Enam tahun lalu.
seorang perempuan muda masih terbaring lemah di ranjang pasca melahirkan. Meski kondisinya sudah stabil. Namun, ia masih harus berada di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan intensif pasca operasi cecar yang dialami wanita itu.
Seorang pemuda tampak memperhatikannya dari balik dinding kaca yang membatasi ruangan ICU dengan ruang tunggu. Kedua tangannya menyentuh kaca dengan tatapan penuh khawatir.
"Kenapa dia belum sadarkan diri juga, padahal, kondisinya sudah membaik?" monolognya lirih tanpa melepaskan tatapannya.
Cukup lama pemuda itu memperhatikan wanita muda itu. Ada kesedihan di kedua matanya. Sebuah tepukan pelan di pundak mengejutkannya hingga ia sedikit terperanjat.
"Sejak kemarin kau selalu memperhatikan wanita itu. Apa kau begitu mengkhawatirkannya?" tanya Roland yang sejak tadi memperhatikan pria di depan ruang ICU itu dari kejauhan.
Pria itu menghela napas dan mengembuskan nya kasar. "Tentu saja aku mengkhawatirkannya. Bukan hanya dia, tetapi juga bayi mungil itu. Kenapa kalian mengalami nasib seperti ini?" jelasnya sambil mengepalkan kedua tangannya.
Roland terdiam sejenak, kedua matanya melirik ke arah wanita yang masih terbaring lemah tak berdaya. Pria yang ternyata Erlangga begitu terpukul dan bersedih melihat wanita cantik tersebut.
"Aku yakin dia wanita yang kuat. Percayalah, Erl, dia bisa melalui semua ini," ucap Roland berusaha menenangkan Erlangga dengan menepuk pelan pundak sahabat sekaligus bosnya tersebut dan mengusap lembut bahu Erlangga.
"Bagaimana kalau dia ...."
Kalimat Erlangga terjeda, ia melihat ada pergerakan pada diri perempuan muda tersebut. Sepertinya wanita itu mulai siuman. Dengan segera, Erlangga menghubungi dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tak lama dokter dan seorang perawat datang, langsung menghampiri pasien wanita muda itu dengan pakaian khusus ruangan tersebut. Erlangga ikut masuk, untuk memastikan bahwa perempuan tersebut benar-benar telah sadarkan diri.
Setelah selesai pemeriksaan, wanita itu memperhatikan satu per satu orang-orang di sekitarnya. Menelan ludah dan kembali menatap ke arah dokter.
"Di mana aku? Kenapa aku ada di sini? Apa yang telah terjadi?" tanya wanita muda itu dengan bingung.
"Anda berada di ICU rumah sakit. Sejak kemarin tidak sadarkan diri pasca melahirkan," jelas dokter berparas manis di hadapannya itu dengan lembut dan tenang.
"Apa? Rumah sakit? Melahirkan? Bayi--bayi saya di mana? Kenapa saya tidak melihatnya sejak sadarkan diri?" tanya wanita itu kembali sambil melirik ke arah sekitar mencari keberadaan bayinya.
"Tenang Nyonya. Bayi Anda masih di ruang perawatan, ada gangguan pada jantungnya. Jadi, dia harus mendapatkan perawatan intensif," jelas dokter muda itu kembali setenang mungkin.
"Apa? Bayi saya kenapa, Dok?" tanya sang perempuan sambil menarik pelan lengan baju dokter muda di hadapannya.
"Bayi Anda mengalami kelainan pada jantungnya. Ada kelainan kongenital yang berupa terbentuknya lubang atau celah pada dinding pemisah dua atrium jantung, atau biasa disebut dalam istilah kedokteran Atrial Septal Defect (ASD)" jelas dokter dengan wajah serius.
"Apa berbahaya? Apa bayi saya bisa selamat?" tanya wanita itu lagi dan lagi dengan wajah cemas.
"Insya Allah. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan bayi Anda. Namun, kami meminta Anda untuk tetap tenang dan fokus pada kesembuhan diri Anda juga."
Dokter kembali memberikan penjelasan sembari mencabut kabel yang menempel di d**a wanita muda itu dan selang oksigen pada kedua lubang hidung perempuan tersebut agar lebih leluasa bicara. Wanita itu mengangguk pelan.
Dokter selesai melakukan pemeriksaan. Lalu, keluar ruangan bersama perawat. Sementara Erlangga masih berada di ruangan itu bersama wanita berparas cantik itu.
"Anda tidak perlu khawatir. Saya akan urus semua biaya rumah sakitmu juga bayimu. Rumah sakit akan memberikan yang terbaik untuk kalian," ucap Erlangga sambil duduk di kursi samping perempuan berambut sepinggang itu.
"Anda siapa? Kenapa ingin membantuku?" tanya wanita itu dengan curiga.
Wajah Erlangga memang tidak tampak sepenuhnya karena tertutup masker dan pakaian khusus ruang ICU hingga sulit untuk perempuan itu mengenalinya.
"Saya hanya ingin membantu Anda. Saya ...."
"Suara Anda seperti begitu familiar sekali. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" sela wanita di hadapan Erlangga itu yang tiba-tiba merasa tidak asing dengan suara Erlangga.
"Emm, mungkin Anda salah ingat. Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Istirahatlah dengan baik. Kau harus pulih dengan cepat demi bayimu," ucap Erlangga sambil mengusap dahi perempuan muda itu dan beranjak meninggalkan wanita tersebut.
Wanita cantik itu terperangah menatap punggung Erlangga yang semakin menjauh dan hilang dari pandangan. Ada kecurigaan dalam dirinya.
'Aneh sekali orang itu. Siapa dia sebenarnya?' batin perempuan muda yang baru sadarkan diri itu sambil menghela napas.
***
Satu minggu berlalu pasca wanita muda itu melahirkan. Kondisi perempuan tersebut sudah mulai membaik, meski ia belum bisa menemui bayinya yang masih dalam perawatan insentif.
Perempuan itu merasa bosan terus berada di ruang perawatan, ia ingin keluar untuk berjalan-jalan di sekitar taman rumah sakit untuk sekedar menghirup udara segar.
Wanita muda berparas cantik itu turun dari ranjang dan melangkah pelan menuju pintu. Namun, langkahnya terhenti ketika ia hendak membuka pintu.
"Sepertinya wanita itu sudah semakin membaik. Lalu, kapan kau akan memberitahu kebenarannya kepada Nona itu?" tanya Roland yang sedang duduk berbincang dengan Erlangga di luar ruangan rawat.
Erlangga menghela napas panjang. "Aku belum tahu. Aku masih belum siap mengatakan yang sebenarnya pada wanita itu bahwa aku yang sudah membuatnya seperti itu," ucapnya lirih.
"Apa? Jadi, kau yang sudah membuatku seperti ini? Kau adalah ...."
"Kau ...."
Erlangga dan Roland terkejut bukan kepalang. Tiba-tiba saja wanita itu sudah berdiri di hadapan mereka dan berbicara cukup keras. Membuat keduanya terperanjat dibuat oleh perempuan tersebut.
"Kenapa? Apa kau terkejut melihatku? Pantas saja aku merasa familiar dengan suaramu. Ternyata, aku baru melihat wajahmu sekarang dan benar, kau memang tidak asing bagiku," ucap wanita itu sambil menatap tajam ke arah Erlangga.
"Nona, dengarkan dulu penjelasanku. Aku ...."
"Ini semua atas perintahmu? Kau sengaja menyelamatkan aku dan bayiku untuk bisa memperdayaku. Rencana apa lagi yang akan kau buat?" tuding wanita itu dengan sorot mata tajam.
"Nona. Tolong tenang dulu. Aku bisa jelaskan semua. Aku ...."
"Di mana bayiku? Pasti kau sudah menyembunyikannya dariku. Di mana dia? Di mana?"
"Aku akan jelaskan semuanya dan beritahu di mana bayimu. Namun, aku minta kau tenang dulu," jelas Erlangga berusaha tenang menghadapi wanita yang mulai emosi itu.
"Tenang katamu? Bagaimana aku bisa tenang menghadapimu? Apa kau sengaja ingin mengambil bayiku dariku?"
"Tidak. Bukan begitu maksudku. Aku ...."
"Di mana bayiku?"
Wanita itu semakin emosi. Sorot matanya begitu menakutkan, seperti harimau yang hendak memangsa. Napasnya bergemuruh menahan amarah.
"Nona."
"Di mana bayiku?"
"Nona."
"Di mana?"
Erlangga langsung memeluk wanita itu tanpa persetujuan darinya. Meski perempuan tersebut meronta Erlangga tetap memeluknya. Hal itu dilakukannya untuk membuat sang wanita tenang.
"Lepaskan aku."
"Lepaskan aku!"
Erlangga tidak mengindahkan perkataan wanita muda itu, ia tetap memeluknya dengan erat. Membuat perempuan tersebut semakin kesal dan emosi.
"Aku akan melepaskanmu kalau kau tenang dan mendengarkanku," ucap Erlangga lembut sambil terus memeluk wanita itu.
Wanita itu pun menyerah karena sudah terlalu lelah. Emosi telah menguras tenaganya. Lagi pun, ia tidak mampu melawan Erlangga yang tenaganya cukup kuat.
***
Enam tahun kemudian.
Elena duduk di depan meja rias sambil mematut dirinya di cermin. Menyisir perlahan rambut panjang sepinggangnya dan menguncir tinggi. Memberi sedikit poni untuk menutupi keningnya. Tampak cantik dengan balutan dress berwarna biru langit selutut.
Sepasang anting menghiasi kedua telinganya. Sentuhan lipstik berwarna merah muda dan polesan make up di pipi, meski tipis. Namun, tetap membuat Elena terlihat cantik alami. Usai bercermin, ia mengenakan sepatu hells berukuran lima centimeter. Membuat kakinya terlihat jenjang. Mengangklek tas berukuran sedang berwarna senada dengan pakaiannya. Menyemprotkan parfum beraroma stroberi, membuat wanita itu terlihat segar dan memesona.