Bab 2 Mimpi Buruk

1088 Kata
"Usir dia dari kampung ini!" "Iya, usir dia dari tempat ini!" "Dia tidak pantas tinggal di sini!" "Iya, benar!" Riuh terdengar suara lantang dari para warga yang hampir memekakkan gendang telinga. Mereka mengelilingi seorang wanita muda yang tubuhnya penuh dengan telur dan sayuran busuk. Ada memar di bagian lengan dan wajah. Darah segar pun menetes hampir di sekujur tubuhnya. Begitu kotor, tersungkur di tanah basah tak berdaya. Wanita itu diseret warga dari tempat kos-nya tanpa perasaan beberapa waktu lalu. Kemudian, diperlakukan dengan tidak adil oleh para warga desa yang mengamuk dan menghujat dirinya habis-habisan tanpa belas kasihan. Seolah perempuan tersebut adalah wanita paling hina dan tidak layak mendapat perlakuan baik. "Wanita hina. Perempuan murahan. Kau tidak pantas berada di sini!" caci warga. Kemudian, menampar wajah wanita itu beberapa kali dan menarik rambut bagian belakangnya. Memaksa perempuan tersebut mendongak. Darah segar menetes di bagian sudut bibirnya. Rasa perih mulai menjalar pada bagian bibir dan kepala. Namun, ia tidak mampu melawan kerumunan orang-orang itu. Wajahnya tampak sayu. Kedua pipinya basah oleh air mata yang terus mengalir. Kedua tangannya menangkup memohon belas kasihan. Namun, tidak ada satu pun yang memedulikan dan mendengarkan permintaannya. Mereka terus mencaci, memaki, dan memperlakukan diri wanita itu tidak manusiawi. Ingin rasanya berlari melepaskan diri dari kepungan warga yang terbakar amarah dan emosi. Namun sayang, kedua lututnya terasa lemas. Tubuh wanita itu seolah beku bagai bongkahan es. Kesadaran wanita itu pun hampir hilang. Tubuhnya bergetar dan tidak sanggup lagi menerima semua siksaan yang ia dapatkan dari para warga tersebut. Ketika mereka sedikit lengah dan sudah mulai lelah, saat itulah wanita itu mempunyai kesempatan untuk melarikan diri. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, perempuan muda tersebut berlari sekencang mungkin, menjauh dari mereka. Memasuki hutan yang gelap, tanpa cahaya membersamai. Napasnya tersengal dengan hati penuh harap. Sungguh malang sekali nasib wanita itu. Menghadapi dunia yang begitu kejam padanya. "Tuhan, apa salah dan dosaku? Kenapa aku harus diperlakukan seperti ini?" Wanita itu semakin dalam memasuki hutan, tubuhnya kembali tersungkur karena tidak mampu lagi menahan perih yang terus mendera karena perlakuan orang-orang yang tidak tahu menimang rasa. ~~~ "Jangan, jangan, jangan sakiti aku. Tolong lepaskan aku. Jangan sakiti aku. Jangan!" Elena menggeleng ke kanan dan kiri dengan kedua mata terpejam. Keringat dingin mengucur membasahi keningnya. Erlangga yang tidur di sebelah wanita itu pun terbangun mendengar jeritan Elena. Pria itu menoleh ke arah Elena dan terkejut mendapati wanitanya yang terpejam tetapi begitu gelisah. Erlangga bangkit dan langsung menggoyangkan pelan tubuh Elena. Namun, tetap saja Elena tidak membuka kedua matanya. Kedua tangan wanita itu meremas kuat ujung seprai sambil terus merancu. Erlangga memegang dahi Elena yang berkeringat. Tampak cukup panas. "Astaga, kau demam." Erlangga turun perlahan dari ranjang dan melangkah keluar kamar. Mencari keberadaan Bi Surti, asisten rumah tangganya dan mendapatinya sedang berjalan ke arahnya dengan tergopoh dan sedikit tersengal. "Tu--Tuan, ada apa?" tanya Bi Surti dengan gugup sambil mengatur napasnya. "Bi, tolong siapkan air panas dan baskom, juga handuk kecil. Nyonya demam. Saya ingin mengompresnya," jelas Erlangga dengan tergesa. "Ba--baik, Tuan," ucap Bi Surti. "Trimakasih, Bi. Saya kembali ke kamar untuk memeriksa Nyonya," ucap Erlangga sambil melangkah. Bi surti mengangguk dan segera berjalan menuju dapur untuk menyiapkan apa yang diminta Erlangga. Erlangga mengambil stetoskop dan mulai memeriksa keadaan Elena. Mulai dari denyut nadi, kedua bola mata, mulut hingga d**a. Denyutnya berdetak sangat cepat dan iramanya tidak beraturan. Erlangga membuka kotak obat yang ia bawa dan mengambil sebotol kecil benzodiazepin, merupakan obat penenang untuk depresi atau kecemasan dan alat suntik. Pemuda itu memasukan obat ke dalam suntikan dan menyuntikkannya pada Elena. Tidak berapa lama kemudian, Elena sudah mulai tenang dan tertidur. Bi Surti pun sudah datang membawakan baskom berisi air hangat untuk mengompres dan handuk kecil. "Tuan, ini air hangat dan handuknya," ucap Bi Surti sambil meletakkannya di meja. "Iya, Bi. Terima kasih," ucap Erlangga pelan. "Apa ada lagi, Tuan?" tanya Bi Surti lembut. "Tolong buatkan bubur untuk Nyonya," ucap Erlangga kembali sambil menatap ke arah Elena. "Baik, Tuan." Bi surti pamit undur diri. Erlangga mulai mengompres kening Elena. Kemudian, melepaskan beberapa kancing baju wanita itu dan mulai menyekanya dengan cukup telaten. "Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kau seperti ini, Elena? Kau membuatku khawatir," monolog Erlangga sambil mengusap wajah Elena dan menatapnya dalam. ''' Hari berganti waktu pun berlalu. Sudah seharian wanita itu tertidur karena pengaruh obat yang diberikan Erlangga padanya. Pemuda berparas tampan bermata setajam elang tersebut dengan setia menunggu Elena sambil memperhatikan kondisi perkembangan Elena. Erlangga menggenggam sebelah tangan Elena dan menciumnya sambil tertunduk. Perlahan, jari-jemari Elena bergerak, kedua matanya pun mulai terbuka. Menandakan Elena telah tersadar. "Akhirnya kau bangun juga," ucap Erlangga dingin. Elena menghela napas dan membuangnya kasar. Memperhatikan ke arah sekitar dan menatap ke arah Erlangga tajam. "Apa yang terjadi?" tanya wanita cantik itu pelan. Erlangga menghela napas. Memajukan sedikit tubuhnya ke arah Elena. wanita itu berusaha menjauh dan menelan ludahnya. "Apa kau tidak tahu yang terjadi dengan dirimu sendiri?" Bukannya menjawab, Erlangga malah balik bertanya. Kebiasaan yang ia lakukan untuk mengintimidasi Elena. Wanita itu menggeleng tidak mengerti. Erlangga kembali menghela napas sambil memegang kedua pundak Elena yang kini posisinya sudah duduk di ranjang. "Kau tertidur sambil merancu, mengganggu tidurku," jelas Erlangga asal. Sebenarnya, Erlangga memang sengaja berkata seperti itu untuk menggoda Elena. Erlangga senang melihat ekspresi wajah Elena yang menggemaskan ketika merasa bersalah dan kesal. "Maafkan aku." Elena berkata pelan sambil tertunduk. Wanita itu berusaha untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya beberapa waktu lalu. Erlangga meraih kepala Elena dan menegakkannya. Memaksa untuk menghadap dirinya. "Tidak semudah itu," ucap Erlangga dengan raut wajah serius. "Maksudmu? tanya Elena sambil membulatkan kedua matanya. "Kau harus membayarnya." "Kau ...." Erlangga sudah tidak tahan dengan ekspresi wajah Elena yang begitu menggemaskan, ia pun meraih wajah Elena dan mencium bibirnya. Elena berusaha menepisnya. Namun, tenaganya kalah kuat dengan Erlangga yang mengunci dirinya dengan cepat. Elena terpaksa menerima ciuman Erlangga dengan hati kesal sambil terus berusaha mengingat yang terjadi padanya beberapa waktu lalu. 'Sebenarnya aku kenapa? Kenapa sampai tidur begitu lama?' Elena bermonolog dalam hati dan membiarkan Erlangga terus bermain di bibirnya. Perlahan, Elena berhasil mengingat kejadian itu. 'Mimpi buruk lagi. Kenapa ingatan itu datang lagi, meski sudah hampir tujuh tahun berlalu?' Kembali, Elena bermonolog dalam hati. Erlangga melepaskan ciumannya dan menangkupkan wajah Elena. mengusap lembut bibir Elena yang basah dengan air liurnya. "Ada apa? Apa kau mengingat sesuatu?" tanya Erlangga yang melihat keanehan pada wajah Elena. Wanita itu menelan ludahnya sambil menghela napas kasar. Kepalanya sedikit berdenyut dan Elena memegangi sambil meremas cukup kuat rambutnya. Napas Elena terdengar bergemuruh, detak jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari normal. "Kau kenapa, Elena?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN