“Katakan di mana Laura!” seru Senopati tanpa basa basi.
Dengan setenang mungkin Meta pun menyahuti, “Seharusnya aku yang bertanya, Seno.”
“Aku tidak mau debat ataupun sampai menyakitimu Meta. Jangan pernah coba-coba merebut Laura dariku. Kau tidak berhak sama sekali,” tegas Senopati dengan serius.
“Tidak perlu diingatkan, satu hal yang perlu kamu sadari Seno. Laura punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Dia sudah dewasa bukan anak-anak lagi!” balas Meta yang membuat Seno jadi berang.
Dengan gerakan sangat cepat Senopati mencengkeram leher Meta seraya berkata, “Aku tidak butuh nasehatmu, dia putriku jadi aku berhak menentukan nasib dan masa depannya.”
“Egois, kamu telah mengekangnya selama ini. Sehingga Laura tidak pernah merasa bahagia sedikitpun!” ujar Meta tanpa rasa takut.
Mendengar itu Senopati semakin geram dan langsung mendorong tubuh Meta ke arah bangku dengan kasar. Dengan penuh kemarahan pria itu kemudian mencabut sebuah pistol dari balik jasnya.
“Katakan di mana Laura kau sembunyikan atau dirimu tidak akan pernah bisa melihatnya lagi!” ancam Senopati tidak main-main.
Tanpa gentar sedikitpun Meta segera menantang, “Laura tidak ada di sini, lakukan saja Seno. Agar kau puas mengumpulkan semua dosa!”
“Kau menguras kesabaranku saja Meta!” bentak Senopati sambil melepas tembakan ke arah pajangan dan sebuah guci hingga hancur berantakan.
Meta hanya menatap dengan tajam. Sepertinya ia tidak kaget lagi dengan perbuatan Senopati. Bahkan wanita itu terlihat pasrah akan takdir yang akan menjadi akhir hidupnya. Laura juga tidak akan tinggal diam melihat ibunya tewas dengan tragis. Namun, jika ia masih bernapas pasti akan membawa kasus ini ke jalur hukum.
“Oke, jika itu sudah menjadi pilihanmu,” ujar Senopati sambil membidik lutut Meta. Ia akan membuat wanita itu lumpuh karena telah berani melawannya. “Selamat menikmati masa tuamu di atas kasur Meta,” sambung pria itu sambil menyeringai bengis.
"Hentikan!” seru seseorang yang membuat Senopati menoleh ke arah sumber suara.
"Laura sayang,” panggil Senopati sambil menurunkan senjata api dengan perlahan.
Sambil berderai air mata Laura menghampiri ayahnya dan berkata, “Cukup, jangan sakiti Mami lagi!”
“Papi sudah bicara baik-baik, tetapi—“
“Aku sudah dengar semuanya, asal Papi tahu aku sendiri yang datang ke sini. Jadi berhentilah menyalahkan Mami!” potong Laura membela ibunya.
Senopati tidak bisa berkata-kata lagi dan segera memanggil seseorang, “Roby, bawa Laura!”
Roby segera masuk dan langsung mengajak Laura untuk pergi dari tempat itu. "Ayo sayang, kita pulang!"
“Aku tidak mau pulang, lepas!” pekik Laura sambil terus meronta, tetapi semua sia-sia. Roby tetap memaksanya pergi.
Melihat itu Meta segera berdiri dan memohon, "Cukup Senopati, biarkan Laura tinggal bersamaku untuk sementara waktu!"
"Tidak, bukankah dirimu yang telah memilih untuk pergi dari kehidupan kami," tolak Senopati dengan tegas.
Meta tampak terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk mempertahankan Laura.
"Asal kau tahu, dirimu masih kuampuni itu karena Laura. Tapi, bila sekali lagi kau berani malawanku. Tidak ada kesempatan bagimu untuk bertahan hidup. Jadi pergilah sejauh mungkin Meta, kalau perlu ke ujung dunia sekalipun!" ujar Senopati sambil meninggalkan Meta yang tampak terisak.
“Semoga Allah cepat mengambil nyawamu Seno,” sumpah Meta dengan penuh kebencian.
Senopati menghentikan langkahnya dan menyahuti tanpa menoleh, “Satu hal yang harus kau ingat baik-baik! Seekor kucing tidak akan mampu melawan singa yang telah memberinya kehidupan. Jika aku melihat kau masih ada di rumah ini, bersiaplah untuk menderita selamanya Meta,” ancamnya yang segera meninggalkan rumah itu.
Di sepanjang perjalanan Laura hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Baru saja ia sebentar merasakan kebahagian. Kini harus kembali dalam sangkar emas lagi.
"Berhentilah menangis Laura!" seru Senopati yang pusing mendengarnya.
"Papi jahat, tidak sayang aku. Hu... hu...," sahut Laura sambil terus menangis.
Senopati mengulurkan tangan hendak membelai putrinya. Akan tetapi, Laura menepis dengan kasar.
"Tidak semua yang mamimu katakan itu benar. Jika papi jahat kami tidak akan menikah selama bertahun-tahun. Mami mengkhianati Papi Laura," ujar Senopati kembali.
"Aku butuh bukti Pi, bukan ngomongan!" sergah Laura kembali.
Senopati tampak mengepalkan tangannya. Ia yakin sekali Meta telah mempengaruhi Laura. Kini dirinya harus memutar otak agar Laura tetap menurut di bawah kendalinya.
"Sekarang katakan kamu mau apa, kebebasan? Oke papi berikan, dirimu boleh tinggal di mana saja Laura, asal tidak di rumah mamimu?" tegas Senopati dengan amarah yang menggebu. "Son, kita ke Bogor dan pergi ke tempat Laura tersesat di malam itu."
"Baik Tuan," sahut Soni dengan patuh.
Laura seketika terdiam mendengar keputusan ayahnya yang tiba-tiba. Ia tidak tahu harus senang atau tidak mendengar itu semua.
***
Senopati benar-benar membawa Laura ke tempat di mana terjadi pembegalan. Ia segera menurunkan putrinya di tempat yang cukup sepi itu. Roby, Soni dan beberapa pengawal tidak ada yang berani komentar atau mencegah tindakan Senopati.
"Ini kan yang kamu mau, kebebasan?" tanya Senopati dengan penuh amarah.
"Semoga di tempat ini dirimu bisa berpikir lebih pintar dan dewasa!" sambungnya kemudian.
"Papi, bukan seperti ini maksud aku," ujar Laura sambil melihat ke sekeliling tempat itu. Jujur ia masih ingat betul kejadian di malam itu.
Senopati tahu apa maksud Laura sebenarnya, tetapi ia ingin memberikan putrinya sedikit pelajaran. Pria itu pun berujar, "Pilihanmu hanya satu, menjadi putriku atau hidup bebas. Aku pun memberikan pilihan yang sama kepada mamimu. Tinggalkan tempat ini dan jangan ada yang menolongnya!" seru Senopati sambil masuk ke dalam mobil.
"Papi, Roby, Soni, jangan tinggalkan aku sendiri di sini!" pinta Laura sambil terisak. Ia kemudian mengejar mobil ayahnya sampai terjatuh. "Papi, hu.., hu...." Tangisnya pun memecah kesunyian di tempat itu.
Mobil itu terus meluncur meninggalkan Laura yang tampak histeris di jalan.
Sementara itu tidak jauh dari lokasi Genta terlihat gelisah. Entah mengapa pria itu selalu kepikiran dengan Laura. Seharusnya ia merasa tenang gadis itu sudah berada di rumah ibunya.
Genta tidak mengerti kenapa takdir mempertemukan mereka. Padahal ia berharap bisa berjumpa kembali seseorang yang sangat dirindukannya selama ini. Sudah bertahun-tahun dirinya mencari, tetapi sang waktu seolah enggan untuk mengabulkan keinginannya.
Hari ini Genta tampak berjalan mengikuti kata hati yang menuntunnya ke suatu tempat. Di mana ia dan Laura pertama kali bertemu. Samar ia mendengar orang menangis. Pria itu segera mempercepat langkahnya ke arah sumber suara. Genta tampak terkejut ketika melihat seorang gadis yang sedang tersedu sambil ketakutan.
"Laura," panggil Genta dengan heran kenapa bisa ada di tempat ini. Rasanya mustahil sekali, bukankah gadis itu ada di Bandung. Ia merasa seperti dejavu, bertemu lagi dengan Laura.
Laura pun mendongak dan segera berdiri sambil memanggil, "Genta." Ia memeluk pria itu dengan erat.
"Apa yang terjadi denganmu, Laura?" tanya Genta yang masih tidak mengerti.
Sambil menangis Laura pun menjawab, "Panjang ceritanya, bawa aku mau pulang ke rumah Aisyah!"
Genta segera menenangkan gadis itu, "Ya sudah jangan menangis lagi, ayo kita pulang!" ia segera merangkul Laura dan meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Senopati tampak memperhatikan Laura dari kejauhan. Ia tampak heran kenapa putrinya bisa kenal dan dekat dengan pria brewokan seperti preman.
"Soni, ikuti mereka dan cari tahu siapa pria itu serta latar belakangnya. Laporkan apa pun yang dilakukan Laura. Sampai aku menyuruhmu untuk membawanya pulang!" seru Senopati dengan serius.
"Baik Tuan," sahut Soni yang segera membuntuti Laura dan Genta.
Sementara itu Roby tampak mengepalkan tangannya. Jujur ia cemburu melihat pria itu merangkul kekasihnya. Sebagai tunangan Laura, ia tidak akan tinggal diam karena takut gadis itu akan pindah ke lain hati.
"Kau adalah milikku, Laura," gumam Roby sambil meninggalkan tempat itu.