Aisyah dan Jaka tampak heran melihat Genta pulang bersama Laura yang habis menangis. Akan tetapi, mereka tidak berani bertanya ada apa gerangan.
"Ai, bawa Kak Laura ke kamar!" seru Genta.
"Baik Bang, ayo Kak!" ajak Aisyah sambil merangkul Laura.
Jaka menatap Genta dengan saksama dan bertanya, "Ada apa? Kata kamu Laura sudah diantar ke Bandung."
Genta mengangkat kedua bahunya sebagai dan menjawab, "Nggak tahu, dia belum cerita. Tadi kami bertemu lagi di tempat yang sama untuk kedua kalinya."
"Aneh, sepertinya Laura mempunyai masalah yang rumit," tebak Jaka kemudian.
"Mungkin, setelah dia beristirahat. Cobalah bicara dengannya Jak!" jawab Genta sambil menyarankan.
Jaka tampak mengangguk kecil seraya berkata, "Oke."
Sementara itu di dalam kamar Laura tidak banyak bicara. Mungkin karena kecapean menangis, gadis itu pun terlelap dengan pulasnya. Aisya segera menyelimuti Laura dan meninggalkannya sendiri.
"Bang Genta, Kak Laura jangan disuruh pergi lagi kasihan!" ujar Aisyah sambil duduk di samping ayahnya.
Mendengar itu Genta balik bertanya, "Siapa yang mengusir Laura?"
"Nggak usah pura-pura, Abang nyuruh Ai ke pasar kan. Biar bisa nyuruh Kak Laura pergi?" tebak Aisyah dengan tepat sekali.
Genta kemudian berdiri dan menyanggahnya, "Jangan berburuk sangka!" Ia segera berlalu ke kamarnya.
Sementara itu Soni tengah mengamati rumah Jaka dengan saksama. Ia segera memberikan laporan kepada Senopati.
"Tuan, sepertinya pria itu orang yang menolong Nona pada malam kejadian. Mereka tinggal di perkampungan."
"Awasi terus dan apa pun caranya kamu harus bisa masuk ke rumah itu. Agar mengetahui setiap aktivitas Laura!" seru Senopati dari seberang sana.
"Baik Tuan, saya akan coba," sahut Soni dengan patuh.
Soni tampak berpikir untuk menjalankan rencana selanjutnya. Akan tetapi ketika pria itu hendak berbalik tiba-tiba seseorang menodongkan belati ke arah lehernya.
"Siapa kamu, kenapa mengintai rumah itu?" tanya Genta sambil memasang wajah garang.
"Namaku Soni, bodyguard wanita yang kau tolong tadi," jawab pria itu dengan jujur.
Genta tampak mengernyitkan dahinya dan berseru, "Ikut aku, awas saja kalau kamu bohong!" Ia segera membawa Soni untuk menghadap Jaka. Semua harus jelas siapa Laura sebenarnya.
***
Hari demi hari kondisi Laura kian membaik. Ia sudah menceritakan siapa dirinya secara garis besar saja. Selama berada di tempat ini, gadis itu mulai mendalami ilmu agama. Aisyah dan Jaka membimbingnya dengan sabar. Bahkan hanya beberapa hari Laura sudah hafal bacaan salat.
Selain itu Laura banyak belajar arti kehidupan. Seperti bersabar, berbagi dan menghargai orang lain. Di mana sangat bertolak belakang dengan kehidupannya selama ini. Sungguh Laura merasa menjadi pribadi yang sangat egois. Terutama terhadap orang-orang yang berbeda status sosial dengannya.
Laura sangat senang sekali tinggal bersama Aisyah dan Jaka. Di tempat ini ia merasa seakan mempunyai keluarga yang utuh dan mendapatkan kasih sayang. Aisyah sudah seperti adiknya sendiri yang selalu memberikan masukan. Begitupun dengan Jaka yang sangat bijak dalam memberikan nasihat. Namun, jauh di dasar lubuk hati. Laura sangat merindukan ibunya. Suatu hari nanti, ia berniat menyusul ke Bandung.
"Saya mengerti bagaimana perasaan Mbak Laura, tetapi diriku juga sangat paham bagaimana kekhawatiran ayah anda. Anggap saja di sini sebagai liburan dan sudah waktunya kamu pulang." Jaka memberikan saran agar Laura segera kembali ke rumah.
Laura yang masih kesal dengan ayahnya langsung menolak dengan memohon, "Tolong Pak Jaka, izinkan saya tetap tinggal di sini untuk beberapa hari lagi."
"Mba Laura jangan keras kepala! Jika orang-orang tahu siapa sebenarnya kamu. Mereka akan mencari kesempatan untuk mengambil keuntungan pribadi," ujar Jaka yang takut jika Laura menjadi target penculikan. Pasti orang tua wanita itu akan menyalahkan dirinya.
"Benar kata Pak Jaka, saya bisa digantung sama Tuan, kalau sampai terjadi sesuatu terhadap Nona," ujar Soni yang tiba-tiba datang. Ia juga ikut menyakinkan Laura untuk pulang.
"Soni, kamu tahu dari mana aku di sini?" tanya Laura dengan heran.
Soni kemudian duduk di sebelah Laura dan menjawab, "Tuan, tidak berniat meninggalkan Nona sendirian di tempat itu."
"Dengan adanya Soni di sini itu menunjukan. Jika ayahmu sangat menyayangi dan mencintai Mbak Laura. Diriku pun akan melakukan hal yang sama terhadap Aisyah. Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuk anak," sambung Jaka yang membuat Laura tampak berpikir.
"Baiklah besok aku akan pulang," sahut Laura kemudian.
Soni dan Jaka tampak lega mendengarnya. Laura kemudian menemui Aisyah untuk mengucapkan salam perpisahan.
"Besok aku akan pulang, terima kasih kamu sudah mau menjadi teman baikku," ucap Laura dengan sendu berat rasanya pergi dari rumah ini. Laura merasa nasibnya sama dengan Aisyah hanya beda status sosial saja.
"Sama-sama Kak, kita masih bisa berkomunikasi lewat media sosial. Kak Laura sering-sering main ke sini ya!" sahut Aisyah yang dijawab oleh anggukan oleh Laura.
"Antarkan Kakak menemui Bang Genta yuk!" ajak Laura kepada dewa penolongnya itu.
Mereka segera ke belakang untuk mencari Genta, tetapi pria itu tidak ada di kamarnya.
"Mungkin Bang Genta sedang mandi di sungai. Ayo kita cari ke sana!" tebak Aisyah sambil mengajak Laura.
Ketika sampai di sungai, kedua gadis itu tidak juga menemukan Genta, entah sedang pergi ke mana. Laura tampak terkesima melihat air yang begitu bening.
"Sungai itu jernih sekali," ujar Laura dengan terkagum . Belum pernah ia melihat air sebening kaca. Dirinya segera menuju ke tepian sungai untuk merasakan air yang begitu segar dan sejuk. Matahari yang sedang terik membuatnya ingin mandi.
"Kakak mau berenang?" tanya Aisyah yang dijawab anggukan oleh Laura. "Jangan jauh-jauh ya Kak karena di sana berarus!" pesan gadis itu mengingatkan.
Laura kemudian menceburkan diri dengan hati-hati. Ia tampak kegirangan berendam di air sungai yang jernih. Biasanya gadis itu selalu berenang di kolam yang berkaporit. Laura pun menunjukan kemampuannya. Sehingga tanpa sadar dia menuju ke arus sungai.
"Kak Laura jangan ke sana!" Aisyah berteriak mengingatkan.
Laura pun tersadar dan segera memutar haluan, tetapi tubuhnya sudah terbawa arus sungai. "Tolong!" pekiknya ketakutan.
"Kakak!" panggil Aisyah dengan panik.
Aisyah berusaha menyusul untuk menolong, tetapi dia tidak kuat melawan arus yang semakin deras. Gadis itu pun segera naik kepermukaan dan mengejar dari sisi sungai sambil berteriak meminta bantuan.
"Tolong-tolong!" teriak Aisyah, "Ayah, Bang Genta!" panggil gadis itu kemudian.
"Akhh ..." Laura memekik kesakitan ketika mata kakinya terbentur batu kali.
Namun, wanita itu terus berusaha melawan arus. Sampai ia merasa lemas kehabisan tenaga. Wanita itu hanya bisa pasrah ketika maut kembali mengintainya di depan mata.
"Papi aku mau pulang," lirih Laura yang nyaris tenggelam.