Selama dua puluh empat tahun, Ify tak pernah menginjakkan kaki di restoran mewah kecuali Jade Imperial dan beberapa restoran sebelum ia bekerja untuk proses interview. Namun sekarang, ia berdiri di depan sebuah hotel bintang lima yang terkenal dengan fine diningnya. Untuk bisa makan dan menginap di hotel ini, mereka harus reservasi satu minggu sebelumnya.
"Kak, serius kita mau makan di sini?" bisik Ray.
Ify terdiam, menatap pantulan dirinya di kaca mobil. Sial! Dirinya terlihat seperti gembel saat melihat Rio yang begitu rapi dengan setelan jas sementara dirinya dan Ray hanya menggunakan pakaian santai karena tak mengira jika Rio akan membawa mereka ke tempat semewah ini.
"Mas, kita nggak salah tempat?" tanya Ify memastikan. Ia bahkan takut melangkah lebih jauh, membuat Rio pun menghentikan langkahnya.
"Kenapa? Kalian nggak suka makan di sini?"
"Bukannya kita nggak suka, Mas! Tapi lihat, kita salah kostum. Udah macem gembel aja kita, ntar kalau disangka mau ngemis gimana?"
"Sebenarnya tidak masalah, tapi kalau kalian tidak nyaman, haruskah kita pindah restoran?" Rio menawarkan.
Sontak Ify dan Ray berpandangan. Niat hati ingin mengiyakan, tetapi mengingat jika reservasi saja harus dilakukan satu minggu sebelumnya, berarti Rio sudah keluar duit banyak demi makan di restoran ini. Berganti restoran hanya akan membuatnya semakin tak tahu diri.
"Tidak tidak! Makan di restoran ini tidak mudah, aku dengar harus reservasi satu minggu sebelumnya. Mas Rio pasti sudah susah payah mengusahakannya, akan terlihat tak tau diri kalau berpindah restoran hanya karena kita," jawab Ify dengan meringis kecil. Ia benar-benar sangat kikuk. Di satu sisi, makan di restoran ini adalah impiannya, melihat secara langsung bagaimana sang koki memasak makanan dan merasakan rasa mewah yang selama ini hanya ia dengar. Namun di sisi lain, Ify cukup tahu diri jika itu hanyalah hayalannya, sebelum ia bertemu dengan Rio.
"Hahaha, tidak susah! Aku baru saja reservasi beberapa menit yang lalu sebelum berangkat ke sini. Kebetulan Arjun ada di sini--"
"Arjun? Chef Arjun??" potong Ify dengan mata berbinar.
Rio mengangguk dengan heran. "Kamu kenal dengan Arjun?"
"Aku fans Chef Arjun! Ayo masuk sekarang! Kapan lagi aku bisa makan masakan Chef Arjun!" ujar Ify dengan antusias, bahkan berjalan mendahului Rio yang membuat Rio dan Ray berpandangan.
"Kakakmu cepat sekali berubah pikiran ya, Ray!"
Ray hanya meringis, merasa malu dengan tingkah sang kakak yang kelewat percaya diri melewati satpam yang berjaga di pintu masuk.
"Dia memang seperti itu, Om! Jangan kaget kalau suasana hatinya berubah dengan cepat."
Rio mengulum senyum, terkekeh kecil melihat Ify yang sudah ada di dalam dan melambai ke arah mereka.
"Ayo masuk, Ray! Sepertinya kakakmu sudah tidak sabar!"
*
Jika di komik, mungkin mata Ify penuh dengan tanda love yang sangat besar. Melihat chef kesayangannya yang secara khusus memasak atas permintaan Rio yang ternyata adalah sahabatnya. Kemeja putih dipadu dengan apron hitam, lengan kemeja yang digulung sampai siku, wajah yang sangat serius saat memasak, terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dan hot dibanding saat ia melihatnya di layar televisi.
"Mulut lo terlalu lebar mangapnya, malu tau, Kak!" senggol Ray sambil berbisik yang membuat Ify terkesiap. Terlalu terpesona, Ify bahkan tak sadar jika mulutnya terbuka. Ia hanya bisa menunduk malu karena kepergok bucin. Maklum saja, selama ini ia hanya mampu bermimpi untuk bertemu secara langsung dengan sang idola. Maka ada kesempatan seperti ini, Ify tak ingin menyia-nyiakan, bahkan jika matanya tak pedas, Ify enggan untuk berkedip. Terlalu takut untuk kehilangan momen.
"Jun, masaknya bisa biasa saja?" celetuk Rio yang membuat Arjun mengalihkan pandang sejenak lalu menatap sahabatnya dengan alis terangkat sebelah.
"Lo mau gue masak kaya gimana lagi sih? Kalau gue masak sambil koprol baru nggak biasa. Gue udah nurutin kemauan lo ya ini buat turun ke dapur khusus buat lo. Temen nggak tahu diri!" dumel Arjun.
"Nggak usah caper!"
"Caper darimana, Nyet?"
Sungguh mati, Arjun saat ini benar-benar kesal. Seorang Rio yang sedang dalam mode seperti ini sungguh menguras stok kesabaran.
"Bajunya nggak usah digulung kaya gitu, sengaja mau pamer lengan? Nggak ada yang bakal naksir juga!"
"Kenapa nggak ada?" Ify yang sejak tadi terdiam menikmati perdebatan angkat bicara.
"Memangnya siapa? Ini ruangan privat dan hanya kita yang ada di sini," balas Rio.
"Aku?" Ify menunjuk dirinya sendiri, lalu menopang dagu menatap Arjun. "Chef Arjun ganteng kok, apalagi kalau lagi masak gantengnya nambah."
Ray menepuk jidat, benar-benar angkat tangan dengan tingkah sang kakak yang benar-benar tak tahu malu. Sementara Arjun tertawa renyah, menatap Rio dengan pandangan meledek.
"Tuh Yo, dah ada bukti nyata kan?"
Rio semakin menekuk wajah sementara Ify kegirangan. Apalagi saat Arjun memintanya untuk memberikan bantuan sedikit melakukan plating pada hidangan yang sudah siap.
"Wow, kau sangat lihai. Sepertinya kita mempunyai profesi yang sama," puji Arjun saat melihat kebolehan Ify dalam melakukan plating.
"Ah, aku belum apa-apa kalau dibandingkan dengan Chef Arjun."
"Aku baru bisa menilai kalau aku sudah makan hasil masakanmu."
"Sebuah kebanggaan kalau Chef Arjun mau mencicipi hasil tanganku."
Melihat interaksi keduanya semakin membuat Rio kesal. Menyesal rasanya menyuruh Arjun datang dan memasak untuknya.
"Udahan ngobrolnya, saya dan Ray sudah lapar," Rio memotong obrolan keduanya.
"Ini dia hidangannya, Tuan! Appetizer¹ ala Chef Arjun!" ucap Arjun sambil meletakkan tiga piring canape² sebagai hidangan pembuka untuk mereka.
"Halah, kelamaan kamu!"
"Lo yang pesen ala fine dining ya, Nyet! Nggak gue usir juga udah untung!"
Suara gumaman terdengar membuat perdebatan keduanya berhenti. Ray yang terkagum-kagum dengan plating canape² di depannya tanpa sadar terus menggumamkan kata waahh.
"Ada apa Ray? Kenapa nggak lo makan?" tanya Ify heran melihat adiknya yang hanya melihat hidangan di depannya itu.
"Ini cantik banget, mau makan sayang!" ujarnya membuat ketiga orang dewasa di sana terkekeh.
"Nanti gue bikinin di rumah kalau lagi ada rejeki. Sekarang makan dulu, takutnya kita nanti malah ngulur waktu jam makan siang Mas Rio," ucap Ify tanpa menyadari panggilan 'Mas' yang ia sematkan pada Rio membuat Arjun melotot.
Arjun menatap Rio meminta penjelasan, tapi Rio balik melotot dan memberi isyarat kepada Arjun untuk melanjutkan pekerjaannya.
Arjun pun menatap Rio penuh isyarat, meminta penjelasan yang dibalas Rio dengan isyarat jika ia akan menjelaskan nanti.
Dari menyantap appetizer sampai dessert hanya diisi dengan obrolan antara Ify dan Arjun. Keduanya benar-benar klop saat membahas tentang makanan. Rio bahkan sudah emggan menyela karena beberapa kali diabaikan. Sementara Ray terlalu bodo amat karena makanan di depannya lebih penting. Kapan lagi bisa makan makanan mewah secara gratis bukan?
Hingga kemudian....
"Sayang ... kok makan di sini nggak bilang-bilang?"
*
¹ : Appetizer adalah hidangan pembuka yang selalu tersaji saat jamuan makan di restoran, terutama yang memiliki konsep fine dining.
² : canape adalah makanan pembuka yang biasanya menggunakan crackers atau biskuit sebagai alas dasar, dan diberi aneka macam topping seperti daging ayam atau sapi iris, cream, sayuran, dan buah-buahan. Disajikan dalam keadaan dingin.