Kejutan

1622 Kata
Reza berhenti di depan rumah sakit, dia datang untuk memberi kejutan pada Melissa. Sudah beberapa kali dia menelepon, tapi tak ada jawaban. Dia pun memutuskan untuk menyusul Melissa ke ruangannya. Beberapa pasien masih mengantri di depan ruangan Melissa. Reza pun duduk, namun, dia bangkit dan mendekat ke tempat pendaftaran. Dia menganjurkan KTP untuk mendaftar. “Maaf, Pak, kita udah nggak menerima pasien.” Seketika Reza mengernyit. “Tolong saya, Sus, besok saya nggak tahu bisa ke sini apa nggak. Sudah dari kemarin d**a saya rasanya sesak sekali.”  “Bapak punya asma?”  Reza menggelengkan kepala. “Tolong, Sus, rasanya sakit banget, bahkan saya yakin kalau ini lebih dari sakit asma.” Suster Irna meneguk liurnya memperhatikan wajah malang pria di depannya. “Kalau Bapak tidak punya asma, kenapa bisa yakin kalau rasanya lebih sakit dari asma?” “Saya nggak tahu, Sus, tapi saya yakin kalau sudah bertemu dengan Dokter Melisa, saya akan merasa lebih baik.” Satu alis Suster Irna terangkat. Pria di depannya itu seperti sedang menggombal, tapi melihat wajah pucatnya, dia tidak enak untuk menolak sebelum memberi tahu Melissa terlebih dahulu. “Sebentar saya tanya Dokter Melissa dulu.” Reza mengangguk mengizinkan.  Suster Irna mengetuk pintu ruangan Melissa, kemudian dia menyembulkan kepala. “Pasien tinggal tiga orang, Dok, tapi ada yang baru datang, katanya sudah dua hari dadanya sesak.” Melissa menatap arlojinya, jarum panjang menunjukkan angka lima. Dia kemudian melirik ke jendela yang hampir hujan. “Ya udah nggak apa-apa.” Dia tidak tega jika harus membiarkan satu pasiennya pulang dan memintanya kembali lagi besok.  Suster Irna pun kembali pada Reza dan meminta pria itu mengisi datanya di atas selembar kertas, yang menunjukkan kalau mulai hari ini dia adalah pasien Dokter Melissa.  “Silakan Bapak di timbang dulu.”  Reza manut dan naik ke atas timbangan digital motif hello kitty, Suster Irna kemudian mengisi data berat badan Reza, dia lalu mengukur tensi darahnya dan kembali mencatat. “Sus, kalau pemeriksaan di lakukan di sini, nanti di dalam saya nggak diperiksa lagi?” “Ini buat mempersingkat waktu, Pak, ‘kan banyak yang antri, jadi di dalam bapak tinggal ceritain keluhan Bapak, nanti Dokter Melissa akan memeriksa lanjutan.” Reza mengangguk-angguk. “Semua sama? Apa cuma saya?” Suster Irna tersenyum. “Semuanya, Pak.” “Syukurlah, saya kira cuma saya.”  Menunggu hingga hampir empat puluh menit lebih akhirnya Reza dipanggil dan diminta untuk langsung masuk ke ruangan Dokter Melissa sembari membawa data dirinya. Dua ketukan di pintu Reza diminta untuk langsung masuk. Melissa sedang tertunduk mengetik pesan di ponselnya. Reza berdehem. “Sore, Dok.” “Sor--” Melissa tercenung begitu mengangkat wajahnya. Dia segera bangkit dan mendekat pada Reza. “Kamu sakit?” tanya Melissa seraya meletakkan telapak tangan di kening Reza. Namun, Reza segera mengalihkan tangan Melissa ke dadanya.  “Yang sakit di sini, Mel.” Melissa termenung menatap suaminya itu. Sebenarnya dia juga merasakan sakit yang teramat sangat dengan keadaan seperti ini. Namun, Melissa terlalu jago untuk menunjukkan kalau semua tampak baik-baik saja.  Reza tersenyum, dia kemudian merengkuh Melissa ke pelukannya. “Aku kangen kamu.” Dia menggoyang-goyangkan tubuhnya dan tubuh Melissa. Membuat wanita itu tersenyum lebar. Namun, sesaat kemudian mereka terkesiap dan segera mengurai pelukan saat Suster Irna masuk. Suster Irna tergemap. “Maaf, Dok.”  “Sus, ini Reza, calon suami saya,” ucap Melissa, dia tidak ingin Suster Irna berpikir yang tidak-tidak dengan apa yang dilihatnya, dan juga kenapa Melissa menyebut kalau Reza calon suaminya, itu karena seisi rumah sakit belum tahu tentang pernikahan mereka.  Reza mengulurkan tangan pada Suster Irna untuk mengajak berkenalan dan suster Irna pun menyambut uluran tangan Reza. “Nggak usah lama-lama.” Melissa melepaskan kedua tangan itu. “Nanti suami Suster Irna marah.” Reza tersenyum sembari mengedikkan alis, dia tahu padahal Melissa yang cemburu. “Kamu posesif,” godanya sembari menyenggol bahu Melissa.  “Perasaan kamu aja.” Suster Irna tersenyum. “Jadi, ini gimana, Dok? Nggak ada lagi pasien?” tanya Suster Irna. “Nggak ada. Datanya tolong disimpan ya, Sus.”  “Iya, Dok.” Melissa kemudian merapikan meja, dia memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu berjalan mengiringi Reza. Reza menoleh dan menautkan jemarinya. “Aku kangen kamu, Mel.” Melissa tersenyum  sembari merapatkan tubuh ke Reza karena ada orang lewat dari arah berlawanan.  “Hari ini aku mau habisin waktu sama kamu, besok hari Minggu.” “Jadi, ceritanya, kita malam mingguan?” “Yap. Biar kayak remaja.” Reza mengayun tangan Melissa. Saat berdiri di depan mobil Reza, Melissa mematung. “Kenapa?” tanya Reza.  “Aku bawa mobil.” “Besok minta Guntur buat ambil,” ucap Reza seraya membukakan pintu mobil. Melissa masuk dan duduk, sedangkan Reza harus memutari mobil untuk bisa sampai di belakang kemudi dan mobil siap melesat entah ke mana, Melissa tidak bertanya, dia percaya Reza akan membawanya ke tempat yang indah.  Mobil terus melaju ditemani alunan musik merdu. Namun, Melissa malah sibuk membalas beberapa pesan di ponselnya, hingga tidak sadar saat Reza berhenti dan memintanya untuk turun. “Kita ….” Melissa melongok ke luar jendela, “mau ke mana?” “Temanku.” Reza turun usai membuka sabuk pengaman. Melissa pun ikut turun, mereka kini berdiri di depan sebuah rumah. “Aku berharap dia bisa bantu kita.” “Bantu apa?” tanya Melissa sembari mengerutkan kening.  “Nanti juga kamu tahu,” ucap Reza seraya menekan bell.  Seorang wanita yang tengah hamil tua berdiri di depannya usai membuka pintu. “Cari Mas Doni ya?” Reza mengangguk.  “Silakan masuk. Kebetulan dia baru pulang dan sekarang lagi di kamar mandi, di tunggu aja sembari duduk, nanti saya bikinkan teh.” “Nggak usah repot-repot,” ucap Melissa.  “Nggak repot, Mel, kita, ‘kan tamu,” ucap Reza. “Makasih ya, Mbak Erin.” “Iya, sama-sama.” Wanita hamil itu kemudian pergi ke dapur menyiapkan dua gelas teh manis hangat untuk tamunya.  Sementara Reza dan Melissa menunggu di ruang tamu. “Doni ini sahabatnya almarhum kakakku,” tutur Reza, dia kemudian mendekat pada telinga Melissa. “Sekaligus mantan pacar Tania.” “Hah?” Melissa memekik. Namun, Reza segera menutup mulut wanita itu. “Nggak usah berisik, Sayang, kamu ngagetin orang.” “Maaf. Kaget,” uap Melissa seraya mengelus dada Erin datang membawakan air dan meletakkannya di meja. “Mas Doni lagi di baju, maaf menunggu agak lama.” “Nggak kok, santai aja.” Erin menatap Melissa. “Ini--” “Saya Melissa.” “Dia istri saya,” ucap Reza.   “Oh, kok nggak ngundang?” Kening Erin mengernyit.  “Baru mau ngundang,” tukas Reza.  “Begitu?” “Iya.” “Alhamdulillah, selamat ya.” Seorang pria berperawakan tinggi datang dan bergabung dengan mereka. “Hey, Za, udah lama?” Doni mengulurkan tangan dan langsung disambut Reza, dia kemudian mengulurkannya pada Melissa dan langsung mendapat sambutan dari wanita berambut panjang itu.  “Belum sih, yang lama itu aku nunggu dia selesai praktek dulu.” “Oh. Jadi, gimana? Kapan mau mulai?” tanya Doni. “Udah dapet tanggal yang pas?” “Tunggu, mulai apa?” tanya Melissa celingukkan.  Reza tersenyum seraya menggenggam tangan Melissa. Namun, dia tidak menjawab pertanyaan wanita itu dan malah menjawab pertanyaan Doni. “Dua Minggu dari sekarang bisa, nggak?” “Cepat banget, yakin?” “Kecil-kecilan aja, ini kayak syukuran aja gitu yang datang paling temanku, teman-teman Melissa sama kolega ayahnya.” “Kolega ayahmu?” “Nggak.” Reza menggelengkan kepala.  “Beneran kita cuma dikasih waktu dua minggu?” tanya Doni memastikan. “Za, aku marah nih.” Melissa menarik tangannya dari genggaman Reza. “Kalian ngomongin apa sih, kamu punya rencana tapi aku kok nggak tahu?” Reza tersenyum lembut dan menatap Melissa. “Ini kejutannya, Mel, kita akan adakan pesta syukuran untuk pernikahan kita.” “Serius?” Kedua mata Melissa berbinar, dia langsung memeluk Reza. “Makasih.” Dan Melissa berpikir kalau Ranti sudah merestui pernikahannya dengan Reza. “Jadi, Doni dan istrinya ini punya team WO. Doni fotografer sekaligus terima cetak undangan dan hebatnya ibu hamil ini punya team keren-keren yang akan urus semuanya mulai dari dekorasi, catering, sampai make-up, semuanya, pokoknya kita tahu beres.”   “Waw keren.” Erin tersenyum. Erin kemudian mengeluarkan beberapa lembar kertas dibungkus map biru. “Kalian isi dulu di sini.” Melissa meraih map tersebut dan mulai membacanya.  “Mel, kamu nggak apa-apa, ‘kan kalau nggak semewah yang kamu harapkan?” “Nggak apa-apa, Za, yang penting orang tahu, kita udah menikah.” Reza mengangguk. Dia benar-benar bersyukur mempunyai Melissa yang benar-benar bisa mengerti dengan kondisinya.  Doni yang entah kapan dia meninggalkan ruang tamu, tiba-tiba kembali dengan album yang berisi contoh-contoh kertas undangan. “Ini kalian pilih mau yang mana dan mau bikin berapa.” Melissa menatap Reza. “Aku seratus kamu seratus, Za, cukup?” “Aku nggak akan sebanyak itu, Mel, tapi nggak apa-apa, kita pesan aja dua ratus.” Melissa merogoh ponsel dan menunjukkan gambar waktu dia dan Reza ada di Kalimantan Barat menikmati senja di dekat sungai. Gambar tersebut diambil menggunakan kameranya dan meminta Ubud untuk membidiknya.  “Sederhana, tapi ini memang kenangan kita.” Reza tersenyum seraya mengangguk, dia setuju dengan permintaan Melissa untuk memasukkan foto itu ke dalam kartu undangannya.  “Oke. Contoh undangannya mau yang mana?”  “Ini.” Melissa dan Reza menunjuk satu gambar yang sama.  “Wah selera kalian sama, menghemat waktu untuk tidak berdebat seperti kebanyakan pasangan lainnya,” ucap Erin yang langsung mendapat anggukan dari Doni.  “Kebetulan kita memang nggak suka yang ribet,” ucap Melissa.  “Syukurlah,” sahut Doni. Dia memang sudah mendengar kronologisnya dari Reza. Sejak kematian Rega, Doni dan Reza menjadi dekat, bahkan Doni siap membantu jika Reza membutuhkannya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN