Chapter 11

1142 Kata
Kanaya membaringkan badannya di ranjangnya sambil menatap langit-langit kamarnya. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Kanaya sekarang bukanlah hal yang harus dipermasalahkan. Dia hanya kebetulan saja bekerja di kantor yang sama dengan seseorang yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya, itu saja. Seharusnya bukan hal yang harus membuat dia uring-uringan, karena tidak ada yang terjadi bahkan setelah malam itu. Tapi kenapa sekarang Kanaya merasa tidak nyaman setiap berada di dekat Alastair? Seolah pria itu sedang mencoba mengintimidasinya kembali dan membuatnya mengingat lagi malam yang mereka lewati. “Ish! Kay, bisakah kamu berhenti memikirkan dia?” geram Kanaya pada dirinya sendiri. Padahal satu-satunya orang yang bisa membuatnya berhenti memikirkan Alastair sekarang adalah dirinya. Kanaya harus melakukan sesuatu agar pikirannya ini tidak sering-sering mengganggunya. Tapi masalahnya, satu-satunya solusi berasal dari dirinya. “Kanaya.” Pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka dan ibunya yang sekonyong-konyong masuk tanpa mengetuk terlebih dahulu membuat Kanaya jantungan. “Mama mengagetkan aku!” seru Kanaya sambil bangkit dari posisinya. “Ada apa?” tanya Kanaya sambil menatap ibunya dengan sebal. “Bantu Mama persiapkan acara besok.” Kanaya mengeryitkan dahinya. “Acara besok?” “Hm. Makan malam biasa.” Kanaya menghela napas. Walaupun katanya hanya makan malam biasa, tapi Kanaya sudah tahu bahwa itu bukanlah hanya makan malam. Keluarga besarnya pasti akan hadir, ditambah beberapa kerabat yang biasanya juga selalu diajak. Kanaya tidak pernah protes dengan acara keluarga besarnya. Tapi terkadang dia hanya lelah menghadapi banyak orang dalam satu waktu. “Kay,” panggil ibunya lagi yang membuat Kanaya akhirnya mengangguk. Ibunya tahu kalau Kanaya tidak begitu menyukai acara yang mengundang banyak orang terlalu sering, jadi, untuk mencegah Kanaya kabur, dia akan mengikat Kanaya. *** Kanaya mungkin pernah mengatakan kalau dia tidak nyaman berada di dekat Alastair, tapi tentu saja, hal itu tidak bisa dijadikan alasan kuat baginya mengeluarkan surat resign dan pergi dari perusahaan itu. Karena itu pula, akhirnya Kanaya berangkat ke kantornya. Sayangnya, sopir yang biasa mengantarnya tidak bisa melakukan pekerjaannya hari ini karena sakit. Ayahnya juga tidak bisa karena terburu-buru. Alhasil, Kanaya menggunakan bus dan harus berjalan kaki lumayan jauh dari halte menuju kantor barunya. Inilah nasib dari seseorang yang tidak bisa mengendarai motor atau mobil. Kanaya menghela napas. Jika sampai kantor nanti dia harus merasa tidak suka berada di dekat bosnya, maka ia harus mengingat perjuangannya untuk sampai kemari. Tin! Tin! Kanaya terlonjak ketika seseorang memberhentikan mobilnya di sampingnya yang sedang berjalan di trotoar. Ketika Kanaya menoleh, alangkah terkejutnya ia begitu tahu bahwa orang itu tak lain dan tak bukan adalah Alastair Adyatma. Padahal beberapa saat yang lalu dia mengatakan pada dirinya sendiri untuk— “Butuh tumpangan?” Alastair sudah membuka jendela mobilnya sedari tadi dan ketika menawari hal itu pada Kanaya, dia tersenyum kecil. Sial, tolong selamatkan Kanaya dan jantungnya yang semakin tidak aman ini. “Kanaya Wijaya?” Kanaya langsung tergagap. “Oh … hm, tidak apa, Pak.” Kanaya menggeleng sambil tersenyum layaknya orang bodoh. Kanaya kini yakin bahwa Alastair pasti sudah tahu kalau dirinya sekarang gugup bukan main. Satu fakta yang menyebalkan yang baru saja Kanaya sadari adalah; Alastair suka ketika dia berhasil membuatnya gugup. Hal itu membuat dirinya tergoda untuk membuat Kanaya seperti itu. “Naiklah. Saya akan mengantar kamu,” ujar Alastair sambil keluar dari mobilnya dan berputar untuk membukakan pintu di sisi lain. “Ayo.” Alastair sudah membuka pintunya dan Kanaya masih mematung di tempatnya. Sial, dia tidak mau gemetar di pagi hari seperti ini. Melihat sepertinya Alastair tidak menerima tolakan, akhirnya Kanaya masuk ke mobil itu dengan jantung yang berdegup begitu kencang. Alastair dan pesonanya memang tidak bisa terelakkan, lebih parah lagi ketika Kanaya selalu ingat bahwa mereka dulu sempat menghabiskan satu malam bersama. “Kamu biasa berangkat jalan kaki?” tanya Alastair ketika sudah berada di sampingnya dan melajukan mobilnya. “Tidak, Pak. Biasanya diantar.” “Hari ini kenapa tidak diantar?” Alastair sesekali melirik Kanaya dan bisa dilihat dengan jelas kalau Kanaya memang tidak nyaman di sampingnya. Ketika pertemuan ketiga mereka di kantor kemarin, Alastair mencoba untuk memastikan apakah Kanaya memang gugup atau tidak, dan dia akhirnya tahu kalau dirinya memang menakutkan bagi Kanaya. “Tidak, sopir saya sakit.” Kanaya sedari tadi menundukkan kepalanya. Tidak berani mendongak apalagi menatap Alastair. Pertanyaan-pertanyaan ringan dari Alastair seolah pertanyaan berat yang mampu membuatnya mati kutu. “Oh, begitu.” Kanaya mengangguk. Sementara Alastair meliriknya kembali. “Saya tidak tahu kalau anak dari Tuan Dean sangat pemalu.” Alastair mencoba membuka topik pembicaraan lagi. Rasanya kurang jika dia harus diam saja selama perjalanan ke kantor. “Saya tidak pemalu.” Kanaya sedetik kemudian langsung sadar atas apa yang ia ucapkan yang sepertinya mampu membuat Alastair berpikir yang tidak-tidak. “Hm, maksud saya, bukan seperti yang Bapak pikirkan—” “Memangnya apa yang saya pikirkan, Kanaya?” Kanaya langsung terdiam. Entah kenapa dia seperti selalu mengatakan hal-hal bodoh atau melakukan sesuatu yang bisa membuat dirinya sendiri malu ketika dia berada di samping Alastair. Sepertinya Kanaya harus membuat alarm untuk dirinya sendiri agar tidak bertindak bodoh di hadapan Alastair. “Tidak, Pak.” Kanaya mengucapkannya dengan nada yang sangat rendah. Dia kembali menundukkan kepalanya seolah dia telah melakukan hal yang salah. “Tentu saja kamu tidak pemalu, tidak ada orang pemalu yang datang ke klub dan flirtingi ke pengunjung lain.” Kanaya terkejut ketika Alastair malah membahas waktu yang mereka habiskan di klub itu. Padahal Kanaya berpikir mungkin Alastair sudah melupakan hal itu—mengingat laki-laki bisa tidur dengan siapa saja dan melupakannya dalam sekejap mata. “Hm … Pak Alastair,” panggilnya yang tidak menggubris ucapan Alastair sebelumnya. “Iya?” “Saya ingin minta maaf soal kejadian itu. Saya tidak pernah tahu kalau kita akan sekantor dan membuat kejadian itu begitu teringat.” Kanaya sendiri sebenarnya tidak ada niatan untuk meminta maaf, karena mereka melakukannya atas dasar sama-sama suka—walaupun Kanaya seidkit mabuk malam itu, tapi dia juga sadar atas apa yang ia lakukan—tapi entah kenapa, rasanya ada yang kurang jika sekarang dia tidak minta maaf. Alastair juga terkejut mendegar permintaan maaf dari wanita itu. Ini kali pertama dia mendengar seseorang meminta maaf—seorang wanita—karena sudah menghabiskan satu malam bersamanya. Kanaya Wijaya berhasil membuat Alastair merasa seberengek itu. “Saya-lah yang mengkhawatirkan kamu tidak nyaman di kantor karena itu.” Kanaya kali ini memberanikan diri untuk mendongak dan menatap Alastair. “Apa?” “Kamu terlihat takut dan tidak suka dengan saya—” “Itu hanya asumsi Bapak.” Kanaya tersenyum canggung. Siapa pula yang tidak canggung jika berada di posisi Kanaya sekarang? “Tapi, saya tidak ingin hal itu membuat kamu ingin cepat-cepat resign dari kantor saya. Jika ada sesuatu yang bisa saya lakukan untuk membuat kamu lebih nyaman, tolong beritahu saja.” Kanaya terdiam. Apa yang tadi dia dengar adalah sesuatu yang sepertinya nyaris keluar dari bibir Alastair. Dan juga, kenapa jantungnya berdegup sangat cepat sekarang? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN