalkan ruangan, sementara Kanaya masih sibuk membereskan buku catatan dan pulpen yang ia bawa. “Kanaya, mau makan siang bersama?” tanya Cassandra dengan ramahnya.
Kanaya menolehkan kepalanya dan tersenyum. “Boleh.”
“Kalau begitu ayo,” ajaknya yang langsung diangguki oleh Kanaya.
Kanaya tidak sadar kalau dari tadi, Alastair menatapnya dalam diam. Ragu ingin menghampirinya. Entah bagaimana dia merasa kalau dirinya dan Kanaya memiliki sesuatu yang harus diobrolkan. Setidaknya, Alastair harus memastikan kalau malam yang mereka lalui bersama, tidak diketahui oleh siapapun.
Bisa geger kantor ini jika tahu Alastair melakukan tindakan b***t apalagi pada karyawan barunya sendiri.
Di sisi lain, Kanaya dan Cassandra sudah bersiap untuk keluar dari ruangan rapat itu. Mereka adalah dua karyawan terakhir yang keluar dari sana. Melihat bahwa Alastair masih ada di ruangan itu, mereka terlebih dahulu pamit pada pria itu sebelum benar-benar keluar.
“Permisi, Pak.”
“Permisi, Pak.” Kanaya membeo. Walaupun saat mengatakannya dia sungguh tidak mau bertatapan dengan pria itu karena hanya akan membuatnya semakin gugup.
Alastair menatap Kanaya saja, dan menganggukkan kepalanya.
Ketika keluar dari ruangan itu, Cassandra menoleh pada Kanaya. “Kamu gugup, ya?” tebak dia tepat sasaran.
Kanaya tertawa sumbang. “Kenapa memangnya?”
“Karyawan baru memang sering seperti itu kalau bertemu dengan Pak Alastair. Dia memang menyeramkan dan terkadang membuat kita mati kutu.” Cassandra tidak mengecilkan suaranya ketika menceritakan Alastair, yang berarti memang hampir semua karyawan di sini sepertinya tahu kalau Alastair memang semenakutkan itu. “Aku juga seperti kamu dulu. Aku bahkan hampir ragu untuk lanjut bekerja di sini karena takut sekali dengannya. Tapi ternyata, hampir semua karyawan merasakan itu. Jadi, kamu tenang saja.” Cassandra menepuk-nepuk pundak Kanaya yang membuat Kanaya tertawa kecil.
Memanng Alastair cukup menakutkan. Tapi sayangnya, bukan itu maksud Kanaya. Ada hal lain yang membuatnya begitu takut pada Alastair. Wajah Kanaya kembali memerah ketika mengingatnyaa.
“… bekerja di sini terkadang benar-benar membuatku tertekan, tapi tenang saja, itu karena tugas-tugasnya. Terkadang, Pak Alastair membuatkan target yang sedikit tidak masuk akal. Namun, untuk rekan kerja dan lingkungan di sini, sungguh bisa membuat kamu nyaman …” Kanaya beruntung karena dia mendapatkan teman yang cukup cerewet dan tidak keberatan untuk menceritakan kantor ini padanya.
“… kalau di kantor kamu dulu, seperti apa?”
Kanaya mengangkat kedua alisnya ketika Cassandra lagi-lagi menoleh padanya. “Hm … sama, tapi sepertinya—seingatku—aku tidak memiliki atasan yang menyeramkan seperti Pak Alastair.”
Cassandra tertawa. “Pak Alastair mungkin terlihat sangat menakutkan, tapi dia juga baik hati.”
Hm … Kanaya meragukannya. Dia tidak yakin orang yang sering mengintimidasi seperti Alastair adalah orang yang baik hati. Kanaya masih ingat saat pertemuan pertama mereka di pesta pernikahan Anne dan Sanjaya, pria itu selalu menatapnya datar dan tidak mau mengucapkan sepatah katapun.
Sial, bagaimana bisa orang yang tidak sengaja ia temui di pernikahan itu adalah orang yang sama dengan orang yang tidur dengannya, dan kini menjadi bos-nya?!
Ini salah Kanaya juga yang tidak membaca profil perusahaan yang diberikan ayahnya pada dirinya sebelum dia bekerja di kantor ini.
“Semoga saja aku bisa bertahan di sini.”
Dan Cassandra hanya bisa tertawa ketika melihat wajah Kanaya yang nelangsa. Dia betul-betul paham apa yang dirasakan Kanaya.
***
Benar apa yang dikatakan oleh Cassandra; sekalipun mereka memiliki Direktur Utama yang begitu menyeramkan dan membuatnya gugup setengah mati, tapi rekan-rekan kerja di sini sangat baik. Mereka seolah menganggap Kanaya sudah lama bekerja di sana, sehingga obrolan mereka mengalir begitu saja.
“Aku pernah mendapatkan tawaran bekerja di tempat lain, dengan bos yang sepertinya lebih ramah dari pada Pak Alastair. Tapi aku tidak menerimanya,” ujar Jose, salah satu karyawan senior di dividi mereka yang ikut berkumpul di kafetaria yang ramai siang itu.
Satu meja besar dipenuhi oleh ana-anak Divisi Marketing, termasuk Kanaya.
“Kenapa?” balas rekan kerjanya yang lain.
“Tentu saja karena tawaran gaji dari Pak Alastair lebih menggiurkan.”
Alasan Jose itu mengundang gelak tawa dari semuanya. Sebagian dari mereka memang mengakui, walaupun Alastair adalah bos tergalak yang pernah mereka miliki, tapi gaji yang ditawarkan juga tidak main-main.
“Oh, Kanaya, jika kamu butuh sesuatu, tolong beritahu kami saja, ya.” Kanaya menoleh pada salah satu rekan kerjanya dan dia mengangguk sambil tersenyum.
“Tentu saja, aku pasti akan meminta bantuan apalagi setelah mendengar banyak cerita soal Pak Alastair.” Dia tertawa kecil.
Mereka tertawa renyah dan kembali berbicara seputar pekerjaan kantor mereka. Sementara Kanaya menjadi pendengar yang baik di antara mereka. Hingga dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet.
Toilet di lantai itu berada di ujung, yang mana toilet wanita dan pria saling bersampingan. Kanaya berjalan dengan tenang sambil sesekali membalas sapaan karyawan yang berpapasan dengannya. Tanpa Kanaya ketahui, hampir semua orang di ini sudah tahu kalau anak dari Dean Angkasa itu bekerja di sini dan mereka semua tahu seperti apa keluarga Kanaya, karena itu pula mereka bisa sangat ramah padanya.
Setelah menuntaskan urusannya di toilet, Kanaya langsung keluar dan bermaksud kembali ke kafetaria tadi. Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat Alastair keluar dari toilet juga.
Kanaya langsung mematung. Wajahnya memerah. Dia tidak memiliki pilihan lain selain tersenyum dan menganggukkan kepalanya—seperti orang bodoh, tapi ini karena dia tidak tahu harus bersikap bagaimana. “Permisi, Pak.” Dia segera membalikkan badannya dan berjalan untuk menghindari Alastair, namun belum juga lima langkah, Alastair tiba-tiba saja memanggilnya.
“Kanaya Wijaya.”
Kanaya terdiam di tempatnya. Dalam hati dia merapalkan do’a semoga Alastair tidak mengingat dirinya—walaupun sepertinya kemungkinan itu sangat kecil.
“I-iya, Pak?” Kanaya kembali membalikkan badannya dan kali ini menundukkan pandangannya karena tidak ingin tatapannya bertabrakan dengan Alastair.
“Kalau ada orang yang berbicara dengan kamu, harusnya kamu mendongak dan menatapnya.”
Sial, Alastair dan ucapan juga tatapan mengintimidasinya adalah dua hal yang sepertinya harus dihindari oleh Kanaya.
“Iya, Pak.” Kanaya akhirya mendongak karena takut dirinya semakin diintimidasi.
Alastair menatapnya sungguh dengan tatapan tajam hingga Kanaya sendiri tidak yakin kalau dia kuat untuk membalas tatapannya. “Kamu … mengingat saya?” tanya Alastair yang membuat Kanaya menengguk ludahnya gugup.
“Maksud Bapak?”
Alastair menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Kamu tahu apa maksud saya, Kanaya Wijaya.”
“I-iya. Saya mengingat Bapak.” Kanaya ingin pergi saja dari sini, atau menghilang secara tiba-tiba. Dia tidak kuat jika ditatap demikian apalagi ditanya tentang sesuatu yang memalukan.
“Apa kamu ingin mengatakan sesuatu pada saya?” tanya Alastair. Dia hanya berjaga-jaga jikalau wanita itu tidak nyaman dengan apa yang mereka lakukan waktu itu dan kini mereka harus bekerja bersama.
“Ti-tidak, Pak.”
“Jadi, kamu baik-baik saja dengan itu?”
“Iya, Pak.”
Alastair tersenyum miring. Entah kenapa sangat memuaskan baginya melihat Kanaya ketakutan padanya. “Apa kamu memberitahu orang lain soal itu?”
“Tidak.” Gila saja, bisa-bisa dia dihajar habis-habisan oleh ayahnya kalau dia memberitahu hal itu—kecuali pada Anne, yang mana tidak akan memberitahu siapapun soal yang diceritakan oleh Kanaya.
“Baguslah. Kita akan bekerja sebagai tim, apapun yang kita lakukan di luar kantor, tidak perlu dibahas di sini.”
***