Chapter 10

1145 Kata
Kanaya melirik Alastair setelah pria itu mengatakan dengan tegas bahwa mereka tidak boleh membawa-bawa apapun yang mereka lakukan dulu di lingkungan kantor. “Apa aku membuat semuanya jelas?” tanya Alastair sekali lagi yang membuat Kanaya mengangguk. “Iya, Pak.” Alastair menatap wanita di hadapannya. Sial, dia begitu mengingat setiap detik yang mereka lewati. Alastair seolah tidak menyesal telah melakukan itu dengan Kanaya. Tapi tetap saja, rasanya terlalu asing. “Kamu takut pada saya?” tanya Alastair. Kanaya menggigit bibir bawahnya. Tentu aja jika ditanya takut atau tidak, dia akan menjawab dengan sangat lantang bahwa dia benar-benar takut pada Alastair. Sepertinya tidak ada yang tidak takut pada Alastair, mengingat pria itu sungguh bisa mengintimidasi lawan bicaranya. “Kamu diam, berarti jawabannya iya.” Kanaya akhirnya tidak menjawab apapun, biarlah Alastair berpikir seperti itu karena memang itu kebenarannya. “Kanaya Wijaya,” panggil Alastair lagi dan membuat Kanaya mendongak—mau tidak mau. “Iya, Pak?” “Ada rencana pergi ke sana lagi?” Alastair tersenyum miring sambil memasukkan salah satu tangannya ke saku celananya, lalu dia berbalik, dan meninggalkan Kanaya sendirian dengan tatapan melongo. Sial. Kanaya hanya bisa menengguk ludahnya gugup ketika mendengar hal itu. Oke, sekarang, apakah Kanaya sungguh bia bertahan di ini dengan bos yang pernah menghabisskan satu malam bersama dia? *** “Ayah!” “Ayah!” Kanaya datang ke rumahnya sore itu dan langsung mencari Dean Angkasa. Dia harus meminta kejelasan atas semua ini. “Kay, kenapa?” Bukan ayahnya yang datang, melainkan ibunya yang baru saja dari taman belakang dan tergopoh-gopoh ketika mendengar seruan Kanaya. “Ayah di mana, Ma” tanya Kanaya. Raut wajahnya memang tenang, tidak terlihat panik sama sekali. Namun, ketika tadi dia berteriak memanggil ayahnya, suaranya seolah sedang ketakutan dan membuat Addy ikut panik. Melihat anaknya yang baik-baik saja, membuat Addy memutar bola matanya. “Kalau masuk rumah, sapa dulu dengan benar orang tua kamu. Jangan berteriak seperti itu!” dumel ibunya sambil mendelik ke arah Kanaya yang hanya tersenyum tidak berdosa. “Jadi, di mana Ayah?” “Di ruang kerjanya.” Addy berbalik dan tidak lagi memedulikan anaknya yang tadi sudah berhasil membuatnya ketakutan. Mendengar itu, Kanaya melangkahkan kakinya menuju ruangan ayahnya. Tanpa basa-basi atau menyapa ayahnya dulu, Kanaya langsung membuka pintunya dan bertanya, “Ayah, bagaimana bisa Ayah memasukkan aku ke kantor Alastair Adyatma?” tanya Kanaya dengan sangat lugas dan jelas. Lalu, dia langsung menyesali perbuatannya ketika ternyata ayahnya sedang menelepon seseorang sambil memunggungi dirinya. Kanaya terdiam dan menggigit bibir bawahnya. Adalah hal yang tidak sopan apa yang baru saja dia lakukan, karena siapa tahu orang yang sedang berbicara dengan ayahnya bisa mendengar apa yang tadi dia ucapkan. Ayahnya berbalik sambil mengangkat sebelah alisnya. “Apa, Kay? Ayah sedang menelepon Alastair, apa kamu ingin berbicara dengannya juga?” Kanaya mati kutu. Situasinya saat ini pas dengan satu peribahasa yang mengatakan; sudah jatuh tertimpa tangga. Matilah ia. Setelah ini, dia tidak tahu apakah dia masih memiliki keberanian untuk bertemu langsung dengan Alastair. “Ayah … hm, maaf.” Dean hanya tersenyum kecil. “Iya, Alastair, maafkan tindakan putriku. Iya, sampai bertemu lagi. Jangan lupakan ajakanku, ya. Kami menunggu kamu.” Tanpa Kanaya tahu, Dean mengundang Alastair ke acara keluarganya yang akan diadakan esok hari di kediamannya. Kanaya bisa-bisa akan memilih untuk keluar dari kantor itu dari pada berhadapan langung dengan Alastair nanti. Sial sekali dia. “Jadi, ada apa?” Dean dengan tenang duduk kembali di kursinya dan menatap anak satu-satunya itu. “Kamu tadi menanyakan sesuatu soal Alastair?” Kanaya menghela napas. Sudah terlanjur. Mau mengelak bagaimana pun, ayahnya tidak bisa ia bohongi. “Aku hanya ingin bertanya …” Kanaya mencoba menetralkan degup jantungnya. “… bagaimana bisa … bos baruku ternyata adalah Alastair Adyatma?” Kanaya baru saja sadar kalau apa yang ia ucapkan ini sangatlah bodoh. Ayahnya tidak tahu—tidak akan pernah tahu—apa yang sudah ia lakukan, secara tidak sengaja, dengan Alastair. Sehingga pasti ayahnya itu berpikir kalau apa yang ia tanyakan sekarang adalah hal yang tidak masuk akal. “Memangnya apa yang salah dengan itu? Kamu tidak suka jika bos baru kamu adalah Alastair?” Kanaya langsung terdiam dan mencoba berpikir ulang. Dia tidak boleh terlihat bodoh di depan ayahnya sendiri atau ayahnya nanti akan curiga bahwa mereka ada sesuatu. “Tidak, hanya saja … kenapa bisa Alastair?” Oke, pertanyaannya semakin bodoh dan sepertinya Kanaya harus menghentikannya di sini. “Bukankah Ayah sudah meberikan profil perusahaannya pada kamu sebelum ini, Kay? Kenapa kamu bertanya lagi?” Sial. Kanaya semakin terpojokkan. Kanaya menarik napas dalam-dalam. Dia pasrah saja. Lagipula, ayahnya tidak akan memberikan jawaban dari pertanyaannya yang sangat tidak masuk akal itu. “Tidak jadi, Ayah. Lupakan saja.” Dean mengeryitkan dahinya. “Apa ada sesuatu, Kanaya?” Kanaya menggeleng. “Tidak ada. Tapi, kenapa tadi Ayah menghubungi Alastair?” “Dia bos kamu, Kanaya. Jangan sampai karena kebiasaan memanggil langsung namanya, kamu jadi terbiasa memanggilnya seperti itu juga di kantor nanti.” Kanaya mmenghela napas. “Iya, Ayah. Jadi, kenapa?” “Ayah menanyakan bagaiman kinerja kamu di hari pertama. Kamu masuk ke sana atas dasar rekomendasi manajer yang ada di kantor Ayah. Ayah harus memastikan kalau kamu tidak membuat malu.” Dean tersenyum miring ketika dia menggoda anaknya. Kanaya hanya memutar bola matanya malas. “Aku tidak berbuat ulah. Sepertinya Ayah harus bertanya pada Alastair, dia yang berbuat ulah.” Kanaya membalikkan badannya dan meninggalkan ayahnya yang bingung dengan sikap anaknya sendiri. *** “Ayah, bagaimana bisa Ayah memasukkan aku ke kantor Alastair Adyatma?” Alastair yang sedang berbincang dengan Dean Angkasa lewat telepon, terkejut ketika mendengar seruan itu. Dia hanya bisa tersenyum miring mendengar suara Kanaya Wijaya. Akan sangat lucu ketika wanita itu tahu bahwa ayahnya sendiri sekarang sedang menelepon seseorang yang tadi ia tanyakan. “…Ayah sedang meneleponnya…” “Halo, Alastair?” Alastair yang tadi sempat tidak fokus hanya karena suara Kanaya, terkejut ketika Dean Angkasa memanggil namanya kembali. “Iya, Pak?” “…sampai jumpa…” Alastair langsung mematikan panggilan teleponnya ketika selesai berbicara dengan Dean. Dia menghela napas. Sekarang, dia tidak akan menampik apa yang dirasakannya, bahwa dia sepertinya akan sulit untuk melupakan Kanaya Wijaya. Seolah malam yang sudah mereka lewati adalah malam yang berbeda dari malam-malam ketika Alastair menghabiskan waktu dengan wanita bayaran yang sering ia sewa—walaupun hanya bisa diitung jari. Alastair memejamkan matanya, namun lagi-lagi dia kembali membayangkan Kanaya. “Sial.” Dan lagi, apa kata Dean tadi? Mengundang Alastair ke acara makan malam keluarganya? Alastair tahu sekali seperti apa keluarga Wijaya itu. Makan malam kata mereka bukanlah makan malam biasa, mungkin bisa dibilang seperti pesta kecil-kecilan untuk kalangan atas. Alastair memang belum pernah datang ke acara keluarga Wijaya, dia hanya pernah mendengar dari Sanjaya Januar—temannya yang ternyata menikahi salah satu anggota dari keluarga itu. Jika Alastair datang, ada kemungkinan dia bertemu dengan Kanaya. Jadi, haruskah ia datang? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN