Bab. 2 Namaku Laura

1396 Kata
Mentari tampak bersinar dari balik mega. Menerobos untaian kabut yang masih turun menyelimuti sebuah perkampungan. Di salah satu rumah penduduk, seorang wanita tampak tergeletak di atas ranjang. Tidak lama kemudian tubuh ramping itu pun menggeliat. Laura tampak terjaga dari tidurnya. Dengan perlahan ia mengumpulkan kesadaran. Sambil menatap ke langit-langit. "Di mana aku?" tanya gadis itu sambil bangun dan menelisik sekeliling kamar. Laura tampak heran ketika menyadari berada di dalam rumah. Dengan dinding yang terbuat dari kayu, tetapi cukup nyaman sepertinya. "Bagaimana aku bisa berada di sini?" tanya Laura yang masih kebingungan. Ia juga melihat tubuhnya yang seksi berbalut selimut hangat. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu berderit. Seorang gadis berhijab datang dengan seulas senyum yang mengembang. "Alhamdulillah ... Kakak sudah bangun," ucap gadis itu sambil meletakkan bawaannya di atas meja sebelah ranjang. "Si-siapa kamu dan di mana aku?" tanya Laura sambil merasakan tubuhnya yang masih ngilu. Gadis itu segera mengulurkan tangannya dan menjawab, "Kenalkan nama saya Aisyah dan Kakak sekarang berada di kamarku." Dengan perlahan wanita itu menyambut uluran tangan Aisyah dan menyebutkan namanya. "Laura, siapa yang telah membawaku ke sini?" tanya wanita itu penasaran. Ia ingat betul akan kejadian yang menimpanya semalam. "Abang Genta yang membawa Kakak ke kamarku tadi malam," jawab Aisyah kembali." Laura pun teringat dengan kejadian semalam. Pasti pria itu membawanya ke rumah ini. Setelah mengetahui namanya, ia jadi ingin mengenal lebih jauh lagi siapa dewa penolongnya itu. "Sekarang Abang Genta di mana?" tanya Laura kembali. "Tidur, habis begadang. Kakak pacarnya ya?" jawab Aisyah sambil balik bertanya. Laura tampak tercengang mendapat pertanyaan seperti itu. Mana mungkin ia mau pacaran dengan pria brewokan sangar dan ketus seperti itu. Masih kalah jauh sama tunangannya Roby yang tampan, tetapi play boy. "Bukan, kami hanya berteman," jawab Laura kembali. "Kakak pasti lapar, ayo silakan dimakan mumpung masih hangat!" ujar Aisyah sambil menyodorkan semangkuk bubur dan segelas minuman hangat. Laura tampak mengangguk kecil sambil melirik ke arah segelas teh dan semangkuk bubur kacang hijau yang masih mengepul. Jujur dia belum pernah sarapan dengan menu seperti itu. Akan tetapi, aroma melati yang harum membuatnya ingin segera mencicipi. Ketika hendak meraih gelas tiba-tiba Laura merasa tangannya sakit. "Aoww ...." rintihnya sambil menyeringai. "Biar aku bantu Kak." Aisyah segera mengambil gelas itu dan menyodorkannya ke bibir Laura. "Enak sekali, apa kamu yang membuatnya?" tanya Laura sambil menyesap aroma melati yang begitu harum. "Iya, kalau boleh tahu Kakak dari mana!'' jawab Aisyah sambil bertanya. Laura kemudian menjawab, "Dari Jakarta." Mereka kemudian saling mengenal satu sama lain. Sementara itu di kamar belakang, Genta tampak terjaga ketika seberkas sinar mentari menerobos dari celah jendela dan menerpa wajahnya. Pria itu mengintip jam yang telah menunjukan pukul sembilan pagi. Ia segera bangun karena harus mengantar Laura pulang. Setelah membasuh diri dan berpakaian, Genta segera mencari Laura. Akan tetapi, ia justru bertemu dengan Jaka yang terlihat banyak pikiran. "Kenapa?" tanya Genta dengan heran. Jaka menghela napas panjang dan menjawab, "Beberapa kantor dan mal, tidak memperpanjang kontrak lagi. Kalau begini terus keuangan kita bisa defisit." Genta kemudian menyahuti, "Atur saja bagaimana baiknya. Aku akan selalu mendukung keputusanmu." "Ya sudah, nanti aku pikirkan solusinya. Oh ya siapa gadis itu?" ujar Jaka sambil bertanya karena Genta semalam pulang bersama seorang wanita. "Nggak tahu, tidak ada identitas yang tertinggal. Aku cuma lihat dia mau diperkosa oleh begal. Terus...." Genta kemudian menceritakan awal pertemuannya dengan Laura sampai tiba di rumah ini. "Begitulah." Mendengar cerita Genta, Jaka merasa iba dan memberikan pendapatnya, "Miris sekali, oh ya sejak kapan kamu peduli sama wanita?" tanya pria itu sambil tersenyum. Merasa Jaka menyindirnya, Genta memberikan jawaban yang tegas, "Hanya kasihan, sudahlah jangan dibahas lagi. Aku harus mengantarnya pulang." Genta menyadari ada seseorang yang sedang menguping di balik tembok. Dengan langkah nyaris tanpa suara ia melangkah dan segera menarik orang itu ke luar. "Lepaskan sakit!" seru Laura sambil meronta. "Kebetulan sekali, ayo aku antar pulang!" ujar Genta tanpa melepas cengkeramannya. "Aku tidak mau pulang, biarkan diriku tinggal di sini untuk sementara waktu!" pinta Laura setengah mengiba. Genta menggeleng seraya berkata, "Jangan harap!" Tiba-tiba Aisyah datang seraya berseru, "Bang Genta lepasin tangan Kak Laura!" Ia lalu menoleh kepada ayahnya dan meminta, "Kakak cantik masih sakit dan habis kena begal semalam. Bolehkan untuk tinggal beberapa hari lagi, Yah?" Jaka tampak berpikir sesaat dan menyahuti, "Ya sudah, Laura boleh tinggal di sini sampai kondisinya membaik. Nanti kita bicara ya!" Jaka menyetujui permintaan Aisyah. "Terima kasih Ayah, ayo kita ke kamar Kak!" ucap gadis itu sambil mengajak Laura pergi. Laura senang sekali diizinkan tinggal di rumah ini oleh Aisyah dan Jaka. Ia kemudian tersenyum simpul ke arah Genta. Melihat itu Genta terlihat kesal dan mempertanyakan keputusan Jaka, "Kenapa kamu izinkan Laura tinggal di sini?" "Kasihan dia habis kena musibah, sepertinya juga mempunyai masalah yang cukup besar dan tertekan. Mungkin di tempat ini beban pikirannya bisa berkurang. Lagipula Aisyah juga senang sekali mempunyai teman perempuan," jawab Jaka setelah membaca raut wajah Laura. "Halah, kamu sama Aisyah sudah kena tipu. Lihat saja penampilannya seksi dan glamor begitu! Feelingku mengatakan dia akan menjadi masalah saja buat kita," sungut Genta yang tidak mempercayai Laura sama sekali. "Jangan begitu, dia hanya seorang wanita! Terkadang orang tidak perlu jujur karena sesuatu alasan." Jaka memberikan pendapatnya. Genta berpikir benar juga apa kata Jaka Gadis macam Laura itu tipe tidak bisa hidup susah paling besok akan merengek minta diantar pulang. "Oke, dia boleh menginap di sini tidak lebih dari tiga hari. Selain itu jangan biarkan masuk ke kamarku!" tegasnya sambil berlalu. Jaka tidak heran melihat sikap Genta yang dingin terhadap wanita. Ia tahu sahabatnya itu memiliki rasa simpati yang tinggi. Jika Laura bukan seorang gadis, pasti akan diperlakukan beda. Namun, Jaka pun bertanya-tanya. Siapa gerangan Laura yang sebenarnya? *** Sungguh Senopati merasa sangat menyesal telah menampar Laura tadi malam. Pasti putrinya itu sangat marah dan kecewa. Melihat secara langsung dirinya menggauli wanita yang sudah bersuami. Kini ia akan memberikan penjelasan agar Laura tidak marah lagi. Namun, pria itu tampak terkejut ketika asisten memberitahu. Jika Laura belum pulang dari semalam. Apalagi setelah ia mengetahui Soni juga baru sampai di rumah seorang diri. "Mana Laura?" tanya Senopati dengan serius. "Saya tidak tahu Tuan, semalam Non Laura membawa mobil sendiri," jawab Soni dengan ketegangan yang menyelimuti wajahnya. Mendengar itu Senopati sangat murka sekali dan bertanya, "Apa?! Kenapa kamu biarkan dia pergi sendiri?" "Maaf, Non Laura bilang sudah mendapat izin dari Tuan," jawab Soni apa adanya. Senopati tidak mau menerima alasan apa pun dan tetap menyalahkan Soni sebagai bodyguard Laura, "Lalai! Seharusnya kamu tidak percaya dengan Laura begitu saja!" "Saya juga langsung menyusul Non Laura, tetapi kehilangan jejak." Soni mencoba memberikan penjelasan. "Ini semua gara-gara kamu mengantar Laur ke vila itu," sergah Senopati yang tetap menyalahkan pria itu. Soni kembali memberikan alasan, "Saya hanya mengikuti perintah Non Laura yang habis ribut besar dengan Mas Roby di klub." Senopati tampak mengernyitkan dahinya. Mungkinkah semalam Laura mau mengadu kepadanya. Tuan Senopati terlihat geram sekali jika memang itu yang sebenarnya. "Kurang ajar, aku akan membuat perhitungan dengannya. Hubungi semua teman-teman Laura!" serunya kemudian dengan gigi yang menggertak. "Sudah Tuan, tetapi mereka tidak ada yang tahu di mana Nona Laura sekarang berada," jawab Soni sambil tertunduk takut. Pria paruh baya itu segera mencengkeram kerah kemeja Soni dengan berang seraya berseru, "Cari terus Laura sampai ketemu dan jangan pernah kembali tanpa membawa putriku. Satu hal lagi berita ini tidak boleh tersebar!" "Baik Tuan, saya akan terus mencari Non Laura," sahut Soni yang segera melaksanakan perintah itu. Senopati terlihat cemas dan sangat khawatir, akan keselamatan putrinya. Terutama dari orang-orang yang tidak suka kepadanya. Laura tetap menjadi harta yang paling berharga bagi Senopati, meskipun telah memiliki segalanya. Ia kemudian mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Laura belum pulang dan cari sampai ketemu. Jika terjadi sesuatu terhadap putriku, maka pertunangan kalian akan batal dan kau orang pertama yang harus bertanggungjawab, Roby!" seru Senopati sambil mematikan sambungan itu. Sementara itu di sebuah ruman mewah, seorang wanita berpakaian rapi tampak menatap ke luar jendela. Sepertinya ia sedang menunggu yang entah siapa. Tidak lama kemudian, seorang lelaki datang menghadapnya. "Apa yang terjadi?" tanya wanita itu sambil menatap dengan tajam. "Laura belum pulang ke rumah, dari semalam," jawab lelaki itu memberitahu Wanita itu kemudian berbalik dan berseru, "Bawa anak buahmu untuk mencari Laura dan bawa ke rumahku!" "Baik, permisi," jawab lelaki itu yang segera menjalankan tugas. Wanita itu kemudian mengambil sebuah foto dari dalam sebuah laci. "Kau akan tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat berharga, Senopati!" desisnya sambil meremas foto itu dengan penuh dendam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN