Aminin aja

1403 Kata
Melissa menyugar rambut, lalu menegakkan tubuhnya, sedetik kemudian dia membungkuk dan mendekatkan kepala ke wajah Reza. Entah apa maksudnya, Reza sampai harus mundur sedikit untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.  “Dia keguguran, Za, tapi aku curiga kalau dia itu melakukan aborsi. Ada luka nggak wajar di bagian tubuhnya.” Reza mengangguk. “Dia udah sadar belum?” “Udah.” “Kamu tanya alamat rumahnya, atau keluarga yang bisa dihubungi gitu?” Melissa tercenung menatap manik coklat terang Reza, entah dia baru menyadari kalau mata pria di depannya ini begitu memukau.  “Mel?” “Belum, Za, belum.” Reza mengerutkan dahi. “Belum? Apa yang belum?” Melissa menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Tadi kamu nanya apa?” Reza mendengkus. “Alamat rumahnya atau keluarga yang bisa dihubungi gitu?” “Iya, aku belum sempat nanya, dia masih syok. Kami masih melakukan pemeriksaan dengan kondisi jiwanya, Za.” “Ada trauma?” tebak Reza.  “Bisa jadi.”  Reza menghela napas. “Kamu mau bantu aku untuk mengungkap kasus ini, kan, Mel?” “Tentu, Za,” ucap Melissa semangat, entah kenapa dia menjadi seantusias ini, setelah kejadian semalam, kalimat Reza memang terus menghantuinya. Dia menjadi lebih lunak dari sebelumnya. “Apa yang bisa aku bantu?” “Kamu ajukan beberapa pertanyaan tentang keluarganya. Siapa, di mana, kenapa, di mana dia melakukan aborsi. Semacam itulah kayak ngobrol biasa aja.” “Siap.” Melissa menegakkan tubuhnya sembari memberi hormat pada Reza.  Reza menyunggingkan bibir. Ada yang aneh dengan wanita di depannya itu, tak nampak kalau dia tengah patah hati lantaran baru putus dengan pacarnya, bahkan sangat berbanding terbalik dengan Melissa yang semalam.  “Aku harus mendatangi tempat kejadian, siapa tahu memang tempat prakteknya tidak jauh dari gadis itu berada.” “Aku ikut!”  Reza menatap Melissa, sebenarnya dia sudah tidak merasakan debaran normal setiap berada dekat Melissa. Namun, dia masih bisa menahannya. Reza segera mengangguk. Menolak Melissa bukan pilihan, wanita itu pasti marah dan kembali bermuka muram seperti seperti semalam.  Melissa tampak antusias. Dia segera merapikan meja dan mengambil tasnya. “Mobilku di simpan di sini aja, nanti kamu anterin aku ke sini lagi.” “Ada shift malam?” Melissa menggelengkan kepala seraya bangkit. “Nggak ada sih.” Reza ikut bangkit, mereka kemudian ke luar dari ruangan Melissa. Pria berseragam polisi dengan wanita berjas dokter, berjalan bersamaan di koridor rumah sakit.  “Aku suka kamu pakai baju navy kayak gini,” ucap Reza tanpa menoleh dan terus menatap lurus ke depan.  Melissa tersipu pipinya merah merona, wanita itu semakin memasukkan kedua tangannya ke saku jas. Baju navy yang Melissa pakai berjenis long sleeve bodycon, sehingga membuat lekuk tubuhnya tercetak sempurna.  “Aku lihat kamu pakai baju merah terang terus bosen, Mel, aku merasa terintimidasi.” Melissa semakin melebarkan senyumnya, kalimat Reza seperti panah yang menahan kakinya untuk tetap berada di tempat. Sungguh dia merasa kalau Reza bersikap tak biasa. Tak pernah dia memuji sampai sejujur ini, atau itu hanya perasaannya saja? “Mel?” Reza menoleh ke belakang. “Nggak jadi ikut?” tanya Reza seraya berbalik dan mendekat pada wanita itu. “Jadi,” sahut Melissa.  Dari jauh, Ibram memperhatikan mereka, dia semakin curiga kalau Reza dan Melissa memang ada main di belakangnya, apalagi saat dia melihat Reza menarik dan menggandengan tangan Melissa. “Keburu macet,” ucap Reza.  Melissa membasahi tenggorokannya. Dia menatap tangannya yang digandeng Reza, jantungnya terasa seperti ingin meledak. Dia segera menarik tangannya itu sebelum debaran di balik dadanya benar-benar membuat jantungnya pecah. “Aku bisa sendiri,” ucap Melissa sembari mempercepat langkahnya. Kening Reza mengerut. “Cewek aneh.” Tentu saja Reza merasa seperti itu, tadi Melissa menunjukkan ingin diperhatikan, namun, saat Reza mencoba memperhatikan wanita itu malah bersikap dingin seperti sekarang.  Mobil melesat meninggalkan kawasan rumah sakit. Reza tetap fokus pada kemudinya tanpa menoleh pada Melissa yang sedang memainkan ponsel. Tak ada kerjaan, Melissa hanya sedang mencoba menenangkan dirinya dengan melihat-lihat foto Birru. Namun, saat gambar menunjukkan foto Reza yang menggendong bayi itu, jantungnya kembali berdebar, membuat Melissa malu merasakan debaran itu, hingga dengan segera dia matikan ponsel itu dan memasukkannya ke dalam tas dengan kasar.  “Mel, kamu kenapa?” tanya Reza.  Melissa terkesiap. Dia lupa kalau dia tengah bersama dengan pria dalam foto.  Reza semakin merasa aneh dengan tingkah Melissa. “Kenapa kaget? Perasaan aku nggak ngagetin.” Melissa menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. “Kamu jangan banyak nanya nyetir aja,” titah Melissa sembari membuang muka dan lebih memilih melihat ke luar jendela. Entah apa yang terjadi dengan dirinya saat ini. Dari pada memperhatikan keanehan Melissa, Reza lebih memilih menceritakan soal kejadian pagi tadi saat dia menemukan siswa SMA itu.  “Kamu udah tanya siapa namanya?” “Siapa?” tanya Melissa malas. “Siswa SMA itu?” “Oh, Bianca.” “Namanya bagus,” ucap Reza seraya tersenyum. Melissa menoleh cepat dan menatap Reza.  “Kamu kenapa?” tanya Melissa.  “Kenapa apanya, aku bilang namanya bagus, ada yang salah?” Kedua tangan Reza tetap sibuk menyetir, hanya saja mata sesekali melirik Melissa.  Melissa menarik napas dan membuangnya kasar. “Usianya baru tujuh belas tahun,” ujarnya ketus. “Sayang sekali masih terlalu muda,” komentar Reza “Emang kenapa kamu suka?” Reza menoleh sekilas, tapi dia tidak menjawab pertanyaan Melissa, dia malah kembali menyetir. “Kalau memperistri anak SMA boleh nggak, Mel?” tanya Reza iseng. “Nggak!” “Pak Aria aja istri mudanya 18 tahun. Mungkin boleh ya, Mel.” “Arrggghhh ….” Melissa memutar bola matanya kesal.  Reza tersenyum, dia senang sekali menggoda Melissa dengan membuat wanita itu cemburu dan kesal ketika teringat Marinka. “Dia bukan pelakor, Mel. Kamu nggak perlu benci dia sampai ke tulang,” ungkap Reza.  “Astaga!” “Ya, memang dia istri kedua, tapi ini bukan sepenuhnya salah dia, Mel.” “Belain aja terus.” “Iya, belain aja terus,” goda Reza.  Melissa mengepalkan kedua tangannya, rahangnya menguat. Ingin sekali dia jambak rambut ikal pria itu, lalu membuat dashboard mengecup keningnya, semoga dengan begitu Reza sadar kalau apa yang baru saja dia katakan tidak baik dan tidak ramah di telinga Melissa. Reza menepikan mobilnya. “Aku nemuin dia di sana, Mel.” Melissa menarik napas, dia kemudian membuka pintu dan turun dari mobil meninggalkan jas dokternya di dalam. Reza sudah lebih dulu ke luar dari mobil, Melissa mengedarkan pandangan. Jelas ini hanya jalan biasa yang sering dilalui orang, lalu dari mana gadis itu datang? “Mungkin nggak sih, kalau dia dibuang?” tanya Melissa.  Reza mengedarkan pandangan. Tak sengaja seorang penjual kopi keliling lewat ke depan mereka. “Mas, maaf, dari kapan Mas ada di sini?” “Dari siang, Pak.” “Biasa jualan kemana aja?” “Sekitaran sini aja, Pak,” ucap pria itu sembari menunjuk ke sekitar jalan. “Nggak bisa jauh-jauh, soalnya saya nitipin anak saya ke ibu warung itu.” Pria itu menunjuk warung mie ayam yang tak jauh dari tempat Reza berdiri. “Dia tetangga saya.” “Loh, istri Mas ke mana?” tanya Melissa. “Meninggal, Bu.” “Anaknya usia berapa?” “Tiga tahun.” “Ya ampun,” komentar Melissa prihatin. Dia kemudian merogoh tas dan mengambil tiga lembar uang seratus ribu rupiah. “Buat bapak,” ucapnya.  Penjual kopi itu tercenung melihat uang di tangan Melissa yang dianjurkan kepadanya.  “Ambil, Pak, rejeki si kecil,” ucap Melissa.  Pria itu ikut menatap Reza yang tersenyum seraya mengangguk. “Terima kasih, Bu, semoga Ibu sama Bapak sehat dan bahagia selalu.”  “Aamiin,” ucap Melissa.   “Rezekinya dimudahkan.”  “Aamiin.”  “Rumah tangganya diberkahi, langgeng dan dikaruniai anak yang sholeh dan sholehah.” Reza tersenyum. “Aamiin.” Dia segera membungkam mulut Melissa sebelum wanita itu menyanggah doa terakhir bapak penjual kopi tersebut.  “Kalau begitu saya permisi.”  “Hati-hati, Pak,” ucap Reza.  “Kenapa kamu aminin?” “Ya, doa yang baik-baik itu aminin aja, Mel.” Melissa mendengkus, padahal hatinya sedang tersenyum. Reza mengedarkan pandangan. “Aku antar kamu balik ke rumah sakit,” ucap Reza. “Loh, kenapa?” “Biar aku yang cari info sendiri, kamu hanya perlu awasi Bianca aja.”  “Sekarang kamu mau ke mana?”  “Antar kamu pulang.” Reza berjalan ke dekat pintu mobil.  Melissa mengikuti pria itu. “Antar aku ke rumah sakit.” Reza mengangguk. Dia kemudian masuk begitupun dengan Melissa. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN