Chapter 14

1159 Kata
Alastair memarkirkan mobilnya di tempat parkir depan rumah yang ada di rumah Kanaya. Benar apa dugaan Kanaya, acara makan malam yang diadakann oleh keluarganya sekarang bukanlah makan malam biasa. Sebenarnya, dia baik-baik saja dengan ini semua, namun untuk yang kali ini, dia sedikit keberatan karena kehadiran Alastair. Iya, Alastair. Bertemu di kantor sudah membuatnya cukup gugul dan ingin melarikann diri tiap kali bertemu dengan pria itu. Kanaya tidak butuh satu momen di luar pekerjaannya dengan Alastair. “Sore, Kay,” sapa sopir rumahnya yang membukakan pintu untuknya. Pria paruh baya itu sudah bersama dengan keluarganya sejak Kanaya masih kecil, tak heran kenapa Kanaya begitu dekat hingga sang sopir tidak perlu memanggilnya dengan sapaan formal. “Ayah sudah di rumah, Pak?” tanya Kanaya dengan senyuman ramahnya. “Semuanya sudah ada di dalam,” jawab pria itu yang dibalas anggukan oleh Kanaya. Kanaya melangkahkan kakinya menuju gerbang utama rumahnya, diikuti oleh Alastair yang ada di sampingnya. Kanaya bisa merasakan jantungnya kembali berdegup kencang begitu dia menyadari kalau Alastair ada di sampingnya. “Silakan, Pak.” Karena Alastair diam saja dan tidak juga membuka pintu rumah itu, akhirnya Kanaya yang berinisiatif untuk membukakannya. “Terima kasih,” jawabnya singkat. Benar saja, suasana di dalam rumahnya ramai dengan keluarga besarnya. “Sudah ramai,” komentar Kanaya pada Alastair—dia merasa seperti orang yang bodoh karena berbicara seperti itu. Pasalnya, dia yakin kalau Alastair juga sudah tahu kalau rumahnya sudah banyak orang. Alastair hanya meliriknya tanpa mengatakan apapun. Membuat Kanaya memutuskan untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Sialan, dia lupa kalau Alastair sangat dingin. “Kay, sudah pulang?” Ibunya yang pertama kali menyadari kedatangannya dan langsung menghampirinya. Kanaya mengangguk. Dia hanya tersenyum kecil pada ibunya karena sangking gugupnya ia di samping Alastair. “Ma ….” Kanaya melirik Alastair. Memberikan kode pada ibunya bahwa Alastair ada di sampingnya. Ibunya mungkin bisa menyelamatkan Kanaya dari suasana canggung ini. “Oh iya, Alastair Adyatma, ya?” Addy sendiri pernah bertemu dengan Alastair dua kali. Pertama ketika dia dan suaminya berkunjung ke kantor Alastair, dan kedua di pernikahan Anne. Tapi mereka tidak dekat, hanya mengenal baik. “Senang bertemu dengan Anda, Tante.” Addy tersenyum dan menjabat tangan Alastair yang terulur padanya. “Bagaimana kabar kamu?” Seperti yang Kanaya kira pada awalnya; ibunya selalu bisa membuat suasana menjadi lebih santai. “Baik, Tante.” Tapi ternyata, Alastair bahkan bersikap dingin juga pada ibu Kanaya sendiri. Addy mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimana pekerjaan kamu di kantor? Oh iya, Kay tidak membuat kamu kerepotan, bukan?” Kanaya menghela napas dan memutar bola matanya malas. “Mama, aku tidak—” “Baik-baik saja. Sedikit nakal, tapi tidak apa-apa, Tante.” Tunggu. Tunggu sebentar. Kanaya langsung melotot ke arah Alastair. Bosnya ini bisa menjadi sangat menakutkan, menyebalkan, dan bisa juga sangat-sangat menyebalkan. Sepertinya Kanaya harus banyak beradaptasi dengan banyaknya kepribadian Alastair. Addy tertawa kecil. “Dia memang nakal dari kecil, tapi semoga dia tidak pernah membuat kamu kesal.” Nakal definisi Alastair dan Addy berbeda. Kanaya tahu itu. Sekali Alastair membongkar semuanya, tamatlah Kanaya. “Mama.” Kanaya bersuara. Dia harus menghentikan Alastair sebelum semuanya menjadi lebih mencurigakan. “Iya?” “Apa sudah dimulai makan malamnya?” Kanaya melirik keluarga besarnya yang berkumpul di meja makan besar di ruangan lain. “Oh iya, ayo bergabung.” Addy terlebih dahulu mempersilakan Kanaya dan Alastair pergi ke ruang makan. Setelah membelakagi Addy, Kanaya melirik Alastair dan menatapnya tajam. Sementara pria itu hanya tersenyum miring. *** Ada beberapa kepribadian Alastair yang disadari oleh Kanaya. Pria itu menjadi monster menakutkan di hadapan para karyawannya, sedikit flirty ketika bertemu dengan Kanaya di satu ruanngan berdua, dan menjadi tipe menantu idaman semua mertua di hadapan keluarga besarnya. Ini bukan berarti Kanaya menaruh hati pada pria itu—tidak! Tidak akan pernah dan tidak akan mau Kanaya memberikan hatinya pada pria itu—tapi, berdasarkan penglihatannya pada setiap orang di ruang makan besar itu, mereka sepertinya memang benar-benar menyukai Alastair. “Kay.” Kanaya yang sedari tadi memerhatikan Alastair, menolehkan kepalanya pada Anne yang ada di sampingnya. “Apa?” “Kamu tahu, dulu orang tuaku juga menatap Sanjaya seperti Tante Addy dan Om Dean sekarang.” Anne tersenyum miring setelah mengatakannya. Dia tidak percaya kalau dunia Kanaya akan sesempit itu. Bagaimana bisa Kanaya tidur dengan bosnya sendiri? Seolah tidak ada pria lain yang bisa secara kebetulan bertemu. Pria lain selain Alastair. “Hentikan lelucon kamu, Anne.” Anne tertawa kecil. “Jika Sydney tahu, dia juga akan mendukung kamu dengan Alastair.” Anne pernah membuat taruhan dengan suaminya, soal Kanaya dan Alastair—apakah mereka akan bersatu atau tidak. Anne tidak menyangka kalau taruhan itu mungkin akan menjadi nyata. “Anne!” Kanaya berdesi sebal. “Bisakah kamu diam?” Anne terkikik geli. “… kabar Ayahmu baik-baik saja, Alastair? …” Kanaya kembali memusatka perhatiannya pada Alastair. Entah kenapa obrolan Alastair dengan kedua oranng tuanya lebih menarik dari pada pembicaraan lain di meja makan. “… iya …” “… titip salam padaya, ya, Alastair.” Alastair kembali mengangguk. Kanaya tidak tahu kenapa, tapi dia melihat ekspresi yang berbeda saat Alastair membicarakan ayahnya. Kanaya tidak ingin memikirkannya karena dia tahu itu bukanlah urusannya. Dia kembali fokus pada makanannya. Hingga dia merasa dia ingin buang air kecil dan memutuskan untuk pergi sebentar. “Aku permisi dulu.” Kanaya menuntaskan urusannya di kamar mandi yang ada di lantai satu. Kamar mandi yang dekat dengan taman. Lalu, ketika dia sudah selesai, dia tidak langsung pergi ke ruang makan. Terlebih dahulu dia pergi ke taman dan duduk di bangku taman itu. Dia sedang tidak ingin untuk bergabung dulu. “Kay.” Kanaya mengeryitkan dahinya dan membalikkan badannya ketika mendengar sapaan itu. Dia terheran-heran ketika ternyata orang itu adalah Alastair. “Pak Alastair?” Alastair tersenyum kecil. “Boleh saya duduk di sini?” Satu keajaiban dunia ketika Alastair berbicara dengannya apalagi izin terlebih dahulu untuk duduk di sebelahnya. Kanaya mengangguk kecil. Walaupun hati kecilnya ingin berkata; tolong enyah saja dan cepatlah pulang! “Kenapa Bapak di sini?” Kanaya berpikir kalau Alastair akan menghabiskan waktu di rumahnya ini untuk berbicara tentang bisnis dengan ayahnya. Sementara sekarang, ayahnya dan keluarganya yang lain masih ada di ruang keluarga, dan Alastair memilih untuk di sini. “Ingin di sini saja, tidak boleh?” Kanaya menghela napas dan dia menganggukkan kepalanya. “Tidak apa-apa, Pak.” Kanaya yang awalnya ingin bersantai sendiri, akhirnya harus merelakan ketenangannya karena dia tidak bisa benar-benar tenang di samping Alastair. Mereka duduk dalam diam. Kanaya sendiri merutuki kenapa Alastair tidak mau pergi saja. Hingga ketika dia menoleh ke arah Alastair, tatapan mereka bertemu. Kanaya tidak sadar kalau Alastair sedari tadi menatapnya—begitu dalam dan intens. “Pak?” “Saya tidak bisa berhenti memikirkan malam itu.” Alastair berujar tiba-tiba. “Apa?” “Malam itu.” Pikiran Kanaya langsung terarah ke malam mereka bersama. Dia kembali mengumpat dalam hati. Sialan, Alastair. “Can we do it one more time? Properly.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN