Selang tiga hari dari pertemuannya dengan Tania tempo hari. Reza datang bersama dengan Melissa ke rumah ibunya. Jika sewaktu di kafe di depan Tania, Melissa bisa berkoar, tidak dengan di sini, dia terlalu takut akan melukai Ranti, walau bagaimana pun dia menghargai wanita itu sebagai ibu dari suaminya, meski saat hendak menjabat tangan, dengan kasar Ranti menepis tangannya.
Ranti menatap Reza dengan tatapan sinis, apalagi dengan tatapannya pada Melissa. “Gimana kabar Mama? Sehat?” tanya Reza.
“Apa peduli kamu?” tanya Ranti sinis sembari duduk dengan kasar. “Kamu datang ke sini mau apa? Masih ingat mama?”
Reza berdehem. “Kami datang ke sini, mau bertemu Mama, Melissa pengen ngobrol banyak.”
Tentu Ranti akan menolak, berhadapan saja enggan, apalagi sampai harus mengobrol seperti yang dikatakan Reza. “Ngobrol apa, Mama nggak tertarik.”
Reza menoleh pada Melissa. “Ma, kalau aku ngajak Mama jalan-jalan Mama mau nggak?”
“Boleh, tapi nggak sama dia.”
Reza menghela napas. Ah sungguh dia kehilangan ide untuk masuk ke hati Ranti, entah harus bagaimana.
“Nggak bisa, Ma, Melissa sekarang istriku. Kami sudah menikah secara agama dan cepat atau lambat, kami akan segera mendaftarkan pernikahan kami,” ucap Reza sembari menggenggam tangan Melissa, “dengan atau tanpa restu Mama,” sambungnya.
“Apa?” Kedua alis Ranti bertaut. “Beraninya kamu menikah tanpa restu mama, memang kamu pikir kamu akan bahagia, hm?”
Melissa masih bersabar, dia terus beristighfar agar setan tak ikut hadir dan menguasai dirinya.
“Mama, jodoh itu ditangan Tuhan, bukan di tangan Mama, aku berhak bahagia dengan orang pilihanku sendiri,” ucap Reza pelan dan tetap sabar, karena sekali sentak saja, setan menang.
Ranti mendecih seraya membuang muka. Ingin sekali Melissa cakar wajahnya. Namun, dia menepis hal tidak baik itu, karena sekali saja dia mengiyakan yang terbesit dalam hatinya, iblis dan turunannya akan membantunya. Melissa memang tidak ingin bersekutu dengan dengan makhluk itu.
“Apa susahnya Mama menerima Melissa? Dia baik, dia cantik, keluarganya jelas, jika mama mempertimbangkan bibit, bebet dan bobot, tentu mama tidak akan kecewa,” ungkap Reza sekali lagi tanpa emosi dan terkesan lembut.
Melissa tersenyum bangga. Namun, perlahan senyum itu memudar. Ketika Ranti mulai berbicara, “Kamu tidak tahu rasanya hidup tanpa mama. Kamu akan menyesal dengan pilihanmu.”
Reza tersenyum. “Aku Reza, Ma, bukan Rega, puluhan tahun aku hidup tanpa mama, tanpa papa, jangan bilang mama lupa sudah mengirimku ke Swedia!”
Ranti tergemap. Reza telah bersikap sombong pada ibunya sendiri, tentu Ranti menganggap itu adalah pengaruh Melissa.
“Maaf sebelumnya Tante, kalau Tante nggak suka saya karena saya masih ada kekerabatan dengan Tante Indah, itu bukan salah saya, kalau Tante mau, Tante bisa salahkan Tuhan,” ucap Melissa enteng.
Kedua mata Ranti membola. Dia kemudian menggelengkan kepala, heran karena ada manusia seperti Melissa, entah apa yang disukai Reza dari wanita itu.
“Jadi, kamu datang ke sini buat mengeroyok mama?” tuduh Ranti.
“Kita ke sini mau bicara baik-baik dari hati ke hati, Tante,” sahut Melissa.
“Saya tidak berbicara sama kamu, lebih baik kamu diam!” sentak Ranti pada Melissa.
Reza hendak melakukan pembelaan, namun, Melissa langsung mencegahnya dengan menahan tangan Reza seraya menggelengkan kepala. Mungkin cinta terberat dalam sejarah adalah cinta tanpa restu, setelah cinta bertepuk sebelah tangan.
Melissa tergemap. Dia bukan seorang wanita seperti Tania yang diam saat diinjak-injak, itu yang dia lihat dari Tania setelah mendengar soal Tania dan setelah dua kali bertemu. Dia sebenarnya ingin berontak, tapi sekali lagi, dia mencoba sabar dengan membuang egonya.
"Mama yakin ingin tetap seperti ini?" tanya Reza.
"Maksud kamu apa? Kamu akan tetap membiarkan mama sendiri?"
"Bukan, aku akan temani masa tua mama, tapi bersama Melissa."
"Nggak! Mama mending sendiri, kalau kamu bilang puluhan tahun kamu merasa dibuang, biarlah mama menanggung seumur hidup rasa terbuang seperti yang kamu rasakan."
Melissa tercenung. Dia merasa ada getir yang diucapkan Ranti, memang mungkin Reza juga salah karena selalu mengungkit kejadian yang sudah berlalu, padahal seharusnya Reza tahu, orang tuanya tak benar-benar membuangnya, koneksi pasti masih terhubung di antara mereka.
"Nggak, Reza harus tetap disini, menjaga mamanya, biar aku yang mengalah," ucap Melissa. "Tante, aku minta maaf jika pernah melakukan kesalahan, maaf jika pernah menyakiti, maaf karena terlahir dan masih ada hubungan darah dengan tante Indah dan Bianca, sejujurnya Mel tidak ingin terlibat, tapi Tuhan berkata lain, Tuhanku yakin aku bisa melewati ini," tambah Melissa panjang lebar.
Reza tergemap. Dia menatap Melissa yang tiba-tiba bangkit. "Aku mau bicara," ucap Melissa. Reza kemudian mengikuti Melissa ke luar, sementara Ranti tetap di dalam dan dia menguping di balik jendela.
"Kenapa kamu harus ngomong kayak gitu?" tuntut Reza. "Kamu penting, Mel."
"Mama kamu lebih penting, dia yang melahirkan kamu, pengorbanannya tak akan terbayarkan dengan miliaran tetes keringat kamu, Za." Melissa meraih tangan Reza. "Jangan jadi durhaka."
Reza menggeleng. "Mel."
"Buang ego kamu, surga kamu ada di telapak kaki ibumu, Za."
Reza tercenung. Air matanya jatuh menyusuri pipi. Begitupun dengan Melissa. “Mungkin kita harus saling merelakan untuk sesaat dan memiliki untuk selamanya."
Melissa menarik napas dalam-dalam. "Aku cinta sama kamu, maka aku rela melepasmu demi mama kamu. Aku nggak ingin murka Tuhan dekat dengan rumah tangga kita, aku hanya mau keberkahan di setiap detik dalam kebersamaan kita."
Tubuh Melissa tiba-tiba terkoyak saat Reza mendekapnya. "Sampai kapan, Mel?"
"Sampai cinta berpihak pada kita, Za."
Reza mengurai pelukanya. Dia menggenggam kedua pipi Melissa, lalu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir wanita itu, lembut, perlahan dan dalam. Kedua mata Melissa terpejam, namun air mata tetap turun dari kedua sudut matanya.
Ranti segera berpaling dan jantungnya mencelus. Reza melepaskan wanita itu. "Sesekali aku akan datang sebagai suami kamu."
Melissa mengangguk. "Kamu masih punya ibu yang harus kamu rawat dan mintai ridhanya. Karena apapun yang kamu lakukan tanpa ridha mama kamu, semua terasa percuma, Tuhan tidak suka."
Reza kembali menjatuhkan air mata, bersama Melissa dia tak malu menangis dalam pelukan wanita itu. Bersama Melissa ada damai yang dia rindukan, bersama Melissa dia ingin menghabiskan sisa umurnya, tapi demi cintanya pada wanita itu, dia rela melepaskannya untuk sesaat dan saling memiliki selamanya.
"Aku pamit," ucap Melissa getir.
Reza mengangguk dan kembali mengecup kening Melissa. "Take care of yourself for me," bisik Reza sembari menarik tangan Melissa dan meletakkan di dadanya.
Melissa mengangguk. Bibirnya tersungging getir. Dia meraih tangan Reza dan mengecupnya. "Aku pulang." Perlahan Melissa mundur, kemudian berbalik dan pergi meninggalkan Reza. Sudah dia pikirkan ini sejak semalam, dia memang tak bisa memiliki Reza dengan cara seperti ini.
Reza berjalan gontai masuk ke dalam rumah, dia tertunduk lesu menyeka air matanya. Tiba-tiba Ranti menyahut dari belakang. "Kamu jangan cengeng! Masih banyak wanita yang sama seperti Melissa, bahkan lebih baik dari Melissa."
Reza tak menjawab. Entahlah apakah ibunya ingin dia menjadi seperti ayahnya yang bermain serong? Reza segera pergi ke kamarnya daripada harus mendengar ocehan tak jelas dari ibunya itu, dia tak ingin melanjutkan dan memperpanjang perdebatan itu lagi. Melissa sudah mengalah demi ibunya, harusnya ibunya itu mengerti dan sedikit melunak, bukan malah berkata demikian.
Reza kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang. Pandangannya menyapu Langit-langit kamarnya sendiri. Ya, seperti kata ibunya, dia memang cengeng.
Sementara Melissa menangis di dalam mobil, keningnya menyatu dengan roda kemudi. Dia berharap apa yang dia putuskan tidak membuat siapapun merasa terdzolimi. Dia kemudian mengangkat wajahnya, lalu memutar kemudi dan berlalu dari halaman rumah Raza.
Dalam perjalanan pulang, Melissa tak banyak mengingat kejadian barusan, dia hanya ingat tujuannya untuk pulang memeluk Biru. Kini dia sudah sampai di depan rumah. Nana dan Guntur sedang bermain dengan anak itu. Dia langsung turun dan berlari ke arah Biru, lalu mendekapnya hangat.
Nana dan Guntur tercenung. Pasalnya Melissa memeluk Biru sembari berurai air mata. Melissa segera menyeka pipinya, lalu dia menyerahkan Biru kembali pada Nana. “Jagain dia, saya mau mandi. Nanti malam saya harus ke rumah sakit.”
Melissa kemudian pergi setelah Nana mangangguk. Dia terus ke kamar dan langsung ke kamar mandi. Mengisi bathup hingga penuh, menuangkan sabun, lalu naik ke dalamnya tanpa melepas pakaian.
Melissa bukan perempuan lemah, dia selalu berhasil menipu dunia, dia kuat dan tidak pernah secengeng ini. Baginya selain laki-laki itu banyak, hidupnya juga bisa tetap berjalan tanpa laki-laki, sayangnya tidak dengan sekarang. Reza sudah terlalu banyak masuk ke dalam hatinya, terlalu banyak masuk ke dalam hidupnya, bahkan seluruhnya dia sudah serahkan pada Reza yang telah menjadi suaminya.
Melissa bangkit dan turun dari bathup, dia menanggalkan pakaian, membersihkan tubuhnya, lalu mengganti pakaian dengan yang kering dan segera bersiap untuk ke rumah sakit. Memang Melissa harus sibuk dan bertemu orang banyak untuk bisa lupa dengan masalahnya karena dengan begitu dia tak ada waktu untuk merenungi atau meratapi semua kesedihannya.