“Ibram?” Melissa tergemap melihat Ibram baru saja ke luar dari kamar rawat Bianca. Namun, dia pura-pura tidak tahu dan memilih bersembunyi di balik dinding. Setelah Ibram pergi dia segera masuk ke kamar rawat Bianca. “Selamat malam,” sapa Melissa.
“Gimana sekarang sudah lebih baik?” tanya Melissa sembari mengecek infus. “Ada yang sakit selain perut?”
Bianca menggelengkan kepala.
“Cowok tadi siapa, pacar?”
Bianca tak menjawab pertanyaan Melissa.
Melissa menarik napas. “Aku akan kasih tahu mama kamu,” ucap Melissa seraya duduk. “Dia pasti sedih kalau tahu ini?”
“Jangan kasih tahu mama,” ucap Bianca sembari meraih tangan Melissa.
Melissa mengernyit. “Papa? Dia juga pasti kecewa sama kamu.”
“Aku mau pulang?” rajuk Bianca. “Di sini bukan tempat aku.”
“Aku tahu. Siapa yang mau lama-lama nginep di rumah sakit, tapi, ‘kan kamu mengalami pendarahan dan baru selesai kuret, pasti sakit, ‘kan, gimana kalau kamu pingsan lagi?”
“Tapi aku nggak mau di sini.”
“Besok, besok aku anter kamu pulang.”
Bianca tercenung. Melissa kemudian bangkit. “Sekarang kamu istirahat.”
Melissa berjalan keluar dari kamar rawat Bianca, dia kemudian menelepon Reza. “Za, aku nggak bisa pulang, aku titip Biru sama kamu.”
[Kenapa?]
“Aku takut Bianca pulang tanpa sepengetahuan petugas rumah sakit, soalnya dia bersikukuh minta pulang, jadi, aku akan jagain dia di sini, besok baru aku antar dia pulang.”
[Kamu hati-hati, Mel.]
“Iya.” Melissa kemudian menutup panggilan. Dia mengetik pesan pada orang yang sama. [Tadi, aku lihat Ibram ke luar dari kamar rawat Bianca.] Setelah pesan itu terkirim pada Reza, Melissa memasukkan ponsel ke saku jasnya.
***
“Kamu mau ke mana lagi, baru juga sampai?” tanya Ranti yang sedang duduk di depan televisi.
“Ada perlu, Ma, kayaknya aku nggak pulang lagi,” ucap Reza seraya mendekat dan mengecup puncak kepala ibunya. Reza memang menjadi lebih manis pada Ranti, setelah wanita yang melahirkannya itu berjanji untuk tidak akan memaksa Reza menikahi Shafiyya.
“Kamu kayak papa aja, pulang bentar, berangkat lagi, abis itu nggak pulang-pulang.”
“Papa ke mana?”
Ranti menggelengkan kepala. “Mama nggak tahu.”
Reza memutari kursi dan duduk di sebelah ibunya. Dia menggenggam tangan Ranti sembari tersenyum.
“Kamu lagi jatuh cinta?” tebak Ranti.
Reza mengangguk.
“Bawa ke sini, mama pengen kenal,” ucap Ranti lembut.
“Dia agak susah ditaklukin, Ma. Nanti, suatu saat aku bawa dia ke Mama.” Reza kemudian bangkit. “Aku berangkat ya.”
“Hati-hati, Za.”
“Iya, Ma.” Reza kemudian menoleh. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Reza berlari ke luar menuju mobilnya. Dalam sekejap saja dia sudah membawa pergi mobilnya menerjang gelap. Musik ringan Hivi menemani perjalanannya.
Seketika Reza tercenung, kalimat dalam lagu Siapkah Kau 'Tuk Jatuh Cinta Lagi? Seperti berhasil menyindir dirinya, hingga dia tidak sadar ada seorang perempuan yang sedang menyebrang jalan. Reza segera menginjak rem, wanita itu tampak kebingungan dan malah berhenti di depan mobilnya. Reza pun segera turun dan mendekat pada wanita itu.
“Ibu kenapa?”
Tiba-tiba suara tangis wanita itu membuat Reza merasa prihatin. “Anak saya belum pulang. Saya bingung harus cari ke mana.”
“Ibu punya fotonya?”
Ibu itu menggelengkan kepala dengan cepat.
Reza menghela napas. “Kapan anak ibu hilang.”
“Dari kemarin.”
“Ya udah ibu ikut saya.” Reza mengajak ibu tersebut untuk masuk ke dalam mobil. Namun, ibu itu malah mematung di depan pintu yang sudah terbuka, saya polisi, Bu, saya bisa bantu ibu.
Ibu itu percaya dan masuk ke dalam mobil.
“Nama anak ibu siapa?” tanya Reza seraya memasang sabuk pengaman.
“Namanya Ratna. Tadi ibu ke rumah temannya tapi nggak ada, malah temannya juga udah dua hari nggak pulang, ibu takut.”
Reza memutar roda kemudi. “Ibu berdoa semoga anak ibu baik-baik aja.”
Reza terus memutar roda kemudi sembari tetap mengajukan beberapa pertanyaan. “Anak ibu masih sekolah.”
“Iya, kelas dua SMA.”
“Apa sudah biasa nggak pulang?”
“Biasanya pulang, meski telat dia tetap pulang.”
“Telat itu jam berapa?” Reza menoleh sekilas.
“Jam sebelas.”
“Apa?” Reza menginjak rem dengan tiba-tiba sehingga mengejutkan ibu itu. “Sudah sampai, Bu.” Reza membuka sabuk pengaman dan segera turun. Begitupun dengan wanita tersebut, dia mengantar sampai ke dalam dan mempertemukannya dengan Iptu Bima Putra.
“Silakan ibu buat laporan. Bim, dibantu ya, aku ada urusan lain,” ucap Reza.
“Siap, Za,” sahut Iptu Bima. Reza kemudian berlalu dan pergi dari kantor polisi. Dia sudah janji untuk menjaga Biru malam ini. Namun, sebelumnya, Reza membuka pesan yang dikirim Melissa terlebih dahulu.
[Tadi, aku lihat Ibram ke luar dari kamar rawat Bianca.]
[Kamu tanya nggak dia mau apa?]
[Nggak.] jawab Melissa singkat.
[Aku baru mau ketemu Biru. Tadi di jalan ketemu ibu yang nyariin anaknya.]
[Jangan-jangan ibunya Bianca.]
[Nama anaknya Ratna.] Reza memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket, dia tidak menunggu Melissa memberi pesan balasan. Reza masuk ke dalam dan mobil dan segera menancap gas.
Sampai di depan rumah Pram Gunadi, Reza segera turun dari mobil, dia segera mengetuk pintu dan langsung dibukakan oleh Bi Narsih, tampak Biru sedang digendong oleh seorang perempuan.
Reza tercenung menatap wanita itu. “Dia siapa?” tanyanya pada Bi Narsih.
“Dia babysitternya Den Biru.”
“Kok Melissa nggak bilang? Kalau ada babysitter, buat apa saya ke sini?”
“Bibi permisi, Mas.”
Reza mengangguk. Dia segera mengempas bok*ng di sofa, lalu mendial nomor Melissa.
[Halo, Za?]
“Melissa cantik shaleha, kenapa kamu nggak bilang Biru punya babysitter baru, tahu gini aku nggak akan bela-belain dateng, Mel,” cerocos Reza. Entah Reza dapat dari mana kalimat panggilan yang tersemat di belakang nama Melissa itu. Yang jelas kalimat itu membuat berhasil menerbitkan senyum di wajah Melissa.
[Oh, babysitternya udah dateng ya? Itu papi yang nyariin.]
“Kalau gitu aku nggak jadi nginep. Aku pulang aja. Gendong Biru sebentar terus aku langsung balik. Aku ninggalin mamaku di rumah sendirian, Mel.”
[Iya maaf, Za.]
Reza segera mematikan sambungan telepon tersebut, dia pun langsung bangkit dan pergi ke kamar Biru. Nama kamu siapa?” tanya Reza pada gadis berusia 20 tahun itu.
“Nana, Pak.”
“Nana, saya Reza papanya Biru,” ucap Reza sembari mengambil alih Biru dari pangkuan Nana.
“Iya, Pak.”
“Mana jagoan Papa.” Reza tersenyum memperhatikan bola mata bayi itu. Dia kemudian menyatukan hidung mancungnya dengan hidung mungil Biru. “Geli ya, geli ya.” Reza menjauhkan wajahnya. “Mama kamu nyebelin, masa kamu punya suster cantik gini nggak bilang sama papa.”
Nana tersenyum malu.
“Jangan nakal, ya, papa mau pulang lagi. Soalnya nenek kamu sendirian di rumah, dia lebih penakut dari kamu.”
Nana kembali tersenyum. Reza kemudian mengembalikan Biru pada Nana. “Titip anak saya, jagain dia, kalau kerja kamu bagus, nanti saya kasih bonus.”
“Baik, Pak.”
Reza tidak sedang membual, dia memang menjanjikan itu pada Nana. “Kamu dari yayasan mana?”
“Pelita, Pak.”
“Kamu dikirim Pak Rahmat?”
“Iya, saya dari panti asuhan Pelita.”
Reza langsung mengurut dahi. Dia segera ke luar dan kembali mendial nomor Melissa.
[Kenapa lagi, Za?]
“Mel, Babysitter Biru itu dikirim sama Pak Rahmat, dia dari yayasan Pelita.”
[Hah?]
Sudah Reza duga, reaksi Melissa selalu lebih besar dari yang dia bayangkan.
[Aku pulang ah, aku takut Biru dibawa sama dia.]
“Nggak usah, kamu di sana aja, katanya mau nungguin Bianca?”
[Nggak, nggak jadi, biarin aja dia pulang. Biru lebih penting.]
“Mel, ‘kan kamu udah janji mau bantuin aku, seseorang dipegang dari janjinya loh, Mel,” ucap Reza lembut dan tenang, meski di sana wanita egois itu tampak resah.
[Iya, deh, iya.] Melissa mematikan sambungan telepon.
Reza kemudian bangkit dan kembali pulang, dia tidak bertemu dengan Pram mungkin saja ayah Melissa itu sudah tidur, mengingat ini sudah pukul sembilan.
“Bi, saya pulang, salam sama Pak Pram.”
“Baik, Mas.”
“Jangan lupa kunci pintunya,” tambah Reza di depan pintu rumah tersebut.
Bi Narsih mengangguk. Sementara Reza kembali melesat dengan mobilnya dan pulang ke rumah. Saat sudah sampai di depan rumah, dia panik karena mendengar jeritan sang ibu.
“Mama kenapa?” Reza menghambur ke dalam rumah mencari keberadaan ibunya.
“Papa kecelakaan, Za,” pekik Ranti sembari memeluk Reza.
Reza tergemap, beruntung dia mengikuti kata hatinya dan lebih memilih pulang. Ranti terus menangis. “Papa kamu di rumah sakit, kita harus segera ke sana sekarang, Za, Papa pasti butuh kita.”
Reza mengangguk, dia pun segera mengajak ibunya ke mobil dan melesat pergi menuju rumah sakit. Sungguh Reza lelah, sedari tadi ke sana ke mari mengemudi, tapi mau diapakan lagi, semoga setelah ini dia tetap sehat.
“Mama, jangan nangis terus aku jadi panik,” ucap Reza sembari menoleh ke belakang.
“Papa kamu, Za.”
“Iya, Reza tahu, tapi, kalau mama nangis terus malah bikin aku panik.”
Ranti menahan isakannya, meski berhasil meredam kesedihannya, namun keresahan tampak menguasainya.
Reza berhenti di depan rumah sakit. Dia berjalan gontai menemani ibunya yang terus saja menangis, entah kabar apa yang Ranti terima sehingga lagi-lagi dia tak kuasa menahan air mata.
Dari depan koridor rumah sakit tampak Melissa berdiri di depan ruang UGD. “Mel?”
Reza tergemap saat mendapat pelukan dari Melissa. “Aku turut berduka cita.”
“Hah?”
Melissa mengurai pelukannya. Dia kemudian menatap Ranti. “Tante yang sabar, ini sudah jalan Om.”
“Papa!” Ranti segera mendorong pintu ruang UGD dan masuk ke dalam. Tubuhnya luruh saat melihat tubuh Anton terbujur kaku tertutup kain putih. Reza segera memeluk ibunya. “Ma.”
Melissa membantu Ranti untuk berdiri. “Om tadi di anterin ambulan ke sini, dia kecelakaan sama seorang perempuan.” Berat hati Melissa memberitahu kalimat terakhir itu.
Jantung Ranti mencelus, itukah alasan Anton jarang pulang. Reza mengusap kasar wajahnya. “Sekarang gimana kondisi perempuan itu?”
“Di kamar tulipe nomor 05, Za” sahut Melissa.
Reza mengajak ibunya untuk duduk. Tiba-tiba seorang gadis terseok membawa tiang infus. “Papa?”
Sontak Ranti dan Reza menoleh ke sumber suara. Bianca mendekat dan memeluk ayahnya.
“Kamu siapa?” tanya Ranti kasar.
Bianca terus memeluk ayahnya sembari menangis. “Maafin, Bie, Pa, Bie nakal.”
Reza mengerutkan kening, dia kemudian menoleh pada Melissa yang sudah tahu semuanya. Melissa segera menarik tangan Reza untuk ke luar, namun, Ranti ternyata mengikuti Reza dan Melissa.
“Bianca itu anak Om Anton dari tante Indah. Aku minta maaf, Za, aku bohong.” Melissa mengurut keningnya. “Sebenarnya aku tahu siapa Bianca. Aku cuma--” Melissa tergemap dan mengangkat wajah saat Reza memeluknya dengan erat.
“Aku nggak peduli, Mel, aku nggak peduli dia siapa, yang aku punya sekarang itu cuma mama,” ucap Reza.
Ranti mendekat dan menarik tangan Melissa dengan kasar, agar wanita itu menjauh dari pelukan Reza. “Sekarang kamu katakan siapa dia?” pekik Ranti pada Melissa.
Melissa menarik napas, dia mencoba setenang mungkin untuk tidak terpancing emosi. “Dia, Bianca, anak om Anton dari tante Indah.”
“Indah itu siapa?”
Melissa tertunduk menyembunyikan rasa tidak sukanya. “Adik dari ayah saya, Tante.”
“Apa?” Kedua mata Ranti membola.
“Saya minta maaf, Tante, saya juga baru tahu kalau om Anton itu ternyata ayah Reza. Saya baru tahu saat Tante masuk rumah sakit.”
“Kenapa saat kamu tahu, kamu tidak beritahu saya.” Tangan Ranti hendak melayang ke pipi Melissa, namun, Reza segera menahannya.
“Ini bukan salah Melissa, Ma. Tidak ada kewajiban dia dalam hal ini untuk memberitahu kita, dia hanya tidak ingin ikut campur.”
Melissa tergemap menatap Reza yang masih menahan tangan ibunya dan membela dirinya dalam hal ini. Namun, yang dikatakan Reza memang benar, Melissa hanya tidak ingin ikut campur.
Perlahan Reza melepas tangan Ranti, ibunya itu kemudian mengempas bok*ngnya di kursi. “Kalau anaknya sudah sebesar itu, berarti papa sudah lama selingkuh dari mama, Za.”
Reza mendekat dan memeluk ibunya. Dia kemudian mengangguk. “Kenapa kamu nggak marah.”
“Percuma, Ma, papa juga udah nggak ada.”
“Mama nggak nyangka ternyata papa khianatin kita,” isak Ranti seraya menyandarkan kepala di bahu anaknya.
Reza hanya terdiam, dari dulu dia tidak begitu dekat dengan ayahnya, bahkan Reza merasa ada jurang pembatas antara dia dan ayahnya itu.
Melissa masih berdiri di depan mereka, perlahan dia berbalik dan hendak melangkah. Namun, Reza menahan tangannya. “Tetap di sini, Mel, aku butuh kamu,” ucap Reza.
Melissa tergemap, perlahan dia menoleh dan duduk di sebelah Reza. Melissa tak bicara apa-apa, begitupun dengan Reza. Ingin Reza hentikan waktu, meski sesaat saja, dia ingin kembali ke masa lalu dan mengucapkan kata yang paling berharga yang ingin ayahnya dengar. Rencana Reza untuk mengenalkan Melissa pada ayahnya sudah terbesit di hatinya, sayangnya Tuhan berkehendak lain.
“Seburuk apapun papa, dia tetap papaku, ‘kan, Ma.” Reza mencoba menerima keadaan sepahit apapun itu.
Melissa mengusap-usap bahu Reza. Dia ingin menghibur, tapi apa yang bisa dia lakukan, jika Reza hanya meminta untuk menemaninya seperti ini, selama apapun itu akan dia lakukan.
Ranti tak bisa menjawab, kesedihannya bergolak dengan amarah, selama belasan tahun dia dikhianati suaminya sendiri. Kurang apa dia selama ini?