Laura tampak senang sekali diizinkan menginap. Rumah ini sepertinya cukup sepi dan jauh dari pemukiman penduduk. Dengan begitu dirinya bisa bersembunyi dengan aman. Lagipula pemandangannya sangat asri, indah, sejuk dan tenang. Semua terlihat sederhana, tetapi sangat nyaman sekali. Jadi anggap saja sedang liburan.
Tidak terasa tiga hari sudah Laura tinggal rumah Aisyah. Laura diperlakukan dengan istimewa, sehingga membuatnya kian betah saja. Laura pintar menyesuaikan diri dan mau makan apa saja yang disuguhkan Aisyah.
"Bang, potongin ayam lagi!" pinta Aisyah yang mau masak gulai.
"Sudah habis," jawab Genta singkat.
"Itu masih ada di kandang," sahut Aisyah kembali.
"Itu sedang ngerem. Kamu tega telurnya pada busuk semua. Terus kalau sudah ada yang menetas nggak kasihan sama anak ayamnya?" jelas Genta kemudian.
"Iya, nanti seperti aku tidak punya ibu," sahut Aisyah dengan wajah yang sendu.
Genta jadi tidak enak hati melihat Aisyah sedih. Ia berpikir ini semua gara-gara ingin menjamu Laura. Mana bisa gadis kota itu makan dengan tahu, tempe, lalapan, dan sambel saja. Lama-lama bisa ngelunjak, kalau dituruti terus.
"Ai, kamu ke pasar saja sekalian beli daging!" saran Genta sambil menyodorkan dua lembar uang merah kepada gadis itu.
"Baik Abang, terima kasih," ucap Laura dengan girangnya.
Setelah Aisyah pergi ke pasar dengan diantar ayahnya, Genta segera menemui Laura. Kebetulan gadis itu sedang duduk di taman.
"Hemm... kamu harus pergi," ujar Genta membuka pembicaraan.
"Aku tidak mau pulang," tolak Laura dengan tegas.
Genta kembali membujuk Laura,
"Jangan buat orangtuamu cemas!"
"Kamu tidak tahu apa yang aku alami dan rasakan." Laura tetap pada pendiriannya tidak mau pergi.
"Setiap orang punya masalah, jangan sampai Aisyah dan ayahnya disalahkan oleh orang tuamu," ujar Genta yang membuat Laura berpikir sejenak. "Apa kamu mau aku antar ke suatu tempat?" tanya pria itu menawarkan diri.
Laura membenarkan apa yang Genta katakan. Ia tahu betul sifat ayahnya yang suka membesar-besarkan masalah. Pasti salah paham dan menuduh Jaka telah menculik. Itu tidak boleh terjadi, Laura tidak mau menyusahkan orang lain. Belum lagi hukuman yang akan diterimanya karena telah bergaul dengan sembarangan orang.
"Baiklah, aku mau ke Bandung." Akhirnya Laura mau pergi dari rumah Aisyah. Setelah apa yang terjadi, gadis itu ingin tinggal bersama ibunya di kota kembang.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, nanti biar aku yang bilang sama Aisyah dan Jaka," ujar Genta sambil tersenyum.
Laura tampak mengangguk dan segera mengikuti Genta menuju ke mobil yang diparkir di halaman rumah. Tidak lama kemudian mereka sudah meluncur menuju ke Bandung.
***
Di sepanjang perjalanan, Laura mulai terbuka kepada Genta. Bahkan sampai curhat tentang kehidupannya yang penuh dengan tekanan dan pengekangan. Genta tampak mendengarkan dengan saksama sambil tetap fokus menyetir. Pada intinya pria itu tahu jika Laura berasal dari keluarga yang kaya raya.
"Kamu dengerin aku nggak sih?" tanya Laura setelah mengakhiri ceritanya.
Genta menjawab dengan singkat, "Iya."
"Terus kenapa diam saja nggak koment?" tanya Laura dengan bibir yang mencabik.
Genta menoleh sekilas ke arah Laura yang di duduk disampingnya sambil berkata, "Sabar!"
"Nggak asyik curhat sama kamu, enakan sama Aisyah," sahut Laura dengan kesal. Sudah cerita sampai mulut berbusa cuma ditanggapi dengan satu kata.
Mereka pun terjebak kemacetan yang cukup panjang. Ditambah lagi dengan cuaca yang terik. Membuat udara terasa panas, meskipun di dalam mobil AC sudah full.
"Mau minum?" tanya Genta sambil menoleh ke arah Laura yang tampak gelisah.
Laura menggeleng, tetapi tiba-tiba terdengar perutnya keroncongan. "Aku lapar," ujar gadis itu dengan malu-malu.
"Nanti kita cari warung makan," sahut Genta sambil melihat ke sisi jalan.
Setelah beberapa jam terjebak kemacetan, Genta akhirnya menemukan sebuah rumah makan. Ia segera menepikan kendaran.
"Ayo turun!" seru Genta sambil menoleh ke arah Laura yang tampak tertidur pulas.
Tidak tega membangunkannya, Genta segera turun dari mobil sendiri. Beberapa saat kemudian, ia sudah kembali sambil membawa nasi bungkus, cemilan, dan beberapa botol air mineral. Pria itu kembali melanjutkan perjalanan.
Ketika menjelang senja, Laura pun terjaga dari tidurnya. Gadis itu segera mengumpulkan kesadaran.
"Kita akan memasuki kota Bandung. Di mana rumah ibumu?" tanya Genta dengan serius.
"Bandung Selatan, dekat tempat wisata taman bunga. Tapi aku tidak tahu alamat lengkapnya," jawab Laura sambil mengingat.
Mendengar itu Jaka kemudian memberikan saran, "Kalau begitu telepon saja ibumu!"
"Aku tidak hapal nomornya," sahut Laura kembali.
Genta tampak terkejut mendengar pengakuan Laura. Dikira gampang cari rumah tanpa alamat yang jelas.
"Makanlah, setelah itu ingat-ingat di mana lokasi rumah ibumu!" seru pria kemudian.
"Aku tidak bisa makan nasi dingin, nanti sakit perut," sahut Laura yang memang tidak terbiasa makan nasi bungkus.
Genta menghembuskan napasnya dengan perlahan, "Sebelum kita membuang-buang waktu. Sebaiknya kamu pulang ke Jakarta saja!" usul pria itu yang merasa dikerjai oleh Laura.
"Ya sudah, tetapi aku mau makan sekarang!" rengek Laura yang sudah merasa sangat lapar sekali. Ia tampak mencari rumah makan di pinggir jalan.
Sampai akhirnya melihat sebuah restauran. "Aku mau makan di situ?"
Genta justru melewati restauran itu dan terus menambah kecepatan. Sorot matanya tajam sambil tetap fokus dan melirik ke spion.
"Kenapa tidak menepi?" tanya Laura dengan kesal.
"Kita sedang dibuntuti," jawab Genta yang baru sadar jika mobil di belakangnya sudah sejak tadi mengekor.
Laura menoleh ke belakang dan melihat sebuah sedan hitam. Ia sama sekali tidak kenal siapa pemilik kendaraan itu.
Ketika sampai di jalan yang sepi, tiba-tiba mobil itu menyusul dan menyuruh Genta untuk menepi.
"Genta aku takut," ujar Laura dengan jantung yang berdebar-debar.
"Kamu tunggu di mobil dan jangan ke luar sebelum aku suruh!" seru Genta sambil yang segera turun dari mobil. Ia lalu menghampiri dua orang turun yang ke luar dari kendaraan sedan itu. Mereka kemudian tampak bercakap-cakap dengan serius.
Tidak lama kemudian, Genta sudah kembali lagi dan memberitahu Laura, "Turunlah mereka orang suruhan ayahmu!"
"Aku tidak kenal dengan mereka. Kata papi diriku tidak boleh ikut dengan orang yang mangaku-ngaku sebagai suruhan," ujar Laura yang membuat Genta tampak berpikir.
"Tetaplah di dalam mobil!" seru Genta yang dijawab anggukan oleh Laura.
Genta kembali menghampiri dua orang itu. Entah karena apa tiba-tiba ia melayangkan pukulan dengan cepat hingga kedua orang itu tersungkur. Pria itu segera masuk mobil dan langsung melaju. Setelah cukup jauh ia langsung membelokan kendaraannya.
Kedua orang itu pun langsung masuk ke mobil dan melakukan pengejaran.
"Genta aku takut," lirih Laura dengan wajah yang panik.
"Tenanglah!" seru Genta sambil tetap fokus menyetir. Ia akan membawa Laura ke kantor polisi terdekat.
"Cepat mereka semakin dekat!" seru Laura kembali.
Genta segera menambah kecepatan, tetapi mobil di belakang masih bisa menyusul. Sepertinya sudah disetting untuk melakukan pengejaran. Tiba-tiba terdengar dua kali suara tembakan dan tidak lama kemudian ban belakang mobil yang kemudikan Genta kempes.
"Bagaimana ini Genta," ujar Laura yang kian panik.
Genta sudah berusaha mengendalikan stir semampunya. Sampai akhirnya mobil itu menabrak tiang listrik di depan sebuah gang.
"Aahhhkk...!" terdengar teriakan secara spontan.
"Cepat bawa Laura dan aku akan urus lelaki itu!" seru salah satu pria itu kepada rekannya. Mereka kemudian segera menghampiri mobil itu untuk menjalankan sebuah tugas.
Pria itu segera mengeluarkan pistol untuk berjaga-jaga bila Genta melakukan perlawanan seperti tadi. Sementara satu orang lagi fokus, membawa Laura.
"Jangan bergerak dan melawan!" seru pria itu ke arah Genta yang siap menyerang.
"Kamu cepat keluar dan ikut kami atau bodyguardmu ini aku tembak!" ancamnya lelaki itu kepada Laura.
"Jangan tembak Genta, baiklah aku ikut kalian," sahut Laura yang segera pindah ke mobil belakang.
Genta yang mengangkat kedua tangannya langsung berseru, "Jangan laura!"
"Sory Bung," ucap pria itu sambil melepas tembakan kedap suara ke arah d**a Genta yang langsung ambruk seketika.
Sementara itu di dalam mobil Laura tampak histeris melihat Genta tersungkur di jalan.
"Tidak, Genta!" pekik Laura sambil terisak.
Mereka kemudian segera pergi tempat itu sebelum warga datang. Meninggalkan Genta yang mulai kehilangan kesadaran.
"Jangan bawa Laura!" lirih Genta dengan pandangan yang perlahan jadi gelap.