Laura terlihat sangat ketakutan sekali ketika kedua pria itu membawanya ke suatu tempat. Belum lagi keadaan Genta yang entah bagaimana kini nasibnya. Kejadian hari ini membuat gadis itu semakin merasa bersalah. Andai dia minta diantar pulang ke Jakarta pasti semua tidak akan seperti ini.
“Papi tolong aku,” lirih Laura sambil terisak.
Akhirnya kendaraan itu sampai di sebuah rumah yang asri dan berada di tengah perkebunan teh. Seorang wanita paruh baya tampak berdiri di depan teras, seolah sudah tahu akan kedatangan Laura.
“Mami!” panggil Laura ketika turun dari mobi dan langsung menghambur ke arah wanita itu.
“Laura sayangku,” sambut Meta sambil memeluk dengan penuh cinta, “mami sangat merindukanmu,” ungkapnya kemudian.
Laura pun membalasnya dengan hangat, “Aku juga merindukan Mami, memang Laura sedang menuju ke sini. Tapi kenapa orang suruhan Mami menembak temanku Genta?”
Meta tampak mengernyitkan dahi, seolah minta penjelasan dari orang suruhannya itu.
“Maaf Nyonya, pria itu melawan. Padahal kami sudah bilang secara baik-baik. Tapi tenang saja saya hanya menembaknya dengan obat bius!” Pria itu menjelaskan.
Laura terlihat lega mendengarnya dan meminta, “Cepat bawa dia ke sini Mi, aku tidak mau terjadi sesuatu dengannya!”
“Jo, cari pria itu!” seru Meta sambil merangkul Laura dan mengajaknya masuk ke rumah.
“Baik Nyonya,” sahut Jo yang segera menjalankan perintah.
Laura merasa senang sekali bisa sampai di rumah ibunya, sungguh rindu itu terbayar sudah. Ia juga meminta maaf atas perlakuannya selama ini yang suka menolak untuk bertemu atau menerima telepon.
“Maafkan Laura ya Mi, bolehkan aku sekarang tinggal di sini?” ucap gadis itu dengan penuh harap.
“Iya sayang, sudah lupakanlah. Suatu saat kamu akan tahu lebih banyak lagi tentang kebenarannya,” ujar Meta sambil mengusap air mata air mata Laura yang hendak tumpah. “Saran mami sebaiknya kamu pikirkan lagi jika ingin tinggal di sini. Pasti papi tidak akan mengizinkan dan itu akan berakibat buruk, kecuali bila kamu mau berontak. ”
Laura terlihat bingung dan bertanya, “Maksud Mami apa?”
“Mami memang tidak bisa merebut dirimu dari papi. Tapi kita harus bersatu untuk melawan dengan mengadukan papimu ke Komnas perempuan,” jelas Meta agar Laura mengerti.
“Baiklah Mami atur saja, aku sudah bosan hidup dalam pengekangan.” Laura setuju dengan rencana ibunya untuk melawan Senopati. Ia merasa berhak untuk menentukan pilihan dalam kehidupannya.
Meta kemudian bertanya, "Kamu sudah makan?"
"Belum Mi, aku lapar sekali," jawab Laura sambil menggeleng.
“Ya sudah sekarang kamu istirahat ya! Nanti mami akan antar makanan ke kamar!” ajak Meta yang dijawab anggukan oleh Laura.
Setelah menunjukan kamar yang akan ditempati Laura, Meta kemudian menyuruh asisten untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk putrinya itu. Ia lalu menemui Jo untuk menanyakan keadaan Genta.
“Maaf Nyonya, pria itu sudah dibawa ke rumah sakit oleh warga sekitar. Topan sedang ke sana untuk bicara dengannya agar dia tidak lapor polisi atau ke Tuan Senopati,” ujar Jo memberikan laporan.
“Seharusnya kamu bawa pria itu tadi!” sahut Meta yang takut perbuatannya diketahui oleh Senopati. Ia sudah hapal betul bagaimana amarah mantan suaminya itu. Kejam dan tega bisa melakukan apa saja agar keinginannya tercapai.
“Maaf, saya hanya menjalankan sesuai perintah. Tapi tenang saja! Tidak ada yang tahu tindakan kami, kecuali pria itu,” sahut Jo yang merasa sudah menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
Meta juga tidak bisa menyalahkan orang suruhannya itu. Ia kemudian memberikan perintah lagi, “Ya sudah, perketat keamanan dan jangan biarkan siapa pun masuk tanpa izin dariku!"
“Baik Nyonya, permisi,” sahut Jo sambil undur diri.
“Aku harus bergerak cepat membawa kasus pengekangan Laura ke jalur hukum. Pasti Senopati juga sedang mencari putrinya dan dia tidak akan tinggal diam mengetahui Laura ada di rumahku,” lirih Meta yang segera menghubungi pengacara pribadinya.
***
Genta diperbolehkan ke luar rumah sakit ketika kesadarannya kembali pulih. Pria itu berencana akan pulang ke Bogor untuk meminta saran dari Jaka. Sebenarnya ia ingin kasus ini segera dilaporkan ke polisi, tetapi kurangnya saksi dan bukti. Ditambah lagi dirinya tidak punya identitas Laura. Bisa jadi laporannya tidak akan bisa diproses. Mencari keberadaan Laura pun tidak mudah karena Genta tidak tahu para pria itu membawanya ke mana.
“Kang, ikut saya, kita perlu bicara sebentar!” ajak Topan pria yang menembak Genta dengan peluru bius tadi.
“Kamu yang telah menculik Laura kan?” tebak Genta mengenali pria itu meski memakai masker.
Topan pun mengangguk dan memberitahu, “Saya orang suruhan ibunya Laura, sekarang dia sudah sampai di tempat yang aman.”
“Aku tidak percaya dan bagaimana kalian bisa tahu, kalau Laura mau pergi ke rumah ibunya?” tanya Genta dengan curiga.
“Kami tahu kabar Laura tidak pulang dan ditugaskan untuk mencarinya. Kebetulan sekali ketika baru masuk kota Bogor kita berpapasan di jalan. Kami langsung mengikuti sampai—“
“Sampai tempat sepi agar kalian bisa membawa Laura tanpa meninggalkan jejak. Asal kamu tahu dengan menembak ban mobil itu sangat membahayakan. Sekarang telepon Laura aku mau bicara!” ujar Genta dengan emosinya.
Topan langsung menghubungi Jo, tidak lama kemudian ia memberikan ponsel itu kepada Genta.
“Genta aku baik-baik saja, ayo ke sini nanti kukenalkan kepada mami!” ujar Laura dari seberang sana.
“Syukurlah kalau begitu aku langsung pulang ke Bogor. Jaga dirimu baik-baik Laura!” pesan Genta yang segera mengakhiri percakapan itu.
Genta kemudian mencari bus jurusan Bogor. Entah mengapa ia merasa seperti kehilangan. Pria itu pun segera menepis perasaannya yang tiba-tiba jadi galau.
Sementara itu di lain tempat, Laura dan ibunya sedang berbincang di kamar. Mereka seakan belum puas melepas rindu. Untuk mengikis jarak yang telah lama tercipta. Sejak perceraian itu, Meta dan Laura dibatasi untuk bertemu dan berkomunikasi oleh Senopati. Ditambah lagi dengan sikap Laura yang acuh tak acuh. Membuat hubungan keduanya tidak baik.
Namun, entah kenapa Laura merasa sedih. Ketika Genta tidak mau datang ke rumah ibunya. Biarlah suatu hari nanti ia akan berkunjung ke Bogor. Untuk mengucapkan terima kasih secara langsung kepada Aisyah, Jaka dan terutama Genta.
“Genta tidak mau ke sini Mi, dia langsung pulang ke Bogor,” ujar Laura memberitahu.
“Ya sudah, yang penting dia tidak kenal dengan papimu kan?” tanya Meta yang dijawab gelengan kepala oleh Laura.
Ibu dan anak itu terus bercakap-cakap sampai malam kian larut. Akhirnya setelah sekian lama mereka tidur bersama. Laura kembali merasakan kasih sayang yang telah lama hilang.
Pagi pun menjelang, langit tampak terang menandakan mentari akan muncul di ufuk timur. Laura dan ibunya terlihat sedang sarapan di taman belakang. Sambil menikmati alam pegunungan yang asri.
"Indah sekali tempat ini Mi, rasanya aku ingin tinggal selama di sini," ujar Laura yang sangat suka dengan pemandangan di tempat ini.
"Kamu boleh tinggal di sini sampai kapan pun karena rumah mami milik kamu juga," ujar Meta sambil tersenyum.
Namun, kebersamaan mereka harus terusik. Ketika tiba-tiba Jo datang dan memberikan laporan, “Nyonya di luar ada tiga mobil yang memaksa masuk.”
“Senopati,” tebak Meta dengan heran. Entah dari mana mantan suaminya itu tahu, kalau Laura ada di rumah ini.
“Mami aku tidak mau pulang,” ujar Laura yang ingin tinggal bersama ibunya.
Meta tampak mengangguk dan berseru, “Sekarang kamu pergi ke paviliun dan kunci pintunya! Jika ada yang mendobrak segera sembunyi dan jangan keluar apa pun yang terjadi!”
“Baik Mi,’ sahut Laura yang segera menuju ke tempat itu.
Meta segera masuk ke rumah dan menuju ke ruang tamu. Tidak lama kemudian Senopati telah menerobos masuk. Tidak sulit baginya melumpuhkan pengawal Meta. Pria itu menatap dengan tajam, seolah seekor singa yang siap menerkam musuhnya.
“Katakan di mana Laura!” seru Senopati tanpa basa basi.