Chapter 12

1196 Kata
Kanaya turun dari mobil Alastair setelah berada di depan lobi kantor. “Terima kasih, Pak.” Kanaya menundukkan sedikit badannya pada Alastair yang masih ada di dalam mobil. Melihat itu, Alastair hanya mengangguk kecil dan mengemudikan mobilnya kembali ke area parkir. “Kanaya!” Kanaya menolehkan kepalanya pada seseorang yang memanggilnya, yang ternyata itu adalah Cassandra. “Hai,” sapa Kanaya dengan ramah sambil tersenyum. “Kamu baru datang dengan siapa?” Cassandra menanyakan hal itu dan membuat Kanaya terdiam sesaat. Apabila dia mengatakan bahwa dia baru saja diantar oleh Alastair, secara tidak sengaja, apakah itu akan baik-baik saja? Kanaya takut kalau mereka berpikir macam-macam. “Sendiri,” ujar Kanaya. Cari aman. Dari pada nanti banyak gosip yang tidak mengenakan hanya karena dia dan Alastair datang bersama—iya, Kanaya se-overthinking itu. Cassandra hanya mangut-mangut. Mereka berjalan ke lift bersamaan, yang ternyata lift cukup penuh pagi itu. “Sepertinya kamu harus terbiasa berdesak-desakan di lift kantor ini.” Cassandra bergurau sambil tertawa kecil. Kanaya menanggapinya dengan senyumannya. “Aku sudah terbiasa.” Ketika pintu lift akan tertutup, seseorang tiba-tiba menahannya dan orang itu membuat karyawan yang berada di sana terkejut bukan main. Tak lain dan tak bukan, orang yang baru masuk itu adalah Alastair Adyatma. Iya, Alastair. Pria yang tadi mengantar Kanaya dan sekarang membuatnya mati kutu karena harus berdekatan lagi dengannya. Posisi Kanaya berada di tengah-tengah antara Alastair dan Cassandra, sedikit saja Kanaya bergerak, mungkin dia akan bersentuhan dengan Alastair. Kini, dia harus merutuki lift sempit ini. “Pak.” Cassandra menyapa Alastair dengan santainya. Sepertinya Cassandra memang tidak pernah terpengaruh dengan tatapan intimidasi dari Alastair. Alastair menoleh padanya dan tersenyum singkat. Lalu, kembali hening. Rasanya Kanaya ingin mempercepat lift ini karena dia tidak ingin berlama-lama dekat dengan Alastair. Tanpa Kanaya tahu, Alastair mencuri-curi pandang pada Kanaya. Dia menahan senyumannya ketika melihat wajah gugup dalam diam wanita itu. Alastair tidak percaya kalau wanita di sampingnya adalah wanita yang sama dengan yang ia temui di klub waktu itu. Bagaimana mungkin wanita yang mudah gugup dan sedikit pemalu ini adalah wanita yang sama dengan yang menghabiskan malam dengannya? Sial, mengingatnya membuat Alastair … kembali menginginkan malam itu. Tidak, dia tidak bermaksud untuk menarik Kanaya kembali ke ranjangnya—dia tidak seberengsek itu. Dia tidak akan memaksa Kanaya jika wanita itu tidak mau. Tapi masalahnya, pikirannya tidak bisa menghindar dari Kanaya. Dan tentu saja, Alastair tidak menyukai pikirannya saat ini. Ketika lift berdenting dan perlahan semua orang keluar dari sana, Kanaya melangkahkan kakinya lebih dulu dari pada Alastair. Tak dia sangka kalau punggung tangannya akan bersentuhan lembut dengan punggung tangan dari Alastair. Kanaya terhentak. Namun dia diam saja, tidak berani menolehkan kepalanya pada Alastair. Dia hanya bisa menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. “Kamu tidak apa?” tanya Cassandra begitu melihat Kanaya tiba-tiba saja terlihat canggung sendiri. “Hm?” Kanaya menolehkan kepalanya pada Cassandra dan baru sadar kalau tingkahnya ini bisa membuat Cassandra curiga. “Tidak apa-apa,” ujar Kanaya sambil menyunggingkan senyumannya. Kanaya kembali menghela napas. Sebelum dia membalikkan badannya untuk pergi ke kubikelnya, terlebih dahulu dia menoleh pada Alastair yang sudah menjauh darinya. Pria itu melenggang santai, seolah tidak merasakan apa yang dirasakan oleh Kanaya. Beberapa detik mematung di posisi yang sama, hingga Alastair membalikkan badannya dan tatapan mereka bertemu. Kanaya bisa bersumpah kalau dia melihat Alastair tersenyum padanya. Sangat tipis—namun bisa ia lihat dengan jelas. *** “Kanaya, meeting.” Kanaya tidak pernah sesibuk ini di kantornya yang dulu. Dia baru saja mendudukkan bokongnya di kursi kerjanya setelah dia bertemu dengan karyawan divisi lain untuk membicarakan sponsor program terbaru dari perusahaan mereka, dan beberapa detik kemudian, salah satu temannya memberitahu kalau mereka ada meeting. Kanaya ingin mengeluh, tapi dia tidak boleh lupa diri kalau dia masih karyawan baru di sini. “Baik.” Dia menjawab sambil mengambil lagi laptop juga buku catatannya untuk meeting kali ini. Mungkin timing dia ketika masuk ke perusahaan ini sedikit tidak tepat, karena mereka sedang merencanakan proyek baru yang sudah akan berjalan, sementara Kanaya yang belum mengetahui apa-apa harus menyesuaikan dirinya dengan rekan-rekan kerjanya. Membuatnya sedikit kerepotan. Karena baru mengetahui jadwal rapat hari ini, Kanaya akhirnya terlambat. Di mana rekan-rekan kerjanya sudah berkumpul dan menyisakan Kanaya yang terlambat. Dia melirik Cassandra yang sudah ada di sana terlebih dahulu, yang mana Cassandra hanya tersenyum iba pada Kanaya—karena dia tahu Alastair tidak suka orang yang terlambat. “Maaf, Pak.” Kanaya menundukkan badannya sedikit pada Alastair yang kini menatapnya tajam. “Terlambat kenapa?” tanya Alastair. Kanaya lupa kalau Alastair adalah orang yang sama dengan yang menumpanginya tadi pagi—karena walaupun Alastair tetap bisa mengintimidasinya, pria itu terlihat lebih menakutkan sekarang. “Tadi saya bertemu dengan karyawan di divisi lain, Pak. Membahas program baru.” Kanaya ingin mati saja sekarang—bukan bermaksud melebih-lebihkan, tapi sungguh Alastair kini benar-benar membuatnya gugup bukan main. “Saya tidak suka karyawan yang terlambat. Lain kali, jika kamu seperti ini lagi, lebih baik kamu tidak ikut meeting dengan saya.” Alastair mendelik sementara Kanaya hanya menganggukkan kepalanya lagi. Semua karyawan di ruangan itu sudah pernah berada di posisi Kanaya, dan mereka sudah tahu bagaimana rasanya dimarahi oleh Alastair di depan semua orang. Karena itu pula mereka tidak ada yang tega untuk menertawai Kanaya sekarang. “Maaf, Pak.” Kanaya melangkahkan kakinya untuk menarik kursi di pojok meja rapat. Namun, gerakannya terhenti ketika Alastair berbicara lagi padanya. “Kamu di sini.” Alastair menunjuk kursi yang kosong yang paling dekat dengannya. Itu adalah kursi Alastair sendiri—yang mana tidak pernah ada orang yang berani menduduki kursi tersebut di ruangan rapat ini. Sungguh, tidak ada. Karena mereka selalu takut dengan kemarahan Alastair dan takut tindakan itu akan menyinggung bos mereka yang kejam. Jadi, adalah hal yang wajar jika sebagian dari mereka terkejut bukan main saat melihat Alastair menawari kursi itu pada Kanaya. “Maaf, Pak?” “Kamu duduk di sini.” Alastair mengulanginya dengan sabar. Kanaya semakin ingin menangis. Iya, dia tahu ini hanya masalah keterlambatan dan juga masalah posisi duduknya saat rapat, tapi masalahnya, yang sedang ia hadapi sekaranga Adalah Alastair Adyatma. Semua orang akan ketakutan jika berada di sampingnya. “Baik, Pak.” Tapi lagi-lagi, Kanaya tidak bisa melawan Alastair sedikit pun. Rapat dimulai cukup lama. Bahkan sampai hampir jam kerja. Lag-lagi Alastair yang memimpin, dan itu menbuat Kanaya ketar-ketir sendiri dalam hatinya. “… kita akan mempersiapkan anggaran dana yang sedikit tinggi dalam proyek ini ….” Kanaya mencatat tiap hal yang ia kira penting, sama seperti rekan-rekan kerjanya yang lain. Hingga akhirnya dia merasa kehausan, sehingga menghentikan dulu kegiatan menulisnya, menyimpan pulpen yang ia gunakan di ujung bukunya. Sayangnya, ketika dia mengambil botol minum yang sudah disediakan, pulpennya terjatuh. “… proyek ini akan melibatkan banyak pihak. Jadi, make sure untuk mencari tim eksternal yang bagus …” Kanaya terkejut, ketika akan mengambil pulpennya kembali, tangannya bersentuhan dengan tangan Alastair yang ternyata sedang mengambil puplen itu. “… saya tidak mau ada kesalahan…” Alastair berbicara sedari tadi, sambil mengambil pulpen milik Kanaya dengan tangan yang hampir kembali bersentuhan dengan wanita itu, dan mengejutkan banyak orang di sana. “Kalian mengerti?” Kanaya masih syok. “Kanaya Wijaya?” “Hm?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN