Lunch

1244 Kata
Pikiran adalah salah satu pembunuh secara tak langsung. Tak ada kegiatan di saat tengah hari yang sunyi, membuat Ify lagi-lagi tenggelam dalam pikiran yang akhir-akhir ini membuatnya sakit kepala. Semua tak berjalan sesuai rencana. Banner promosi katering miliknya yang direncanakan oleh Ray tak berjalan sesuai ekspekstasi. Memang, ada satu dua yang pesan atau beli, tapi itu tak bisa menutup modal awal yang lagi-lagi membuat Ify harus memutar otak. Apalagi saat kabar menggembirakan dimana sang adik diterima di kampus ternama Universitas Airlangga. Meski beasiswa penuh, tak memungkiri kebutuhan lain juga membesar. Ongkos dan uang saku sang adik yang sudah pasti. Tak mungkin juga Ify membiarkan sang adik memegang uang pas-pasan. Ify harus memikirkan alternatif lain untuk menopang hidup mereka. Air mata tanpa sadar mulai menitik, Ify merasa pundaknya terasa sangat berat. Memikul beban sebegitu besar dalam waktu yang tak singkat, sampai Ify sendiri tak sempat untuk mengerti arti bahagia. "Ibu, Ify rindu," bisiknya dengan air mata yang semakin deras mengalir. Ia memeluk lutut, menenggelamkan wajahnya membiarkan dirinya sendiri menangis sepuas yang ia bisa. Setidaknya, akan membuatnya lega meski tak menyelesaikan masalah. Cukup lama Ify menumpahkan tangis sampai ia merasa kesulitan bernapas karena hidungnya tersumbat. Suara dering ponsel dan nama Ray tertera sebagai sang penelepon, membuat Ify bergegas menghapus air mata, mencoba menetralkan suara agar sang adik tak menyadari jika ia baru saja menangis. "Halo!" "Kak, gue baru selesai ngurus administrasi, lo mau nitip apa gitu nggak?" Ify terdiam sejenak sebelum menjawab, "Nggak usah, lo langsung pulang aja, gue udah masak banyak." "Lo ... abis nangis, Kak?" Suara Ray memesan, menyadari suara kakaknya terdengar beda. "Hahaha, enggak! Ini hidung gue lagi mampet aja. Ngapain nangis, sih?" "Perlu gue beliin obat?" "Nggak usah, ntar juga sembuh sendiri." "Serius lo nggak apa-apa, Kak?" "Serius lah! Cepetan pulang, gih!" "Oke!" Panggilan terputus dan Ify menghela napas panjang. Beranjak ke kamar mandi untuk membasuh muka lalu memasak untuk makan siang. Sedang mempersiapkan bahan-bahan untuk memasak, terdengar suara kendaraan berhenti di depan kosan. "Loh, kok udah dateng?" gumam Ify sambil berjalan ke depan. Tidak mengira jika Ray akan datang secepat ini sementara dia belum selesai memasak. "Kok udah dateng, gue--" Ucapan Ify terputus saat menyadari jika yang berdiri di depan pintu kosannya bukanlah sang adik, melainkan sang manager- ralat, mantan manager beserta sang head chef restoran Jade Imperial. "Pak Lintang, Pak Riko, ada apa ke sini?" tanya Ify begitu sudah mampu menguasai rasa terkejutnya. Lintang tersenyum, lalu menatap Riko yang langsung berlutut di depan Ify membuat gadis itu melangkah mundur. "Ify, maaf maaf, saya salah! Saya sudah berbuat hal yang tidak sepantasnya saya lakukan! Maaf karena saya tidak bisa profesional dalam bekerja, maaf karena saya, kamu mengalami hal yang sulit!" Ify tercengang. Ia terdiam selama beberapa detik demi memahami situasi yang tak biasa ini. Seorang Riko berlutut meminta maaf padanya? Ify menatap Lintang meminta penjelasan, tetapi Lintang hanya tersenyum lalu menyerahkan sebuah amplop surat yang diterima Ify dengan heran. Tak sabar, ia membuka surat itu dan mengabaikan Riko yang masih berlutut di depannya. Selesai membaca surat, mata Ify berkaca-kaca. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang ia baca. Surat pemanggilan kembali untuknya bekerja di Jade Imperial, sekaligus kompensasi karena pemecatan tidak adil sebuah apartemen yang ada di seberang restoran. Lintang lalu menyerahkan sebuah map coklat yang diterima Ify dengan gemetar. Isinya adalah sertifikat apartemen yang sudah atas nama dirinya dan sebuah pernyataan jika apartemen itu sudah resmi menjadi miliknya dan tidak akan diambil perusahaan meski Ify memutuskan untuk berhenti bekerja. "Pak, ini ... beneran?" Air mata sudah lolos menyusuri pipi Ify yang sedikit tirus. "Selamat datang kembali di Jade Imperial my favorite chef," ujar Lintang sambil merentangkan tangan bersiap menyambut Ify dalam pelukan, tapi sebuah hal mengejutkan terjadi saat Rio yang entah datang darimana menyerobot dan memeluk Lintang dengan erat. "Makasih, Lintang! Kerja bagus!" ucap Rio lalu membisikkan sesuatu yang membuat Lintang pias. Ia kemudian tersenyum kikuk menatap Ify yang memandangnya dengan tatapan meminta kejelasan. "Mas Rio, kok Mas Rio ada di sini?" tanya Ify heran. Panggilan Mas yang disematkan oleh Ify tak hanya mengejutkan Lintang, tetapi juga Riko yang sejak tadi terdiam tanpa berani bertingkah. "Saya kebetulan ada urusan bisnis di sekitar sini, dan mampir sebentar. Barangkali kita bisa makan siang bersama." "Waduh, Mas! Tapi aku belum masak!" "Kita bisa makan di luar." "Aku masih nunggu Ray!" "Oh ya, memangnya dia kemana?" "Mengurus administrasi, kebetulan Ray diterima di Universitas Airlangga." "Waahhh hebat!! Ya sudah! Kita tunggu saja sekalian lunch bertiga untuk merayakan diterimanya Ray di Unair." "Tapi Mas-" "Saya tidak menerima penolakan, Fy! Silakan bersiap, akan saya tunggu di sini." Ify menggigit bibirnya gelisah. Sungguh, situasi ini membuatnya sangat bingung dan juga malu. Apalagi masih ada Lintang dan Riko yang melongo melihat interaksi keduanya. Tak ingin berlama-lama menahan malu, Ify pun segera masuk ke dalam kamar kos. Samar-samar, ia masih bisa mendengar suara Rio yang mengusir Riko dan Lintang untuk segera pergi dari kosan miliknya. * Turun dari bus, Ray berjalan dengan santai menyusuri gang yang akan mengantarnya pulang ke kosan. Hari ini suasana hatinya sangat baik karena semua hal berjalan lancar. Ia mendapat beasiswa penuh dan tak ada drama yang menghambatnya dalam mengurus administrasi yang cukup ribet. Sampai di sebuah belokan, Ray agak menyingkir saat sebuah mobil yang lumayan mewah melewatinya. 'Ada apa dengan orang-orang kaya berkeliaran di gang sempit seperti ini?' batin Ray yang sedikit heran. Merasakan perasaan tidak enak karena akhir-akhir ini hanya kakaknya lah yang menerima tamu dengan mobil mewah, Ray berlari dengan sekuat tenaga agar cepat sampai. Dari kejauhan, ia bisa melihat satu buah mobil lamborghini Aventador hitam yang begitu mewah dan elegan, terparkir rapi di depan kosnya. Ray menambah kecepatan larinya karena takut jika sesuatu terjadi kepada sang kakak. Napasnya hampir putus saat ia sampai di depan kosan dan terlihat seseorang yang ia kenal sebagai duda kaya raya tengah duduk di teras dengan sebuah tab di tangan. Pria itu menghentikan kegiatannya dan mendongak saat menyadari seseorang datang. Lalu, senyum merekah menyambut Ray yang kebingungan. "Baru datang Ray? Sini duduk!" sapa Rio sambil menepuk kursi di sebelahnya. Ray mendekat dengan ragu, lalu mendudukkan bokongnya di sebelah Rio. Ia sedikit meringis menyadari bau keringat dari badannya sementara wangi mewah tercium dari lawan bicaranya. "Om kok, bisa ada di sini?" tanya Ray dengan napas yang belum terlalu stabil. "Kebetulan saya ada urusan bisnis di sekitar sini, jadi saya mampir sekalian mau ngajak lunch bareng. Saya juga dengar kamu diterima di Universitas Airlangga? Selamat ya Ray, anggap saja ajakan lunch saya ini sebagai ucapan selamat dan merayakan kehidupan baru kamu sebagai mahasiswa." Ray terdekat, otaknya seolah berhenti beroperasi membuatnya hanya bisa terdiam bengong. "Aku ... ikut?" tanya Ray sambil menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja! Kamu yang akan menjadi bintang utamanya, bagaimana mungkin kamu tidak ikut?" ucap Rio dengan kekehan melihat wajah bingung Ray yang menggemaskan. "Kak Ify?" "Ada di dalam, sedang bersiap!" "Aku ... ke ... dalam dulu?" Ray yang shock benar-benar konyol. Rio terkekeh kemudian mengangguk. Ray dengan cepat langsung masuk ke dalam kos, menjumpai sang kakak yang sudah rapi dan kini sedang sibuk di depan kaca rias. "Kak, ini beneran?" "Apanya?" "Ada Om Rio di depan. Ngajak makan siang." "Emang! Cepet ganti baju, nggak usah mandi takut Mas Rio nunggu lama. Pake parfum yang banyak, lo bau keringat!" Ray mendengus tapi tak urung menuruti titah Ify. Tak sampai sepuluh menit, kini ketiganya sudah ada di dalam lamborghini milik Rio membelah jalanan untuk makan siang bersama. Selama perjalanan, Ray tak henti-henti mengagumi interior mobil Rio dan bagaimana nyamannya dia duduk. Mengundang omelan Ify dan tawa rendah Rio.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN