Apartemen Baru

1045 Kata
"Makasih untuk makan siangnya, Mas! Hati-hati di jalan!" ucap Ify begitu turun dari mobil. Rio hanya mengangguk dengan senyum singkat lalu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kosan milik Ify. Ray dan Ify, keduanya tak langsung masuk tetapi memilih untuk duduk di kursi teras. "Kak, lo kelihatan badmood daritadi, kenapa?" tanya Ray setelah sekian lama berdiam diri. "Hah? Siapa?" "Yang tanya?" "Gue tanya beneran!" "Ya elo lah, emang di sini ada siapa lagi? Mbak kunti?" jawab Ray kesal karena sang kakak yang sedang dalam mode lemot. Ia sudah cukup kesal lantaran waktu makan siangnya yang nikmat harus dinodai dengan datangnya entitas tante-tante bohay yang entah ada hubungan apa dengan Om Rio (yang jelas Ray bisa menyimpulkan jika keduanya lumayan dekat), yang sangat berisik membuat Ray gatal ingin menyumpal mulut tante itu dengan piring dessert di depannya. "Gue nggak badmood dih, perasaan biasa aja," jawab Ify lalu membuka ponsel, sekedar mengecek riwayat pesan yang ternyata penuh dengan spam chat dari Sivia saat ia mengabari jika dirinya akan makan siang bersama ayah dari anak yang kemarin di tolongnya. Ify bisa membayangkan bagaimana hebohnya Sivia jika ia memberitahu hal ini secara langsung. "Lo cemburu, Kak?" Mata Ify membola menatap adiknya sengit. "Cemburu sama siapa?" "Sama tante bahenol tadi, mungkin? Soalnya lo awalnya exited banget, ngobrol panjang kali lebar sama Chef Arjun, tapi begitu tuh tante muncul, lo mendadak jadi diem." Ify mendengus, adiknya ini bicara seolah tahu semuanya. "Nggak usah sotoy, gue emang agak badmood, tapi bukan karena cemburu." "Terus?" "Ya kesel aja! Ganggu kenikmatan gue makan masakan Chef favorite gue aja, ihhh!" Ify betul-betul kesal. Kesempatan mengobrol dan berbagi resep serta tips dengan Chef Arjun tidak datang dua kali. Tapi kedatangan wanita yang entah ada hubungan ada dengan Rio, membuat mood-nya anjlok. Apalagi saat ia harus melihat perdebatan keduanya di depan mata. Tingkah manja wanita itu benar-benar membuatnya sakit mata. "Dah, ayo masuk! Kita harus packing sekarang juga!" lanjut Ify membuat Ray mengernyit heran. "Packing? Kita mau kemana?" "Loh, gue belum bilang, ya? Gue dipanggil masuk kerja lagi, terus dapat kompensasi apartemen," ucap Ify yang membuat Ray ternganga. Ini nyata? Mereka akan pindah ke apartemen? "Kak, serius??" tanyanya dengan nada tak percaya. Ify mengangguk dengan senyum yang tak luntur dari wajahnya. Ia bahagia, sangat! Bisa kembali menyajikan hidangan untuk para pelanggan, dan yang pasti, ia punya penghasilan tetap. Kini, ia tak perlu pusing memikirkan bagaimana kehidupan dirinya dan Ray. Beberapa kebutuhan seperti uang sewa, sudah berhasil dipangkas karena kini ia memiliki apartemen. Ia juga tak memerlukan uang transportasi karena tinggal menyeberang saja, ia sudah sampai di restoran. "Pindahnya kemana?" "Deket restoran gue, jadi gue ke restoran tinggal nyeberang. Deket juga sama halte, jadi lo nggak perlu susah payah jalan jauh." Ify masuk ke dalam kos, diikuti oleh Ray bagai anak itik. "Sabar ya Ray, nanti gue beliin motor biar nggak bingung kalau berangkat kuliah." "Kakak apaan, sih? Gue juga masih punya kaki, bus masih beroperasi, nggak usah kaya orang susah!" "Tapi kita emang orang susah, Ray!" "Oh, iya juga." Lantas keduanya terbahak. Mungkin mereka kini hanya punya satu sama lain. Bertarung di kerasnya dunia yang seolah tak pernah berbaik hati pada mereka. Kehilangan demi kehilangan yang menggores luka, topeng yang selalu mereka pakai sebagai sugesti untuk penguatan diri. Ify hanya berharap, bahunya terus diberi kekuatan untuk memikul tanggungjawab yang sebegitu besar, kakinya diberi kecepatan untuk berlari mewujudkan mimpi, dan tak lupa, keteguhan hati agar Ify yakin, ia masih punya alasan untuk berjuang di dunia ini. * "Semua udah kebeli ini?" Sivia memastikan sekali lagi agar mereka tak repot balik jika ada yang terlupa. "Sepertinya udah. Ayo kita cepet pulang!! Kasihan Ray kayaknya udah laper banget dari tadi spam w******p," jawab Ify lalu mendorong troli menuju ke kasir diikuti oleh Sivia. "Besok di resto pokoknya lo yang jatah masak makan siang, ya? Anak-anak seneng banget tau pas denger kabar lo bakalan balik." "Hadeehh, balik tuh disambut, bukan malah dibabuin." "Bodo! Pak Lintang bilang, managernya bakalan ganti yang baru, semoga aja kali ini lebih bener, ya!" "Semoga aja," Tentu saja Ify sangat berharap kali ini ia akan bekerja dengan nyaman. Usai melakukan pembayaran, keduanya berjalan bersisian dengan tangan yang masing-masing menenteng kantong belanja menuju ke lift untuk naik ke unit apartemen milik Ify. Beruntungnya, di lantai dasar apartemen ada minimart yang lumayan lengkap dengan semua kebutuhan dapur. "Tapi lo ngerasa aneh nggak sih, Fy?" Di dalam lift hanya ada mereka berdua sehingga Sivia merasa lebih bebas membuatnya mengajukan pertanyaan yang sangat menganggunya sejak ia menerima kabar jika sahabatnya itu akan kembali bekerja di Jade Imperial dan menerima kompensasi sebuah apartemen di seberang restoran. "Aneh kenapa?" "Dua kali restoran kedatangan orang-orang dari kantor pusat, dan parahnya lagi, Pak Bian yang dateng! Bayangin!! Pak Bian langsung, loh! Kapan sejarahnya seorang CEO kantor pusat datang langsung ke restoran kecil kita? Apalagi alasannya inspeksi?" Sivia berkata menggebu-gebu. "Agak nggak masuk akal, Fy! Harusnya kan yang dateng Pak Gabriel, secara dia CEO BFood, sementara Pak Bian?? Posisinya udah lebih tinggi lagi dia CEO BIAN GROUP!" "Aduh, Vi! Gue ikutan pusing juga deh denger lo cerita," keluh Ify. Ia juga ikutan bingung, sejak Riko datang berlutut meminta maaf padanya saja ia sudah merasa aneh. Tetapi daripada memikirkan keanehan yang membuatnya sakit kepala, Ify hanya ingin memikirkan dan mensyukuri apa yang ada di depannya sekarang. Mempunyai hunian yang layak sudah membuatnya senang bukan kepalang. "Berita lo udah nyebar, Fy! Sorry, ya! Gue terpaksa ceritain apa yang lo alamin ke Pak Alvin. Karena gue nggak terima digituin, berharap aja lo dapat keadilan, dan memang kebaikan itu selalu menang." "Nggak apa-apa, Vi! Gue nggak malu, dan nggak pernah anggap itu sebagai aib yang perlu gue tutupin. Meskipun kadang cemoohan datangnya ke gue, tapi posisinya gue korban. Gue diem dan milih pergi kemarin bukan karena takut, gue marah banget, sampai nggak tahu mau apalagi." Pintu lift berdenting lalu terbuka, keduanya keluar secara bersamaan. Dari lift ke unit apartemen milik Ify, agak jauh karena tempat Ify agak berada di pojok. Sampai di depan unit apartemennya, Ify berniat memasukkan sandi apartemen saat tiba-tiba saja pintu terbuka dari dalam. "Loh, Mas! Kok bisa ada di sini?" tanya Ify heran begitu mendapati entitas lain selain adiknya di dalam apartemen. Sivia yang penasaran pun melongok dari balik punggung Ify dan melotot begitu mengenali siapa sosok yang ada di depannya ini. "Loh, Pak Bi--" "MAMA!" "WHATTT?!" *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN