Cukup Berpengaruh

2243 Kata
Reza menghela napas dan menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa. Melissa tak henti memegang tangannya. “Kamu tegang?” tanya Melissa. “Kenapa?” Wanita itu mengerutkan dahi, curiga jangan-jangan Reza masih ada rasa pada Tania.   “Aku cuma terlalu bingung, apa sebenarnya yang akan dia bicarakan.” Reza sebenarnya takut kalau ini akan seperti yang sudah-sudah, Delon akan berperan dan Tania akan diam, lalu akhirnya dia yang banyak bicara.  Ingin sekali Reza membenturkan kepala ke sudut meja kaca di depannya, kalau bukan karena Melissa yang memaksa, dia ogah sekali datang ke kafe ini. Melissa tiba-tiba menyandarkan kepala di d**a Reza. “Aku di sini akan melebur kegugupanmu,” bisik wanita itu. Reza tersenyum pahit karena sepertinya itu tidak begitu membantu.  Tak berapa lama Tania datang seorang diri, dia ingin menunjukkan kalau dia bisa bertemu Reza tanpa Delon, lagi pula Melissa ada membersamai mereka, sehingga tidak akan menimbulkan prasangka apa-apa.  Melissa bangkit dan menyambut kedatangan wanita itu dengan memeluknya sekilas. “Suami kamu mana?” tanyanya seraya celingukan.  “Dia sibuk,” ucap Tania seraya duduk. “Kalian apa kabar?” “Baik,” ucap Melissa dia kemudian menoleh sekilas pada Reza. “Maaf nggak bisa datang ke kafe kamu, kejauhan,” tutur Melissa. “Aku bawa bayi soalnya.” “Bayi?” Kening Tania mengerut, dia kemudian menatap stroller merah yang ada di sebelah kursi Melissa. “Nggak apa-apa, di sini ‘kan ada rumah tanteku,” ucapnya seraya bangkit dan mendekat ke roda bayi itu, “jadi aku bisa pulang ke sana.” “Oyah, ih, Reza nggak cerita soal itu.” Kening Reza mengernyit nggak semua harus dia ceritakan pada Melissa soal Tania, cukuplah Tania hanya wanita di masa lalunya dan dekat karena sebuah amanat, kalau tidak ada ucapan yang menyiratkan sebuah kewajiban yang keluar dari mulut Rega sebelum meregang nyawa, sepertinya mereka tidak akan pernah mencoba untuk dekat.  Tania terus menatap bayi dalam stroller itu, dia kemudian menatap Melissa tak percaya kalau apa yang dikatakan Ranti ternyata benar. Sementara Reza membuang muka menghindari tatapan Tania.  “Namanya Biru, dia anak kami,” ucap Melissa sembari menatap Reza yang masih terlihat gugup.  Sementara jantung Tania mencelus. “Jadi yang dikatakan Mama Ranti itu … benar?” “Mama ngomong apa?” tanya Reza.  “Soal kamu yang punya anak sama Melissa,” ungkap Tania.   “Kami nikah siri setahun yang lalu,” ucap Melissa, seketika Reza menatap istrinya itu, begitupun dengan Tania yang terperangah mendengar jawaban Melissa. Lalu apa artinya Reza mendatanginya untuk memastikan amanat itu kalau Reza sudah menikah dan memiliki anak dari wanita lain? Tiba-tiba tawa renyah Melissa menggema. “Kamu sama Reza terlalu serius,” godanya. Tania menghela napas, begitupun dengan Reza, Melissa memang penuh kejutan. “Za, kamu ngomong dong, jelasin kek biar nggak ada fitnah,” ucap Melissa pada Reza.  “Kamu aja.” “Yakin? Kamu percaya sama aku?” Reza berdecak. “Mel.” “Oke-oke.” Melissa kemudian menatap Tania. “Tan, aku sama Reza, mmm ….” Melissa menoleh pada suaminya itu. “Aku bingung mulai dari mana,” kekehnya. “Dari yang kamu mau aja,” sahut Reza. Sementara Tania masih menunggu.  “Jadi, Reza pergi ke Kalimantan itu bareng aku, dia ditugasin sama papi untuk menjagaku selama di sana.” Melissa memberi jeda dan menatap Reza. “Apa Za, yang sering kamu ucapin tiap malem biar aku bisa tidur itu?” Melissa sengaja ingin memamerkan sikap manis Reza pada Tania.  “Take care of you,” jawab Reza, dia sebenarnya mengikuti saja permainan Melissa, dia tidak ingin membuat Melissa kecewa atau marah, biarkan saja, lagi pula Reza percaya kalau Melissa akan berkata yang baik-baiknya saja. “Nah itu. Take care of me.” Melissa tersenyum sembari menunjuk dirinya sendiri. “Selama di sana ….” Melissa kemudian menoleh pada Reza, dia ingin melihat Reza berbicara, dia penasaran bagaimana cara Reza berbicara pada Tania, apakah sama seperti Reza berbicara padanya? “Za, lanjutin,” pinta Melissa manja.  Reza sampai heran, tak pernah Melissa menjadi segenit itu. Reza kemudian meneguk liurnya. “Aku diminta Pak Pram untuk menjaga Melissa karena di sana ada buronan yang kabur dari rutan.” Tania menyimak dengan seksama. Tatapannya tak jauh dari Reza, sebenarnya dia lebih suka Melissa saja yang bercerita, Tania perlu mengumpulkan garda setiap dia menyimak Reza bicara, atau kalau tidak, dia akan sangat merindukan Rega, lagi-lagi karena wajah yang sama, yang sialnya dia tidak pernah melihat kedalaman mata Reza yang jelas berbeda karena warna coklat pria itu lebih terang dari Rega. Sementara Melissa terperangah, ternyata cara bicara Reza pada Tania sama saja seperti pria itu bicara padanya. “Suatu hari, penjahat itu datang ke rumah dengan luka di kaki dan--” “Singkatnya aja, Za,” interupsi Melissa yang sedang berdiri sembari menggendong Biru.  “Iya.” Reza menghela napas, kenapa tidak Melissa saja, kenapa harus dirinya? Kalau dia katakan begitu sudah pasti Melissa akan berkata, karena yang punya urusan kamu bukan aku. Sudah Reza duga kalimat yang semalam dia dengar akan kembali menggaung, jadi lebih baik Reza tak membantah istrinya itu.  “Melissa membantu perempuan yang melahirkan dan dia menyerahkan anaknya pada kami dan ibunya Biru--”  Kedua mata Melissa membola, dia meminta Reza untuk diam, wanita itu segera duduk sembari tetap menggendong Biru. Reza tergemap menatap Melissa. “Intinya Biru itu anak adopsi kami,” ucap Melissa cepat, dia tidak ingin Reza mengatakan yang sebenarnya. “Ibunya meninggal,” imbuhnya. Melissa hanya tidak ingin menambahkan kata bunuh diri karena itu akan mengulang kengeriannya lagi. “Ayahnya?” tanya Tania.  “Ada, dia yang meminta kami merawat Biru. Mungkin agak aneh, tapi itulah kebenarannya,” kata Melissa sembari menatap Reza.  “Aku kaget saat mama Ranti bilang kalau kalian udah punya anak.”  “Hah?” Melissa mengernyit, dia kemudian menatap Reza. “Apa yang dia bilang?” tanya Melissa sembari kembali menatap Tania.  “Iya, kalian punya anak.” “Za, apa karena itu mama kamu benci sama aku?” tuntut Melissa.  Reza tergemap dan jantung Melissa mencelus, dia hanya bisa menghela napas, pantas cacian dan hinaan terlontar, mungkin ibunya Reza berpikir kalau dia memang melakukan hal bodoh di luar nikah, seperti Bianca. Melissa mengempas punggung di sandaran sofa. Dia menghela napas dan mengangkat wajahnya ke atas sembari menatap interior kafe tersebut. “Aku nggak nyangka, kenapa kamu harus ngomong gitu?” gumam Melissa. “Biru memang anak kita, tapi kita udah sepakat untuk mengadopsi dia nanti kalau kita udah menikah.” Tania tercenung.  “Aku minta maaf, Mel,” ucap Reza sembari meraih tangan Melissa. “Tapi, aku udah ralat ucapanku sama mama. Aku bilang kalau anak itu anak adopsi kita.” “Mama kamu nggak percaya?” Reza mengangguk. Sudah Melissa duga orang marah akan mengambil penjelasan pertama. Reza segera merengkuh bahu Melissa dan menariknya agar wanita itu bersandar saja di bahunya, dari pada di sofa dan mendongak seperti itu terlihat mengkhawatirkan. “Aku minta maaf,” ucap Reza seraya membelai bahu Melissa.  Tania tercenung, dia masih memperhatikan. Mungkin inilah titik kesalahpahaman Ranti. “Apa yang bisa aku bantu?” Pertanyaan Tania membuat Reza tersadar.  “Aku dan Melissa sudah menikah secara siri beberapa minggu yang lalu,” tutur Reza.  Jantung Tania mencelus. “Kenapa terburu-buru?” Reza menarik napas dalam, dia kemudian mengangguk. “Aku hanya tidak ingin mama semakin menjauhkanku dari Melissa.” Tania mengernyit. Dia sebenarnya tidak paham kenapa Ranti harus menjauhkan Melissa dari Reza. “Apa kamu yakin kalau setelah mama Ranti tahu kalian sudah menikah, dia akan memberikan restu?” “Kita masih berusaha,” ucap Reza. “Mama masih suka mengungkit soal kamu, amanat kak Rega dan aku. Soal kamu yang sampai detik ini lebih memilih orang lain daripada amanat kak Rega,” ungkap Reza. “Dan aku kesal dengan ucapan mama yang masih selalu mengungkitnya.” Jantung Tania kembali mencelus. Melissa segera menegakkan tubuhnya dan menatap Reza. “Jadi itu yang sering kalian ributkan?” Reza mengangguk. “Aku kesal, Mel.” Tania memang sudah mendengar sebagian isi hati Ranti, tapi dia tidak pernah berpikir kalau Ranti masih selalu mengungkit itu pada Reza.  “Aku punya hidupku, aku cinta sama Melissa dan aku tidak ingin menikah dengan orang pilihan mama.” Tania juga mendengar soal Shafiyya yang dikatakan Ranti lebih mirip dengan dirinya dan mungkin itulah sebabnya dia ingin Reza menikah dengan Shafiyya, karena Ranti sebenarnya ingin Reza menikah dengannya.  Tania menutup wajahnya dengan kedua tangan sembari menjatuhkan punggungnya. “Aku nggak nyangka,” ucap Tania pada akhirnya seraya menjauhkan kedua tangannya dari wajah. “Kenapa tante Ranti masih kayak gitu? Kenapa dia--” Tania menahan ucapannya untuk menuduh kalau Ranti ingin rumah tangganya Delon hancur dan kembali pada Reza.  Melissa menunggu kelanjutan perkataan Tania. Sialnya Tania bisa menahan apa yang tidak pantas ke luar dari mulutnya, berbeda dengan dirinya yang tidak akan menahan apa yang ingin dia katakan, tak peduli, enak atau tidak didengar oleh orang lain. Mungkin itulah salah satu yang memukau yang disukai Ranti dari Tania yang membuat Melissa merasa penasaran selama ini.  Tania menghela napas. “Kalau kamu saja tidak bisa mengubah cara berpikir mama Ranti, apalagi aku,” keluh Tania. “Udah dicoba?” tanya Melissa.  Tania menggelengkan kepala.  “Coba aja dulu, dia suka kamu lebih dari anaknya menyukai kamu. Siapa tahu dia cuma mau mendengar kamu, memang aku juga baru menemukan makhluk langka seperti mamanya Reza.” Entah siapa yang akan memukul kepala Melissa agar dia sadar kalau orang yang dia bicarakan itu adalah mertuanya, ibu dari suaminya sendiri. Reza mengurut dahi sembari menggelengkan kepala. Melissa memang istimewa dia benar-benar menunjukkan siapa dirinya, dia tidak pernah berdiri di belakang dan selalu menjadi paling depan, itulah yang Reza lihat selama mengenal Melissa.  “Aku harus bilang apa?” tanya Tania.      “Kamu bilang, ‘Melissa cinta sama Reza dan Reza nggak bisa hidup tanpa Melissa’,” Melissa memberi jeda, “meski aku nggak yakin,” gumamnya sembari menatap Reza.  “Kamu ben--” sahut Reza, dia ingin membenarkan perkataan Melissa. Namun, Melissa mengacungkan tangannya. “Aku belum selesai. Kamu bilang ini hal yang paling pentingnya. ‘Semua Tuhan yang ngatur, Om Anton punya istri kedua saja itu Tuhan yang atur, Tante Ranti saja tidak bisa mengatur hidup suaminya sendiri apalagi mengatur hidup orang lain, hidup kamu maksudku. Dia tidak berhak menentukan apa yang pantas dan apa yang tidak pantas buat kamu’,” tutur Melissa sengit. Dia kemudian meneguk liurnya. “Maaf emosi.” Reza segera mengambil Biru dari pangkuan Melissa dan meletakkan bayi itu di rodanya kembali. Pram selalu bilang untuk menjauhkan Biru ketika Melissa marah.  Tania segera menyodorkan air pada Melissa. Wanita itu pun membuang sedotan dalam gelas dan memilih menenggaknya, lalu meletakkan gelas kosong dengan kencang ke atas meja, sehingga ketukan hampir saja membuat gelas itu pecah dan terbagi menjadi beberapa bagian.  “Kamu nggak perlu heran, ini yang istimewa dariku,” ucap Melissa yakin sembari menatap Reza dan Reza mengangkat kedua alisnya sembari mengangguk.  Tania tercenung. “Aku nggak yakin aku bisa menyampaikan apa yang tadi kamu katakan.” Melissa menghela napas sembari menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa. Sudah dia duga, Tania orang yang terlalu berperasaan, sehingga apapun yang akan dia lakukan penuh pertimbangan dan harus melihat dari beberapa aspek. Intinya Tania terlalu memikirkan apa kata orang.  “Kamu takut tante Ranti sakit hati?” Melissa memberi jeda. “Atau kamu takut tante Ranti jadi nggak suka kamu, begitu?” Tania menggelengkan kepala dengan cepat. Pantas jika Ranti berkata kalau Reza banyak berubah setelah mengenal Melissa, memang Melissa sangat berpengaruh dan lihatlah betapa sedari tadi Melissa berhasil mengendalikan Reza.  “Ya, aku akan bilang dengan caraku.” “Kalau kamu tidak bisa biar aku yang akan katakan. Aku bahkan nggak peduli kalau aku tidak disukai sama mertuaku sendiri, yang terpenting dia sadar dengan apa yang dia lakukan itu salah,” ucap Melissa.  “Nggak, nggak biar aku yang ngomong. Aku akan sampein tapi dengan caraku.” “Ya, saringlah sebisamu,” ucap Melissa.  “Waw,” gumam Reza seraya menghela napas. Entah kenapa dia merasa Melissa benar-benar menguasai semua orang termasuk dirinya. Sebenarnya Reza merasa ada kemiripan antara Melissa dan ibunya, meski hanya sehelai benang, andai Melissa menyadari, tapi rasanya tidak perlu. Melissa tetap yang terbaik di matanya.  Melissa menarik napas. Dia kemudian menoleh pada Reza. “Jadi, kapan kamu mau ketemu mama kamu?”  Reza membasahi tenggorokannya.  “Jangan bilang kamu nggak mau ketemu, kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang kamu katakan soal Biru.”  “Gini … Sayang, kamu harus dengar aku. Mama nggak suka kamu karena kamu sepupu dari istri kedua papa.” “Ya,” teriak Melissa. Tania sampai memperhatikan sekitar, takut kalau ada yang mendengar amukan Melissa. “Itulah mama kamu, seperti ingin menjadi Tuhan, harusnya dia tahu, memang aku yang milih sendiri mau lahir dari mana berasal dari keluarga seperti apa?” satu alis Melissa terangkat. “Memangnya aku yang mengatur hidup tante Indah agar tidak memilih om Anton, hm?” Kedua bola mata Melissa hampir saja terjun dari tempatnya.  “Ssssttt … nggak perlu teriak-teriak, aku dengar kok, Sayang,” Reza membelai puncak kepala Melissa. Namun, Melissa malah menjauh. Sementara Tania benar-benar tak berkutik. Sepertinya Tania tidak bisa menjadi jembatan, karena pada dasarnya Melissa lebih jago bicara dan mengendalikan orang.  “Satu kata buat mama kamu. Absurd!” Tania jadi teringat suaminya yang pernah berkomentar soal keluarga Reza. Delon juga sempat menggunakan kata yang sama seperti yang dikatakan Melissa barusan, tapi jelas Delon tak seemosi Melissa. Dokter cantik itu bahkan seperti ingin meledakkan semua orang-orang egois seperti Ranti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN