Bab 3 Melarikan Diri

1085 Kata
Erlangga tampak panik melihat ekspresi Elena yang tiba-tiba seperti itu dan terlihat ketakutan sekali. Pemuda itu berusaha meraih kepala Elena. Namun, wanita itu menepisnya kasar. Melayangkan tatapan tajam ke arah Erlangga dengan napas yang masih bergemuruh. "Elena, tenangkan dirimu. Kau kenapa?" tanya Erlangga berusaha untuk tetap tenang, meski tampak panik. "Menjauh dariku, b******n! Menjauh!" seru Elena dengan tatapan menantang. "Elena, kau ...." "Menjauh dariku!" Elena kembali berseru. Tatapannya semakin menantang, ia tidak dapat mengendalikan dirinya. Namun, Erlangga tidak menyerah, ia terus berusaha mendekati Elena dan berhasil meraih kedua tangan wanita itu. Elena terus meronta hingga kedua pergelangan tangannya memerah akibat cekalan Erlangga. "Lepaskan aku!" "Aku tidak akan melepaskanmu sampai kau tenang." "Lepaskan aku!" Erlangga melepaskan cekalannya karena khawatir akan melukai pergelangan tangan Elena dan membawa tubuh wanita itu dalam dekapan nya. Elena berhenti meronta dan mulai mengatur napasnya yang terasa sesak. Perlahan, kesadaran Elena pun kembali dan melemas dalam pelukan Erlangga. "Istirahatlah sebentar lagi. Tenangkan dirimu," ucap Erlangga sambil melepaskan pelukannya dan merebahkan perlahan tubuh Elena di ranjang. Menyelimuti tubuh wanita itu hingga ke d**a. Elena yang lelah pun hanya menurutinya saja. Memejamkan kedua matanya dan terlelap. Erlangga mengecup lembut puncak kepala Elena dan melangkah perlahan keluar kamar. *** Erlangga tampak mondar-mandir dalam ruangannya. Seseorang datang menghampiri, setelah ketukan pintu diabaikan, dengan raut wajah bingung. "Apa yang tengah kau pikirkan? Kenapa gelisah seperti itu?" tanya seseorang yang datang itu. Erlangga menghela napas. "Kenapa mengejutkanku? Tidak bisa kah kau mengetuk pintu sebelum masuk?" omelnya dengan kesal. "Aish, aku sudah mengetuk pintu berkali-kali, tetapi kau tidak mendengarnya. Ada apa denganmu?" jelas seseorang itu dengan sedikit kesal. "Sesuatu terjadi dengan Elena," ucap Erlangga pelan. "Apa? Kenapa? Apa dia melarikan diri lagi darimu?" tanya orang yang ternyata Roland itu dengan penasaran. "Tidak. Bukan itu." "Lalu?" "Kemarin Elena demam dan merancu. Kemudian, aku memberinya obat penenang dan mengompresnya. Ketika ia sadar, Elena seperti orang kerasukan, begitu menakutkan dan mengusirku," jelas Erlangga dengan raut wajah serius. "Lalu? Kau mengikutinya?" "Tentu saja tidak. Aku terus berusaha menenangkannya hingga ia tenang dan tertidur," jelas Erlangga kembali. Obrolan mereka terhenti ketika sebuah panggilan masuk terdengar dari ponsel milik Erlangga. ["Halo, ada apa?"] ["Bos, Nyonya menghilang."] ["Apa? Menghilang bagaimana?"] ["Nyo--Nyonya melarikan diri."] ["Apa? Bagaimana bisa? Apa kalian tidak menjaganya dengan baik?"] ["Kami menjaganya."] ["Kalau menjaganya, bagaimana bisa melarikan diri?"] ["Sepertinya Nyonya melarikan diri melalui balkon kamar. Saya menemukan kain yang terikat di dinding balkon."] ["Apa? Kurang ajar! Cari sampai ketemu!"] {"Baik, Bos."] Panggilan telepon terputus. Erlangga mengepalkan sebelah tangannya dan meninju cukup kuat meja. membuat isinya sedikit menyembul. Roland juga sedikit melompat karena terkejut. "Ada apa? Siapa yang melarikan diri?" tanya Roland dengan penasaran. "Elena melarikan diri. Aku harus mencari dan membawanya kembali," ucap Erlangga dengan geram. Erlangga mengambil jas hitam miliknya yang tersampir di kursi dan melangkah dengan tergesa. Roland mengekor dibelakang tanpa banyak bicara. Erlangga dan Roland berkeliling mengendarai mobil, mencari keberadaan Elena. Mereka melintasi jalan, mulai dari jalan besar hingga kecil. Namun, tidak berhasil menemukan Elena hingga larut malam. Pemuda itu tampak kesal dan hampir putus asa. Namun, belum juga menemukan Elena. Begitu pun anak buah Erlangga. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah untuk beristirahat karena sudah terlalu lelah seharian mencari. "Sial! Ke mana kau Elena? Kenapa aku tidak bisa menemukanmu? Ini aneh sekali, kau seperti menghilang ditelan bumi. Bahkan CCTV pun tidak bisa mendeteksi keberadaan-mu," monolog Erlangga dengan kesal. Seluruh isi meja berhamburan ke lantai, ketika Erlangga menyibak meja kerja di rumahnya. Gelas pun pecah dan berserakan, ikut menjadi korban kemarahan pemuda itu. Roland yang mengikuti Erlangga sejak pagi hanya diam menyaksikan tingkah Erlangga daripada terkena sasaran. Lama kelamaan, Roland menjadi jengah dengan sikap Erlangga yang uring-uringan sejak pagi, ia pun mulai memunguti barang-barang yang dihempaskan Erlangga sambil mendekat ke arah pemuda itu dan meletakkan kembali ke tempatnya. "Apa jika kau marah-marah seperti ini akan membawa hasil? Bisa membuat istrimu kembali?" tanya Roland yang meski pelan. Namun, cukup mengena ke hati Erlangga. "Ke mana lagi aku harus mencarinya? Kenapa, begitu banyak orang di rumah ini, tetapi tidak satu pun melihatnya pergi? ini aneh sekali, bahkan CCTV di sini pun tidak bisa mengawasi Elena dan bisa membuatnya lolos." Erlangga mencoba berpikir keras untuk mengungkap kepergian Elena yang begitu misterius dan di luar jangkauan. Hanya meninggalkan kain seprai yang menjulur dari atas balkon hingga bawah tanpa adanya pengawasan ketat dari anak buahnya. "Tuan," ucap Amar, salah satu anak buah Erlangga yang tadi menelepon pemuda itu. "Apa yang ingin kau jelaskan? Bagaimana Elena bisa lolos dari penjagaan kalian?" tanya Erlangga dengan tatapan tajam mengintimidasi. "Sepertinya, Nyonya Elena sudah membaca situasi di rumah ini, Beliau melarikan diri ketika kami sedang berganti sift sehingga lolos dari jangkauan kami," jelas Amar dengan penuh keyakinan. Erlangga terdiam, mencoba untuk mencerna perkataan Amar yang sepertinya sangat masuk akal. Roland kembali mendekat ke arah Erlangga dan duduk di meja samping pemuda itu. "Aku rasa ucapan Amar ada benarnya. Tidak mungkin istri kecilmu itu bisa melarikan diri dengan mudah jika tidak paham akan situasi rumah. Sebab, setiap hari ia berada di rumahmu. Istrimu bukan wanita bodoh yang bisa dengan mudah kau bodohi. dia juga bukan wanita yang mudah ditaklukkan meski dengan ancaman. Bukan begitu?" jelas Roland dengan sangat hati-hati agar tidak memancing amarah Erlangga. "Kau benar. Sepertinya, aku sudah meremehkan-mu, Elena. Kau bahkan punya seribu cara untuk melarikan diri dariku. Akan tetapi, kau lihat saja nanti, aku pasti bisa menemukan dan membawamu kembali ke rumah ini. Aku akan mengikuti permainanmu, Elena. Tunggu sampai aku menemukan dan membawamu. Kau pasti akan menyesal telah bermain-main denganku," monolog Erlangga sambil mengepalkan kedua tangannya dan menatap ke arah dinding dengan tatapan tajam. *** Hari demi hari pun berlalu. Sudah satu minggu sejak kepergian Elena, Erlangga belum juga mendapatkan informasi mengenai keberadaaan wanita tersebut. Sifat tempramen dan keras kepala Erlangga semakin jelas terlihat. Emosi, kesal, kehilangan, dan kecewa menjadi satu dalam diri pria itu. "Bagaimana? Apa masih belum ada kabar mengenai Elena?" tanya Erlangga ketika Roland masuk ke ruang kerja Erlangga. Roland menghela napas kasar. Pria berparas manis dengan kumis tipis itu mengambil kursi di hadapan Erlangga dan duduk sambil menyilangkan kakinya. "Aku sudah mencari ke mana-mana. Namun, belum bisa menemukannya. Bahkan, ke tempat di mana wanita itu dulu tinggal dan tempat kerja lamanya. Teman-temannya pun tidak ada yang mengetahui keberadaan istrimu," jelas Roland panjang lebar. "Bagaimana dengan laki-laki yang bersama Elena kala itu? Apa kau bertemu dengannya?" tanya Erlangga yang teringat dengan seorang laki-laki yang pernah ia temui bersama Elena ketika jamuan beberapa waktu lalu. "Aku tidak pernah melihatnya semenjak acara hari itu," ucap Roland pelan. "Jangan-jangan, pria itu yang membawa lari Elena?" curiga Erlangga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN