“Hm?”
Kanaya baru tersadar kalau sedari tadi dia terlalu fokus pada Alastair yang mengambil pulpennya yang terjatuh, hingga tidak menyadari kalau sebagian orang di ruangan ini sedang memerhatikannya dan kebingungan kenapa Kanaya diam saja. “Oh iya dimengerti, Pak.” Kanaya melanjutkan dengan mengaiss-ngais harga diri yang mungkin sudah tidak bisa diselamatkan di hadapan Alastair.
Diam-diam, Alastair tersenyum kecil. “Baik, meeting bisa diakhiri di sini.”
Satu per satu karyawan membereskan barang-baranng mereka dan mulai keluar dari ruangan rapat setelah memberi salam pada Alastair yang hanya dijawab anggukan oleh pria itu. Kanaya juga melakukan hal yang sama, namun bedanya dia keluar paling terakhir.
“Kanaya Wijaya.” Alastair memanggilnya dengan nada yang sangat lembut, nyaris berbisik. Membuat Kanaya mennghentikan langkahnya yang akan keluar dari ruangan itu.
“Iya, Pak?” Kanaya bingung. Apakah Alastair tidak melihat secanggung apa dirinya sekarang tiap kali dipanggil olehnya? Bukankah itu berarti Alastair seharusnya tidak usah memanggilnya tiap seperti ini?
Alastair mendekatkan dirinya pada Kanaya. Langkahnya begitu lambat, namun berhasil membuat Kanaya was-was sendiri di tempatnya. “Saya akan datang ke acara kamu.”
“Acara saya?” Kanaya membeo. Dia belum sadar acara apa yang dimaksud Alastair.
“Ayah kamu mengundang saya ke sana.”
Kanaya mengeryitkan dahinya. Mungkin ini yang dimaksud oleh Cassandra kalau sebagian karyawan Alastair kadang tidak tahu apa yang dimaksud oleh Alastair. Pria ini terlalu sulit diajak berbicara ketika berada di luar jam kantor seperti ini. Sehingga terkadang lawan bicaranya harus menebak-nebak apa maksud dirinya.
“Oh, acara itu.” Kanaya baru saja ingat kalau ibu dan ayahnya akan mengadakan acara makan malam dengan keluarga besar. Oh tunggu—apakah itu berarti, Alastair dan dirinya akan bertemu kembali?!
Oke. Kanaya panik sekarang.
“Saya bisa mengantar kamu pulang sekarang, sekaligus saya menghadiri acara itu.” Alastair tidak tahu kenapa, tapi setiap kali dia melihat wajah panik dari Kanaya, dia selalu suka untuk menggoda wanita itu lagi dan lagi. Wajah Kanaya seperti buku yang terbuka di hadapannya, mudah sekali untuk dibaca.
Kanaya langsung menggeleng kuat. “Tidak, Pak. Tidak perlu. Saya bisa menyuruh orang lain untuk menjemput saya.” Bisa-bisa Kanaya mati sendiri di mobil Alastair karena canggung. Sudah cukup kejadian di lift dan saat rapat tadi membuatnya mati kutu karena tingkah Alastair yang begitu tidak baik untuk kinerja jantungnya.
“Kamu tidak mau?”
Kanaya melirik Alastair, dan dia baru saja sadar kalau ucapannya tadi bisa saja membuat Alastair berpikir bahwa dia tidak menyukainya. Kanaya langsung menggeleng. “Bukan begitu maksud saya, Pak. Saya hanya takut merepotkan saja.”
Alastair tahu kalau dirinya sudah berhasil memojokkan Kanaya. “Kalau tidak merepotkan, berarti kamu mau?”
Kanaya menggigit bibir bawahnya. Dia memilih untuk tidak menjawab dari pada nanti salah kata lagi seperti tadi.
“I take that as a yes.”
Kanaya melotot. Dia baru saja akan menyanggah ucapan Alastair, namun pria itu sudah melangkahkan kakinya pergi dari ruangan tersebut. Sial, kalau beginni caranya, Kanaya tidak yakin kalau dia bisa bertahan bahkan selama satu bulan di sini.
***
Oke, Kanaya harus memprotes ayahnya setelah ini karena sudah mengundang Alastair Adyatma ke acara makan malam keluarganya ini. Sore ini, Kanaya kembali berakhir di mobil Alastair bersama pria yang paling ingin Kanaya hindari lebih dari apapun.
Mereka tidak berbicara setelah pulang dari kantor itu. Kanaya bukan bermaksud tidak sopan, tapi dia hanya menunggu Alastair untuk membuka topik obrolan bagi mereka. Namun sayangnya, Alastair sepertinya lebih memilih menikmati kemacetan di hadapan mereka.
“Kanaya Wijaya.” Baru saja dipikirkan oleh Kanaya, tiba-tiba saja pria ini memanggilnya. Kanaya mulai curiga kalau Alastair sebenarnya bisa membaca pikiran orang.
“I-iya, Pak?”
“Bagaimana perasaan kamu di kantor baru?” tanya Alastair dengan santai. Oke, ini kali pertama Kanaya mengetahui kalau Alastair juga terkadang—mungkin bisa dibilang—perhatian pada karyawannya. Jadi, Alastair tidak se-killer apa yang dipikirkan olehnya.
“Baik-baik saja, Pak.”
“Nyaman?”
Kanayaa ingin sekali mengatakan kalau orang yang membuatnya tidak nyaman adalah Alastair sendiri. Tapi dia juga tidak memiliki keberanian untuk mengatakan itu langsung. “Iya.”
“Tapi kamu kelihatan tidak nyaman di samping saya.” Alastair tersenyum miring ketika mengatakan itu. Dia hapal betul bahwa apa yang tadi dikatakannya mampu membuat Kanaya syok, dan benar saja, wanita itu terlihat terkejut ketika Alastair mengatakannya.
“Tidak—saya … saya hanya merasa. .... canggung.” Kanaya tidak tahu lagi apa kata-kata yang pantas untuk menggambarkan suasana di antara mereka.
“Canggung karena saya?”
Kanaya menghela napas. Ingin sekali dia berteriak pada Alastair bahwa sikapnya sungguh membuat dia tidak nyaman.
“Tidak.”
Alastair tahu kalau jawaban Kanaya itu berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. “Saya tidak tahu kalau saya yang membuat kamu canggung atau karena apa yang sudah kita lakukan dulu, tapi semoga lama-lama kamu tidak merasa demikian.”
Kanaya merasakan wajahnya memanas ketika Alastair kembali menyinggung soal apa yang mereka lakukan dulu. Tak bisa dipungkiri kalau Kanaya juga … sedikit tidak menyesal karena sudah melakukannya. Pikirannya terkadang masih tidak bisa melepaskan memori akan malam itu. “Boleh saya tanya satu hal, Pak?”
“Silakan.”
Kanaya sudah kepalang tanggung. Dia aka menanyakan sesuatu yang akan membuat dirinya sendiri malu. Tapi masalahnya, Alastair duluan yang menyinggung ini, jadi Kanaya tidak sepenuhnya salah. “Malam itu… were you using a safety?”
Alastair sedikit terkejut dengan pertanyaan Kanaya. Tentu saja dia memakai pengaman dulu. Sudah dibilang Alastair tidak bisa bertanggung jawab atas apa yang terjadi jika saja dia tidak menggunakan pengaman. Dia memang berengsek, tapi ada alasan kuat dibalik itu semua.
“Tentu.”
Kanaya dapat menghembuskan napasnya lega. Ini semua karena Anne yang menanyakan hal itu padanya sehingga membuat Kanaya kepikiran.
“Saya sempat khawatir akan hal itu.”
“Tidak perlu, saya selalu menggunakannya.” Alastair melirik Kanaya dan dia baru saja menyadari kalau wajah wanita itu sudah semerah kepiting rebus. Alastair ingin tertawa—mungkin Kanaya berpikir kalau pembicaraan ini sangat tabu baginya, tapi untuk Alastair, ini semua tidaklah tabu.
“Selalu? Bapak sering melakukannya?” Kanaya menanyakan itu secara refleks, tidak ada maksud apapun. Namun, sedetik kemudian dia baru saja tersadar kalau pertanyaannya itu bisa saja membuat Alastair beranggapan yang tidak-tidak. “Ah, maaf. Saya tidak bermaksu—”
“Tidak sesering itu, saya pria dewasa. Wajar, bukan? Tapi saya tidak pernah melakukannya dengan wanita yang bukan berprofesi sebagai itu.” Alastair mengucapkan kata-kata yang sedikit ambigu, namun untung saja Kanaya masih bisa mengerti apa maksudnya.
“Oh, baiklah.” Kanaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kamu yang pertama.” Alastair mengucapkan dengan nada rendah.
“Iya?” Kanaya menoleh dengan mata bulat yang indahnya menatap Alastair dengan bingung.
“Kamu yang pertama melakukan itu dengan saya—kamu mengerti, kan?” Alastair tersenyum tipis. “And I can’t get enough of that.”
Kanaya ingin kabur, tapi sayangnya jantungnya juga berdegup begitu kencang hingga dia takut kalau Alastair bisa mendengarnya. Sial. Pria itu baru saja flirting padanya?! Seseorang, tolong Kanaya!
***