Erlangga terdiam sejenak. Menatap ke arah Elena dan menangkupkan wajah cantiknya, meski Elena berusaha menghindar. Namun, Erlangga menahannya agar tetap menghadap dirinya. "Jadi, itu yang ada dalam pikiranmu selama ini tentangku, Elena? Aku tahu, kau masih belum sepenuhnya menerima-ku. Namun, aku sedang berusaha untuk memperbaiki dan menebus kesalahanku padamu. Tidak bisa kah kau mempercayaiku?" jelas dan tanya Erlangga dengan wajah serius. Elena kembali menatap garang ke arah Erlangga. "Bagiamana aku percaya padamu, jika kau saja tidak bisa percaya padaku dan terus mencurigaiku?" tanyanya dengan pelan. Namun, cukup membuat Erlangga kesal. "Aku tidak mencurigaimu. Aku hanya ...." "Cemburu? itu lau jadikan alasan. kau tidak mengizinkan aku dekat dengan laki-laki meski hanya mengobrol bi

