Elena masih terbaring lemah di ranjang ruangan perawatan. Sebelah tangannya terbalut infus dan kedua hidungnya ada selang oksigen untuk membantu pernapasannya. Erlangga masih setia menemani sambil menggenggam tangan Elena. Raut wajahnya tampak sedih mentap ke arah Elena yang terlihat pucat. "El, bangunlah. Jangan membuatku khawatir. Maki dan lampiaskan amarahmu padaku sepuas hatimu. Maafkan aku, Sayang." Erlangga mempererat genggaman tangannya sambil mencium punggung tangan Elena yang terbalut infus. Kemudian, membelai rambut hitam yang terurai dan mencium puncak kepala Elena mesra. Begitu lelahnya Erlangga karena seharian mengurs Elena dan mengabaikan untuk makan, Erlangga terlelap di samping Elena dengan sebelah tangan Erlangga yang masih tertaut pada wanita itu. ~~~ Waktu berlalu d

