Bab 6 Kembali ke Perusahaan

1197 Kata
Elena melangkah masuk ke dalam lobi kantor. Petugas keamanan membukakan pintu sambil sedikit membungkuk memberi hormat. Karyawan lain pun melakukan hal yang sama kepada Elena. Senyum terukir di sudut bibir wanita itu membalas sapaan mereka. Wangi stroberi menyeruak ketika Elena berjalan. Tampak begitu menyegarkan terhidu oleh hidung. Wanita berparas cantik itu memasuki ruangannya. Menatap ke arah sekeliling sambil menyentuh meja dan duduk di kursi kebesarannya. Menghela pelan sambil tersenyum kecil. "Akhirnya, aku bisa kembali lagi ke tempat ini. Setelah cukup lama meninggalkannya," monolog Elena sambil memandangi foto dirinya bersama Elard, buah hati terkasihnya. Senyum kembali terbit dari bibir seksinya ketika melihat anak kecil berparas tampan tersenyum sambil memeluk dirinya di dalam figura foto yang terpampang di sudut meja kerjanya. ~~~ Erlangga turun dari mobil ketika tiba di lobi kantor. Langkahnya terhenti ketika kedua kakinya menyentuh sebuah bola yang menggelinding dari arah berlawanan. Seorang anak kecil berparas tampan setengah berlari menghampiri dan berhenti tepat di hadapan Erlangga yang masih menatap bola di hadapannya. "Permisi, Om. Boleh saya mengambil bola itu," ucap anak kecil itu sambil menunjuk ke arah bola yang berada di kaki Erlangga. Pria itu tersentak dan kembali ke alam sadar. Mengambil bola tersebut dan menatap anak kecil tersebut dengan tatapan tajam. Namun, tidak membuat takut anak itu. "Ini milikmu?" tanya Erlangga lembut sambil berjongkok. Mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil itu. "Iya, Om," jawab anak kecil itu lembut. "Kenapa bermain sendiri? Di mana orang tuamu?" tanya Erlangga penasaran. "Daddy-ku sudah tidak ada. Mommy bilang daddy berada di sana. Sedang mommy-ku bekerja di sebuah perusahaan. Aku sedang bermain di taman itu bersama Suster Rani dan mencari bola yang terlempar ke sini," jelas anak kecil itu dengan sangat lancar. Sebelah tangan kecilnya menunjuk ke arah langit, seolah memberitahukan keberadaan ayahnya. Erlangga menoleh ke arah langit dengan perasaan iba. Pemuda itu teringat akan buah hati terkasihnya yang juga sudah tidak ada. Kemudian, menatap ke arah taman yang berjarak tidak jauh dari kantornya berada. Tampak seorang perempuan setengah baya sedang melangkah cepat ke arah Erlangga dan anak tersebut. "Tuan Muda, ternyata kau ada di sini. Tu--Tuan, saya minta maaf mengganggu Anda," ucap Suster Rani dengan sedikit gugup sambil menunduk. Tidak berani menatap Erlangga. Erlangga terperangah. Lamunannya membuyar ketika mendengar suara perempuan itu memanggil tuannya. "Jadi, perempuan ini adalah suster-mu?" tanya Erlangga kepada anak kecil di hadapannya tersebut. "Iya, Om," jawab anak kecil itu sambil mengangguk. "Sekali lagi saya meminta maaf," ucap suster itu kembali. "Tidak apa. Lain kali, jangan bermain di jalan sendiri. Dan kau, jaga dia baik-baik. Usianya masih terlalu kecil untuk berkeliaran sendiri di jalan, apalagi ramai orang dan lalu lintas. Sangat berbahaya," nasihat Erlangga sambil menatap ke arah anak kecil itu serta suster di sebelahnya bergantian. "Baik, Tuan. Kalau begitu, saya permisi. Ayo Tuan Muda, kita kembali. Sudah waktunya makan dan minum obat," jelas Suster Rani sambil menuntun anak kecil itu. "Tunggu! Apa anak ini sedang sakit?" tanya Erlangga penasaran. "Iya, Tuan. Tuan muda memiliki penyakit jantung bawaan dan harus mengkonsumsi obat sejak lahir," jelas suster itu dengan raut wajah serius. 'Anak ini memiliki riwayat penyakit jantung bawaan sejak lahir. Sama seperti putraku,' batin Erlangga. "Emm, berapa usiamu, Nak?" tanya Erlangga lembut. "Enam tahun," ucap anak kecil itu dengan ciri khas anak kecil pada umumnya. 'Apa? Anak ini berusia enam tahun. Sama seperti usia putraku. Apa dia ....' "Maaf, Tuan. Saya harus pergi. Permisi," ucap Surti Rani pamit undur diri sambil mengandeng sebelah tangan anak kecil itu. Lamunan Erlangga membuyar seketika mendengar suara Suster Rani. Pria itu mengangguk dan membiarkan kedua orang itu berlalu. Namun, Erlangga terus memandangi punggung keduanya sampai menghilang dari pandangan. 'Siapa anak itu? Kenapa riwayatnya sangat mirip dengan penyakit putraku. Wajahnya pun mirip denganku. Apa dia putraku? Tapi, kata Elena, anak itu sudah tidak ada. Apa Elena membohongiku? Tapi, ayah anak itu sudah tidak ada. Apa mungkin hanya kebetulan saja mirip,' monolog Erlangga dalam hati. "Tu--Tuan. Ada apa?" tanya Fahrul, supir pribadi Erlangga. "Emm, tidak ada," ucap Erlangga sambil melangkah masuk. Setibanya di ruangan, Erlangga duduk di kursi kebesarannya sambil melamun. Pikirannya masih tertuju pada anak kecil yang ia temui di lobi beberapa waktu lalu. Ketukan pintu pun tidak terdengar olehnya. Roland pun menerobos masuk karena kesal tidak ada jawaban dari Erlangga. "Aish, pantas saja tidak mendengar ketukan pintu, sampai tanganku memerah. Ternyata kau sedang melamun," oceh roland dengan sedikit kesal. Erlangga menghela napas kasar, ia tidak lagi marah melihat Roland yang tiba-tiba masuk ke ruangannya. Sudah biasa bagi Erlangga prihal tingkah Roland tersebut. "Maaf, aku tidak mendengarnya," ucap Erlangga pelan. "Hei, ada apa denganmu? Kenapa sikapmu tampak biasa saja? Biasanya, kau selalu memarahiku jika aku masuk ruangan-mu tanpa izin," ucap Roland merasa heran. "Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," ucap Erlangga dengan malas. Roland tertawa, ia merasa terkejut dengan sikap Erlangga yang tiba-tiba lembut. Tidak seperti biasanya, selalu mudah emosi dan selalu marah-marah. "Ada apa denganmu? Kau tampak tidak biasa hari ini?" tanya Roland semakin penasaran. "Tadi, aku bertemu anak kecil. Usianya sekitar enam tahun. Dia memiliki riwayat penyakit yang sama dengan putraku. Wajahnya pun sangat mirip denganku. Aku merasa seperti sedang bertemu dengan putraku yang sudah tidak ada," ucap Erlangga dengan raut wajah sedih. "Apa yang kau katakan itu benar?" tanya Roland sedikit ragu. "Benar." "Mungkin saja dia benar putramu," tebak Roland. "Tidak mungkin. Putraku sudah tiada. Buktinya sudah cukup jelas. Apalagi, anak itu bilang jika ayahnya sudah tidak ada. Jadi, mana mungkin dia putraku," sangkal Erlangga. "Apa kau yakin?" "Maksudmu?" "Apa kau tahu di mana putramu di makamkan? Apa kau tahu keberadaan Elena sebelum bertemu denganmu? Tempat tinggalnya? Kehidupannya? Juga tentang anak yang kau temui itu. Bisa saja itu tidak benar, atau anak itu tidak tahu pasti di mana ayahnya berada. Jadi, dia bicara seperti itu," cecar Roland dengan wajah serius. Erlangga terdiam. Mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut Roland. Jika dipikir-pikir, ucapan Roland ada benarnya juga. Erlangga memang tidak tahu kehidupan Elena setelah berpisah dengannya. Bukti yang ia miliki pun tidak terlalu akurat dan penuh kejanggalan. Kecurigaan Roland tentang anak itu pun memiliki alasan yang kuat. Bisa jadi omongan lelaki berkumis tipis itu benar adanya. "Tapi aku ragu," ucap Erlangga sedikit ragu. "Kenapa tidak kau coba cari tahu saja?" tanya Roland mencoba memberi solusi. "Kau benar. Cari tahu tentang anak itu!" perintah Erlangga kepada Roland dengan wajah serius. Roland mengangguk tanpa banyak bicara. Pemuda itu segera keluar dari ruangan Erlangga. Melanjutkan pekerjaannya dan menjalankan perintah pria bermata elang tersebut. *** Elard melangkah pelan menuju ruang tamu. Kemudian, duduk di sofa di samping Sang Mommy. Wanita cantik itu menatap dalam putra kecilnya yang terlihat begitu menggemaskan tersebut. "Sayangnya Mommy. Bagaimana harimu hari ini?" tanya wanita itu sambil mengulas senyum. "Sangat baik. Tadi, aku bertemu dengan Om Tampan ketika sedang mengambil bola yang terlempar saat bermain di taman," jelas anak kecil itu dengan wajah serius. "Om Tampan? Siapa?" tanya wanita itu sambil menautkan kedua alisnya penasaran. "Om Tampan yang menemukan bola aku. Suster Rani juga tahu," ucap anak Elard dengan raut wajah yang sama. "Om Tampan siapa, Sus?" tanya Elena sambil melirik ke arah Suster Rani penuh selidik. "I--Itu Nyonya. Tadi, Tuan Muda menemui seseorang di depan gedung Graha Rahardian Grup untuk mendapatkan bolanya yang terlempar dan jatuh di kaki orang itu," jelas Suster Rani dengan wajah serius. "Apa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN