Melissa hendak bangkit, sudah waktunya dia pulang karena jam prakteknya sudah selesai. Namun, pergerakannya tiba-tiba terhenti saat melihat Bianca sudah ada di ruangannya, datang tanpa mengetuk.
“Mau apa lagi ke sini, ‘kan udah sehat?” tanya Melissa ketus.
“Aku adik Kak Mel, kenapa Kak Mel judes gitu?” tanya Bianca sembari duduk di kursi depan meja Melissa. Dia kemudian mengambil bolpoin dan yang ada di atas meja, lalu memainkannya.
Melissa menarik napas, kemudian merebut bolpoin dari tangan Bianca dan meletakkannya di tempat yang seharusnya. “Jadi, kamu datang ke sini mau apa?”
“Aku tahu pacar Kak Mel itu Kak Reza, anak sulung papaku.” Bianca mengalihkan pembicaraan. Dia memang belum tahu tentang pernikahan Melissa dan Reza.
“Kalau cuma mau nanyain itu, kamu bisa main ke rumah.”
Bukannya menjawab. Bianca malah mengedikkan bahu. Dia memang jarang bertandang ke rumah Melissa meski mereka berada di satu komplek yang sama. Melissa menatapnya sinis dengan mata memicing. “Semenjak masuk SMA kamu jarang main ke rumah, kenapa, takut ketahuan kalau kamu pernah aborsi?”
“Dia polisi, ‘kan?” tanya Bianca lagi, dia benar-benar mencoba untuk mengalihkan perkataan dan pertanyaan Melissa.
“Heemm ….” Melissa mengangguk sembari menarik semua bibirnya ke kanan.
“Kak, tempat aku aborsi aku itu ilegal,” bisik Bianca.
Melissa semakin tidak suka karena secara terang-terangan Bianca membunuh bayinya sendiri. Dia tidak suka tindakan aborsi seperti itu.
“Bantu aku.”
“Ya kamu tinggal datang ke kantor Polisi,” usul Melissa. “Lagian kenapa mendadak peduli, yang penting kamu selamat dan bayi kamu udah nggak ada, iya, ‘kan? Bukannya itu yang kamu mau?” Melissa kemudian bangkit.
“Nanti mamaku dan semua orang tahu kalau aku pernah aborsi, aku nggak mau kak Reza juga tahu.”
Melissa tersenyum sinis. “Dia udah tahu, dia sendiri yang nemuin kamu di jalan dan bawa kamu ke rumah sakit.” Dia kemudian mencebikkan bibirnya. “Kamu masih punya malu ternyata?” cibir Melissa.
Bianca menghela napas. “Ya udah kalau nggak mau bantu, aku permisi,” ucap Bianca seraya bangkit dan meninggalkan ruangan Melissa.
Melissa tercenung, dia sebenarnya tidak tega, dia takut ada anak lain seperti Bianca di luar sana yang melakukan tindakan bodoh dengan datang ke tempat itu untuk membunuh bayi tak berdosa itu. Dia harus melakukan sesuatu.
Melissa kemudian berlari ke luar dan memanggil adik sepupunya itu. Bianca menoleh dan mendekat. Telapak tangan Melissa terbuka di depannya. “Mana alamatnya?”
Bianca kemudian tersenyum, dia sudah menuliskan alamat itu sebelum memutuskan menemui Melissa. “Makasih, Kak.”
Melissa menangguk, dia kemudian kembali masuk ke ruangannya. Lalu mendial nomor Reza. “Za, aku mau ketemu, penting.”
[Aku ke sana atau?]
“Ya, kalau nggak sibuk kamu ke sini aja.”
[Oke.]
Panggilan kemudian terputus, Melissa bukan tak bisa bersikap manis pada suaminya itu, tapi dia lebih suka seperti ini, dia tak ingin status merubah keakrabannya dengan Reza yang lebih terasa seperti sahabat.
Setelah memeriksa pasien terakhir, akhirnya Reza masuk ke dalam ruangannya. “Kenapa, Sayang?” tanya pria itu tiba-tiba. Reza berdiri di belakang kursi Melissa kemudian sedikit membungkuk dan memeluk bahu Melissa dari belakang. Lalu dia mengecup pipi wanita itu.
Melissa tersenyum seraya berbalik. “Tempat Bianca aborsi itu ilegal.”
“Di mana ada tempat aborsi yang legal. Nagara kita melarang melakukan itu.” Reza mengecup hidung Melissa.
Melissa tersenyum, lalu dia bangkit. “Kita harus hentikan praktek kliniknya.”
Reza terperangah, dia kemudian menegakkan tubuhnya dan menatap Melissa, sepertinya Melissa memang benar-benar serius. “Kamu mau aku gerebek tempatnya?”
Melissa menoleh dan mengangguk cepat. Reza kemudian mendekat dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang. “Akan kulakukan.”
Melissa kemudian menoleh. “Aku akan ke sana pura-pura untuk menggugurkan kandungan, lalu kamu datang sama yang lain dan tangkap mereka.”
“Ide bagus, tapi kenapa tiba-tiba hamil?” ucap Reza seraya mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Melissa sekilas. “Malam pertama aja kita belum,” bisiknya.
Melissa berdehem dan sedikit menjauhkan wajahnya dari Reza.
“Kamu masih lama di sini?” tanya Reza.
Melissa menatap arlojinya, dia kemudian mengangguk. “Dua jam lagi.”
“Aku harus pergi lagi.”
“Iya, hati-hati, makasih udah dateng.”
Reza mengangguk, dia kembali mendaratkan bibir kali ini di kening Melissa, dan Melissa mengulas senyum, tapi entahlah dia tidak ingin seperti ini terus, dia ingin segera meresmikan pernikahannya, sah menurut agama dan sudah pasti sah pula menurut Negara.
Melissa menatap kepergian Reza dari ruangannya. Dia mengusap kasar wajahnya sembari menghela napas. Dia merasa depresi dengan ini, belum lagi hubungan Reza dan ibunya yang belum membaik, tapi Reza seolah lupa, sungguh Melissa tak inginkan ini, dia ingin sekali mengenal ibu mertuanya itu, meski tidak suka padanya setidaknya dia diterima walaupun terpaksa.
***
Waktu menunjukkan pukul enam sore, Melissa sudah berada di klinik yang dimaksud Bianca. Dia masuk dan menemui perawat di sana, seperti klinik pada umumnya, tak ada hal yang mencurigakan.
“Mau berobat ya, Mbak?” tanya seorang perawat. Melissa segera mengangguk. “Sudah berapa bulan?” tanyanya lagi.
Kali ini kening Melissa mengerut. “Maksudnya?”
“Mau ini, ‘kan?”
“Iya, iya. Baru dua minggu, bisa, ‘kan?” Suara Melissa bergetar. Sungguh meski ini bohongan, tapi dia merasa sangat berdosa.
“Silakan ikut kami,” pinta perawat itu. Melissa malah tercenung dan masih berdiri di tempatnya.
Perawat itu menoleh, dia kemudian mendekat. “Mbak, kalau nggak yakin mending pulang, di sini cuma buat yang yakin aja.”
Tubuh Melissa malah luruh ke lantai dengan kedua mata yang tertutup. Entah kenapa tiba-tiba dia tidak sadarkan diri. Perawat itu menjerit dan tiba-tiba jeritannya terhentikan dengan kedatangan Reza, Barra dan kedua teman lainnya mengacungkan senjata api pada perawat itu
Seorang wanita tua ke luar dari dalam ruangan, terperanjat saat melihat ada empat orang polisi mengacungkan senjata api pada dia anaknya. “Ini ada apa?”
“Ikut kami dan jelaskan di kantor.” Barra dan kedua rekannya membekuk mereka berdua. Sementara Reza segera membawa Melissa ke dalam mobil, dia kira Melissa cuma pura-pura ternyata istrinya itu memang pingsan.
Dua orang pria terlibat dalam praktek terselubung ini dan sudah dibawa bersama ibu yang diketahui sebagai dukun beranak dan seorang anak yang merupakan perawat, namun, mereka membuka klinik bersalin ilegal dan tidak mendapatkan izin praktek.
Reza semakin panik saat Melissa belum sadarkan diri, sementara Bima dan yang lainnya sudah melesat meninggalkan tempat praktek tersebut. Reza dan Barra pun melesat membawa Melissa ke rumah sakit. Dalam perjalanan Melissa membuka mata dan langsung memeluk Reza. “Aku takut,” ucap Melissa.
Reza merasa lega karena akhirnya Melissa bangun, itu artinya dia tidak perlu ke rumah sakit. “Kamu sendiri yang minta buat melakukan itu, padahal kita bisa langsung gerebek tempatnya tanpa harus kamu menyamar dan pura-pura menggugurkan kandungan.”
Barra melirik lewat spion yang mengarah langsung ke jok belakang. “Kak Mel baik-baik aja?”
Melissa mengangguk, dia kemudian menatap Reza. “Aku kepikiran ucapan perawat tadi yang minta aku buat pulang kalau nggak yakin, katanya tempat itu cuma buat mereka yang yakin.”
Reza merengkuh bahu Melissa. “Yakin untuk membunuh bayi mereka.”
Seketika Melissa bergidik. “Benaran tega, aku nggak nyangka.”
Reza mengangguk. “Orang tegaan nggak akan buka praktek kayak begitu.”
Melissa menghela napas.
***
Deburan ombak di tepi pantai membuat hati terasa sunyi, entah itu karena Melissa sedang merasakan kebimbangan yang dalam, harusnya dia bahagia karena bisa menikah dengan orang yang dia cintai, sayangnya tidak begitu, keinginan menikah secara terbuka dengan pesta yang besar rupanya tak dapat dia realisasikan.
Bulan seolah sedang bercermin di atas air sembari menyaksikan kegetiran dua sejoli itu, angin malam terasa sampai membekukan apa yang tengah mereka rasakan saat ini. Sore tadi mereka tampak biasa saja, hingga Reza memutuskan untuk mengajak Melissa ke tempat ini.
Melissa menoleh dan menatap Reza. Kakinya berayun, sementara ujung jari kaki menyentuh permukaan pasir. “Kapan kamu mau daftarin pernikahan kita?” tanya Melissa tiba-tiba.
Reza menghela napas, pandangannya terpaku pada langit gelap. “Secepatnya.”
Melissa kembali tertunduk menatap kakinya sendiri. “Andai kamu tahu, aku punya mimpi untuk pernikahanku.”
“Percuma kalau kamu nikahnya bukan sama aku,” ucap Reza lagi-lagi tanpa menoleh, seolah dia takut kalau Melissa akan mendapati resah yang berpendar dari kedua matanya.
“Aku ingin punya pesta yang besar, mengundang semua orang yang aku kenal dan yang mengenalku, mereka bahagia untuk pernikahanku dan--”
“Dan kamu tidak bahagia karena pengantin prianya bukan aku.” Reza bersikukuh.
Melissa mendorong lengan pria itu. “Dengerin dulu kek.”
Reza berbalik dan meraih tangan Melissa. “Maaf, Mel, aku belum bisa mewujudkan apa yang kamu cita-citakan.”
Kedua mata Melissa berembun menatap tangannya yang digenggam Reza. Dia kemudian menarik napas. “Itu dulu, Za saat aku masih SMA, sekarang aku nggak peduli yang penting aku sama kamu.” Melissa menjatuhkan kepalanya di bahu pria itu. Reza segera merangkul bahunya.
Bibir Reza tersungging. “Aku mau punya tiga anak.”
Melissa segera menjauhkan kepalanya dari Reza. “Maksud kamu dua anak kandung kita, satu anak adopsi kita?”
Reza menggelengkan kepala. “Itu jadi empat, Mel.”
Melissa menghela napas. Dia menenggak liurnya.
“Aku nggak mau kejadiannya sama kayak aku sama kayak kamu.”
“Maksudnya?”
“Pas tua, kesepian kayak mama aku, jadi anak satu-satunya nggak enak, semua ucapan terasa seperti mendesakku.”
“Aku punya kakak,” sahut Melissa.
“Memang aku nggak?”
Melissa menatap pria itu. “Iya, tapi Tuhan lebih sayang mereka,” ucapnya sembari kembali menjatuhkan kepala di bahu Reza. “Tuhan percaya kamu kuat menghadapi ini.”
“Kita. Aku nggak bisa kalau tanpa kamu, Mel,” ucap Reza sembari menatap wanita itu.
“Iya, kita.”
“Maaf karena membuat hidupmu jadi kacau. Maaf karena--” Reza tiba-tiba tergemap saat bibir Melissa mendarat di bibirnya. Keduanya terpaku saling memberi tanpa ada satu dari mereka yang menguasai satu yang lainnya.
Melissa dan Reza saling merelakan, kemudian menyatukannya kembali. Hingga tiba-tiba mereka terperanjat saat silau cahaya senter mengarah kepadanya. Reza dan Melissa kemudian turun dari bangku dan berlari ke tepi pantai.
“Hei.” Penjaga pantai berlari mengejar mereka.
Melissa dan Reza tertawa sembari terus berlari dan berpegangan. “Aku jadi inget waktu di kejar-kejar penjahat itu,” teriak Melissa.
“Ya, aku juga,” pekik Reza.
Mereka terus berlari menyisir tepian pantai.
“Hei, kembali-kembali, sudah malam.”
Melissa menoleh ke belakang sementara kaki terus berlari dan senter terus diarahkan pada mereka. Tawa terus menggema bersahutan dengan suara ombak. Mereka kini sudah berada di depan motor dan naik ke atas motor, lalu melesat meninggalkan pantai.
Dari belakang Melissa memeluk pinggang suaminya itu dengan erat dan menyandarkan kepala di punggungnya. Mendadak dia teringat kejadian tempo hari saat pulang dari rumah Reza basah kuyup karena hujan, bukan cuma itu yang dia ingat, tapi kejadian menyedihkan yang terjadi sebelumnya, saat ibu dari lelaki yang dia cintai itu menghina dan mengusirnya. Mendadak air mata turun membasahi punggung Reza.
“Sayang, kamu ngiler?”
Melissa segera menegakkan tubuhnya dan memukul punggung Reza, lalu menyeka kedua matanya kasar. Sebenarnya Reza tahu kalau Melissa baru saja menangis, tapi dia tidak ingin Melissa semakin sedih.